Labirin Duka

Labirin Duka
Rasa Bersalah Ayu


__ADS_3

Dengan langkap tengap Arham menuju ruangan Fitra Ayu yang berada di lantai teratas gedung Angkasa Group.


"Permisi apakah Ibu Ayu ada di tempat? Saya membawa surat kontrak kerja sama antara Darma Corp dan Angkasa Group." Ucap Arham pada Desi.


"Selamat siang dan selamat datang di Angkasa Group Pak Arham." Ucap Desi sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan wakil direktur dari Garuda Corp. Arham pun menyambut hangat uluran tangan Desi.


"Ibu Ayu sudah menunggu anda di ruangannya Pak. Mari saya antarkan!" Desi menuntun Arham untuk memasuki ruangan Fitra Ayu.


Langkah Arham terhenti ketika membaca papan nama yang menempel di bagian depan pintu ruangan Ayu. Papan nama bertuliskan Fitra Ayu SH membuat Arham beberapa kali mengerjapkan bola matanya.


"Adeknya Sari bukan sih?" Itulah pertanyaan yang memenuhi pikiran Arham saat ini.


Desi memutar knop pintu setelah mendengar sahutan dari Ayu.


KREK


"Pak Arham Pratama sudah tiba Bu." Ucap Desi pada Ayu yang masih sibuk dengan file-file di atas mejanya.


DEG ~~~


Pandangan Ayu dan Arham kini bertemu.


"Mas Arham..."


"...Ayu"


Ayu dan Arham saling bersautan lirih.


"Mbak bisa tinggalkan kami?" Ucap Ayu sambil menatap Desi. Dan yang ditatap pun hanya mengangguk dan mengulas senyuman manis.


"Kamu apa kabar dek?" Tanya Arham setelah Desi meninggalkan mereka berdua.


"Baik kak, baik." Jawab Ayu dengan nada parau karena menahan tangis yang dia yakini sebentar lagi akan tumpah.

__ADS_1


"Om Galih dan Mama Kinanti kabarnya gimana dek? Mereka baik-baik aja kan?" Tanya Arham lagi. Arham mengenal dekat kedua orang tua Ayu karena hanya mereka berdualah yang mendukung hubungan Sari dan Arham waktu itu.


Bahkan ketika bekerja di Singapura itu pun karena campur tangan dari Papa Galih. Arham hutang budi pada kedua orang tua Ayu, lebih tepatnya Papa Galih.


"Papa dan Mama baik-baik aja kok kak." Jawab Ayu lagi.


"Udah nikah dek?" Arham melontarkan jawaban dengan usil pada Ayu.


"Udah kak." Jawaban Ayu membuat Arham terperangah tak percaya. Bocah kecil yang dulunya selalu meminta bantuannya ketika mengerjakan PR kita telah menjadi seorang istri.


"Anak udah berapa dek?" Pertanyaan soal anak yang Arham ucapkan membuat dada Ayu seketika sesak. Kilatan masa lalu membawa dirinya pada rasa bersalah pada Sari dan Arham. Andai dia punya sedikit keberanian untuk jujur saat itu mungkin rasa bersalah itu ngak akan menjadi duri dalam hatinya.


"Ayu kok bengong sih?" Tanya Arham sambil mengguncang lemah kedua pundak Ayu.


"Udah kak yang pertama cowok namanya Alfian Alfattah dan yang kedua cewek namanya Ika Putri Pratama." Penjelasan dari Ayu membuat kening Arham berkerut bagaikan kulit jeruk. Ada yang janggal dari kedua nama anak Ayu.


Tapi Arham memilih tak terlalu ambil pusing karena itu adalah privasi dari seorang Fitra Ayu.


"Kakak ngak nyangka loh kamu udah gede, udah punya anak. Perasaan baru kemarin loh kamu minta dibantuin kerja PR." Jelas Arham dengan kekehan kecil sambil membelai kepala Ayu.


"Mau apa sih kamu dek?" Tanya Arham dengan nada gemas.


"Peluk boleh ngak?" Ayu tahu mungkin ini permintaan yang terbilang aneh dan tak pantas untuk dirinya yang telah mempunyai suami.


Mendengar keinginan Ayu, Arham segara merentangkan tangannya sebagai jawaban iya atas permintaan adik dari Sari Indah Purnama itu.


"Maaf kak, andai waktu itu aku punya sedikit aja keberanian untuk ngomong pasti saat ini kamu akan bahagia bersama Kak Sari dan anak kalian." Rintih Ayu dalam hatinya. Air mata yang sedari tadi dia tahanpun akhirnya tumpah.


Arham yang merasakan lelahan air mata Ayu, segera merenggang pelukannya.


"Kok nangis sih Dek?" Tanya Arham sambil menatap lekat Ayu.


Ayu justru semakin larut dalam rasa bersalahnya. Tangisnya semakin kencang. Baik Arham maupun Ayu seakan lupa tujuan pertemuan mereka saat ini.

__ADS_1


Arham kembali membawa Ayu dalam dekapannya dan sambil membelai rambut panjang Ayu.






Lelaki yang berusia setengah abad tapi masih saja terlihat gagah dan mempesona berjalan memasuki area Angkasa Group sambil menggendong anak perempuan bernama Ika Putri Pratama buah cintanya dengan Fitra Ayu.


Semua karyawan Angkasa Group membungkukkan badan ketika berhadapan dengan suami dari pimpinan mereka.


Dia memang tak memiliki andil apapun dalam pengelolaan Angkasa Group karena sampai saat ini dia masih bekerja sebagai seorang pengacara.


"Ibu ada Des?" Tanya lelaki itu saat berada di depan meja sekretaris istrinya.


"Ibu sedang ada tamu Pak." Jawab Desi sambil menjiwil pipi temben Baby Ika.


"Tapi Ibu tadi pesan, Bapak bisa langsung masuk saja." Tanpa menimpali ucapan Desi, lelaki tersebut dengan langkah panjang memasuki ruangan sang istri.


Dan...


"Apa yang kau lakukan Mah?" Tanya lelaki tersebut dengan tatapan nyalang.


Ayu dan Arham sama-sama terperanjak dengan ucapan nyaring dari Ayah Baby Ika.


"Ini ngak seperti yang kamu pikiran Mas!" Ayu berusaha menenangkan sang suami yang sedang tersulut api cemburu.


"Pak Arham apa maksud anda memeluk istri saya?"


"Istri? Jadi Ayu adalah istri dari...."

__ADS_1


Ada yang bisa nebak siapa lelaki asing tersebut?


...Bersambung......


__ADS_2