Labirin Duka

Labirin Duka
BAB 22


__ADS_3

Sudah sebulan setelah Bina meninggalkan Malik. Kini Bina mulai menata kembali hidupnya. Mengejar angan dan impian yang sempat tertunda karena pernikahannya dengan Malik Ibrahim.


Abi Afnan pun mulai mempersiapkan Bina sebagai calon tunggal penerus Garuda Corp. Perusahaan terbesar yang bergerak di bidang property.


Pagi ini Abi Afnan, Ummi Aisya dan Bina sedang sarapan bersama. Tiba-tiba suara teriakan memanggil Bina menghentikan sejenak sarapan mereka.


"Dimas, kamu kenapa sih teriak sambil lari-lari gitu" Ucap Abi Afnan.


"Bina" Pangggil Dimas dengan napas tersengal-sengal.


"Kamu kenapa sih mas?" Tanya Bina dengan kening berkerut.


"Mama Ghea..."


"Mama kenapa mas?" Bina mulai kesal dan menaikkan nada bicaranya.


"Meninggal."


DEG


Duka apalagi ini Ya Allah? Belum cukup drama perceraianku sekarang kamu juga ingin aku melihat sahabatku kehilangan orang yang dia cintai. Batin Bina.


"Kamu sarapan dulu Dimas, abis itu kita ke rumah Ghea" Ibarat kerbau yang dicolok hidungnya Dimas pun menuruti ucapan Abi Afnan.


"Mbak Sari kemana, Mas?" Tanya Bina


"Udah duluan ke rumah Ghea bareng ayah, Bin" Tidak ada lagi percakapan setelahnya. Mereka berempat sarapan dalam keheningan.


Sepekan yang lalu Dimas dan Sari telah resmi menikah.


-----------


Abi Afnan, Ummi Aisya, Dimas dan Bina telah berada di halaman rumah Ghea. Ayah Satya keluar untuk menyambut kedatangan mereka.


Sebuah tenda telah berdiri kokoh. Berjejer beberapa bangku untuk menopang tubuh para tamu.


Bina turun dari mobil memandang satu persatu-satu tamu yang hadir. Terlihat para petinggi di Darma Corp. Mengingat Ghea dulu pernah menjadi PA (Personal Asistent) untuk CEO Darma Corp Malik Ibrahim.


Bina berjalan memasuki rumah Ghea. Bahkan suasana di dalam rumah pun di penuhi oleh pelayat.


DEG


Sosok yang dia cari, sosok yang dia rindukan ada disini. Iya disini, mendekap sang mantan cinta terlarang. Tubuhnya lemas tak berdaya. Sangat menyakitkan, sangat. Hanya air mata yang mampu menjelaskan betapa terlukanya hatinya.


Sampai sebuah suara samar-samar keduanya tertangkap oleh indra pendengaran Bina.


"Habis ini aku akan ikut bersama Mas Haris pulang ke Cina, kamu jaga anak itu untukku."


Yah kontrak kerja Haris di Indonesia memang telah selesai. Untuk mencegah terajutnya kembali cinta terlarang antara Malik dan Ghea, Haris akan memboyong istrinya itu pulang ke kampung Sang Oma di Cina.


Haris adalah blasteran Cina Indonesia. Papanya asli Indonesia, dan Mamanya asli Tiongkok.

__ADS_1


"Iya Ghea, aku akan jaga Ghema. Hanya dia yang saat ini aku punya. Dialah permata hatiku."


"Ghema? Permata hatinya? Siapa Ghema?" Batin Bina.


Ghea dan Malik pun saling melepaskan dekapan mereka.


"Bina?" Ucap Ghea dengan lirih.


Malik memutar badannya dia pun sama terkejutnya dengan Ghea ketika melihat kehadiran Bina "Ini ngak seperti yang kamu pikirin, Bina" Ucap Malik.


"Auw sakit" Rintih Bina saat Malik memegang pergelangan tangannya.


"Tangan kamu kenapa? Kok ke jahit begini? Tanya Malik dengan penuh kecemasan.


"Bukan urusan kamu. Memangnya apa yang sedang aku pikirkan?" Tanya Bina. Belum Malik menjawab Bina langsung menarik Ghea dan memeluknya.


"Bin..." Ghea memeluk Bina dalam isak tangisnya. Bina pun demikian entah dia menangis untuk kepergian mama sahabatnya. Atau karena aksi pelukan Ghea dan Malik barusan, entahlah.


"Maafin aku, waktu mama sakit aku ngak jenguk dan sekarang aku ngak ada saat mama pergi."


"Udah seperti ini jalannya Mama, Bin. Maafin salahnya Mama ya."


Bina hanya mengangguk.


----------


Aksi pelukan Malik dan Ghea, bahkan air mata yang tergenang di pelupuk mata Bina terekam jelas oleh mata hitam pekat Dimas.


Dimas ikut memeluk Ghea, memberikan suntikan ketegaran pada wanita yang berstatus iparnya itu.


"Aku turut berduka cita yah, kamu pasti kuat kok."


"Makasih, mas" Ghea dan Dimas saling melepas pelukannya.


----------


Sama halnya di rumah duka, sebuah tenda kokoh juga berdiri di salah satu tanah makam yang telah digali. Dilengkapi dengan kursi yang akan diduduki oleh pelayat.


Makin lama, suasana tenda semakin sesak karena terus berdatangan orang-orang yang sudah siap untuk mengikuti jalannya prosesi pemakaman.


Ghea dan Bina ada di tengah-tengah mereka yang sedang duduk di bawah tenda. Mereka berdua menghadap lurus menyaksikan persiapan pemakaman jenazah. Dimas dan Haris ikut turun untuk membantu memasukkan jenazah ke dalam liang lahat.


Bina merangkul Ghea untuk memberinya kekuatan "Maafkan aku Bina, secara tidak langsung aku udah menjadi duri dalam pernikahanmu dan Mas Malik" Rintih Ghea.


Tapi Bina mendaratkan jarinya di bibir Ghea "Saat ini aku sedang belajar untuk mengikhlaskan semua yang terjadi antara aku dan Mas Malik. Ini sudah takdir aku jangan salahin dirimu lagi yah."


Ghea tidak menyangka bahwa Bina akan sebijak itu dan tulus memaafkannya. Ghea pun dengan cepatnya memeluk Bina, lalu menjatuhkan air matanya kembali.


Malik pun yang sedari tadi mengikuti jalannya pemakaman menyaksikan kedekatan Bina dan Ghea. Malik duduk tak jauh posisi Bina. Perasaan menyesal dan terharu menyelimuti hatinya.


Dia berjanji jika suatu saat nanti Allah mengijinkannya kembali bersatu dengan Bina, Malik tidak akan menyakati wanita yang sangat dia cintai itu.

__ADS_1


----------


Satu jam berlalu prosesi pemakaman telah selesai. Galian kubur sudah tertutup rata dengan tanah liat yang merah dan masih basah.


Para hadirin yang datang banyak mengucapkan kata duka untuk menyemangati Ghea kemudian berlalu pulang.


Melihat Malik berlalu pun meninggalkan area pemakaman, Dimas dengan cepat berlari menemuinya.


"Boleh ngomong sebentar?" Tanya Dimas dengan ekspresi datarnya. Dan Malik hanya mengangguk.


-----------


Cafe pinggir jalan yang berada tak jauh dari area pemakaman menjadi tujuan Malik dan Dimas.


"Oke gue ngak mau babibu dengan loh."


"Gue dengar tadi loh bertanya ke Bina ada apa dengan tangannya?"


"Dia melakukan percobaan bunuh diri, dia merasa hancur atas perlakuan loh."


"Dan sekarang dia mengalami trauma akan perbuatan loh."


Penjelasan bertubi-tubi diucapkan oleh Dimas membuat sesak dada Malik. Akibat cemburu butanya, wanita yang dia cinta menderita seperti ini.


"Loh bohong, Bina ngak mungkin punya akal sependek itu untuk mengakhiri hidupnya" Ucap Malik.


"Terserah loh, gue cuma mau pesan ke loh. Kalau loh ngak bisa bahagiain adek gue, jangan buat dia menderita. Air matanya Bina terlalu berharga untuk loh" Dimas hendak beranjak dari duduknya, tapi kemudian dia urungkan.


"Gue tadi dengar percakapan loh dan Ghea soal anak kecil yang kalian sering jenguk di Panti Asuhan Kasih Abadi."


"Gue tahu kok, anak itu bukan anak kalian. Loh dan Ghea cuma kasihan sama anak itu karena udah dibuang sejak lahir."


"Loh tahu dari mana soal Ghema?" Tanya Malik dengan menajamkan matanya.


"Ghea ceritain itu ke gue dan Haris. Haris sih ngak apa-apa kalau Ghea mau mengadopsi anak itu. Tapi setelah mendengar perceraian loh dan Bina niat itu Ghea urungkan."


"Kenapa?" Tanya Malik lagi.


"Karena Ghea masih punya Haris untuk dia cintai. Sedangkan loh? Loh punya siapa?" Jawab Dimas dengan nada meremehkan.


"Gue aja yang berada di belakang Bina mendengar ucapan loh dan Ghea apalagi Bina yang berada paling depan."


"Dan harapan besar gue semoga Abi dan Ummi juga tidak mendengarnya."


"Loh kan bisa ngejelasin ke mereka siapa Ghema" Ucap Malik dengan frustasi. Dia mengusap kasar wajahnya.


"Bisa banget, tapi gue ngak ada tanggung jawab buat ngejelasin ini ke mereka" Dimas menepuk pundak Malik, dan berlalu meninggalkannya.


NB: Season dua Labirin Duka sudah launching. Tapi aku ngak janji akan rutin up setiap hari. Karena per tanggal 5 Oktober nanti aku akan ikut PKPA (Pendidikan Khusus Profesi Advokat). Aku usahiin Mbak Bina dan Mas Malik up 2-3X sepekan.


*Happy Reading*

__ADS_1


Love Wawa💕


__ADS_2