
Enam tahun berlalu...
Sabrina Magfirah
"Bundaa" Suara teriakan Mina menggema di seluruh sudut rumah.
"Ada apa sayang?" Tanya Bina pada putri kecilnya.
Mina berlari untuk memeluk sang bunda. Dia menangis dan terisak dalam dekapan Bina.
"Mina menangis karena teman-temannya mengejeknya ngak punya ayah" Jelas Abi Afnan.
Bina yang mendengar ucapan sang Abi seperti merasakan tertusuk duri dalam hatinya. Bina sudah menduga bahwa suatu hari ini kejadian ini pasti akan terjadi.
Bina mengelus kepala putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Mina jangan percaya kata orang yah semua itu ngak benar sayang. Ayahnya Mina sibuk kerja" Jelas Bina dengan penuh kesabaran.
"Ayah ngak sayang sama kita bun, Ayah lebih mentingin kerjaan daripada kita" Mina semakin terisak dalam dekapan sang Bunda. Bina pun kesulitan untuk menjawab pertanyaan sang putri.
"Mina dengerin Bunda yah sayang. Kamu ngak boleh berkata seperti itu, Ayah sayang kok sama Mina" Sanggah Bina dia tidak ingin putrinya itu berpikiran buruk pada Ayahnya.
"Tapi kenapa Ayah ngak pernah datang untuk mengjenguk dan membelaku? Aku malu saat teman-teman mengejekku tidak punya Ayah" Mina marah, dia berlari menuju kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan keras.
Bina tahu ini akan sulit, karena Mina mempunyai sifat dingin dan keras kepala seperti Ayahnya.
Rizky Mina Ibrahim dialah putri semata wayang Sabrina Magfirah dan Malik Ibrahim. Mina yang yang dalam bahasa Persia artinya Langit. Bina berharap suatu saat nanti Malik akan mencintai Mina setinggi langit.
Sedangkan Rizky dan Ibrahim adalah nama sang kakek yaitu Afnan Rizky dan Hadi Bagaskara Ibrahim.
"Assalamu alaikum" Bina menoleh ketika mendengar suara familiar itu. Ya, betul itu adalah suara Dimas dan Sari.
"Waalaikum salam kakak, mbak" Jawab Bina sambil memeluk kedua kakaknya secara bergantian.
__ADS_1
Dimas dan Sari kini menetap di Bandung kediaman orang tua Sari. Tapi Dimas dan Sari tetap membagi waktu untuk Ayah Satya dan keluarga Abi Afnan.
"Putriku dimana, Bin?" Tanya Dimas saat tidak melihat malaikat kecil itu.
"Ada di kamarnya kak, tunggu aku panggil Mina dulu" Bina hendak beranjak untuk memanggil sang putri tapi Dimas mencegahnya.
"Biar aku aja yang ke kamarnya" Dimas berlalu meninggalkan Bina dan Sari.
"Bin..."
"Iya mbak" Ucap Bina ketika mendengar sari menyebut namanya meskipun dengan nada pelan.
"Kamu ngak akan nyembunyiin Mina selamanya dari Malik kan? Malik juga berhak tahu soal Mina dia ayahnya loh" Tanya Sari.
"Entahlah mbak" Bina terlihat ragu.
"Aku hanya takut Mas Malik meragukan Mina sebagai anaknya."
"Semua orang yang melihat Malik dan Mina akan sepenuhnya yakin mereka adalah ayah dan anak. Mina adalah Malik versi wanita."
Bina terdiam, otaknya seperti berpikir keras. Apakah dia akan menceritakan tentang Mina kepada Malik? Bagaimana jika Malik menolak Mina? Itu akan membuat Mina kecewa.
Dilantai dua tepatnya di kamar Rizky Mina Ibrahim.
"Assalamu alaikum kesayangannya Papa" Ucap Dimas ketika memasuki kamar Mina.
Sangat betul yang diucapkan oleh Dimas, Mina adalah putri kesayangannya. Mengingat dirinya dan Sari masih belum dipercaya untuk menimang momongan.
Mina diam tidak merespon ucapan Dimas. Membuat kening Dimas mengerut.
"Ada apa sih? Sini cerita sama Papa" Dimas menuntun Mina duduk di pangkuannya.
"Aku mau Ayah pulang" Ucap Mina yang kembali menangis di pelukan Dimas.
__ADS_1
"Mina kan udah punya Papa" Tanya Dimas.
"Papa bukan Ayah, Papa bobonya sama Mama bukan sama Bunda" Ucap Mina dengan polosnya.
"Kalau begitu nanti malam Mina bobonya sama Papa dan Mama aja" Ajak Dimas.
"Mina ngak mau Bunda sedih karena ngak ada yang nemenin dia. Aku sayang Bunda."
"Kalau Mina sayang sama Bunda kita samperin Bunda di bawah yuk" Mina menyetujui ucapan Dimas dan menghampiri sang Bunda.
•
•
•
Malik Ibrahim
Selama enam tahun ini hidupnya sangat menderita, bahkan jauh dari kata bahagia. Dia menyesalkan karena telah menyakati wanita yang amat dia cintai. Perasaan kecewa selalu mendominasi dirinya. Malik menjadi orang setengah gila.
Rasa bersalah yang amat besar selalu membayangi langkahnya. Hampir setiap hari dia selalu melakukan percobaan bunuh diri tapi selalu gagal. Dia sangat menyiksa dirinya sendiri.
"Kamu sudah menemukannya?"
"Maaf Tuan kamu belum berhasil menemukan Nona Bina."
"Kerahkan semua anak buah yang kamu punya. Temukan Binaku secepatnya."
"Baik Tuan."
Malik menutupnya telponnya. Perasaan marah, kecewa, dan menyesal melebur jadi satu.
NB: Ini bonus sebelum Bina dan Malik aku pertemukan. Jangan tanya kapan mereka ketemu karena aku lagi bersemedi mencari cara agar mempertemukan mereka berdua dengan waktu dan cara yang tepat.
__ADS_1
*Happy Reading*
Love Wawa💕