
Suara Qiro'ah membangunkan Malik dari tidur malamnya. Dia beranjak turun dari tempat tidurnya hendak menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.
Tapi dia teringat akan apa yang dilalukan terhadap Bina semalam.
Malik bergegas masuk ke kamar mandi dan mengangkat tubuh Bina dan membaringkannya di tempat tidur.
Malik sedikit mengasihani Bina, dia pun meraih hp yang dia letakkan di nakas.
Tut... Tut... Tut...
Sepertinya orang yang ditelpon oleh Malik masih berada di dimensi mimpinya.
Tapi Malik terus melakukan panggilan telpon dengan orang tersebut.
Malik pun memutuskan untuk menunda menghubungi orang tersebut dan segera melakukan kewajibannya sebagai muslim.
----------
Selepas melakukan kewajibannya sebagai muslim Malik melirik ke arah Bina. Setitik rasa bersalah menyelimuti hatinya tapi bayangan Ghea kembali medominasi pikirannya.
Malik bergegas turun menemui Bi Inah.
"Bi Inah boleh saya pinjam daster Bi Inah, nanti saya belikan bibi daster yang baru sebagai gantinya" Ucap Malik pada Bi Inah yang sedang membuka kulkas.
"Sebentar yah den, bibi ambil di kamar dulu" Bi Inah meninggalkan Malik yang sedang duduk di meja makan.
Bi Inah kembali dengan selembar daster yang masih terlihat baru "Ini den dasternya."
"Makasih bi" Malik berlalu meninggalkan Bi Inah yang masih menatap langkah Malik. Sebenarnya dia ingin menanyakan kondisi Bina tapi Bi Inah sadar bahwa keadaan dan kondisi sangat tidak memungkinkan.
----------
Malik masuk ke dalam kamar dia langsung memakaikan daster pemberian Bi Inah pada Bina.
Bukan tanpa alasan dia meminjam daster Bi Inah, dia hanya tidak mau ketika Bina sadar nanti wanita itu mengira bahwa Malik kasihan terhadapnya.
Setelah memakaikan Bina daster dia kembali melakukan panggilan telpon dengan orang yang dia hubungi sebelumnya.
Tut... Tut... Tut...
Setelah terdengar nada tunggu akhiran yang orang dihubungi oleh Malik sedari tadi menjawab juga.
"Ada apa sih Lik matahari aja belum terbit loh udah ngerecokin gue.".
"Dokter Dimas Satya Rizky yang terhormat tolong resepkan hamba obat memar, obat luka bakar, dan peredah demam" Ucap Malik dengan nada mengejek.
__ADS_1
"HAH" Dimas terperanjak kaget mendengar permintaan Malik.
"Loh budeg yah, gue ngak akan ngulang perkataan gue cepat kirim gue" Titah Malik pada Dimas.
"Iyah dasar tuan arogant" Dimas pun mengirimkan resep obat yang diminta oleh Malik via whatsapp.
Setelah mendapat resep yang diminta dari Dimas, Malik langsung bergegas untuk menebusnya di apotik terdekat.
Setengah jam berlalu sejak kepergian Malik ke apotik dia kembali dengan bungkusan berisi obat di tangan kanannya.
Malik memberikan bungkusan itu pada Bi Inah.
"Bi, Bina ada di kamar aku bibi jagain dia yah ini obat kasiin ke dia. Bibi jangan bilang kalau obat ini aku yang beliin. Dan selama dia sakit dia bisa makan sehari tiga kali. Tapi porsi seperti semalam dan hanya dengan telur."
"Aku mau mandi dulu, bibi tolong ambilin baju kerja aku dan bawa ke kamar tamu. Aku mandi disana aja, tolong juga tas kerja aku" Setelah berbicara panjang lebar Malik meninggalkan Bi Inah dan bergegas menuju kamar tamu.
"Ternyata Den Malik masih mempunyai rasa kasihan terhadap Non Bina" Batin wanita paru bayah itu.
----------
"Non Bina udah bangun?" Tanya Bi Inah ketika memasuki kamar Malik.
"Bi kok aku bisa disini? bantu aku bangun bi nanti mas malik marah" Bina merengek pada Bi Inah.
"Semalam non bina ketiduran di bath up lalu pas subuh tadi den malik nyuruh saya kembaliin non bina ke kamar bawah."
"Mas malik dimana bi?" Tanya Bina
"Den Malik ada di kamar tamu, lagi siap-siap berangkat ke kantor."
"Segitu ngak maunya kamu mas sampai-sampai menghindari aku" Batin Bina.
Ketika hendak untuk duduk berselonjor Bina badannya terasa remuk.
"Auw sakit" ringis bina.
"Kenapa non?"
"Belakang aku perih banget bi" Kini cairan bening tergenang di pelupuk mata Bina.
"Boleh bibi lihat non?" Bina hanya mengangguk perih di bagian belakang tubuhnya membuatnya sulit berbicara.
"Ya Allah non kok bisa begini sih, den malik apain non" Melihat keadaan Sabrina yang memprihatikan membuat hatikan teriris.
"Wajar mas malik marah bi, aku salah kok."
__ADS_1
"Bahkan setelah disakitin pun non bina masih membelah den malik" Batin Bi Inah.
"Non bina sarapan dulu yah, abis itu minum obatnya yah" Ucap Bi Inah.
----------
Semenjak insiden malam itu Bina dan Malik tidak pernah bertemu selama empat hari.
Malik berusaha untuk menghindari Bina. Dia akan pergi pagi sekali untuk bekerja dan pulang larut malam saat Bina sudah terlelap.
Hari ini Ghea tiba-tiba mengajak Bina untuk bertemu di sebuah taman kota.
"Ghea udah lama nunggu yah? Maaf soalnya tadi macet" Ucap Bina sembari memeluk sahabatnya itu.
"Bina" Ghea langsung memeluk Bina dan menangis di pelukannya.
"Kamu kenap Ghea?" Bina terus menenangkan sahabatnya itu sambil mengusap punggungnya.
"Aku yang salah Bin, aku selingkuhin mas haris. Mas haris ngasih aku pilihan tetap bersama mantan bos aku atau bercerai" Tangisan Ghea makin kencang.
"Kamu selingkuh?"
"Awalnya aku cuma kagum ama dia, dia itu lelaki sabar dan bijaksana yang pernah ku temui. Sampai akhirnya beberapa hari yang lalu papanya menjodohkannya dengan seorang wanita."
"Jadi dia pun udah beristri gitu?" Tanya Bina sambil menatap Ghea. Dan Ghea hanya mengangguk.
"Tinggalkan selingkuhanmu Ghea" Ghea semakin terisak pilu mendengar ucapan Bina.
"Aku ngak bisa bin, ngak segampang itu bagi aku ninggalin dia kita saling cinta."
"Bukan cinta ghea tapi nafsu" Bina melakukan penekanan di akhir ucapannya.
"Aku tanya sama kamu, apa kamu mau rumah tanggamu dan mas haris di rusak oleh orang lain? Posisikan dirimu sebagai korban bukan pelaku."
"Mungkin betul kalau cintanya dia itu kamu, karena dia menikahpun atas dasar perjodohan. Tapi untuk saat ini aku ngak bisa membela kamu karena dia sudah menjadi milik istrinya."
"Pikirkan perasaan mas haris, dia pasti hancur karena mengetahui perselingkuhan kamu."
"Putuskan hubunganmu dengan atasanmu, mohon ampunlah kamu pada mas haris, benahilah rumah tangga kalian."
"Iya Bin, aku akan kembaliin dia ke istrinya" Ucap Ghea dengan penuh semangat.
Selamat Ghea karena Allah telah berbaik hati untuk mengeluarkanmu dari jurang kenestapaan ini.
*Happy Reading*
__ADS_1
Love Wawa💕