
Tujuh bulan setelah kepergian Malik Ibrahim
"Saya terima nikah dan kawinnya Sabrina Magfirah Binti Afnan Rizky dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
SAH Kalimat yang telah mengubah status Arhan dan Bina dalam waktu bersamaan.
Surah Ar-Rahman telah berhasil Arham lantunkan dengan sangat fasih dan merdu. Suaranya menggema di seluruh sudut aula Garuda Corp.
Suara merdu Arham berhasil menghipnotis seluruh tamu undangan tak terkecuali Sari Indah Purnama. Wanita yang pernah memiliki hati sang mempelai pria di masa lalu.
Selesai melantunkan Surah Ar-Rahman Arham dan Bina dituntun menuju pelamin untuk menjamu para tamu.
"Mas Malik...." Lirih Bina menyebut nama lelaki yang amat sangat dia rindukan selama tujuh bulan terakhir ini. Bayangan Malik Ibrahim muncul diantara kerumunan tamu undangan. Malik merekahkan senyumnya menatap ke arah Bina.
"Aku bahagia kok mas, Kamu juga harus bahagia disana yah" Kata Bina pada bayangan yang terus menatapnya dengan tersenyum.
"Kamu ngelihat apa disana Bin..." Tanya Arham pada Bina. Bina gelagapan segera merubah arah pandangannya menatap lelaki yang kini telah sah menjadi imamnya juga menjadi ayah bagi Lestari Ghema Ibrahim dan Rizky Mina Ibrahim.
"Ngak kok Mas" Arham hanya tersenyum hangat sambil mencium tangan Bina. Perlakuan Arham seketika membuat pipi Bina merona.
Setelah Arham kembali menyapa para tamu Bina membawa lagi arah pandangannya ke arah dia melihat bayangan Malik.
"Terima kasih sudah datang di hari bahagiaku Mas Malik, aku senang" Ucap Bina sembari melebarkan senyumnya.
Flashback On
PYAR......
"Mbak Sari ngak apa-apa? Kok bisa jatuh sih?" Tanya Bina dengan paniknya kemudian menghampiri Sari.
"Ngak apa-apa kok dek" Ucap Sari dengan menggelengkan kepalanya.
"Mbak ke dapur aja yah bantu Aldita biar Mbak Ati yang beresin ini" Tak ingin terjebak lama dalam pandangan Arham, Sari lebih memilih untuk mematuhi perintah adik ipar.
"Dek? Ada hubungan apa Sari dan Bu Bina?" Batin Arham.
"Maaf yah Mas" Ucap Bina saat kembali duduk di hadapan Arham.
"Bu maaf sepertinya saya tidak bisa lama disini saya harus kembali ke kantor."
__ADS_1
Netra mata Bina dia bawa untuk melirik jam dinding yang berada di ruang tamu "Ini udah hampir malam loh Mas."
"Besok kita rapat dengan kontraktor Bu."
"Terima kasih yah Mas udah mau bantu aku ngelola perusahaan selama ini."
"Saya permisi dulu Bu. Hey para princess Om pamit dulu yah. Yang nurut sama Bunda jangan bandel yah" Ghema dan Mina berlari memeluk Arham.
Arham meraih kedua gadis itu dan membawa mereka ke dalaam gendongannya.
CUP
CUP
Ciuman hangat dari Arham mendarat di kening Ghema dan Mina.
•
•
•
"Sari dan Ghema sangat mirip? Apakah Ghema adalah anak Sari? Tapi kenapa dia bisa berada di panti asuhan?" Deretan pertanyaan itulah yang terus mengisi pikiran Arham sejak pulang dari rumah Bina.
"Belum tidur nak?" Ucapan dari wanita paru baya menyadarkan Arham dari ribuan pertanyaan yang kini berada di otaknya.
"Belum Mah...." Jawab Arham sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar dan mendudukkan dirinya di sudut ranjang.
"Masih keingat sama Sari?" Terka Mama Lusi, Mama dari seorang Arham Pratama.
Arham mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Ghema dan Sari hari ini.
"Kamu kan bisa selidiki mereka berdua agar kamupun tenang nak."
"Caranya?" Mama Lusi seperti gemez dengan tingkah anaknya yang akan oond😅
"Tes DNA dong Ham...." Ucap Mama Lusi sambil mengusap pipi putranya.
"Tes DNA dengan sampel Sari dan Ghema? Sari aja sekarang sedang membangun sekat pemisah antara aku Mah...."
__ADS_1
"Awwww sakit Mah...." Arham mengadu sambil mengusap pinggangnya yang dicubit oleh Mama Lusi.
"Kamu tuh soal ginian ngak ada pintar-pintarnya yah. Heran deh kok bisa Bu Bina jadiin kamu Wakil Direktur" Ucap Mama Lusi dengan nada mengejek.
"Mama tanya sama kamu memang udah berapa perempuan yang ngasih kamu anak?" Tanya Mama Lusi dengan nada tegas.
Jiwa sebagai singel parentnya sudah tampak keluar. Singel Parent? Iya Papa Arham, Pak Anton meninggal dalam penjara akibat berkelahi dengan teman satu selnya.
"Yah cuma Sarilah Mah" Ucap Arham tak kalah tegasnya dengan Sang Mama.
"Yah udah kalau gitu sampel DNA kamu aja dan sampel DNA anak yang kamu maksud mirip dengan Sari yang diuji."
"Kamu cabut helain rambutnya lalu kamu bawa deh ke labotarium" Usul Mama Lusi.
"Memang kalau pakai rambut hasilnya akurat Mah?" Tanya Arham dengan sedikit keraguan atas saran Mamanya.
"Sampel yang paling tepat untuk tes DNA itu adalah inti sel. Karena inti sel itu ngak akan berubah."
"Tapi itu sampel itu sangat sulit loh jadi kamu pakai sampel rambut aja hasilnya 99% akurat kok" Imbuh Mama Lusi.
"Besok aku coba Mah..."
Bersambung....
Cuap-Cuap Wawa
Q: Kok Updatenya lama sih Wa?
A: Iya, Maafin yah karena jadwal sidang lagi full banget. Wawa ngak bisa ngebagi waktu antara Dunia nyata dan Dunia halu.
Q: Masih ada konflik setelah ini?
A: Kalau ngak ada halangan masih ada satu konflik sebelum beneran END.
Q: Dimas dan Sari apa kabar?
A: Tunggu respon kalian aja apakah Dimas dan Sari mau dijadiin satu ama Mbak Bina atau dibuat kepisah.
Happy Reading
__ADS_1
Love Wawa