Labirin Duka

Labirin Duka
BAB 30


__ADS_3

Sabrina Magfirah


Bina sudah menduga, sangat sangat menduga bahwa Malik pasti akan menolak kehadiran Mina. Sama seperti dia menolak kehadiran Bina dulu.


Bina mempercepat langkahnya menuju mobilnya. Meninggalkan Malik yang telah memberinya luka untuk kesekian kalinya.


Setelah memasuki mobilnya dia menelungkupkan kepalanya pada stir. Menangis terisak, kenapa kejadian ini harus terjadi begitu cepat? Takdir seolah senang sekali mempermainkan dirinya. Terlalu asyik dengan isakannya sampai dia tidak menyadari bahwa Mina dan Sarah tengah memperhatikannya.


"Nda, Bunda kenapa nangis? Om itu jahat yah sama Bunda sampai bikin bunda nangis" Coleteh Mina.


"Om ngak jahat kok, Bunda cuma lagi sakit perut" Elak Bina pada putrinya.


"Mina kita makan siang dulu yah" Mina hanya mengangguk patuh pada permintaan sang bunda.


Bina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju restoran. Saat hendak ingin memarkirkan mobilnya tiba-tiba handphonenya berdering.


Bina menyuruh Mina dan Santi masuk dan memesan makan terlebih dahulu. Setelah kepergian mereka Bina mengambil handphonenya dan mengangkat sambungan telponnya bersama sang sekretaris.


"Assalamu alaikum ada apa Mbak Mita?"


"....."


"Oh iya saya lupa harus mewawancarai calon manager divisi akuntansi, kalau begitu kamu undur sampai dua jam lagi yah saya lagi makan siang bersama Mina" Ucap Bina.


Bina menutup sambungan telponnya lalu masuk menyusul Mina dan Sarah. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.


"BINA" Merasa namanya dipanggil Bina menoleh mencari asal suara itu.


"Mbak Sari" Bina berlari menghampiri sang kakak ipar.


Mereka berpelukan lama sekali, lalu Sari melepaskan "Kamu sendiri Bin?"


"Ngak Mbak lagi bareng Mina dan Sarah mereka udah nunggu di dalam, Mbak sendiri?"


"Iya Mas Satya dan Ayah lagi seminar dekat sini jadi tungguin mereka sambil makan siang aja."


"Bareng aja yuk kak" Sari menerima ajakan sang adik ipar dan melangkah bersamaan menghampiri Mina dan Sarah.


Setengah jam berlalu mereka berempat menyelesaikan makan siangnya. Sari adalah orang peka terhadap orang-orang di sekelilingnya. Dengan tatapan sendu yang Bina pancarkan dia telah mengetahui bahwa sang adik sedang punya masalah.


"Bin kamu habis nangis?" Tanya Sari.


"Iya Mah, Bunda tadi ketemu Om jahat terus Bunda nangis" Jelas Mina membuat Sari menatap Bina dengan alis yang menajam.


"Mina sama Bu Sarah ke play ground dulu yah, Mama mau ngomong dengan Bunda" Sarah mengerti dan segera membawa Mina ke lantai dua tempat permainan anak berada.


"Dia udah ketemu Mina, Mbak" Ucap Bina.


Sari refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya "Terus?"


"Dia bilang kalau Mina adalah anak haram dari hubunganku dengan laki-laki lain" Rintih Bina.


Sari menghembuskan nafasnya dengan kasar meraih punggung tangan Bina untuk menguatkannya.


"Untuk saat ini aku ngak bisa belain kamu, kamu memang salah Bin" Ucap Sari dengan tegas.


"Mbak?" Lirih Bina.

__ADS_1


"Kamu malsuin data kelahiran Bina, jadi wajar dong kalau Malik berpikiran Mina


bukan anak dia. Di tambah lagi kamu belum menikah setelah bercerai."


"Tapi Mas Dimas yang punya ide malsuin data-datanya Mina" Elak Bina.


"Dan kamu dengan mudahnya menyetujui ide konyol itu."


Bina tertunduk lesuh, dia akui bahwa dirinya juga punya andil dalam masalah ini. Dia dengan mudahnya setuju dengan ucapan dimas.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, tidak akan pulen meskipun ditanak lagi.


"Mbak aku duluan yah, aku harus melakukan tes wawancara dengan calon manager di kantor" Pamit Bina.


Bina naik ke lantai dua tempat Mina dan Sarah berada. Bina akan mengajak mereka ke kantor karena dia terus diburu oleh waktu.


"Mina ikut Bunda ke kantor yuk."


"Tapi aku masih mau main bunda" Tolak Mina.


"Di kantor bundakan Mina punya mainan, Mina bisa main disitu" Bujuk Bina dan putri kecilnya itu pun langsung menerima ajakan sang bunda.


Sesampainya di Garuda Corp Bina mempercepat langkahnya menuju ruangannya.


"Mbak Mita calon manager divisi akuntansi itu sudah datang?"


"Sudah dari tadi bu."


"Suruh ke ruangan saya sekarang" Bina bergegas masuk ke ruangannya.


"Mbak Sarah kalau mau lelah bisa istirahat di dalam aja yah" Bina bisa mengerti kondisi lelah Sarah.


"Terima kasih Nona."


Tok... Tok... Tok...


"Ya Masuk" Ucap Bina.


Seorang lelaki berpostur tinggi, kulit putih bersih memasuki ruangan Bina.


"Silahkan duduk" Perintah Bina.


"Dengan Arham Pramata?" Tanya Bina.


"Iya bu."


"Sebelumnya anda pernah bekerja di salah satu perusahaan property yang berada di Singapura?"


"Iya bu."


"Kalau boleh saya tahu kenapa anda berhenti dari perusahaan tersebut? Kan itu adalah perusahaan terbaik."


"Saya adalah perantau di Singapura. Begitu kontrak kerja saya disana selesai saya tidak ingin memperpanjangnya karena saya ingin lebih dekat dengan orangtua saya disini."


Belum Bina melontarkan pertanyaan lainnya tiba-tiba suara teriakan terdengar menggema "BUNDAAAA."


"Bunda boneka barbieku lehernya putus" Mina menghampiri sang bunda dengan menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Bina berusaha memperbaiki boneka barbie milik Mina tapi ternyata itu tak semudah yang dia bayangkan.


"Biar saya yang coba bu" Tawar Arham.


Bina pun memberikan boneka barbie buntung itu pada Arham untuk disambung kepalanya. Tak perlu waktu cukup lama akhirnya barbie buntung itu sudah kembali ke bentuk normalnya.


"Terima kasih Om" Ucap Mina.


"Sama-sama sayang" Arham mengelus Mina penuh kasih sayang. Dari matanya terlihat jelas bahwa dia sedang merindukan seseorang.





Malik Ibrahim


"Aku harus memperbaiki ini semua" Ucap Sari dengan mantap dia segera berjalan keluar restoran untuk menemui seseorang.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Awalnya Sari ingin menyusul Malik ke Darma Corp untuk meluruskan kesalahpahaman antara kedua orangtua Rizky Mina Ibrahim.


Tapi ketika hendak masuk ke dalam mobil dia melihat Malik baru keluar dari Cafe di seberang jalan.


"MALIK" Malik menatap Sari dengan kening berkerut. Wajar saja Malik lupa mereka hanya bertemu sekali itupun sudah enam tahun yang lalu.


"Bisa ngobrol sebentar, ngak lama kok cuma 10 menit doang" Pinta Sari saat telah sampai di hadapan Malik.


Malik melirik jam rolex kepunyaannya "Bisa, di dalam saja" Ajak Malik. Malik dan Sari masuk ke Cafe.


"Aku tahu kamu pasti lupa atau bahkan ngak kenal sama aku. Aku Sari istrinya Dimas, kakak ipar Bina" Jelas Sari. Malik tetap membisu, dia masih memberi waktu pada Sari menyelesaikan ucapannya.


Sari memperlihatkan Malik beberapa video.


Video pertama memperlihatkan seorang wanita tengah berjuang dan mempertaruhkan nyawanya saat mengalami kontraksi hebat di rumah sakit.


Video kedua adalah moment ketika wanita itu harus memasuki ruang operasi demi untuk mengeluarkan seorang nyawa baru.


Malik yang sejak tadi melihat video itu pun akhirnya terisak. Tangisnya semakin deras saat melihat seorang bayi kecil keluar dari perut wanita itu.


"Bi-bi-na" Rintih Malik.


"Iya betul sekali itu adalah Bina yang tengah bertaruh nyawa melahirkan anak kalian, buah cinta kalian, permata hati kalian."


"Tapi..."


"Aku tahu kamu pasti mempertanyakan usia Mina." Malik hanya mengangguk lemah.


"Bina hanya takut kamu menolak Mina di kehidupanmu, sama seperti kamu menolaknya dulu itulah sebabnya Dimas mengusulkan untuk mengubah dokumen kelahiran Mina dan Bina menyetujui ide konyol Dimas itu."


"APA?" Ucap Malik dengan nada tinggi yang melengking dan menggelegar bak seruan guntur dan kilat sedang beradu di langit yang gelap.


NB: Besok adalah hari Senin jadi aku ngak janji up besok. Semoga aja besok kegiatan kantor selesai dengan cepat jadi bisa UP Mbak Bina dan Mas Malik.


*Happy Reading*


Love Wawa

__ADS_1


__ADS_2