
Malik Ibrahim
Setelah mengundara selama belasan jam kini pesawat yang ditumpangi Malik mendarat dengan selamat di Bandara Heathrow, London.
Pekerjaannya dia Indonesia dia alihkan sepenuhnya pada Andra sang asisten sekaligus sekretarisnya. Malik mengabaikan sumpah serapah yang Andra berikan padanya.
Saat ini Malik hanya perlu Bina di sisinya.
Selama sepekan berada disana dia fokus mencari keberadaan Bina, bahkan Malik menyewa detektif profesional yang berada di Negeri Matahari yang Tak Pernah Tenggelam itu.
Tapi hasilnya nihil, pencarian tidak menemukan titik terang sama sekali. Bahkan jejak Bina saja tidak dapat ditemukan.
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
Handphone yang berada di celana Malik bergetar, Malik terlihat sangat kesal melihat yang menelpon adalah Andra.
"Gue ngak akan pulang sebelum gue nemuin Bina" Ucap Malik karena dia tahu maksud Andra menelponnya adalah menyuruhnya untuk pulang.
"Ya sudah kalau anda tidak ingin pulang, saya rasa informasi kepulangan Tuan Dimas juga tidak penting untuk anda."
"Apa katamu? Dimas udah balik ke Indonesia?" Tanya Malik dengan nada penasaran.
"Iya tuan tadi saya melihatnya sedang praktek di Rumah Sakit Bakti Husada" Jawab Andra.
"Baiklah persiapkan kepulanganku segera" Titah Malik pada asistennya.
•
•
•
Sabrina Magfirah
Kondisi kandungan Bina sudah memasuki pekan keenam. Dokter Letisya sudah mengizinkannya untuk berobat jalan karena kondisi rahim yang mulai menguat.
"Abi..."
"Iya sayang" Ucap Abi Afnan ketika mendengar panggilan sang ayah.
Bina tampak sedang menyusun kalimat yang ingin dia sampaikan pada sang abi. Bukan hanya Abi Afnan yang menunggu Bina berucap tapi ada Ayah Satya, Ummi Aisya, Dimas dan Sari.
"Ngomong aja kali, Bin. Ngak usah berlagak mikir gitu" Mendengar ocehan Dimas, Bina langsung menyumbat mulut Dimas dengan roti tawar menu sarapannya.
Tingkah lucu dua kakak beradik itu selalu mengundang gelak tawa di Keluarga Rizky.
"Aku mau stay disini sampai aku beneran siap untuk pulang ke Indonesia" Ucap Bina, suasana riang berganti dengan ketegangan.
"Kamu serius nak?" Tanya Ayah Satya.
"Iya ayah" Ucap Bina dengan mantap.
"Abi dan Ummi akan menemani kamu disini" Ucap Ummi Aisya sambil menatap sang suami untuk meminta persetejuan. Seolah mengerti dengan tatapan sang istri Abi Afnan pun mengangguk simbol setuju.
"Tapi kerjaan, Abi?" Tanya Dimas.
"Abi akan menyerahkan kerjaan Abi pada tante kalian Tante Dinarti saudara dari Ummi" Jelas Abi Afnan.
Bina beranjak dari duduknya dan memeluk laki-laki yang dia nobatkan sebagai cinta pertama di hidupnya.
"Ada satu lagi yang Bina mau minta ke kalian" Wajahnya kembali sendu menatap lekat-lekat anggota keluarganya.
__ADS_1
"Aku mau kalian merahasiakan kehamilanku pada Mas Malik."
"Kamu yakin dengan keputusanmu, Bin?" Tanya Sari.
"Sangat yakin mbak" Jawab Bina.
"Tapi Malik adalah Papanya, dia berhak tahu soal anak yang dalam kandunganmu" Sari sangat tahu rasanya hamil tanpa suami, dan dia tidak ingin Bina juga merasakannya.
"Mas Malik memang papanya, dan dia juga adalah lelaki yang aku cintai setelah Abi, tapi ngak mau dia nyakitin anak aku seperti dia menyakitiku. Dia hanya menganggapku sebagai kesalahan, lagi pula dia sudah punya anak dari perempuan lain."
"Dia membagi benihnya dengan perempuan lain" Bina mulai terisak. Mendengar ucapan Bina membuat Dimas menelan salivanya dengan kasar.
"Tapi kan kita belum tahu itu beneran anaknya bersama Ghea atau bukan, Nak?" Ucap Ummi Aisya.
"Ghea?" Tanya Sari.
"Ummi telinga aku masih berfungsi dengan baik aku dengar kok setiap kata yang keluar dari mulut Mas Malik dan Ghea, aku dengar Mas Malik bilang anak itu adalah permata hatinya." Sari belum bisa menangkap arah pembicaraan Bina, dia hanya memilih menutup rapat mulutnya.
"Kalau kamu ngak mau Malik tahu soal anakmu, kamu harus merubah data lahirnya setelah dia lahir" Jelas Dimas.
"Maksudnya gimana mas?" Tanya Bina.
"Di dokumen kelahirannya kita tulis anak kamu lahir satu tahun lebih lambat dari semestinya. Malik adalah orang teliti dan perhitungan jadi dengan cara ini kita bisa mengelabuinya."
"Auw sakit Sari" Ringis Dimas karena mendapat cubitan dari sang istri.
"Kemarin kamu bohongin Malik bilang kita ke Inggris, sekarang kamu mau bohongin dia lagi soal anaknya?" Tanya Sari dengan tatapan elangnya.
"Inggris?" Tanya Ayah Satya, Abi Afnan dan Ummi Aisya bersamaan.
Sari mulai menceritakan kejadian Dimas mengelabui Malik beberapa hari yang lalu. Di luar dugaan ternyata Abi Afnan bangga dengan sang putra "Abi dukung kamu, Mas."
"Aku pun setuju dengan usulmu untuk mengubah dokumen kelahiran anak ini, Mas" Ucap Bina.
"Aku, Dimas dan Sari besok akan pulang ke Indonesia. Dimas akan mempersiapkan keberangkatannya ke Jerman untuk mengambil gelar spesialisnya" Ucap Ayah Satya.
"Tapi aku janji kok, Bin akan sering-sering hubungi kamu. Sebulan sekali aku ama Sari kesini deh jenguk kamu" Ucap Dimas sambil memeluk dan membelai kepala sang adik.
•
•
•
Malik Ibrahim
Begitu tiba Indonesia yang Malik temui pertama kali adalah Andra.
Malik tiba di Indonesia ketika hari sudah gelap, dia yakin Andra sudah pulang. Jadi tujuannya kali ini adalah rumah Andra.
Malik mengendarai mobilnya dengan lambat membelah jalanan ibukota yang sedang terlampau padat.
Setelah berhasil menerobos kemacetan, mobil Malik kini memasuki sebuah perumahan yang tidak terlalu ramai. Mobilnya terparkir di depan rumah yang tidak asing untuknya, rumah Andra.
Ting Tong...
Pintu bercat coklat itu terbuka menampilkan Andra yang setengah sadar. Mungkin dia sudah terlelap sedari tadi, entahlah.
"Cepat cerita loh beneran ketemu ama Dimas?" Tanya Malik tanpa babibu.
Andra melirik jam dinding yang berada di ruang tamu rumahnya. Ternyata sudah jam satu dini hari.
__ADS_1
"Anda kesini hanya untuk menanyakan hal seperti itu?"
"Cepat jelaskan bagaimana bisa loh bertemu Dimas?" Malik meninggikan suaranya.
"Kemarin saya bertemu dengan Tuan Dimas ketika saya mengantar istri saya untuk memeriksakan kandungannya. Tapi..."
"Cepat jelaskan! Jangan sampai saya memotong lidahmu, Andra. Saya tidak suka menunggu."
"Tapi Tuan Dimas akan segera ke Jerman untuk mengambil gelar spesialisnya, Tuan Afnan dan keluarga pindah entah kemana."
Lalu, terdengar suara tinggi menggelegar dan melengking seperti seruan guntur dan kilat saling beradu diatas langit yang gelap di tengah gemuruh hujan yang menderu-deru.
"APA?"
"Gue udah nyari Bina ke semua sudut Inggris tapi ngak gue temuin."
"Menurut informasi yang saya terima dari seorang informan handal Tuan Afnan berangkat menggunakan jet pribadi sehingga kita tidak bisa melacaknya."
"Maksudnya?"
"Saya rasa Tuan Dimas mengecoh anda, memang betul Tuan Afnan sedang berada di luar negeri tapi kita tidak bisa melacak ke negara mana mereka pergi."
Malik mengusap kasar wajah. Dia frustasi kemana lagi harus mencari Bina.
"Saran saya lebih baik anda menemui Tuan Satya."
Tanpa permisi dengan sang tuan rumah Malik meninggalkan Andra.
Setelah kepulangannya dari rumah Andra, Malik lalu melajukan mobilnya menuju rumah Ayah Satya. Malik lirik jam di pergelangan tangannya sudah pukul dua dini hari. Akhirnya Malik memutuskan untuk terlelap di mobil sambil menunggu Matahari terbit.
Matahari telah terbit, tidur dengan posisi duduk membuat Malik tidak bisa tidur dengan nyenyak. Belum lagi masalah kepergiaan Bina masih memenuhi pikirannya.
Tok... Tok... Tok...
"Assalamu alaikum Om" Sapa Malik saat dia mendapati Ayah Satya membukakan pintu untuknya.
"Waalaikum salam Malik, ayo masuk dulu."
Malik bersimpuh memeluk kaki Ayah Satya, membuat laki-laki paru baya itu terperanjat kaget.
"Malik apa yang kamu lakukan?" Ayah Satya berusaha untuk melepaskan cekalan Malik di kakinya. Tapi Malik tetap bersimpuh.
"Om beri tahu aku dimana Bina?" Malik memelas.
"Ayo kita duduk dulu yah" Malik bangkit dan mengikuti Ayah Satya untuk duduk di salah satu sofa.
"Kamu betul sayang dengan Bina?" Tanya Ayah Satya.
"Aku memang pernah jadi sosok yang menyakitkan untuk Bina, tapi sekarang aku ngak bisa kalau ngak ada dia. Aku butuh Bina untuk menggenapkan jiwaku, Om."
Ayah Satya menatap lekat sosok yang pernah menjadi suami dari keponakannya itu. Berusaha mencari kebohongan di matanya tapi tak dia temukan.
Ayah Satya menghembuskan nafas dengan kasar dan menepuk pundak Malik.
"Sepertinya semesta tidak mengizinkan kalian untuk bersatu dalam waktu yang lama. Bina sudah memaafkan semua kesalahanmu. Kalian akhirilah garis perjodohan ini tanpa rasa penyesalan ataupun saling menyakiti satu sama lain" Ucap Ayah Satya.
"Tapi ngak bisa tanpa Bina, di pikiran dan hatiku cuma ada nama Bina Om" Sela Malik.
"Kamu tidak perlu memaksa otakmu untuk melupakan Bina. Ingat Bina seperlunya saja" Ayah Satya menguatkan Malik.
"Om harus ke Rumah Sakit, Om pamit dulu yah" Ayah Satya berlalu meninggalkan Malik yang masih diam terpaku.
__ADS_1
*Happy Reading*
Love Wawa💕