
Malik mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal. Dia nyalip semua kendaraan yang di depannya.
Banyak umpatan yang Malik dengar tapi dia menulikan telingannya. Dia tidak peduli dengan umpatan orang-orang.
Dia ingin segera sampai di rumah, meminta pengampunan pada sang istri. Bersujud di kaki Bina pun akan dia lakukan asal istrinya mau memaafkan dirinya.
----------
Malik berlari memasuki rumah, dia berteriak memanggil nama istrinya.
"BINA" Malik mengeluarkan suara tujuh oktafnya ketika memanggil Bina.
Malik memeriksa setiap sudut rumah lantai bawah dan atas dia masuki tapi sang istri tidak ia temukan.
Taman belakang rumahnya pun dia datangi tapi tetap dia tidak menemukan istrinya.
Malik frustasi, dia menjabak rambutnya. Dia takut kalau Bina akan menyerah lalu meninggalkannya.
----------
Malik memasuki kamar yang ditempati oleh istrinya. Dia menyesal telah memperlakukan Bina tidak selayaknya seorang istri.
Bina membelanya di depan sang papa, menutup kejahatan Malik serapat mungkin. Bahkan dia pasang badan untuk menerima tamparan yang dilayangkan oleh Papa Hadi.
"Suami macam apa aku ini?"
"Aku menyakiti Bina."
"Bina pergi meninggalkanku."
"Aku layak menerima ini."
Malik bingung bagaimana caranya dia menemukan Bina nomor hp Bina saja dia tidak punya.
Kemudian Malik menelpon sang papa untuk menceritakan kepergian Bina. Waktu sholat magrib telah usai tapi Bina tak kunjung pulang.
Akhirnya Malik mengambil hpnya yang berada di saku celananya. Kemudian Malik menelpon sang adik mungkin saja Bina ada di rumah utama.
"Halo Dit, kamu dimana?" Tanya Malik ketika panggilannya terhubung.
"Aku lembur di kantor kak, tahu sendirikan anak magang nasibnya seperti apa."
"Mama?"
"Tadi pagi sih papa ngantarin mama ke rumah Om Afnan----"
Malik langsung memutuskan sambung telponnya dengan Aldita sang adik. Mungkin saja Bina sedang berada di rumah orang tuanya.
"Hallo mah" Ucap Malik ketika Mama Naya menjawab panggilannya.
"Masih ingat kamu kak kalau punya mama?" Jawab Mama Naya dengan nada meremehkan.
"Maaf mah" Ucap Malik dengan suara yang berat.
"Kamu kenapa kak, kok aneh sih" Percayalah firasat seorang ibu tidak akan salah.
"Kakak lagi kangen mama, mau peluk mama."
"Mama lagi di rumah mertua kamu, kesini gih" Ajak Mama Naya pada anak sulungnya.
"Sepertinya Bina ngak disana, mama ngomongnya tenang banget" Batin Malik.
"Weekend aku dan Bina nginap di rumah utama, Mah." Malik kembali memutuskan sambungan telpon bersama Mama Naya.
Malik memasukkan hpnya ke saku celana lalu meraih jaket dan kunci mobilnya. Dia harus mencari Bina dan menebus semua perbuatan kejamnya.
----------
Malik menyusuri sudut demi sudut jalanan ibu kota tapi tak menemukan Bina.
"Bina kamu dimana? Maafkan aku yang telah melukaimu."
Merasa tenggerokannya kering Malik memutuskan untuk singgah di sebuah minimarket.
Setelah membeli minuman untuk membasahi tenggerokannya Malik bergegas untuk kembali mencari Bina.
Ketika hendak masuk ke dalam mobil ada yang memanggil Malik.
__ADS_1
"MALIK" Ucap lelaki itu dengan suara baritonnya.
"Abi?" Malik terkejut dengan kedatangan Abi Afnan.
"Kamu dari mana lik? Bina mana?" Dereran pertanyaan dilontarkan oleh Abi Afnan pada menantunya.
"Duduk dulu yuk" Abi Afnan menuntun Malik untuk duduk di salah satu bangku panjang dekat minimarket.
Sambil menatap tajam Malik, Abi afnan berkata "Betul Bina di rumah Malik?"
"I-iya abi, Bi-bina di rumah kok" Malik tegang melihat tatapan yang mengintimidasi dari Abi Afnan.
Abi Afnan masih mencari pancaran kejujuran dari mata Malik, tapi tidak ia temukan.
"Kamu jujur lik, kan abi sudah pernah bilang tidak akan menyalahkan apalagi membencimu."
"Bina hilang bi, dia ngak ada di rumah" Penjelasan Malik membuat Abi Afnan terkejut.
"Kalian bertengkar? Ceritakan pada abi kejadiannya sedetail mungkin."
"Tadi aku dan papa ada selisih paham, papa hampir nampar aku lalu Bina pasang badan ngelindungi aku."
"Aku ngak becus jadi suami abi, harusnya aku yang lindungi Bina."
"Kamu ngak salah, dalam berumah tangga kalian harus saling menjaga saling melindungi" Ucap Abi Afnan sambil menepuk pundak menantunya.
"Coba kamu cari Bina ke rumah Ghea."
"Ghea?" Malik terkejut bahkan mertuanya mengenal cinta terlarangnya itu.
"Dia sahabatnya Bina, Abi dan Ummi udah menganggap Ghea seperti anak sendiri dan orangtua Ghea pun demikian terhadap Bina."
"Papa kirim alamatnya via whatsapp yah."
"Malik jemput Bina dulu bi."
----------
Pintu utama rumah Ghea terbuka mungkin memang betul dia sedang kedatangan tamu.
"Assalamu alaikum" Ucap Malik yang berada di depan pintu.
Mata Malik menelusuri setiap sudut rumah Haris. Dia mencari keberadaan Bina disana.
"Mas ada ta----" Ghea terkejut dengan kedatangan Malik dan tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Mas Malik?" Ucap Ghea.
"Ghea, Bina ada disini ngak?"
"BINA?" Haris dan Ghea kompak menyebut nama istri Malik.
"Bina ngak ada di rumah, aku cari dia kesana kemari tapi ngak ketemu juga."
"Duduk dulu Pak Malik" Haris mempersilahkan Malik untuk duduk.
"Pulang ke rumah abi mungkin mas?" Jawab Ghea.
"Aku udah kesana Ghea tapi ngak ada."
"Ghea coba aku lacak GPS nya" Haris pun khawatir dengan Bina, dia telah menganggap Bina sebagai adiknya.
"Coba kamu lihat deh" Haris memperlihatkan hasil pelacakannya pada sang istri.
"Ini kan rumah Dimas?" Ucap Ghea.
"Dimas?"
"Dimas Satya Rizky, dia sepupu jauh Mas Haris, Mas Malik" Jelas Ghea.
"Dokter Rumah Sakit Bakti Husada ngak Ghea" Malik kembali bertanya dan Ghea pun mengangguk.
Malik langsung bergegas meninggalkan rumah Ghea.
----------
Rumah Malik dan rumah Dimas masih satu kompleks perumahan.
__ADS_1
Malik kini telah berada di depan rumah Dimas.
"Mau ngapain loh kesini" Tanya Dimas dengan sinis pada sahabatnya itu.
"Jemput istri gue" Malik menyelonong masuk tanpa permisi di rumah Dimas.
"Eh Nak Malik toh yang datang" Ucap Satya Rizky papa dari Dimas.
"Aku mau jemput istriku pulang om" Malik menjelaskan maksud kedatangannya.
"Yang tadi pingsan di jalanan itu istri kamu lik?"
"Bina pinsang om? Tapi kok bisa disini sih?"
"Tadi dia mau beli bakso di depan kompleks, mungkin dia kelaparan eh pinsang deh gue tolong dong."
"Terus karena gue ngak tahu dia siapa? Rumahnya dimana? Gue bawa aja kemari" Jelas Dimas.
"Tapi gue ngak percaya deh bidadari secantik dia itu istri loh" Ucap Dimas dengan nada meremehkan.
"Dimas" Satya menegur anak semata wayangnya itu.
"Bercanda kok yah" Dimas nyegir mendapat teguran dari sang ayah.
"Om antar ke kamar tamu, istrimu sedang istirahat disana" Ayah Satya menuntun Malik untuk melihat istrinya, Dimas mengikuti mereka.
"Kamu sudah bangun nak, suami kamu jemput kamu nih" Ucap Ayah Satya ketika melihat Bina sudah sadar.
"Mas Malik?" Ucap Bina ketika melihat suaminya mendatanginya.
"Yah kita makan malam dulu" Ajak Dimas pada ayahnya.
"Nak malik ajak istrimu kita makan malam bersama" Ayah Satya meninggalkan kamar tamu terlebih dahulu.
"Mbak bidadari makan dulu yuk, abis itu mas ganteng antar pulang" Candaan Dimas ternyata sukses membuat Malik cemburu.
"DIMAS" Teriak Malik yang membuat telinga Dimas kepanasan.
"Kita makan dulu yah abis itu kita pulang" Ucap Malik sambil membelai kepala Bina yang tertutup Hijab.
Tidak ada lagi Malik yang kasar dan penuh emosi.
Ketika di meja makan Bina mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang ingin dia temui.
Ayah Satya mengerti dengan maksud tatapan Bina "Bundanya Dimas meninggal ketika dia berumur 2tahun."
"Maaf om" Bina merasa tidak enak hati pada Ayah Satya dan Dimas.
"Wajahnya mirip banget sama Afnan" Batin Ayah Satya ketika menatap Bina dengan seksama.
"Ngak apa-apa ayo makan dulu" Ajak Ayah Satya pada 3 orang anak muda di hadapannya.
Malik lebih memilih untuk diam, sambil menatap Bina dengan tatapan sulit diartikan.
Makan malam selesai, Malik mengajak Bina untuk pulang. Dimas dan Ayah Satya mengantar kepulangan mereka.
Ketika Bina telah masuk ke dalam mobil, Dimas menghentikan langkah Malik.
"Lik gue minta waktu loh sebentar boleh?" Malik pun menyanggupi permintaan sahabatnya.
"Gue ini dokter, loh ngak bisa bodohi gue, gue tahu tangan Bina yang lebam, penyebab dia pinsang."
"Loh orang kaya, CEO Darma Corp tidak mungkin di rumah loh kekurangan makanankan?"
"Gue akan maju ngerebut hati istri loh kalau loh masih nyakitin dia."
"Istri gue wanita terhormat dia ngak akan khianati gue dan ngak akan tergoda dengan loh" Malik berusaha agar tidak terpancing dengan ucapan Dimas.
"Justru karena dia adalah wanita terhormat sehingga dia tidak pantas untuk lelaki b*jingan seperti loh."
"Wanita terhormat juga punya hati, apa loh bisa menjamin dia akan tetap setia ketika loh selalu menyakiti dia."
Dimas masuk ke dalam rumah meninggalkan Malik yang masih terdiam.
**Genggam eratlah istrimu Malik Ibrahim sebelum orang lain merebutnya.
*Happy Reading*
__ADS_1
Love Wawa💕**