Labirin Duka

Labirin Duka
BAB 35


__ADS_3

Di sisi lain tampak Aldita dan kedua orangtuanya menangis melihat bersatunya keluarga kecil itu. Pelan-pelan mereka meninggalkan ruang keluarga tanpa diketahui oleh Malik, Bina dan Mina.


"Ayah Bunda gerah" Ucap Mina ketika masih terhimpit dalam pelukan kedua orang tuanya.


"Maaf yah sayang, mau jalan-jalan ngak Ayah temanin kalian?" Ajak Malik.


"Ayah... Yah... Ayah..." Mina memanggil Malik dengan sangat manis. Bina sangat hafal dengan kebiasaan putrinya. Jika Mina berkata manis seperti itu, pasti ada sesuatu yang dia inginkan.


"Iya sayang" Hati Malik menghangat mendengar Mina memanggilnya dengan sebutan ayah.


"Yah... Aku mau makan burger..." Mina memberikan tatapan puppy eyes membuat Malik tak kuasa untuk menolak permintaanya.


"Mina kemarinkan kamu udah makan burger nak" Bina berusaha menolak permintaan putrinya dengan halus.


"Yah..." Mina memanggil Malik dengan mata yang telah berkaca-kaca.


"Mas jangan diturutin" Ucap Bina dengan tatapan nyalang pada Malik. Tapi Malik tetap kekeuh dengan ucapannya. Sikap keras kepala Malik kini menurun ke Mina. Dasar Ayah dan anak sama saja, pikir Mina dengan gemas.


"Ya udah ayo kita pergi makan burger" Malik segera menggendong Mina sebelum Bina melakukan aksi protesnya lagi.





Malik melajukan mobilnya menuju arah yang berlawanan dari restoran siap saji "Mas kita salah arah deh kayaknya?" Tanya Bina sambil mengedarkan pandangan keluar jendela.


"Aku punya kejutan untukmu dan Mina" Kata Malik tapi yang masih fokus mengemudi.


Mobil yang mereka tumpangi kini telah berada di halaman Panti Asuhan Kasih Abadi.


"Panti Asuhan Kasih Abadi" Bina mengeja nama panti asuhan.


"Yah kan kita mau makan burger" Rengek Mina pada Malik.


"Ayah punya kejutan untuk kamu dan Bunda" Malik menggiring Bina dan Mina masuk ke dalam panti asuhan.


Seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahunan berlari menghampiri Malik sambil berseru "Ayah..."


DEG


Hati Bina seketika mencolos mendengar anak itu memanggil Malik dengan sebutan Ayah.


Jika Bina memilih menyimpan tanya atas perlakuan anak itu pada Malik lain halnya dengan Mina.


"HUAAAH.... Itu Ayahku, kamu siapa?" Mina terisak keras.


Malik meraih Mina dalam gendongannya. Lalu mentautkan jarinya ke jari Bina.

__ADS_1


"Bu Retno ada sayang?" Tanya Malik pada anak kecil itu. Dan anak itu hanya mengangguk malu, mungkin dia tak enak hati pada Bina dan Mina.


Mereka berempatpun masuk ke dalam menemui pengurus panti asuhan.


"Assalamu Alaikum" Ucap Malik dan Bina ketika memasuki pintu utama.


"Waalaikum Salam" Jawab wanita paru baya bernama Retno.


"Mari silahkan duduk Pak Bu."


"Mas siapa anak ini?" Bina tidak lagi menahan rasa ingin tahunya.


"Biar Bu Retno yang menjelaskannya, Bin."


"Begini Bu, anak ini adalah Lestari Ghema Ibrahim. Akrabnya dipanggil Ghema" Jelas Bu Retno.


"Ghema?"


"Iya Bin, gabungan dari nama Ghea dan Malik."


"Ja-di?"


"Kamu salah Bin, namanya memang gabungan dari namaku dan nama Ghea. Tapi dia bukan anakku dan Ghea. Kamu lihat dia, apa kamu bisa melihat kemiripan aku dan Ghea dalam dirinya?"


"Aku seperti tidak asing dengan wajahnya Mas" Ucap Bina yang menatap lekat Ghema.


"Dia anak yang dibuang sejak lahir oleh orangtuanya. Dan ketika aku dan Ghea sedang melakukan kunjungan rutin disini kami langsung jatuh hati dan memberi dia nama Ghema, meskipun..." Malik seperti ragu melanjutkan perkataannya.


"Meskipun sewaktu dia dibuang orangtuanya telah memberi dia nama Arsi."


"Arsi?"


"Iya tapi aku dan Ghea ngak setuju karena orangtuanya sudah tidak punya hak lagi atas Ghema, mereka udah ngebuang Ghema" Jelas Malik. Tapi pandangan Bina sedikitpun tak terlepas dari Ghema. Ibu satu orang anak itu masih berpikir kenapa wajah Ghema tidak asing baginya.


"Bin kamu ngak keberatankan kalau Ghema ikut kita dan Mina jalan-jalan hari ini?" Cicit Malik.


"Iya Mas, Mina juga ada temannya. Iya kan nak?"


"Iya Bunda" Mina memeluk erat Malik seolah tak ingin lepas dari sang Ayah.


"Bu saya izin bawa Ghema jalan-jalan dulu yah" Pamit Malik pada Bu Retno, dan dia mengizinkan Ghema pergi.





Malik terlihat fokus mengemudi, dengan Bina yang duduk manis di sebelahnya. Di bangku belakang terlihat Ghema dan Mina sudah duduk berdua. Kedua gadis kecil itu sesekali curi-curi pandang untuk menatap wajah satu sama lain.

__ADS_1


"Namaku Mina, nama kamu siapa?"


"Namaku Ghema..."


Mereka berdua akhirnya bisa memandang dengan senyum. Tidak kaku seperti beberapa menit lalu.


Mereka semua telah tiba di salah satu restoran siap saji. Tanpa menunggu lama mereka pun masuk dan memesan makanan masing-masing. Ghema dan Mina terlihat sangat senang, mereka makan sangat lahap.


"Mas aku ijin ke toilet bentar yah" Setelah mendapat izin dari Malik Bina pun berlalu menuju toilet.


"Mina Ayah pinjam buku dan alat tulis kamu yah."


Tanpa rasa curiga Mina pun menuruti permintaan sang Ayah.


Malik merobek kertas di buku Mina dan menuliskan sesuatu disana. Setelah selesai dia meraih dompetnya menempelkan materai 6000 disana.


Syukurlah Bina kembali setelah Malik menyelesaikan misi rahasianya.


Setelah Bina kembali duduk di tempatnya, Malik menyerahkan kertas itu pada Bina.


"Apaan ini Mas? Surat?" Kenapa pakai gini sih kan tinggal ngomong aja" gerutu Bina ketika menerima surat yang disodorkan oleh Malik.


"Itu bukan surat Bin, tapi proposalku" Ucap Malik sambil tersenyum kikuk.


"Mana ada proposal dari kertas gini?" Bina semakin dibuat kebingungan.


"Baca aja napa sih Bin?"


"Ngak, kamu pasti ngerjain aku kan Mas" Tanya Bina penuh selidik pada pria dihadapannya itu. Sedangkan Ghema dan Mina hanya sibuk dengan burger mereka masing-masing.


Malik lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar "Itu proposalku pengajuan diriku untuk kembali menjadi suamimu. Kalau kamu bersedia kembali menerimaku kamu bisa tanda tangan di bagian yang udah aku tempelin materai. Tulis nama kamu secara jelas dan lengkap jangan lupakan tanggal hari ini juga."


Bina pun tertawa geli mendengar ucapan Malik. Bahkan setetes air mata jatuh berderai di pipi mulusnya.


"Sok romantis banget sih, seperti film dilan aja. Ingat umur mas, kita udah tua loh. Udah punya dua anak juga."


"Dua anak?" Kini Malik kembali kebingungan dengan ucapan Bina.


Bina membelai kepala Ghema penuh kasih sayang "Kamu udah menganggap anak ini sebagai anakmu jadi izinkan aku juga menganggapnya sebagai anakku."


"Terima kasih sudah menerima Ghema, Bina" Ucap Malik penuh haru.


"Bin, baca dong proposalnya" Titah Malik.


Bina pun membuka lipatan kertas itu sambil tertawa. Dan mulai membaca setiap kata yang terdapat dalam selembar kertas yang digenggamnya.


Berbahagialah Sabrina Magfirah, sebentar lagi awan duka akan kembali meneparmu.


*Happy Reading*

__ADS_1


Love Wawa💕


__ADS_2