
Flashback On
Malam hari setelah pemakaman almarhuma Mama Ghea, keluarga Ayah Satya berkunjung ke rumah Abi Afnan.
Ummi Aisya memasak banyak untuk makan malam hari ini. Hampir semua menu masakan itu adalah menu favorit sang putri semata wayang.
Melihat makanan yang tersaji di atas meja seketika membuat wajah Bina memerah. Dan Sari adalah orang pertama menyadari akan hal itu.
"Bin, kamu kenapa? Muka kamu merah gitu loh" Tanya Sari pada adik iparnya.
Bina beranjak dari duduknya dan berlari menuju kamar mandi yang berada dekat dapur.
"Bina kenapa?" Tanya Dimas pada istrinya.
"Aku susul dia dulu yah" Ucap Sari.
"Hoek... Hoek... Hoek..." Bina mengeluarkan semua isi perutnya.
"Bin, kamu kenapa?" Tanya Sari sambil membantu memijat tengkuk Bina.
Sari menempelkan tangannya di kening Bina untuk mengecek suhu badannya.
"Normal kok, Bin."
"Aku ngak papa kok mbak, balik ke meja makan yuk" Ucap Bina dan melangkah lebih dulu.
Sari pun kemudian mengikuti langkah Bina.
Dimas yang duduk sebelah Bina disuguhi oleh teriakan sang adik "KAKAK."
"Kenapa teriak sih, Bin?" Dimas mengacuhkan Bina dan terus melahap makanannya.
"Geser gih."
"Geser?" Tanya Dimas dengan kening berkerut.
"Iya tukaran sama Ayah, kamu bau aku enek nyium parfum kamu."
"HAH" Semua orang terpelongo kaget mendengar ucapan Bina.
"Ngak mau" Dimas tak memperdulikan ucapan sang adik dan melanjutkan aksinya melahap makanannya.
"Hoek... Hoek... Hoek..." Bina kembali berlari menuju toilet.
Tingkah aneh Bina ditatap lekat-lekat oleh Sari dan Ayah Satya.
Sari Indah Purnama adalah wanita cantik berusia dua puluh lima tahun yang berprofesi sebagai dokter spesialis kandungan. Tapi siapa yang menduga bahwa di balik wajah cantiknya ia menyimpan luka di masa lalu yang hanya diketahui oleh Dimas Satya Rizky sang suami.
Beruntungnya Sari mempunyai Dimas sebagai suaminya yang menerima dia apa adanya. Menerima kisah masa lalunya kelam.
Setelah ritual mual-mualnya selesai Bina kembali bergabung di meja makan. Ketika hendak duduk di sebelah Ayah Satya, tiba-tiba dia merasakan tubuh dan lututnya melemah. Kepalanya berputar dengan sangat hebat. Di detik berikutnya Bina merasa penglihatannya menggelap, sebelum tubuhnya belum benar-benar jatuh ke lantai dia merasa ada sepasang tangan menangkapnya.
"Ayah tangkap Bina, dia mau pinsang."
__ADS_1
Itu adalah kata terakhir yang dia ingat, Bina telah kehilangan kesadaran sepenuhnya.
•
•
•
Ayah Satya panik saat melihat Bina akan jatuh menerpanya. Dengan sigap dengan menangkap Bina.
Dia membopong tubuh Bina, dia membawa Bina ke dalam kamarnya semuanya panik. Mereka mengekori Ayah Satya.
"Dimas cepat ambil peralatan ayah di mobil" Titah Ayah Satya.
Mendengar perintah dari sang ayah Dimas lari terbirit-birit menuju mobil. Dimas kembali dengan tas kerja sang yang berisi peralatan medisnya.
Ayah Satya mengeluarkan stetoskop, untuk memeriksa detak jantung Bina. Kemudian mengambil alat pendeteksi tensi darah digital dan memeriksa tekanan darahnya. Terakhir Ayah Satya meletakkan empat jari tangannya di nadi Bina, dia berusaha mendengarkan detak nadi sang keponakan dengan seksama. Setelah pemeriksaan yang dia lakukan selama sepuluh menit dan merasa yakin dengan diagnosanya, Ayah Satya menatap lekat-lekat semua orang di hadapannya.
Abi Afnan yang mengerti dengan keraguan sang kakak angkat bicara "Katakan saja mas" Ucapnya demikian.
Ayah Satya menghembuskan nafas dengan kasar dan memulai penjelasannya "Tekanan darahnya rendah, detak jantungnya lebih cepat dari manusia normal, denyut nadinya juga lebih cepat dari biasanya..."
"Jadi?" Sela Ummi Aisya karena merasa khawatir dengan sang putri.
"Bina hamil, Ummi" Dimas dan Sari kompak menjawab pertanyaan dari Ummi mereka.
"APA?" Teriakan Abi Afnan dan Ummi Aisya terdengar ke seluruh sudut rumah. Di satu sisi mereka senang karena akan mendapat cucu, tapi di sisi lain mereka sedih karena Bina hamil tanpa di dampangi oleh sang suami.
Detik demi detik berlalu bergantikan dengan menit. Bina sudah sadarkan diri dia mengerjapkan matanya melihat sekelilingnya dengan kebingungan.
"Bisa dong sayang."
"Akhhh... Sakit sekali Ummi" Ucap Bina saat hendak turun dari tempat tidurnya. Dia memegang perutnya sambil meringis kesakitan.
"Kamu kenapa, Bin? Tanya Sari.
"Perut aku kram mbak."
"Ya Allah Ummi tolong Bina ini sakit sekali" Rintih Bina saat sakit di perutnya semakin menjadi.
"Kita ke rumah sakit sekarang, Nan gendong Bina" Mendengar titah dari kakak, Abi Afnan langsung menggendong sang putri.
"Dimas, Sari kalian di rumah aja tunggu kabar dari kami" Ayah Satya kembali memberi titah pada putra dan menantunya.
•
•
•
Bina masih berada dalam gendongan sang abi. Mereka menyusuri lorong demi lorong rumah sakit. Kecemasan terus membuncah di hati mereka.
"Jadi apa yang terjadi putri saya dok?" Tanya Ummi Aisya.
__ADS_1
"Sejak kapan nona mengalami sakit seperti ini?" Tanya sang dokter sambil menatap Bina.
"Baru hari ini dok, tapi pekan lalu saya haid meskipun tidak lancar dan hanya terdapat bercak darah" Jelas Bina.
"Anda sudah menikah? Tanya sang dokter kembali sambil mencari sesuatu di jari manis Bina.
"I-iya dok" Jawab Bina dengan ragu.
Dokter menghela nafas panjang "Begini nona kondisi rahim belum sangat kuat untuk menerima seorang anak."
"Apa itu penyebab perut putri saya sering kram dok?" Tanya Ayah Satya sambil membelai rambut Bina.
"Betul sekali Dokter Satya."
"Maksud dokter saya belum siap hamil? Lalu bagaimana dengan anak saya? Dia baik-baik aja kan? Bina membordir sang dokter dengan deretan pertanyaan. Bina tampak panik.
"Kita tunggu hasil labnya keluar yah" Ucap sang sambil memegang tangan Bina untuk memberinya secercah ketenangan.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk" Ucap sang dokter tersebut. Susterpun masuk melihat ada Dokter Satya di dalam dia tersenyum penuh hormat pada orang nomor satu di Rumah Sakit Bakti Husada.
Dokter itu mulai membaca dengan teliti kata demi kata dalam surat yang dibawa oleh perawat tadi. Terlihat jelas ketegangan dalam raut wajah Bina.
"Bagaimana dok?" Tanya Ayah Satya.
"Dokter Satya, kondisi janin nona Bina sangat lemah resikonya sangat besar jika terus dipertahankan" Sang dokter merasakan lega tiada tara ketika berhasil menjelaskan ini pada Bina. Ibarat menunggu bisul yang memerah lalu pecah dengan baik.
Bina menatap nanar sang dokter "Apa tidak ada cara lain agar saya dapat mempertahankan anak saya?" Tanya Bina penuh harap.
Dokter itu tampak sedang memikirkan sesuatu, lalu dia membuka laci mejanya dan memberikan kepada Bina sebuah kartu nama.
"Dokter Letisya" Bina membaca nama yang tertera di kartu nama itu.
"Dia adalah dokter spesialis kandungan terbaik di Singapura anda bisa berkonsultasi dengannya. Sepertinya masalah anda terselesaikan olehnya."
"Abi? Ummi? Ayah?" Bina menatap satu persatu-satu orangtuanya.
"Aku sudah melepaskan Mas Malik dan sekarang aku ngak mau melepaskan anakku, izinkan aku untuk mempertahankannya" Ucap Bina sambil mengelus perutnya dengan lembut dan mulai meneteskan air mata.
"Dia itu cucu ummi, harta berharga ummi setelah kamu, kami akan selalu ada untukmu" Ucap Ummi Aisya sambil mengusap air mata Bina.
"Abi akan urus keberangkatan kita ke Singapura. Kita pakai jet pribadi kesana" Ucap Abi Afnan sambil mengelus kepala Bina.
"Ngak naik pesawat aja, Nan?" Tanya Ayah Satya.
"Keberadaan kita terlalu mudah dilacak kalau menggunakan pesawat. Kita kesana malam ini, kamu kabari Dimas dan Sari untuk nyusul besok pagi."
"Mereka juga akan menggunakan jet pribadi."
Flashback Off
Part selanjutnya kita akan bongkar siapa Sari dan apa yang terjadi pada dia di masa lalu. Tapi aku ngak bisa janji untuk up kapan, kalian sabar aja. Kalau udah kelar nulis langsung aku up kok.
__ADS_1
*Happy Reading*
Love Wawa💕