
"Mama, suamimu pulang" Hadi berteriak sangat kencang membuat siapapun yang mendengarkan teriakannya merasa pening.
"Kamu kenapa sih pah teriak-teriak untung si adek ngak di rumah kalau dia dengar kamu pasti habis kamu dikatain papanya tarzan" Omelan Naya menyambut kedatangan Hadi siang ini.
"Kamu mamanya tarzan mah" Perkataan Hadi mendapat cubitan keras di bagian pinggangnya.
"Bercanda mah" Hadi memberikan kecupan singkat di pucuk kepala sang istri.
Hadi menggandeng istrinya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Mah sebaiknya kita lamar Bina dulu atau langsung kita nikahkan saja dengan Malik?" Tanya Hadi ketika tubuhnya telah mendarat di sofa empuk ruang tamunya.
"Memang mereka udah nerima perjodohan ini" Tanya Naya penuh selidik pada sang suami.
"Iya istriku tersayang" Jawaban dari Hadi membuat Naya senang.
"Kita nikahin aja pah" Pinta Naya pada suaminya.
"Padahal kamu kemarin ngeraguin Malik loh mah" Hadi mengingatkan Naya atas keraguannya terhadap Malik. Naya hanya mencibir suaminya.
"Ya udah nanti malam kita ke rumah Afnan membicarakan ini, mama beri tahu ini ke Kakak dan Adek. Papa ke kamar dulu istirahat yah" Hadi bangkit dan berlalu menuju kamarnya.
Sore harinya di kediaman Hadi Bagaskara Ibrahim
"Kak kamu sudah pulang nak, kok ngak salam sih?" Tanya Mama Naya karena melihat Malik sedang mengambil air di dapur.
"Mama aja yang keasyikan baca majalah sampai ngak dengar anaknya ucap salam" Jawab Malik sambil membawa dirinya duduk sebelah mamanya.
"Ini loh kak mama lagi coba cari gaun muslimah kali aja yang pas dengan Sabrina untuk acara pernikahan kalian"
"Uhuk... Uhuk..." Ucapan Mama Naya membuat Malik tersedak.
__ADS_1
"Kok udah bahas nikahan sih Mah kan semalam kita cuma bahas lamaran" Malik sedikit meninggikan suaranya di hadapan Mama Naya.
"Niat baik harus disegerakan nak, Bina itu gadis baik dan sholeha kamu pasti akan rugi kalau ngak cepat-cepat halalin dia" Jawab Mama Naya sambil menepuk pundak sang anak.
"Kamu siap-siap yah sebentar malam kita ke rumah Om Afnan untuk bertemu calon istrimu" Mama Naya beranjak meninggalkan Malik yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Baiklah semakin cepat aku memulai sandiwara ini maka makin cepat aku menyeret wanita ke labirin dukanya" Batin Malik.
Langit pun mulai menggelap pertanda malam sudah datang.
Hadi sekeluarga kini bergegas ke rumah calon besannya.
Menempuh perjalan hampir 45 menit disinilah mereka berempat berada rumah kediaman Afnan Rizky.
"Assalamu alaikum Nan" Ucap Hadi ketika kedatangan keluarganya disambut oleh keluarga sahabatnya.
"Waalaikum salam Di, masuk gih kita makan malam bareng Aisya baru kelar masak soalnya"
"Nan, calon mantuku mana?" Tanya Hadi pada Afnan karena setibanya di meja makan dia belum melihat Bina.
"Entar juga turun bareng umminya"
Dan tak butuh waktu lama Sabrina turun ditemani oleh Ummi Aisya. Semua keluarga Hadi takjud melihat kecantikan Sabrina, termaksud Malik.
Sabrina turun menggunakan Gamis berwarna silver dengan kombinasi navy lengkap dengan jilbab instant berwarna navy. Riasan wajah natural menambah aura kecantikannya.
"Gimana kak pilihan papa berkualitaskan?" Bisiknya pada sang anak yang juga sedang terkesima memandang Sabrina.
Tapi Malik cepat membuang rasa kagumnya. Yang ada di hati Malik hanyalah Ghea.
"Penampilanmu itu tidak akan membuatku mengibah akan dirimu" Batin Malik.
__ADS_1
"Mah kak bina cantik banget aku sampai pangling loh" Kini Aldita yang membisik pada mamanya. Mama Naya hanya mengangguk pada putrinya.
"Mas, Mbak silahkan dinikmatin makan malamnya, Malik Aldita kalian juga duduk dan makanlah" Ucap Ummi Aisya.
Tujuh orang yang sedang berada di meja makan itu menikmati makan malam dalam keheningan. Hanya terdengar suara sendok dan garpu yang berbenturan dengan piring.
Setelah menyelesaikan makan malam Afnan mengajak Hadi sekeluarga untuk mengobrol di ruang keluarga.
"Nan, aku dan Naya udah sepakat kalau Malik dan Sabrina langsung dinikahkan saja kan mereka sudah saling mengenal sejak kecil" Hadi membuka awal pembicaraan mereka
"Nak bagaimana menurutmu?" Afnan meminta persetujuan pada Sabrina karena yang akan menjalani rumah tangga ini adalah Sabrina.
"Pernikahan itu ibadah bi, harus disegerakan ngak baik kalau harus ditunda terlalu lama" Sabrina menjawab pertanyaan sang abi dengan pembawaan tenang. Sebenarny dia risih karena sedari tadi Malik terus menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sungguh murahan, dia langsung aja menerima perjodohan ini" Batin Malik.
"Malik apa kamu ikhlas lahir dan bathin untuk menikahi Sabrina" Kini Afnan yang bertanya pada sang calon menantu.
"Inshaa Allah aku siap om" Jawab Malik dengan lantang.
"Bisa kita bicara berdua sebentar?" Afnan sedikit meminta waktu untuk berbicara pada Malik dan lelaki berkharisma itu menyanggupinya.
Malik dan Afnan kini berada di pinggir kolam renang. Hanya keheningan yang tercipta disana. Keduanya masih setia untuk berdiam diri. Sampai akhirnya Afnan membuka suaranya.
"Kamu tahukan pasti kan Malik kalau Bina adalah putri semata wayang om dan tante? Tolong jaga Bina seperti kamu menjaga sesuatu yang sangat berarti di kehidupanmu. Kamu harus sabar menghadapi sifat cerobohnya, tegur dia sehalus mungkin ketika dia melakukan kesalahan. Dia mempunyai hati yang sangat rapuh. Jika suatu hari nanti kamu merasa bosan, tidak sanggup lagi membimbingnya atau bahkan kamu belum bisa mencintainya katakan pada om. Kamu bisa mengembalikan Bina pada om, om tidak akan membencimu. Karena laki-laki yang tidak akan menyakiti wanita adalah sosok ayah pada putrinya"
Perkataan Abi Afnan menusuk relung hati terdalam Malik. Bibirnya terkunci rapat. Malik tampak berpikir bagaimana seandainya jika Abi Afnan tahu Malik akan memasukkan putri semata wayangnya kedalam labirin duka.
"Ayo kita kembali masuk, udara suda mulai dingin" Setelah mengeluarkan uneg-unegnya Abi Afnan mengajak Malik untuk kembali berkumpul dengan yang lain.
"Happy Reading"
__ADS_1
Love Wawa💕