
"Kenapa aku masih kangen sama mereka yah? Padahalkan kita baru aja bertemu" Gumam Malik sembari menatap foto kebersamaan mereka.
"Apa Bina sudah tidur?"
Malik merogoh saku kantung celanya untuk mengambil hape. Dia melakukan panggilan telpon pada Bina tapi sayang hanya suara operator yang dia dengar.
"Kok ngak aktif? Aku sms aja deh..."
📩 Selamat malam bidadari surgaku, aku sungguh mencintaimu. Apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu.
PIP........
Suara klakson terdengar dari arah yang berlawanan dengan mobil Malik.
BRUUUUUUUUK....
Suara hantaman terdengar begitu keras dan suara klakson yang terdengar sangat nyaring.
"Bina, Mina aku pergi" Ucap Malik sebelum akhirnya dia benar benar tidak sadarkan diri.
•
•
•
Rumah Sakit Bakti Husada
"Dokter..." Panggil seorang perawat yang baru saja masuk ke ruangan Dokter Dimas Satya Rizky.
"Iya ada apa sus?" Tanya Dimas mengeryit heran karena melihat perawat itu sedang panik.
"Dok ada kecelakaan lalu lintas parah yang terjadi di dekat sini. Korban dalam kondisi tragis dan sedang dalam perjalanan kesini. Dokter Satya meminta anda untuk mendampinginya."
Tanpa pikir panjang Dimas langsung mengambil maskernya dan keluar dengan terburu-buru diikuti oleh perawat untuk menyambut pasien itu.
__ADS_1
Dimas bersama Ayah Satya sedang menunggu ambulance yang membawa korban kecelakaan itu tiba di rumah sakit. Dimas terus melirik jam di pergelangan tangannya.
Tak beberapa lama kemudian ambulance datang dengan pengawalan ketat dari pihak kepolisian. Dan....
DEG....
"Yah ini Malik" Dimas histeris melihat sahabat sekaligus ayah dari keponakannya bersimpah darah.
"Cepat kamu hubungi keluarganya dan hubungi Abimu segera" Titah Ayah Satya pada Dimas.
Dengan tangan gemetar Dimas menghubungi Papa Hadi dan Abi Afnan. Nampak jelas kepanikan dari dua keluarga itu.
Setelah melakukan perintah dari Ayah Satya, Dimas mencari keberadaan sang ayah.
"Ayah bagaimana keadaan Malik?"
Ayah Satya hanya menggelengkan kepalanya seakan memberi pertanda bahwa nyawa Malik sedang berada di ujung tanduk.
"Malik begitu banyak mengalami cidera di bagian tubuhnya dan yang paling Ayah khawatirkan adalah cidera di bagian kepalanya. Malik mengalami benturan yang cukup keras dan kalaupun dia bisa sembuh, dia tidak akan senormal dulu lagi."
"Dok... Pasien korban kecelakaan barusan sudah sadar" Ucap perawat yang keluar dari ruang IGD.
Beberapa menit berlalu seorang perawat keluar menghampiri Dimas yang nampak menunggu di depan ruang IGD.
"Dokter Dimas, pasien ingin bertemu dengan anda" Kata perawat itu.
"Di...mas" Ucap Malik dengan suara pelan tapi masih terdengar oleh Ayah Satya dan Dimas.
"Waktu gue ngak lama lagi, tolong jagain Bina dan Mina buat gue" Pinta Malik masih dengan suara yang begitu pelan dan terbata-bata.
"Ngak gratis, emang loh berani bayar gue berapa?" Ucap Dimas bercanda yang sebenarnya sedang berusaha untuk menutupi ketakutan dalam hatinya karena melihat keadaan Malik yang sudah terlihat aneh.
Malik hanya memberi senyum setipis benang lalu memejamkan matanya untuk kembali berucap "Gue pergi Dimas..."
Tiiiiiiiiit..... Terdengar suara panjang dari mesin sambungan alat pembantu pada tubuh Malik.
__ADS_1
"Ayaaaaaah..." Jerit Dimas yang masih berada di samping Malik.
Suasana tegang kembali terjadi, Ayah Satya dan tim medis lainnya tercekat melihat keadaan respon tubuh Malik. Mereka pun kembali melakukan hal yang mereka ketahui sesuai standar operasional prosedur yang berlaku. Untuk menstabilkan reaksi dari tubuh Malik.
Lima belas menit berlalu
Dimas dan Ayah Satya muncul membuka pintu, sudah tampak kehadiran keluarga Papa Hadi dan Abi Afnan. Tapi Mina sedang dititipkan pada Sari.
Raut wajah tegang dan panik tampak jelas di mata kedua keluarga itu "Gimana keadaan Mas Malik?" Tanya Bina sambil memandang Dimas dan Ayah Satya bergantian.
Tapi Dimas tidak menjawab pertanyaan Bina, dia langsung memeluk erat Bina tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Dimas terus mendekap Bina dan tak ingin melepasnya. Meletakkan kepalanya di bahu Bina untuk melepas penat, takut dan gelisahnya.
"Mas Dimas?" Bina terus mengelus punggung sang kakak dengan lembut.
"Mas Malik gimana keadaannya? Dia baik-baik aja kan?" Bina kembali mengulang pertanyaannya. Dia semakin sesak dan gelisah. Namun Dimas belum mampu untuk berbicara.
Tak lama kemudian pintu ruang IGD terbuka lebar. Keluarlah seorang perawat yang sedang mendorong sebuah brangkar dengan posisi pasien yang tertutup oleh kain putih secara menyeluruh.
"Dokter Satya, jenazahnya sudah siap untuk dibawa pulang" Ucap perawat tersebut. Dimas masih dalam keadaan mendekap Bina.
Bina dan yang lainnya tercengang, matanya melotot tajam lalu memerah. Seperti ada tamparan kilat yang mengaung di angkasa. Jantungnya berdebar tak karuan.
"MAS MALIK........" Teriak Bina dengan sangat nyaring.
Papa Hadi dan Mama Naya saling berpelukan dalam tangis.
Bina menyibakkan kain putih yang menutupi tubuh Malik. Menampilkan sosok Malik yang sedang terbaring kaku, dan sekujur tubuhnya mulai mendingin.
Bina menyentuh wajah tampan Malik dan menciumnya berkali-kali.
"Mas Malik bangun..." Bisik Bina di telinga Malik. Tapi sayang Malik tidak merespon ucapan Bina.
Hantaman halilintar itu membuat mata Bina terasa berat dan gelap. Kedua kakinya terasa layu tidak kuat menopang tubuhnya lalu dia jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
*Happy Reading*
Love Wawa💕