Labirin Duka

Labirin Duka
BAB 38


__ADS_3

Detik berganti menit, menit berganti jam. Kini jenazah Malik telah dipulangkan ke rumah duka. Seusai berunding bersama jenazah lelaki berumur 32 tahun itu disemayamkan di rumah yang pernah dia tinggali bersama Sabrina Magfirah.


Mungkin rumah itu akan selalu menjadi rumah penuh kedukaan bagi Sabrina Magfirah.


Rumah yang dia tinggalkan selama kurang lebih enam tahun harusnya dia pijaki kembali dengan kebahagiaan. Namun suasana itu harus berubah menjadi suasana amat mencekam akan duka panjang yang akan menyelimuti hatinya.


Bina duduk terdiam di samping jenazah Malik. Dia terus menatap tubuh Malik yang kaku dan dingin terbalut dengan kain kafan.


"Mas Malik..." Rancau Bina


"Bina kamu harus kuat" Sari berusaha menguatkan sang adik ipar.


"Allah sangat jahat pada ku kak" Kata Bina dengan air mata yang terjatuh sangat pilu.


"Bina... Allah pasti punya rencana yang lebih indah untuk kamu suatu saat nanti" Ucap Sari di selah tangisnya.


"Mas Malik bangun.... Aku mohon bangun mas.... Candaanmu sungguh tidak lucu...." Teriak Bina di hadapan jenazah Malik.


"Bina..." Sari semakin sesak ketika melihat sang adik begitu terpukul.


"Ya Allah mengapa engkau ambil kebahagiaanku secepat ini?" Lanjut Bina dengan tangisan pilu. Semua pelayatpun ikut terisak melihat keterpurukan Bina.


Suasana kembali hening, Bina terus meratapi kepergiaan Malik.


"Terima kasih Mas Malik, karena engkau telah menghadirkan sosok Rizky Mina Ibrahim dalam hidupku. Dialah anugerah terindah dalam hidupku. Maaf jika aku punya salah terhadapmu. Aku berjanji akan menjaga Mina sebaik mungkin. Kamu adalah ayah terbaik untuknya, permata hati Malik Ibrahim dan Sabrina Magfirah."


"Selamat jalan lelaki hebatku, suamiku..."


Rintihan hati Bina saat mencium kening dan kedua pipi jenazah Almarhum Malik untuk terakhir kalinya sebelum dimasukkan ke dalam keranda untuk dishalatkan.


Allah telah memanggil jiwa Malik Ibrahim untuk kembali ke kehidupan lebih nyata, karena bumi hanyalah tempat sementara. Malik akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya selama hidupnya. Sang pencipta lebih mencintai Malik Ibrahim dibanding manusia yang berada di sekelilingnya saat ini.





PEMAKAMAN Malik Ibrahim


Bina mengantar Malik ke peristirahatan terakhirnya dengan tangisan yang terbendung.


Kini dia mulai menyadari kalimat demi kalimat yang Malik ucapkan kemarin. Seharusnya dia mempunyai sedikit kepekaan akan itu.


Bina tak juga menyangka kalau kebersamaan mereka kemarin adalah moment pertama dan terakhir.

__ADS_1


"Terlalu cepat Ya Allah... Aku dan Mina masih sangat membutuhkannya... Tolong sadarkan aku kalau ini hanya mimpi... Aku tidak kuat Ya Allah..." Ucap Bina dalam hati sembari memeluk erat Mina.


Mina menatap lekat wajah Sang Bunda saat Bina melepaskan pelukannya.


"Bunda nangis yah?" Ucapnya dengan suara cadelnya.


Bina hanya mengangguk atas pertanyaan putri semata wayangnya.


Mina meraih pipi Bina dengan tangan mungilnya. Lalu menyeka air mata yang mengalir di pipi Bundanya. Bina pun membawa Mina kedalam dekapannya.


"Bunda jangan nangis, Mina sayang Bunda" Ucap Mina yang masih berada dalam dekapan Bina.


"Bunda juga sayang Mina" Jawab Bina dengan mengecup pucuk kepala Mina berulang kali.


Lalu Mama Naya dan Ummi Aisya mendekati Bina dan Mina.


Mereka berempat larut dalam pelukan yang penuh kehangatan.


"Mina butuh kamu sayang. Mina cuma punya kamu sekarang. Jadi kamu harus kuat" Ucap Ummi Aisya.


Prosesi pemakaman Malik Ibrahim telah usai setengah jam yang lalu. Para pelayat mulai berlalu meninggalkan area pemakaman. Kini yang tersisa hanya keluarga Papa Hadi dan Abi Afnan yang saling merangkul menatapi nisan bertuliskan nama Malik Ibrahim.


Kini Malik dan Bina sudah terpisah dengan dua alam. Hanya dengan doa, mereka bisa saling bersaut.


"Selamat jalan Mas Malik... Kamu harus bahagia disana... Semoga Allah kembali mempersatukan kita suatu saat nanti... Tunggu aku dan Mina disana... Kami sangat mencintaimu..." Ucap Bina sebelum beranjak meninggalkan tempat peristirahatan Malik.


"Kamu harus kuat, supaya Malik juga tenang disana" Ucap Sari sambil merangkul tubuh Bina.


"Aku harus kuat, aku masih punya Mina" Rintih Bina dalam hatinya.





Sedetikpun aku tak pernah lupakanmu


Karena aku terlalu sayang kamu


Lihatlah hatiku luka dan semakin rapuh


Karena kamu kini jauh dariku


Apakah kau disana merindukanku

__ADS_1


Tuhan tolong diriku aku tersiksa rindu


Biarku bertemu walau dalam mimpi


Karena ku tak sanggup lagi


Aku tersiksa rindu


Lihatlah hatiku luka dan semakin rapuh


Karena kamu kini jauh dariku


Apakah kau disana merindukanku


Tuhan tolong diriku aku tersiksa rindu


Biarku bertemu walau dalam mimpi


Karena ku tak sanggup (Tak sanggup lagi)


Aku tersiksa rindu


Apakah kau disana merindukanku


Tuhan tolong diriku (Diriku)


Aku tersiksa rindu


Biarku bertemu walau dalam mimpi


Karena ku tak sanggup lagi (Tak sanggup lagi)


Aku tersiksa rindu (Tersiksa rindu)


Aku Merindukanmu


Alunan lagu Tersiksa Rindu milik Dygta terdengar merdu dari dalam kamar Bina.


Air matanya terus menetes membahasi pipinya yang mulus. Kenyataan yang begitu memilukan ini benar-benar belum bisa dia terima. Semua masih terasa seperti mimpi, begitu mendadak dan mengejutkan. Manisnya ungkapan cinta Malik beberapa jam yang lalu masih terasa hangat untuk Bina. Namun beberapa jam lalu juga semua direnggut. Semua tiba-tiba menghilang, pergi tanpa pamit.


"Kenapa kebahagiaanku terlalu cepat kau ambil Ya Allah? Aku belum siap. Aku belum bisa menerimanya. Mengapa aku terus merasakan sakit seperti ini? Apakah semua penderitaan ini belum cukup untukku Ya Allah?" Rintih Bina dengan tangisan yang terseduh dan sangat memilukan.


Season Dua Tamat


**NB: Maaf baru bisa UP sekarang. Dan maaf juga harus selow UP. Kegiatan magang masih banyak. Jadi harus nyari waktu yang tepat untuk selesaikan ini

__ADS_1


*Happy Reading*


Love Wawa💕**


__ADS_2