
Garuda Corp
Setelah mendapat titah dari Bina, Arham segera mempersiapkan dokumen untuk mengadopsi Ghema.
Semoga saja niat baik Bina untuk mengadopsi Ghema dirahmati oleh-Nya.
Dirasanya dokumen persyaratan sudah rampung Arham meraih handphonenya untuk menghubungi pengacara keluarga Afnan Rizky.
Mereka berdua membuat janji temu setelah jam kantor selesai. Iksan Pratama SH adalah pengacara kondang dan telah menjadi pengacara kebanggaan keluarga Afnan Rizky.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Waktu yang telah disepakati oleh Arham dan Iksan untuk segera menuju Panti Asuhan Kasih Abadi.
"Permisi saya ingin bertemu dengan Pak Arham apa beliau bisa ditemui?" Tanya Iksan pada Mita.
"Selamat datang Pak Iksan. Maaf apakah and telah membuat janji temu dengan Pak Arham?"
"Iya, kami telah membuat janji temu pukul empat sore" Jelas Iksan.
"Baiklah anda bisa langsung masuk saja" Mita bangkit dari duduknya untuk mengantar Iksan bertemu dengan Arham.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk" Ucap Arham ketika mendengar ketukan dari luar pintu ruangannya.
"Oh Pak Iksan mari silahkan duduk dulu" Ucap Arham pada pengacara keluarga Afnan Rizky.
"Bisa kita langsung berangkat saja karena saya masih punya banyak urusan setelah dari sini" Mengingat seorang Iksan Pratama adalah pengacara yang telah mempunyai jam terbang tinggi bukan tidak mungkin lagi jika dia bisa menangani lebih dari satu kasus perharinya.
"Tentu bisa Pak, mari silahkan" Arham buru-buru mengambil jas yang sebelumnya dia sampirkan di singgasanya.
Arham mendahului langkah Iksan untuk keluar dari ruangannya.
"Mit tolong bereskan berkas yang ada di meja saya" Titahnya pada Mita.
Iksan yang kebetulan sedang membawa mobil hanya mengikuti Arham dari belakang untuk menuju Panti Asuhan Kasih Abadi.
Hampir empat puluh menit membelah jalanan ibu kota tibalah Arham dan Iksan di Panti Asuhan Kasih Abadi.
"Assalamu alaikum..." Ucap Iksan ketika telah berdiri tegap di depan pintu utama yang sedikit terbuka.
__ADS_1
"Waalaikum salam..." Ucap Bu Retno.
Bu Retno tampak kebingungan melihat dua lelaki berjas di hadapannya.
Dengan kakunya Bu Retno mempersilahkan Arham dan Iksan masuk.
"Saya tinggal ke dapur dulu untuk membuat teh---"
"Tidak usah repot Bu. Niat kami kesini bukan untuk minta dibuatkan teh. Tapi untuk membicarakan soal adopsi anak yang bernama----" Iksan tampak berpikir sembari mengingat nama anak yang hendak diadopsi oleh klientnya.
Iksan mengadahkan tangan kepada Arham untuk meminta berkas yang telah disiapkan untuk proses adopsi Ghema.
Melihat isyarat yang diberikan Iksan, Arham lekas mengeluarkan berkas itu dari tasnya lalu memberikan pada pengacara sejuta pesona itu.
"Lestari Ghema Ibrahim" Ucap Iksan yang mengeja nama Ghema.
"Maksudnya?" Bu Retno masih kaget dan belum bisa mencerna baik perkataan yang diucapkan Iksan.
Iksan benci jika harus mengulang ucapan yang sama secara berulang. Tapi sebisa mungkin dia bersifat profesional.
"Maksud tujuan kami kesini ingin mengurus proses adopsi anak yang bernama Lestari Ghema Ibrahim."
"Bukan kami berdua yang ingin mengadopsinya tapi klient saya atas nama Sabrina Magfirah. Dan ini adalah orang kepercayaan beliau Arham Pratama" Jelas Iksan pada Bu Retno.
"Sebelumnya bisa saya melihat dokumennya" Pinta Bu Retno dan Iksan pun menyerahkan dokumen yang diminta oleh wanita paru baya itu.
Bu Retno tampak serius membaca dokumen yang diberikan oleh Iksan.
"Boleh kami bertemu dengan Ghema Bu?" Permintaan Arham membuyarkan konsentrasi Bu Retno. Bu Retno mendongakkan kepalanya menatap kembali dua lelaki berjas di hadapannya.
"Boleh Pak. Tunggu sebentar akan saya panggilkan" Bu Retno bergegas menuju kamar Ghema untuk diajak bertemu dengan Arham dan Iksan.
"Ini pak anaknya, namanya Lestari Ghema Ibrahim akrabnya cukup dipanggil Ghema" Jelas Bu Retno sambil menuntun Ghema duduk di sebelahnya.
DEG
Arham terus menyusuri wajah Ghema senti demi senti seperti ada kilatan masa lalu yang mengingatkan dirinya lewat wajah gadis kecil ini.
"Wajahnya seperti tidak asing bagiku? Tapi bukankah ini pertemuan pertama kami?" Batin Arham.
__ADS_1
"Bu Om ini dan Om itu siapa?" Tanya Ghema sambil menunjuk Arham dan Iksan bergantian.
Pertanyaan polos dari Ghema membuyarkan Arham dari lamunannya.
"Ini adalah Om Arham dan Om Iksan teman dari Tante Sabrina Magfirah yang akan mengadopsi kamu nantinya" Jelas Bu Retno.
"Bunda Bina..." Tanya Ghema dengan mata berbinar penuh kebahagiaan karena sebentar lagi dia akan mempunyai keluarga yang utuh. Ada Ayah, Bunda, dan Mina sebagai adiknya.
"Siapa sebenarnya anak ini? Mengapa dengan hanya melihatnya mengingatkanku pada Sari?" Arham masih menatap Ghema dengan sangat lekat. Tanpa dia sadari Bu Retno dan Iksan sedang kebingungan dengan tingkahnya.
"Pak Arham..." Iksan menepuk bahunya untuk kembali menyadarkan Arham dari lamunannya.
"Hah iya Pak Iksan" Ucap Arham yang tergagap seperti maling yang tengah tertangkap basah.
"Bapak tidak apa-apa?" Tanya Iksan padanya.
Arham hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum hangat pada Iksan, Bu Retno dan Ghema.
"Saya rasa dokumennya sudah selesai semua jadi kapan kami bisa membawa Ghema untuk bertemu dengan Ibu angkatnya?"
"Ketemu Ayah, Bunda, dan adik Mina bu?" Tanya Ghema dengan polosnya.
"Ayah?" Ulang Arham dan Iksan bersamaan.
"Yang Ghema maksud Ayah adalah Pak Malik Ibrahim" Jelas Bu Retno sambil membelai rambut panjang Ghema.
Arham dan Iksan menatap satu sama lain. Yah, sepertinya mereka melupakan tentang kematian Malik Ibrahim.
"Pak Iksan bisa kita bicara sebentar?" Pertanyaan Arham cuma dijawab anggukan kepala oleh Iksan.
"Bu kami izin bicara sebentar" Izin Iksan pada Bu Retno.
Ingat ritualnya My Lovely Readers
Like, Koment dan Vote
Ketchup Wawa😘
Happy Reading
__ADS_1
Love Wawa