
Matahari sudah kembali ke peraduannya. Siang berganti dengan malam berselimutkan bintang.
Setelah kepergiaan Dimas dia merasa dunia hancur, bak terpaan tsunami yang memporak-porandakan segalanya.
Sudah tak ada lagi cela dan harapan untuknya membina mahligai rumah tangga kembali dengan wanita yang dia cintai Sabrina Magfirah.
Malam ini, Malik memutuskan untuk pulang ke rumah yang dulu dia tinggali bersama Bina.
KREK
Pintu rumah terbuka, memperlihatkan keadaan dalamnya yang bak rumah hantu. Sepi tak bernyawa, tanpa seolah ratu di dalamnya.
Malik akui banyak perubahan yang terjadi pada dirinya setelah drama perceraiannya. Dia mengutuk dirinya atas perbuatan kejamnya pada Bina.
Dia tidak menyangka bahwa aksi cemburu butanya membuat Bina berani mengambil keputusan untuk bercerai.
Malik melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Terlihat jelas semua sudut rumah tertutup debu tebal. Air mata menetes tanpa permisi di pipi pria berusia 26tahun itu.
Tiba-tiba suara dari arah dapur mengagetkan Malik "Den Malik pulang?" Bi Inah terlihat tengah mengambil air di dispenser. Malik hanya mengangguk dan menapaki anak tangga untuk menuju kamarnya.
----------
Tak ada yang berubah dari kamar ini, masih seberantakan dulu. Malik menyusuri sudut demi sudut kamarnya. Pintu kamar mandi yang terbuka seakan menarik dirinya untuk masuk kesana.
Hatinya ngilu melihat ada pecahan gelas di dekat bath up.
"Bina betul melakukan percobaan bunuh diri? Apa ini yang dia gunakan? Suami macam apa aku ini?" Rintih Malik.
Malik terus mengutuki kebodohannya. Dia menjambak rambutnya, mengerang frustasi. Setelah sedikit tenang dia keluar dari kamar mandi.
Langkah kakinya kini membawanya ke ranjang yang menjadi saksi percintaan mereka. Aksi percintaan yang Malik lakukan dengan sangat buas dan brutal.
Perasaan menyesal lagi, dan lagi kembali mendominasi hatinya. Apalagi ketika melihat darah yang telah mengering di selimut putih kepemilikannya.
Dia meraih selimut dan mendekapnya dalam tangis penuh kepiluan. Malik terus memeluk erat selimut itu sembari mengenang senyum manis Bina.
Bisikin iblis durjannah meracuni pikirannya, bisikan suami tidak berguna selalu terngiang di telinganya.
Malik bangkit dia, tidak lagi bisa menguasai dirinya dia menghancurkan semua barang di dalam kamarnya.
Malik seperti orang kesurupan yang tidak bisa mengendalikan emosinya. Bi Inah yang mendengar keributan dari kamar sang majikan segera menghampirinya. Tapi dia tak berdaya untuk menenangkan Malik, yang bisa dia lakukan hanya menghubungi Papa Hadi atau Mama Naya.
Mendapat kabar dari Bi Inah membuat panik Papa Hadi dan Mama Naya. Mereka segera berangkat menuju rumah Malik. Tak lupa Papa Hadi mengikut sertakan beberapa anak buahnya untuk mengantisipasi jika ada hal buruk yang terjadi pada Malik, anak sulungnya.
----------
"Malik dimana Bi?" Tanya Mama Naya ketika sudah berada di rumah sang putra.
"Di dalam Nyonya" Ucap Bi Inah sambil menunjuk kamar yang terkunci dari dalam.
"Kakak..." Panggil Mama Naya sambil mengetuk pintu kamar. Tapi tak ada sahutan dari dalam. Malik hanya berteriak memanggil nama Bina.
"Kak keluar yah kita bicara diluar, jangan buat mama sakit karena kelakuanmu ini" Rintih Mama Naya.
Tidak ada jawaban dari Malik semakin membuat kalut pikiran Papa Hadi dan Mama Naya.
"Kak keluar kita bicara di luar. Papa mohon jangan bersikap seperti anak kecil dong."
__ADS_1
Tak berselang beberapa lama pintu kamar terbuka. Penampilan Malik yang acak-acakan dan kamar yang terlihat seperti kapal pecah membuat miris hati Mama Naya.
Papa Hadi dan Mama Naya mendudukkan tubuh mereka di tepi tempat tidur.
Hening... Hening... Hening...
Sampai akhirnya Papa Hadi angkat bicara "Kamu masih mencintai sekretarismu itu? Kau frustasi karena suaminya akan membawanya pergi?" Ucap Papa Hadi dengan nada meremehkan.
Malik duduk bersimpuh memeluk kaki sang papa "Ngak pah, aku sayang Bina tapi dia pergi meninggalkan aku. Aku ngak mau dia pergi."
Hati Mama Naya terasa sakit melihat putranya hancur. Tapi dia tak bisa berbuat banyak karena ini memang salah Malik.
Mama Naya menuntun Malik untuk mendekat padanya. Dia mengelus pundak Malik "Kamu relakan Bina, mungkin garis perjodohan kalian memang cukup sampai disini. Sudah cukup kamu menyiksa Bina, biarkan dia bahagia."
"Tapi Mah..."
"Malik kamu jangan egois, Bina itu manusia biasa yang punya batas kesabaran. Relakan dia."
"Mah... Pah... Bantu aku untuk mendapatkan Bina, aku sayang Bina" Lirih Malik sambil memeluk kaki Mama Naya.
Melihat Malik memohon seperti itu membuat hati Papa Hadi tersentuh. Pria paru baya itu menggeser duduknya, lalu menuntun Malik untuk duduk di tengah-tengah mereka "Besok setelah meeting dengan client kamu ke perusahaan Abi Afnan karena Papa dengar sekarang Abimu tengah mempersiapkan Bina untuk menjadi penerusnya di Garuda Corp."
"Kamu istirahat yah" Malik mengangguk. Papa Hadi dan Mama Naya memberi waktu untuk sang putra beristirahat.
----------
Setelah melakukan rapat dengan client, Malik melajukan mobilnya menuju gedung megah Garuda Corp.
Sesampainya disana Malik justru dihadang oleh pihak keamanan. Penghalangan terhadap Malik bukan tanpa alasan, Abi Afnan memberi ultimatum keras pada semua bawahannya. Bahwa CEO Darma Corp telah masuk dalam daftar hitam tamu dan harus diwaspadai.
Malik kembali ke dalam mobil dan mengambil handphone yang dia taruh di saku jasnya. Malik tampak sedang menelpon seseorang.
Setengah jam berlalu dering handphonenya berbunyi, Malik segera menggeser ikon hijau.
"Tuan Afnan dan Nyonya Sabrina sedang tidak berada di kantor, Tuan" Ucap seseorang yang ada di seberang sana meleporkan semua yang dia ketahui.
"Ngak ada gimana? Seharusnya kan ada salah satu dari mereka yang stay kantor" Ucap Malik dengan nada meninggi.
"Semua kegiatan operasional diambil alih oleh pemegang saham yang lain. Mita sekretaris Tuan Afnan tidak ingin menjelaskan secara rinci."
Malik memutuskan sambungan telpon lebih dulu. Malik merasakan lemas di seluruh tubuhnya.
"Jangan tinggalin aku, Bina" Malik menelungkupkan wajahnya di atas stir mobil sambil mengutuki kebodohannya.
"*Andai aku tidak menyakiti Bina."
"Andai aku menerima perjodohannya dengan ikhlas."
"Andai aku tidak termakan api cemburu."
"Andai aku lebih cepat memahami rasaku terhadap Bina*."
-----------
Malik berusaha membuang semua pikiran negatifnya. Setelah merasa sedikit tenang dia kembali melajukan mobilnya menuju rumah Afnan Rizky.
Malik mengemudikan mobilnya tanpa memikirkan nyawanya. Malik membelah jalanan ibukota yang tampak sedang padat. Malik menulikan telinganya ketika mendengar klakson dari pengendara lain. Tanpa rasa takut Malik beberapa kali menerobos lampu merah.
__ADS_1
Yang ada dipikirannya saat ini adalah Sabrina Magfirah.
Setiba di rumah Abi Afnan dia memarkirkan asal mobilnya. Seperti oase di padang pasir dia melihat tatanan mobil di garasi Abi Afnan masih lengkap "Alhamdulillah Bina pasti ada di dalam" Batin Malik.
Malik masuk ke dalam kemudian sorot matanya melihat Dimas tengah menggandeng tangan seorang wanita yang dia yakini itu adalah Sari, wanita yang sepekan lalu sah manjadi nyonya Dimas Satya Rizky.
Tapi bukan wanita itu yang menjadi fokus Malik tetapi koper yang sedang di tarik oleh Sari. Ya, koper itu sangat mirip dengan punya Bina.
"Mau apa loh kemari?" Tanya Dimas.
"Dimana Bina?" Malik balik bertanya.
"Masih punya malu loh nyariin adik gue?" Senyum devil tergambar di wajah Dimas.
"BINA" Teriak Malik.
"Dia ngak ada" Jelas Dimas dengan acuh.
"Loh bohong, mobil di garasi lengkap" Malik sedikit meninggikan suaranya. Dia seakan tidak peduli dengan siapa dia berbicara.
"Tempat dan waktu gue persilahkan, loh geledah isi rumah ini, loh cari Bina sampai dapat" Dimas mengajak Sari untuk duduk sembari menunggu Malik melakukan penggeledahan.
"Itu siapa mas?" Tanya Sari pada sang suami.
"Mantan suaminya Bina" Jelas Dimas dengan singkat.
Malik kembali dengan wajah lesu, benar kata Dimas bahwa Bina tidak ada disini.
"Udah ketemu yang loh cari?" Tanya Dimas.
"Gue ngak punya banyak waktu buat ngeladenin loh, tapi sebelum itu Bina nitip ini ke loh" Dimas merongoh saku jaketnya mengeluarkan sebuah surat.
Malik kemudian menerima surat itu. Dimas dan Sari berlalu meninggalkan Malik seorang diri.
"Tunggu" Cegah Malik.
"Loh mau kemana?" Tanya Malik.
Dimas dan Sari berhenti "Gue dan istri gue mau bulan madu ke Inggris" Dimas kembali berlalu tapi dengan langkah pendek. Dia ingin memastikan suatu hal.
"Pasti mereka semua ngumpetin Bina di Inggris gue harus menyusul mereka." Batin Malik.
Malik mengambil handphonenya dan menelpon seseorang "Persiapkan penerbangan ke Inggris sekarang."
Dalam hati Dimas berteriak BINGO. Malik terkecoh.
"Mas kitakan mau ke Singapura nyusul Bina kok kamu bilang kita mau ke Inggris sih?" Bisik Sari.
"Mengecoh dia, ayo kita berangkat jet abi udah di landasan" Jelas Dimas.
"Jet? Bukannya kita mau ke Bandara?" Tanya Sari lagi.
"Semalam saat Bina hendak ke Singapura abi nyaranin untuk pakai jet pribadi, tujuannya terlalu mudah dilacak kalau menggunakan pesawat. Itu juga berlaku untuk kita."
*Happy Reading*
Love Wawa💕
__ADS_1