
Sepanjang perjalanan Iksan tak hentinya mengoceh. Tapi Ayu berusaha untuk tetap fokus mengemudi tanpa memperdulikan lelaki yang telah tiga tahun menjadi suaminya itu.
CIT...
Ayu menginjak rem mobil saat mereka tiba di tempat yang sangat ingin Ayu datangi sejak tiga puluh menit yang lalu.
"Kok kesini sih, Mah?" Tanyanya sambil menunjuk bangunan berlantai tujuh di hadapannya.
Iya tempat yang sedari tadi ingin Ayu datangi adalah Rumah Sakit Bakti Husada
"Ini..." Ayu mengeluarkan dua plastik klip berisi beberapa helai rambut yang sudah dia beri label masing-masing Sari dan Ghema.
Lagi-lagi Iksan dibuat terpelongo oleh gerakan cepat dari putri mahkota Angkasa Group itu.
"Dapat dari mana kamu ini Mah?" Tanya Iksan.
"Bukan hal yang sulit untuk aku lakukan Pah. Ingat loh, istri kamu ini punya banyak bakat terpendam." Ujar Ayu sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Kamu yakin ini rambutnya Sari dan Ghema dapat dari sih kamu?" Iksan masih butuh penjelasan panjang kali lebar untuk tindakan Sang Istri.
"Seribu persen yakin deh pokoknya." Jawab Ayu dengan semangat yang menjulang tinggi.
"Kok bisa?" Decakan dari mulut Ayu keluar karena suaminya masih saja meragukan usahanya untuk mengungkap jati diri Lestari Ghema Ibrahim.
"Jadi rambut Ghema aku dapat pas tadi aku meeting dengan Bina. Melihat rambut Ghema yang rontok di sisir waktu dia minta aku kepang rambutnya muncullah niat aku untuk melakukan Tes DNA." Jelas Ayu sambil menatap Iksan.
"Terus rambut Sari?" Tanya Iksan lagi.
"Sama seperti Ghema..."
"Sari minta kamu kepangin rambutnya juga?" Selaan Iksan berhasil membuat Ayu menatapnya nyalang.
"Ngaco kamu. Dengarin dulu baru nyela!" Titah Ayu.
"Aku ke rumah Sari alasannya klasik numpang WC pribadi dia."
"WC Pribadi?" Mata Iksan dibuat membola sempurna.
"Iyalah kalau numpang WC ruang tamu mana nemu aku sisir yang di pakai Mbak Sari." Jelas Ayu dengan mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Kamu ini serba bisa yah Mah. Aku beruntung loh dapatin kamu jadi istri aku. Kamu bisa benerin kulkas, benerin televisi, benerin cctv, bahkan jadi detiktif pun kamu bisa." Sahut Iksan sambil mencakup kedua pipi Ayu.
"Tapi satu hal yang susah bahkan ngak bisa aku lakuin Pah."
"Apa?" Tanya Iksan singkat.
"Aku ngak bisa jika harus tanpamu." Ingatannya tertuju pada masa-masa sulitnya bersama Iksan dahulu. Masa dimana restu seorang Galih Surya Atmadja belum bisa mereka dapatkan.
"Me too." Jawaban Iksan sambil mengecup singkat bibir ranum Ayu yang selalu menjadi candu baginya.
"Kita turun yuk, Pah! Aku harus buktiin secepatnya kalau Ghema itu adalah Arsi." Iksan menyahuti ucapan Ayu dengan gerakan kepala naik turun.
Teruslah berjuang Fitra Ayu, ingatlah juga bahwa hasil tak pernah mengkhianati usaha.
•
•
•
Sama seperti Arham kemarin, Ayu pun harus menunggu dua pekan lamanya untuk mendapatkan hasil Tes DNA Ghema.
"Lama banget sih, Pah." Kini gantian Ayu yang mengoceh dan Iksan yang fokus menyetir sedan hitam itu ke rumah Galih Surya Atmadja karena Alfian dan Baby Ika mereka titip disana.
Tapi yang ditanya melenggang pergi tanpa menghiraukan sekelilingnya. Dia masih kesal karena harus menunggu empat belas hari lamanya.
Panggilan dari Papa Galih pun dia acuhkan.
BUGH ~~~
Pintu kamar dia buka secara brutal, Iksan tentu saja tidak kaget dengan sifat Ayu yang demikian.
"Kalian bertengkar?" Tanya Papa Galih pada sahabat sekaligus menantunya itu.
Gelengan kepala Iksan menimbulkan tanya pada Papa Galih juga Mama Kinanti.
"Duduk dulu deh!" Titah Mama Kinanti.
"Alfian ama Ika udah tidur?" Tanya Iksan sambil mengedarkan netra hitamnya ke seluruh sudut rumah mencari kedua anaknya.
__ADS_1
"Alfian lagi kerja PR, Ika udah ngorok dari sejam yang lalu." Jelas Mama Kinanti, membuat Iksan mengangguk tanda mengerti.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, San! Kamu lagi bertengkar ama Ayu?" Tanya Papa Galih dengan gaya khas penyidik yang sedang menangani kasus korupsi.
"Dia lagi bete doang."
"Bete kenapa?" Mama Kinanti dan Papa Galih kompak bertanya dengan pertanyaan yang sama. Iksan sampai mengedikkan bahunya karena kaget dengan pertanyaan tiba-tiba dari mertuanya.
"Hasil Tes DNAnya keluar dua pekan lagi..."
"DNA siapa?" Lagi-lagi Mama Kinanti dan Papa Galih bertanya dengan kompak. Dan Iksan kembali mengedikkan bahunya sebab nada suara kedua mertuanya itu melengking.
"Ghema anak angkat dari Sabrina Magfirah." Papa Galih mengangkat sebelah alisnya.
"Apa hubungannya ama Ayu? Dia bukan anak kamu kan?" Iksan terbelalak karena ucapan nyeleneh Papa Galih.
"Ayu tuh curiga kalau Ghema itu anaknya Sari yang dibuang sama Wisnu tujuh tahun lalu."
"HAH? Anak Sari kan udah meninggal." Ucap Mama Kinanti dan di sambut anggukan kepala mantap oleh Papa Galih.
"Tapi nyatanya anak Sari masih hidup, Wisnu membuangnya di Panti Asuhan Kasih Abadi. Kalau kalian ngak percaya introgasi aja Ayu." Tanpa aiueo terlebih dahulu Mama Kinanti lantas beranjak dari duduknya dan berlari menuju kamar Ayu yang pintunya hanya tertutup setengah.
Papa Galih dan Iksan pun mengekori Mama Kinanti dari belakang.
"Yang diucapkan suamimu benar, Yu? Anak Sari masih hidup? Om Wisnu ngebuang anaknya Sari di Panti Asuhan?" Mama Kinanti memborbardir putri semata wayangnya dengan berbagai macam pertanyaan.
"Mah pelan-pelan nanyanya!" Titah Papa Galih.
"Mama duduk dulu yah!" Ayu membimbing Sang Mama duduk di tepian ranjang. Iksan dan Papa Galih duduk di samping istri mereka masing-masing.
"Dulu aku ngak punya keberanian buat cerita ini ke siapapun. Om Wisnu bilang ke Tante Rani kalau dia ngebuang Arsi di Panti Asuhan Kasih Abadi dengan sebuah surat untuk memberi nama bayi Kak Sari, Arsi."
"Papanya Ika bilang kalau Bina abis ngeadopsi salah satu anak di panti asuhan itu, wajahnya mirip Kak Sari. Pas aku kesana memang benar Ghema adalah Arsi, surat yang ditulis Om Wisnu ada bersamaan dengan penitipan Arsi Panti Asuhan."
Mama Kinanti hanya membekap mulutnya mendengar cerita Sang Putri.
"Mah... Pah... Ghema itu Arsi aku yakin banget. Tapi aku harus melakukan Tes DNA agar aku punya bukti akurat kalau dia benar anak Kak Sari, keponakan aku, cucu kalian." Mama Kinanti hanya mengangguk karena dia tidak bisa menemukan keraguan dalam diri Sang Anak ketika bercerita tentang Ghema.
"Papa dan Mama akan selalu mendukung setiap langkah yang kamu ambil sayang." Mama Kinanti membawa Ayu dalam dekapannya dan menghujani banyak ciuman di pusaran rambut Ayu.
__ADS_1
Sungguh moment yang mengharukan.
...Bersambung... ...