
Bagi Ayu dan Arham waktu seakan berputar sangat lambat. Harus menunggu selama dua pekan terasa lama bagi mereka.
Tidak ada pilihan lain selain menyibukkan diri mereka dalam pekerjaan masing-masing. Hanya itu yang bisa mengusir jenuh ketika harus menunggu rilis Tes DNA Lestari Ghema Ibrahim.
Tok... Tok... Tok...
Mata Arham yang kini fokus menatap layar laptop teralihkan saat mendengar ketukan dari luar pintu ruangannya.
"Masuk!" Sahut Arham dengan suara nyaring.
Arham segera beranjak dari duduknya saat melihat Bina lah yang masuk ke dalam ruangannya.
"Kenapa Ibu yang kesini, kan Ibu bisa hubungi saya. Biar saya yang ke ruangan Ibu." Ucap Arham pada Presdir Darma Corp itu.
"Mari Bu silahkan duduk!"
"Kalau kamu yang ke ruangan saya ngak kelar nih proyek, soalnya kamu pasti dimonopoli oleh Ghema dan Mina." Cebiknya pada Arham.
"Proyek apa yah, Bu?" Tanya Arham sambil refleks menggaruk keningnya.
"Proyek yang di Bandung ada kendala sedikit, kamu bisa ke Bandung untuk memantau ngak? Urusan disini biar aku yang ngatur." Jelas Bina.
"Kapan dan berapa lama Bu?"
"Secepatnya sih, yah lamanya paling mentok sepekanlah." Andai bukan Bina yang memintanya ingin sekali Arham menolak tugas itu. Bukan tanpa sebab dia ingin menolak, hasil Tes DNA Ghema akan keluar enam hari kemudian itu artinya dia akan telat sehari untuk mengambil hasil tersebut.
"Ham..." Bina sedikit menghentakkan bahu Arham karena tak kunjung mendapat jawaban dari lelaki disebelahnya itu.
Sungguh segan untuk Arham untuk menolak tugas tersebut.
"Kamu ngak bisa?" Terkaan Bina membuat Arham dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Bisa kok, saya bisa. Besok saya bisa langsung berangkat ke Bandung." Jawaban dari Arham membuat Bina lega. Satu masalah bisa teratasi pikirnya.
"Makasih yah, kalau begitu saya balik ke ruangan dulu." Bina bangkit dari duduknya, Arham mengantar orang nomor satu di Darma Corp itu sampai di ujung pintu ruangannya.
"Saya yang makasih karena sudah diberi amanah oleh Ibu." Ujar Arham setengah membungkuk.
"Iya sama-sama kamu silahkan lanjutkan pekerjaanmu!"
•
•
__ADS_1
•
Hari mulai menggelap, aktifitas di kantor Angkasa Group mulai sepi. Hanya menyisahkan beberapa karyawan yang harus lembur tak terkecuali pimpinan mereka Fitra Ayu.
Ayu sudah mengabarkan suaminya bahwa hari ini dia akan pulang terlambat karena harus memeriksa beberapa laporan dari setiap devisi di kantornya.
Tapi di sisi lain Ayu melakukan ini untuk mengusir jenuh ketika menunggu hasil Tes DNA Ghema yang masih akan keluar sepekan lagi.
"Pah... Mama mana?" Karena melihat Papa sambungnya pulang seorang diri.
Iya bocah itu adalah Alfian Alfattah putra pertama Fitra Ayu dari pernikahan sebelumnya bersama Yudi Sanjaya. Dia tumbuh menjadi lelaki tampan dan pintar.
"Mama lembur sayang, kamu ada PR yang sulit ngak? Ada yang kamu ngak ngerti? Sini Papa bantu kerjain!" Titah Iksan sambil menggandeng tangan Alfian menuju kamarnya.
"Adek kemana Kak?" Tanya Iksan karena tak melihat sosok putrinya itu.
"Ada di rumah depan sama Kakek dan Nenek, Pah." Iksan hanya ber-Oh ria atas ucapan Sang Putra.
Iksan dan Ayu memang sudah sepakat untuk bergantian menjaga Alfian dan Baby Ika. Jika Iksan yang lembur, Ayulah yang menjaga kedua buah hatinya begitu juga sebaliknya.
•
•
•
"Mah kamu ngak kerja?" Kening Iksan berkerut melihat Ayu hanya memakai jeans dan kaos rumahan.
"Kita harus ke Rumah Sakit Pah..."
"Siapa yang sakit, Mah?" Ayu dan Iksan sama-sama mendongakkan kepala mereka. Ternyata Alfianlah menyela ucapannya.
Ayu selalu memegang teguh prinsipnya bahwa anak-anaknya sebisa mungkin tidak akan dia libatkan ke dalam masalah orang dewasa jika umur mereka belum cukup untuk itu.
"Mama dan Papa mau jenguk teman Mama yang sakit, iya kan Pah?" Tanya Ayu pada suaminya sambil mengedipkan sebelah matanya.
"I-iya nak!" Ucap Iksan dengan terbata-bata.
"Kamu sarapan dulu yah. Om Firman udah di jalan mau kesini." Dan Alfian mengulas senyum manisnya sembari menganggukkan kepalanya.
Iya, Om Firman yang dimaksud Ayu adalah Firman sahabatnys sekaligus asisten setia Iksan Pratama.
•
__ADS_1
•
•
"Bisa cepatan ngak sih nyetirnya Pah?" Geretu Ayu pada suaminya karena lambat sekali mengemudikan kereta besinya.
"Ini macet loh, Mah!" Kilah Iksan.
Tidak ada lagi percakapan antar keduanya sampai mereka tiba di Rumah Sakit Bakti Husada.
"Mah jalannya pelan-pelan dong!" Teriakan Iksan tak digubris oleh Sang Istri. Ayu terus berjalan dengan langkah cepat panjang. Dia harus segera mengetahui apa hasil Tes DNA tersebut.
"Sus saya mau ngambil hasil Tes DNA atas nama Sari Indah Purnama dan Lestari Ghema Ibrahim!" Ujar Ayu dengan nafas tersengal-sengal.
"Sebentar yah, Bu!" Ayu hanya tersenyum manis pada perawat yang bertugas di bagian administrasi itu.
"Udah keluar hasilnya?" Tanya Iksan yang baru sampai di bagian administrasi rumah sakit.
"Lagi diambilin ama susternya." Jawab Ayu dengan manik mata yang terus menatap Sang Suster.
"Ini Bu hasilnya." Sang Suster memberikan amplop putih yang berisikan hasil Tes DNA antara Sari dan Ghema.
Tangan Ayu gemetar menerima amplop putih tersebut. Dan entah kemana semangatnya tadi, saat ini dia merasa ragu untuk membukanya. Bagaimana kalau Ghema bukanlah keponakannya?
Dia menatap suaminya, memberi telepati bahwa dirinya sedang dilanda keraguan saat ini.
"Kamu ragu?" Firasat Suami Istri tidak akan pernah meleset bukan? Hanya menatap manik mata Sang Istri, Iksan sudah paham akan perasaan Ayu saat ini.
Ayu hanya mengangguk sembari menggigit erat bibir bawahnya.
Lalu Iksan membawa Ayu duduk di salah satu kursi yang terbuat dari bahan stainless milik Rumah Sakit terbesar Ibukota itu.
Iksan menatap lekat Sang Istri dengan memegang erat kedua lengannya, "Langkah kamu untuk ngebukti Ghema adalah anak Sari sudah terlalu jauh! Sudah telat untuk kamu mundur! " Ujar Iksan penuh kelembutan.
"Tapi gimana kalau Ghema bukan Arsi, Pah?" Tanya Ayu dengan nada bergetar.
"Kamu ngak akan tahu kalau kamu ngak buka amplop itu, Mah." Dengan mengucap Basmallah dan keyakinan kuat Ayu mulai membuka amplop yang berada dalam genggamannya.
Matanya membulat sempurna karena ternyata Ghema......
Hayo pada nungguin yah?
...Bersambung... ...
__ADS_1