
"Panti Asuhan Kasih Abadi." Eja Ayu pada papan nama yang terdapat di area depan Panti Asuhan.
"Ini tempatnya, Pah?" Tanya Ayu pada suaminya.
"Iya, kita turun sekarang!" Titah Iksan dan dijawab anggukan kepala oleh Ayu.
"Assalamu alaikum..." Ucap Iksan sembari mengetuk pintu utama Panti Asuhan Kasih Abadi.
"Waalaikum salam..." Ucap wanita paru baya yang juga menyambutnya bersama Arham dua hari yang lalu.
"Pak Iksan?" Terka Bu Retno kemudian.
"Ternyata Ibu masih mengingat saya dengan baik." Kata Iksan sambil mengulurkan tangan kanannya pada Ibu Retno.
"Perkenalkan ini istri saya Fitra Ayu." Ayu kemudian mengulurkan tangan kanannya dan disambut hangat oleh pengelola Panti Asuhan tersebut.
"Saya panggilnya Bu Fitra atau Bu Ayu nih?" Tanyanya dengan senyum ramah.
"Ayu aja, Bu!"
"Oh iya silahkan masuk Pak Iksan, Bu Ayu." Ucap Bu Retno sambil bergeser guna memberi jalan untuk kedua tamunya itu.
"Saya pamit ke dapur buat..."
"Ngak usah repot-repot, Bu! Kami cuma sebentar disini. Ada hal yang mau istri saya tanyakan tentang Ghema." Sela Iksan.
"Ghema?" Bu Retno mengulang nama yang disebutkan oleh suami Fitra Ayu itu.
"Ghema sejak kapan berada di Panti Asuhan ini?" Tanya Ayu dengan nada sendu.
"Sejak bayi, Bu."
"Dengan surat?" Tanya Ayu lagi.
"Iya dengan surat yang mengamanat bahwa Ghema harus diberi nama Arsi." Penjelasan Bu Retno membuat air matanya menetes.
"Pah Ghema itu Arsi, Ghema keponakan aku, keponakan kita Pah." Ucap Ayu dengan mencakup kedua pipi suaminya. Iksan hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Kalau sudah diberi nama Arsi kenapa harus diberi nama Ghema, Bu?" Tanya Iksan.
"Pak Malik dan Bu Ghea yang memberi nama itu Pak, Bu." Mata Ayu mengerjap beberapa kali ketika mendengar nama mantan atasannya itu.
"Maaf tadi saya dengar Ghema keponakan Ibu dan Pak Iksan, maksudnya gimana yah?" Tanya Bu Retno.
Ayu pun mulai menceritakan soal hubungan Sari dan Arham di masa lalu. Bagaimana awalnya Sari bisa mengandung Arsi dan tindakan tak terpuji Wisnu Purnama pada cucunya.
Bu Retno hanya bisa beristigfar dan mengelus dadanya ketika mendengar penjelasan demi penjelasan yang diberikan oleh ibu dari Alfian dan Ika itu.
"Pah kita harus ambil Arsi dari Bina. Aku mau Arsi Pah!" Desak Ayu sambil menggoyangkan lengan suaminya.
"Kita pikirin itu nanti, karena secara hukum orang tua dia sekarang adalah Bu Bina." Iksan berusaha memberi penjelasan pada Ayu.
"Tapi aku tantenya, Pah." Ucap Ayu dengan nada tegasnya.
"Kamu tantenya, bukan mamanya. Yang bisa mengambil Arsi hanya Sari dan Arham karena mereka orang tua kandungnya." Penjelasan Iksan membuat Ayu tertunduk lemah.
"Kita pulang sambil mikiran selanjutnya gimana yah?" Ayu hanya menurut apa kata Iksan.
Tapi sebelum beranjak dari duduknya, Ayu merogoh handbag kesayangannya. Lalu mengeluarkan amplop berisi sejumlah uang yang telah dia siapkan sebelumnya.
"Saya Ikhlas, Bu. Ngak usah." Tolak Bu Retno. Tapi Ayu tetap bersikeras memberikan amplop itu dan akhirnya diterima jua oleh Bu Retno dengan penuh rasa syukur.
"Ini juga ada sedikit dari saya, Bu. Tolong diterima." Iksan pun mengikuti Sang Istri memberikan sejumlah uang pada Bu Retno.
Ayu terbelalak apa motif suaminya itu memberikan uang juga pada Bu Retno?
"Kalau gitu saya dan istri pamit pulang, maaf sudah menyita waktu Ibu." Pamit Iksan sambil menggenggam tangan istri tercintanya.
"Kamu kenapa ngasih uang juga ke Bu Retno Pah?" Tanya Ayu saat telah berada di dalam mobil.
"Sebagai wujud syukur aku aja, Mah!" Ucapan Iksan sungguh membuat pikiran Ayu buntu.
"Syukur untuk?" Tanya Ayu lagi.
"Nanti malam tiga ronde, Mah!" Jawab Iksan dengan mentowel dagu sang istri. Dan mulut Ayu hanya komat kamit tanpa suara.
__ADS_1
•
•
•
•
"Kamu ngak kerja, Mah?" Tanya Iksan yang baru saja keluar dari kamar mandi lalu mendapati Ayu masih memakai daster rumahan.
Ayu terlalu fokus dengan lamunannya sampai tak mendengar ucapan yang terlontar dari bibir suaminya.
"Mah..." Ayu terperanjak saat Iksan mendekatinya dan melingkarkan tangannya di perut sang istri.
"Eh Papa... Udah selesai mandinya?" Ayu berbalik dan menyandarkan kepalanya di dada polos Iksan.
"Lagi mikirin apa sih?" Tanya Iksan sambil mendekap erat Ayu.
Tapi Ayu bungkam, semakin erat kuncian Iksan padanya maka dia pun demikian adanya.
"Arsi?" Terka Iksan.
"Aku ngak tahu harus memulai ini dari mana, Pah." Ucapnya dengan nada parau karena menahan tangis.
"Kamu aja bingung apalagi aku." Ucap Iksan.
"Kita mikirin nanti aja, sekarang kamu siap-siap gih. Aku antar kamu ke kantor dulu terus aku ke Pengadilan." Titah Iksan.
Tiba-tiba...
"Hoek... Hoek... Hoek..." Rasa mual seketika Ayu rasakan. Ayu segara menuju kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya.
"Kamu kenapa, Mah?" Tanya Iksan dengan nada panik bercampur khawatir.
"Masuk angin aja, Pah." Jelas Ayu setelah membasuh mulutnya dengan air.
"Kamu ngak hamil lagi kan, Mah?" Tanyanya penuh harap.
__ADS_1
"Ngadi-ngadi kamu, Pah. Aku kan KB mana bisa jadi adiknya Ika." Gerutu Ayu.
"Ralat, kita ke rumah sakit dulu abis itu aku antar kamu ke kantor." Tegas dan tak terbantahkan sudah intonasi bicara Iksan Pratama.