
Pernikahan Malik dan Bina telah berjalan selama sepekan.
Malik belum menjalankan rencananya karena setelah menikah dia masih tinggal di rumah mertuanya. Ummi Aisya masih belum mau ditinggalkan oleh Bina.
Tapi berkat bujuk rayu dari suaminya, Ummi Aisya akhirnya rela melepas Bina untuk tinggal bersama suaminya.
Kini Malik dan Bina telah berada di perumahan mewah milik Malik.
"Ini rumah kita mas?" Bina masih menatap kagum bangunan megah di depannya.
"Kita? Ini tuh rumah gue" Malik bergegas masuk meninggalkan Bina yang masih berdiri di halaman rumah.
Bina akhirnya masuk mengikuti Malik. Suaminya memasuki kamarnya yang berada di lantai atas.
"Ngapain loh ngikutin gue sampai ke kamar?" Malik menatap sinis Bina.
"Loh aku harus kemana mas?" Tanya Bina dengan polosnya.
"Kamar loh itu di bawah pojok kiri"
BRUG
Malik membanting pintu kamarnya.
Bina pun turun ke lantai bawah sesuai instruksi dari suaminya.
Dia meraih gagang pintu kamar itu. Setelah dia memutar handel pintunya Bina terperanjak kaget karena kamar yang dimaksud oleh Malik ternyata gudang.
Bina berlalu menuju kembali ke kamar Malik untuk meminta penjelasan pada lelaki yang sepekan lalu sah menjadi suaminya.
"Mas Malik" Teriak Bina dari balik pintu.
"Berisik ada apa sih?" Ucap Malik dengan malas sambil membukakan pintu untuk Bina.
"Mas kamar yang kamu maksud untuk aku itu gudang, kamu kenapa sih pulang dari rumah abi berubah banget" Air mata Bina mulai menetes membasahi pipi mulusnya.
Malik masuk kembali ke dalam kamarnya. Tak lama dia kembali membawa map coklat.
"Ini" Malik memberikan map coklat itu pada Bina.
"Ini apa mas?" Bina masih heran tapi matanya membulat ketika melihat label di map coklat itu adalah SURAT PERCERAIAN.
"Kata papa loh adalah wanita berpendidikan ngak mungkin dong dua kata kayak gitu aja ngak bisa loh baca."
"Kenapa kamu menerima perjodohan ini kalau belum sebulan kita nikah kamu udah punya niat buat ceraiin aku" Bina semakin terisak.
"Yang menerima perjodohan ini duluan adalah loh bukan gue, asal loh tahu gue menerima perjodohan ini karena papa ngancam gue."
"Kalau gue ngak menerima perjodohan ini gue akan kehilangan jabatan gue sebagai CEO bukan hanya itu semua fasilitas gue akan ditarik gue akan jadi gembel" Dada Bina sesak mendengar ucapan Malik.
"Aku ngak mau cerai mas" Bina mulai histeris mendengar kenyataan bahwa Malik sebenarnya terpaksa menikahinya.
"Loh tenang aja setelah kita cerai loh akan dapat 15% saham Darma Corp, jadi loh ngak akan jadi gembel."
"Untuk kamar loh, minta tolong Bi Inah aja bersihin" Malik masuk dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.
Bina pun kembali ke gudang, dia terus memberi sugesti dirinya bahwa dia akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Ingat Bina, Allah tidak akan mengujimu di luar batas kemampuanmu. Allah pun mengujimu karena ingin mengangkat derajatmu" Batin Bina.
Kini tiba saatnya untuk malam, Bina yang kelelahan sehabis membersih gudang ketiduran. Bi Inah membangunkan Bina untuk makan malam bersama Malik.
"Non Bina, bangun non udah waktunya makan malam" Bi Inah sedikit menguncang tubuh Bina.
"Pasti Non Bina kelelahan abis membereskan gudang ini" Batin Bi Inah.
"Ehm Bi ini jam berapa?" Tanya Bina karena tadi dia hanya berencana tidur sebentar.
"Jam 6 non, non sholat magrib dulu abis itu makan malam, Den Malik juga lagi mandi kalau non mau mandi pakai toilet dekat dapur aja" Setelah mendapat jawaban dari majikannya Bi Inah kembali ke dapur.
Setelah mandi dan sholat magrib Bina bergegas menuju ruang makan, dia tidak mau Malik menunggunya terlalu lama. Tapi sesampainya di meja makan ternyata Malik baru juga turun dari lantai atas. Malik menatap Bina dengan tatapan membunuh.
"Siapa menyuruhmu makan disini?" Tanya Malik pada Bina. Tapi Bina hanya diam membisu sembari menunduk. Dia takut menatap Malik.
"Bi Inah" Malik teriak memanggil Bi Inah.
"Iya den ada apa?" Bi Inah setengah berlari menghampiri Malik.
"Bibi sedang apa di belakang?"
"Bibi sedang makan den" Bi Inah pun takut melihat tatapan Malik yang tidak ramah sama sekali.
"Bibi disini temani aku makan, bibi dengar aku kan. Aku ngak suka dibantah bi" Mendapat ultimatum dari Malik membuat Bi Inah segera duduk di meja makan.
Malik meraih piring kosong mengisinya dengan sedikit nasi dan sebutir telur rebus.
"Ini makanan untukmu, kamu makan di belakang sana. Abis makan sisa makanan ini kamu buang aja" Ucap Malik sambil memberikan piring yang dia pegang kepada Bina.
Bi Inah menatap Bina dengan tatapan pilu tapi Bina tetap memberikan senyum hangat padanya, 'Bi Inah ngak usah khawatirin aku' Batin Bina.
Bina menikmati makan malamnya dengan isakan tangis. Dia rindu kehangatan Abi dan Umminya.
"Aku bagai sedang berada di labirin duka. Aku tersesak dalam sengsaraan. Abi... Ummi.... Tolong Bina" Batin Bina.
Setelah selesai makan malam Malik bersantai di ruang tengah sambil menonton TV.
"Binaaaaa" Malik berteriak memanggil Bina yang sedang mencuci piring di dapur.
"Iya mas" Bina berlalu meninggalkan dapur.
"Buatkan gue teh hangat" Setelah mendengar perintah dari suaminya Bina kembali ke dapur.
Bina tidak ingin membuat Malik menunggu lama jadi dia membuat teh secepat yang dia bisa.
Bina menghampiri Malik dengan segelas teh.
"Ini mas tehnya" Bina menaruh segelas teh di hadapan Malik.
"Bawa ke kamar" Malik bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar utama.
Setelah Bina meletakkan teh di nakas Malik menyuruhnya untuk keluar.
"AGH-----" Lidah Malik hampir melepuh karena teh yang dibuat terlalu panas di lidahnya.
"Sepertinya dia ingin membalas dendam padaku, dasar rubah licik bersiap-siaplah masuk ke dalam labirin dukamu" Malik murka dia turun dari tempat tidurnya menuju gudang tempat Bina kita beristirahat.
__ADS_1
"BINA" Malik masuk ke dalam gudang itu, dia menyeret rambut panjang Bina sehingga membuat istrinya kesakitan.
Bi Inah yang mendengar huru hara dari kedua majikannya segera ke sumber suara.
Bi Inah kaget melihat Malik memperlakukan istrinya bagaikan hewan buruan.
"Den, kok Non Bina digituin sih. Kasian Non Bina den" Bi Inah pun menitikkan air mata. Malik yang mempunyai sifat penyayang di tengah keluarganya bisa berbuat sekejam ini membuat Bi Inah tak habis pikir.
Sejak kecil Malik dan Aldita memang lebih sering diasuh oleh Bi Inah. Karena Mama Naya selalu mendampingi Papa Hadi dalam merintis usahanya.
"Bi Inah ngak usah ikut campur" Malik terus menyeret Bina ke kamarnya di lantai atas.
Sesampainya di kamar Malik dia langsung membawa Bina ke kamar mandi.
Amarah semakin menguasi Malik. Bina berusaha untuk melindungi dirinya. Hingga kini Malik menghimpit tubuh Bina ke dinding kamar mandi.
"A-aku salah a-apa mas?" Ketakutan Bina membuat dirinya tidak bisa berucap dengan benar.
"Salah loh?"
"Gue nyuruh loh buat teh hangat, bukan teh panas" Jawab Malik.
"Buka baju loh?" Perintah Malik pada Bina, tapi Bina hanya menggelengkan kepalanya sambil menangis.
"Gue ngak nafsu ama loh, Gue udah punya pacar yang bisa memuaskan gue di ranjang, loh sendiri yang buka atau gue yang bukain baju loh" Tapi Bina hanya menangis dan menangis. Dalam hatinya dia merintih memanggil abi dan umminya.
Karena tidak mendapat jawaban akhirnya dengan kasar Malik merobek baju yang Bina kenakan. Tubuh Bina belum sepenuhnya polos masih ada dalaman yang melindungi sebagian tubuhnya. Malik semakin buas dia memaksa membuat tubuh Bina sepolos mungkin.
Usaha Bina melindungi dirinya sia-sia karena tenaga Malik lebih kuat darinya.
Setelah membuat tubuh Bina polos dia memutar shower air panas dan menguyurnya ke tubuh polos Bina.
"SAKIT" Bina kesakitan, tubuhnya hampir melepuh. Sebenarnya Malik sudah mengatur suhu air bukan di suhu terpanas tapi Bina tetap mengaduh kesakitan.
Setelah puas menguyur Bina, Malik keluar dia membuka lemarinya seperti sedang mencari sesuatu. Setelah mendapat yang dia cari dia kembali ke kamar mandi.
BUGH... BUGH... BUGH...
Malik mencambuk tubuh belakang Bina sebanyak tiga kali.
Bina hampir kehabisan tenaga untuk sekedar berucap SAKIT pun dia tak mampu.
Malik pun menggendong tubuh Bina masuk ke dalam Bath Up. Dia membaringkan Bina disana sampai istrinya tertidur disana. Malik keluar dari kamar mandi dan bersiap untuk istirahat.
Di kediaman Afnan Rizky, Ummi Aisya sedang menuju dapur untuk mengambilkan Abi Afnan segelas air putih.
Ummi Aisya tampak sedang melamun dia tak menyadari bahwa keran air yang dia buka adalah keran air panas sehingga gelas yang dia pegang terjatuh.
"Bina" Ucap Ummi Aisya dengan lirih.
"Semoga kamu ngak apa-apa sayang, perasaanmu ngak enak mikirin kamu" Batin Ummi Aisya.
Doakanlah anakmu Ummi Aisya agar anakmu mampu mengeluarkan dirinya dari labirin duka yang diciptakan oleh menantumu.
*Happy Reading*
Love Wawa💕
__ADS_1