Labirin Duka

Labirin Duka
Penawaran Menggiurkan


__ADS_3

Setelah mendapat tanda tangan dari pimpinan Angkasa Group seharusnya Arham kembali ke Darma Corp.


Tapi dia justru membawa mobilnya ke arah yang berlawanan dari Darma Corp yaitu Rumah Sakit Bakti Husada.


Untuk apa? Siapa yang sakit? Arhamkah yang sakit? Tentu saja jawabannya adalah melakukan Tes DNA atas Ghema Lestari Ibrahim. Gadis berumur tujuh tahun yang baru dua hari menjadi anak angkat dari Presdir Darma Corp Sabrina Magfirah.


Setelah melakukan administrasi dan tahapan Tes DNA, Arham harus mendapat rasa kecewa pasalnya hasil dari tes tersebut akan keluar dua pekan ke depan.


Tanpa Arham sadari ada sepasang netra hitam pekat yang sedang menatapnya dari radius sepuluh meter. Tatapan penuh kerinduan, tatapan yang masih sama saat tujuh lalu mereka berpisah.


Iya pemilik sepasang mata itu adalah Sari Indah Purnama. Wanita yang telah memberikannya seorang anak.


Kenapa Sari ada di Rumah Sakit yang sama dengan Arham? Tentu saja dia habis mengantarkan makan siang untuk suaminya Dimas Satya Rizky.


"Apa Mas Arham sakit?" Monolog Sari pada dirinya.


Sari terus menatap Arham dari kejauhan, sampai akhirnya Arham pun menghilang dari tatapannya. Tak ingin berandai-andai terlalu lama dengan semua tanya dalam pikirannya Sari memilih bertanya langsung pada seorang perawat yang berada di bagian administrasi tentang alasan kedatangan Arham disini.


"Permisi sus... Saya mau nanya! Bapak yang pakai jas hitam tadi ngapain yah?" Suster yang ditanyai oleh Sari mengulas senyum sembari membungkuk badannya sebagai tanda hormat pada menantu Kepala Rumah Sakit Bakti Husada itu.


"Pak Arham Pratama?" Tanya Sang Perawat.


"Iya." Jawab Sari dengan singkat.


"Pak Arham kesini untuk melakukan Tes DNA atas ananda Lestari Ghema Ibrahim." Penjelasan dari perawat tersebut membuat Sari membelalakkan matanya.


Tanpa kata permisi Sari langsung meninggalkan Sang Perawat. Pergi kemanakah Sari? Rupanya wanita berusia tiga puluh tahun membawa dirinya ke arah taman rumah sakit.


Sari duduk di bangku taman dengan pikiran yang bercabang.


"Tes DNA?"


"Lestari Ghema Ibrahim?"


"Apa hubungan Arham dan anak angkat Bina?"


"Kalau pun ternyata anak itu adalah anak Mas Arham lalu siapa ibunya?"

__ADS_1


Pertanyaan itulah yang mendominasi isi pikiran Sari saat ini.





"Aku yakin banget Ghema itu anaknya Mbak Sari. Dia keponakan kita, Pah." Ayu tetap teguh pada persepsinya.


"Jangan sampai persepsimu itu membunuh kenyataan yang ada, sayang." Ucap Iksan sambil menarik selimut naik ke atas menutup dada bidangnya yang polos.


"Ngak, Pah! Aku yakin Ghema itu Arsi." Penjelasan Ayu membuat Iksan menaikkan sebelah alisnya.


"Arsi? Siapa Arsi?" Tanya Iksan.


Dengan nafas berat, "Arsi adalah nama anak yang Mbak Sari siapkan untuk anaknya. Arsi artinya Arham Sari." Ucap Ayu.


"Pah besok kamu ada sidang ngak?" Tanya Ayu penuh harap karena sekarang stimulus otaknya sedang bekerja. Dia sudah punya rencana yang brilian untuk meyakinkan Sang Suami bahkan presepsi itu benar adanya.


"Berapa?" Tanya Ayu lagi.


"Cuma satu, emangnya kenapa?" Tanya Iksan balik.


"Kelar sidang antar aku ke Panti Asuhan Kasih Abadi, aku harus mastiin kalau Ghema itu Arsi." Kata Ayu dengan semangat yang menggebu.


Decakan muncul dari bibir Iksan.


"Mau buktiin gimana sih?"


"Om Wisnu pernah bilang ke Tante Rani kalau sebelum menaruh anak Mbak Sari di Panti Asuhan dia menulis secarik surat." Jelas Ayu.


"Isinya?"


"Om Wisnu nulis kalau anak itu harus diberi nama Arsi." Tak ada pilihan lain selain mengiyakan permintaan Sang Istri. Iksan akan selalu luluh jika Ayu menatapnya dengan tatapan puppy eyes miliknya.


__ADS_1




Keesokan harinya lepas sidang Iksan langsung bergegas membawa kereta besinya menuju Angkasa Group ada janji terhadap istrinya yang harus dia penuhi.


"Langsung masuk saja Pak, Ibu udah nungguin dari tadi." Ucap Desi saat melihat kedatangan Iksan Pratama.


Dengan gelengan kepala samar Iksan memasuki ruangan sang istri, "Ngak sabaran banget sih." Ucap Iksan.


KREK ~~~


Baru pintu ruangan terbuka setengah Ayu dengan sigap mengambil handbagnya dan berkata, "Kita berangkat sekarang, Pah."


"Mah aku baru tiba loh, suguhin kopi kek atau apalah." Gerutu Iksan pada Ayu.


Tapi jangan lupakan Iksan, Fitra Ayu adalah sosok yang paling mengerti inginmu tanpa kamu jelaskan sekalipun.


"Entar malam dua ronde, kalau Ghema terbukti adalah anaknya Mbak Sari aku tambahin jadi tiga ronde, gimana? ." Penawaran yang diberikan Ayu sungguh sangat menggiurkan untuk pengacara senior tersebut.


Tanpa pikir panjang dia segera menarik tangan sang istri untuk meninggalkan gedung megah Angkasa Group dan bertolak ke Panti Asuhan Kasih Abadi.


QnA


Q: Kok dominan Ayu ama Iksan sih sekarang? Kan mereka udah punya novel sendiri!


A: Mereka sengaja aku kirim kesini untuk sebuah misi rahasia😂


Q: Lama ngak mereka disini?


A: Ngak kok cuma sampai misi mereka selesai


Q: Misi apa emangnya?


A: Tebak aja sendiri😋


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2