Labirin Duka

Labirin Duka
BAB 18


__ADS_3

Setelah melihat Bina mulai memasuki rumah, Malik bergegas untuk segera masuk kamar. Ia akan menunggu Bina disana.


Bina melihat mobil sedan putih kepunyaan sang suami telah terparkir rapi di garasi "Mas Malik udah pulang."


"Assalamu alaikum" Ucap Bina saat membuka pintu utama. Tapi Bina tak menemukan Malik.


Bina membawa arah pandangannya menuju lantai dua, dia melihat pintu kamar telah terbuka "Mungkin Mas Malik sedang di kamar aku susul aja deh."


Benar saja dugaan Bina bahwa sang suami berada di kamarnya.


"Mas kamu udah pulang?" Tanya Bina sambil meraih tangan suaminya untuk dia cium.


Pertanyaan dari Bina hanya dijawab dengan deheman oleh sang suami.


"Kalu gitu aku mandi dulu yah mas?" Malik hanya mengangguk. Bina bingung dengan apa yang terjadi dengan Malik. Tapi dia tidak ingin berekspektasi yang tidak-tidak.


----------


Malik segera menghampiri Bina yang telah keluar dari kamar mandi denga hanya menggunakan handuk.


"Kamu dari mana Bina?" Tanya Malik dengan nada tegas.


"A-aku..."


Kegugupan mulai merasuki Bina. Malik menarik tengkuknya tapi Bina segera menepis tangan sang suami dan agak mendorong tubuh suaminya sehingga mundur beberapa langkah.


"Jadi kamu tidak ingin aku sentuh dan kamu lebih memilih disentuh oleh lelaki lain yang bukan suamimu?" Ucap Malik sambil tersenyum miris. Bina gagal fokus sehingga tidak bisa mencerna dengan baik ucapan Malik.


"Apa maksud kamu mas?" Tanya bina. Bina menundukkan kepalanya karena Malik terus menatapnya dengan tajam.


"Ternyata aku salah menilaimu Bina, kamu itu wanita sok suci dan berhati busuk." Malik mulai memaki Bina.


Emosi Malik kian mendidih, kedua tangannya mencekik leher Bina dengan amat keras sehingga Bina kesulitan untuk bernafas.


"Mas Malik, tolong lepaskan tanganmu" Pinta Bina. Dia mencoba menyingkirkan tangan Malik tapi kekuatannya tak sebanding dengan kekuatan Malik. Malik menghempaskan tubuh sang istri sampai Bina terbatuk-batuk.


Malik kembali melangkah mendekati Bina. Tangannya meraih handuk yang membalut tubuh sang istri. Tapi Bina berusaha sekuat tenaga memegang handuknya dengan kedua tangan.


"Mas aku mohon jangan lakuin ini" Pinta Bina.


Kedua tangan Malik menyeret Bina dan melemparnya ke tempat tidur.


"Kau itu wanita murahan Bina, jadi jangan sok suci" Maki Malik sambil melayangkan telenjuknya ke hadapan Bina.


Kedua tangan Bina tak bergeming dia masih memegang erat handuknya. Dengan kasar Malik menarik handuknya, dan dengan sekali tarikan handuk itu terlepas dari tubuh Bina.


Bina menjauhkan tubuhnya dari Malik. Bina mencoba meraih selimut yang ada di dekatnya untuk menutup tubuhnya yang telah telanjang bulat. Malik menarik kedua tangan Bina ke belakang sehingga Bina merasakan sakit yang teramat sakit.


"Mas lepaskan tanganku, sakit mas" Rintih Bina. Air matanya jatuh membasahi pipi mulusnya.


Malik takjub memandangi keindahan lekuk tubuh Bina yang polos tanpa terbalut sehelai benang pun.


Malik merebahkan tubuh Bina dengan kasar kemudian menindih kedua kaki Bina agar dia tidak membrontak.


Malik pun melepaskan semua pakaian yang dia kenakan.


"Mas tolong jangan lakuin ini, aku mohon mas" Pinta Bina dengan deraian air mata. Bina berusaha melepas cekalan tangan Malik tapi tenaga Bina tak sekuat Malik.

__ADS_1


"Kalau aku ingin melakukannya kamu bisa apa? Apakah kamu lupa siapa aku? Aku adalah suami sahmu" Bisik Malik pada telinga Bina.


Lidah dan mulut Malik menyapu perlahan setiap lekuk tubu Bina. Malik terlihat sangat menikmati aksinya.


Tidak ada yang bisa Bina lakukan. Bina hanya memejamkan matanya menangis dan pasrah. Malik pun mulain mencari celah untuk menikmati tubuh Bina.


"MAS SAKIIIIIIIIIT" Teriak Bina. Tubuhnya menggeliat kesakitan saat Malik menghentakkan tubuhnya begitu kasar. Air mata Bina mengucur sangat deras. Untuk pertama kalinya dia merasakan kehancuran yang mendalam.


"Ternyata Bina masih perawan" Batin Malik.


"Mas Malik aku sangat membencimu. Aku bersumpah mas, aku ngak akan memaafkanmu" Rintih Bina dalam hatinya.


Hati Bina sangat hancur. Untuk malam ini Malik tidak akan melepaskan Bina. Semalaman dia menggagahi tubuh Bina hingga dia merasakan nyeri yang luar biasa.


Setelah puas, Malik meninggalkan Bina yang entah telah terlelap atau telah pinsang.


----------


Pagi harinya Bina terbangun, ia membuka matanya dengan perlahan. Bina turun dari tempat tidur dengan tubuh yang masih telanjang.


Dia mengambil handuk yang sempat dia pakai semalam, dan membalutkannya di tubuhnya.


Bina memegang perutnya dengan kedua tangannya sambil mendesis kesakitan.


Bina duduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya. Malik memang adalah suaminya, tapi tidak seharusnya merenggut mahkotanya secara keji. Hati Bina sangat hancur.


Bina keluar dari kamar mandi, matanya menyusuri setiap sudut kamar hingga terfokus pada gelas yang berada di atas nakas.


Bina kembali ke kamar mandi dan mengunci rapat-rapat pintunya.


PYAAAAAAAR


"Abi, Ummi, Ayah, Bang Dimas sakit" Rintih Bina. Darah mengucur deras dari pergelangan tangan Bina. Tak lama kemudian Bina tak sadarkan diri.


Sedangkan di tempat lain Dimas dan Ayah Satya sedang sarapan bersama. Tiba-tiba gelas yang dipegang oleh Dimas terjatuh dari genggamannya.


"Ayah, Bina?" Ucap Dimas dengan lirih sambil menatap sendu pecahan kaca itu.


"Kita susul ke rumahnya" Usul Ayah Satya pada putranya. Dimas mengangguk tanda setuju. Mereka berdua bergegas menuju rumah Bina.


---------


Sesampainya mereka di rumah Bina, ayah dan anak itu segera turun dari mobil. Melihat pintu utama agak terbuka mereka segera berhambur masuk untuk mencari keberadaan Bina.


"Dimas, lihat pintu kamar itu terbuka."


Tanpa pikir dua kali Dimas dan Ayah Satya langsung menuju kamar yang ditunjuk oleh Ayah Satya.


"Bina."


Panggil Dimas dan Ayah Satya. Penampakan kamar yag seperti kapal pecah semakin membuat mereka khawatir.


"Mungkin di kamar mandi Dimas."


"Ke kunci, Yah" Jawab Dimas saat memutar knop pintu.


"Dobrak aja, pasti Bina ada di dalam."

__ADS_1


Setelah lima kali dobrakan pintu berhasil dibuka.


"BINA..." Teriak Dimas. Dia pun mengangkat tubuh Bina sehingga handuk yang Bina kenakan sedikit terlepas.


"Tolong selimut, Yah" Pinta Dimas pada sang ayah.


"Kamu cari perban dan bajunya dulu, lalu kita bawa ke rumah sakit."


---------


Rumah Sakit Bakti Husada


Bina langsung dimasukkan ke ruang IGD saat tiba di rumah sakit.


Ayah Satya adalah kepala rumah sakit ini, dan Dimas dia masih berstatus sebagai dokter umum. Tapi dalam waktu dekat dia akan mengambil gelar spesialisnya.


Dokter yang menangani Bina pun keluar. Ayah Satya dan Dimas langsung menghampiri dokter yang diketahui bernama Febri.


"Bagaimana keadaan adik saya dok?" Tanya Dimas.


" Kami sudah menanganinya dengan baik Dokter Satya, Dokter Dimas. Untung saja kaca yang menancap di pergelangan tangannya tidak mengenai urat nadinya jadi pasien bisa terselamatkan."


"Tapi..." Dokter Febri seakan ragu untuk meneruskan kalimatnya.


"Tapi apa dok?" Tanya Ayah Satya dan Dimas.


"Alat kelamin pasien mengalami pembengkakan sepertinya beliau telah mengalami kekerasan seksual."


"Jika kalian izinkan kami akan lakukan visum" Penjelasan dari Dokter Febri membuat Ayah Satya dan Dimas terkejut.


"Saya kakak dari pasien, dan saya bersedia anda melakukan visum terhadapnya." Ucap Dimas.


"Baiklah Dokter Dimas akan kami lakukan" Setelah mendapat persetujuan dari keluarga pasien Dokter Febri segera melakukan visum.


"Dimas, Bina punya suami untuk apa kamu lakukan visum?"


"Ayah kalau Malik lakuin itu karena meminta haknya kenapa Bina sampai melakukan percobaan bunuh diri? Dan kenapa Malik kabur saat telah mendapat haknya?"


Apa yang diucapkan Dimas memang benar. Ayah Satya pun diam tak berkutik.


"Ayah kabarin abi dan ummi gih, Dimas ada keperluan sebentar." Dimas berlalu meninggalkan sang ayah.


---------


"MALIK" Teriak Dimas saat melihat Malik dari belakang.


"Ada yang gue mau omongin sama loh" Malik pun segera membawa Dimas ke ruangan yang sepi.


"Loh puas sudah nyakitin Bina?" Dimas tidak ingin basa-basi.


"Loh sendiri dekatin Bina, padahal dia itu istri gue."


"Mendekati istri orang yah?" Tanya Dimas dengan nada meremehkan.


"Lalu apa kabar dengan loh? Loh deketin Ghea padahal loh tahu dia itu wanita yang telah memiliki suami."


Dimas menang telak, Malik diam tak bergeming.

__ADS_1


*Happy Reading*


Love Wawa💕


__ADS_2