
"Kita harus menyusun rencana untuk menciptakan penyesalan yang hakiki dalam diri Malik."
"Caranya?" Tanya Ayah Satya dan Abi Afnan bersamaan.
"Kita bujuk Bina untuk menanda tangani surat cerai ini, ketika putusan cerai antara Malik dan Bina sudah selesai baru kita ungkap kebenarannya."
"Tapi ini terlalu kejam untuk Malik?" Ummi Aisya menentang usulan dari Dimas.
"Kejam untuk Malik?" Tanya Abi Afnan dengan nada meremehkan.
"Lalu bagaimana dengan putri kita? Dia siksa oleh Malik dan kamu masih mengasihani anak itu?"
"Abi setuju dengan usulanmu Dimas." Ummi Aisya tidak berani lagi membantah ucapan suaminya.
Tok... Tok... Tok...
"Ya masuk" Ucap Ayah Satya ketika mendengar ketukan pintu dari luar ruangannya.
"Permisi dok, saya mau mengabarkan bahwa nona Sabrina Magfirah sudah sadarkan diri" Ucap sang suster.
Ayah Satya, Abi Afnan, Ummi Aisya dan Dimas berlari menuju ruang rawat Bina.
"Ya Allah Bina kamu sudah sadar nak?" Ummi Aisya langsung memeluk sang putri dan menghujaninya dengan banyak kecupan.
Bina hanya mengangguk pelan pada sang ummi.
"Kamu makan dulu yah nak abis itu minum obatnya" Ucap Ayah Satya yang mengelus kepala Bina.
"Orang itu ada dimana?" Pertanyaan dari Bina membuat keempat orang di hadapannya saling menatap dalam kebingungan.
"Malik?" Dimas kembali bertanya pada sang adik.
Bina langsung histeris mendengar sang kakak menyebut nama lelaki yang telah menorehkan luka permanen di hatinya.
Melihat Bina yang histeris membuat ngilu hati Ummi Aisya, dia berusaha menenangkan sang putri.
"Dia ngak ada kok disini, kamu tenang aja yah" Ucap Dimas mengusap punggung sang adik.
Melihat kondisi seperti membuat Ayah Satya menarik kesimpulan bahwa Bina menderita Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau Gangguan Stress Pascatrauma.
"Dimas jaga adikmu sebentar ayah mau bicara dengan abi dan ummimu" Ayah Satya memberi kode pada Abi Afnan dan Ummi Aisya untuk keluar dari ruangan Bina.
"Ada apa mas? Kenapa Bina bisa histeris hanya karena Dimas menyebut nama Malik?" Tanya Ummi Aisya dengan sedikit mengguncang tubuh kakak iparnya.
Ayah Satya menatap lekat kedua adiknya itu lalu menghela napas dengan kasar.
"Katakanlah kak" Desak Abi Afnan.
"Bina menderita Post Traumatic Stress Disorder" Ucap Ayah Satya.
"Maksudnya?" Tanya Abi Afnan dan Ummi Aisya.
"Itu adalah Gangguan Stress Pascatrauma."
"Apa itu parah?"
"Untuk kasus Bina itu bisa dikatakan parah" Ummi Aisya menangis dalam pelukan Abi Afnan.
"Tapi kalian ngak perlu khawatir dengan rutin melakukan psikoterapi dan meminum obat Inshaa Allah Bina akan sembuh. Support dari kita juga sangat berpengaruh. Terus dampangi dia. Dan untuk saat ini jangan membuat dia mengingat Malik."
"Ayo kita masuk" Ajak Ayah Satya.
----------
Ayah Satya, Abi Afnan dan Ummi Aisya kembali bergabung dengan anak-anak mereka.
Mata Bina menyusuri sudut demi sudut ruang inapnya. Lalu mata hitam pekatnya menangkap sebuah koper pink berukuran besar "Kok koper aku ada disana?"
"Aku yang bawa kesini, supaya kamu punya persediaan baju ganti" Ucap Dimas.
"Oh iya mas, kalau kamu ngak sibuk aku mau minta tolong" Cicit Bina pada Dimas.
"Bilang aja, Bin."
"Tolong ambilin map coklat di rumah" Permintaan Bina membuat empat orang di hadapannya menegang dan saling menatap.
"Map coklat?"
"Iya di depan map itu adalah label SURAT CERAI" Jelas Bina pada sang kakak.
"Surat Cerai?" Ucap Abi Afnan
"Aku udah ngak tahan dengan Mas Malik" Bina mulai bercerita tentang penderitaan yang diciptakan oleh Malik.
Mendengar cerita Bina, Ummi Aisya menangis meraung-raung. Abi Afnan, Ayah Satya dan Dimas mengeraskan rahang sambil menahan emosi.
__ADS_1
Dimas beralih menuju sofa yang berada di ruangan Bina. Mengambil map coklat yang Bina maksud.
"Ini" Ucap Dimas pada Bina sambil mengeluarkan pulpen dari saku jas putihnya.
"Kok ini sudah ada sama kamu mas?"
"Pas aku lagi packing barang kamu, aku ngelihat ini di lantai."
"Mas juga tahu kalau kamu dan Malik tidak tidur sekamar, Mas tidak mendapati baju-baju kamu di kamar yang tadi kamu tempati melakukan percobaan bunuh diri" Perkataan Dimas membuat Bina sontak mengigit bibir bawahnya.
"Lalu dia tidur dimana kalau ngak di kamar itu?" Tanya Ayah Satya.
"Di kamar kecil dan pengap, tanpa kasur dan bantal. Tempat itu bukan kamar tapi..." Bina menghentikan ucapan Dimas.
"Terusin Dimas, Abi perlu tahu semuanya."
"Gudang, Bi" Ucapan Dimas semakin membuat geram Abi Afnan dan Ayah Satya.
"Maafin Abi, nak" Abi Afnan memeluk dan menangis sambil mendekap erat sang putri.
"Sudah takdir Bina, bi. Abi jangan menyalahkan diri Abi sendiri" Bina pun mengeratkan pelukannya pada sang abi.
Ummi Aisya, Ayah Satya dan Dimas pun ikut memeluk Bina.
"Kita semua akan selalu ada untuk kamu Bina" Ucap Dimas.
----------
Setelah sesi teletubies selesai Bina kembali tersenyum. Memang betul yang dikatakan oleh Ayah Satya dukungan dari keluarga sangat berarti untuk Bina saat ini.
"Kamu tanda tangan yah, Abi akan segera urus perceraian kalian. Secepat mungkin putusan cerai ini akan keluar sehingga kamu bisa terbebas dari penderitaan yang dibuat olehnya" Abi Afnan seperti enggan mengucap nama sang menantu.
"Iya abi, makasih abi" Bina segera menandatangani surat perceraian yang Malik berikan pada Bina sepekan setelah pernikahannya.
Setelah Bina menandatangi Abi Afnan langsung menghubungi tim kuasa hukum Garuda Corp.
"Saya ingin kamu mengurus perceraian putri saya dengan CEO Darma Corp" Ucap Abi Afnan.
"....."
"Saya ingin dalam sekali persidangan perceraian sudah putus."
"....."
"Baiklah saya tunggu akta cerainya secepat mungkin" Abi Afnan pun menutup telponnya.
Miris? Itulah yang dirasakan oleh Bina. Keputusan menikah karena ingin menyempurnakan agama justru membawanya ke dalam labirin duka yang diciptakan oleh suaminya sendiri.
----------
Sepekan berada di rumah sakit Bina sudah diperbolehkan pulang. Tiba-tiba ketukan pintu mengalihkan fokus kelima orang dalam ruangan inap itu.
"Biar abi aja yang buka" Abi Afnan berdiri dari duduknya dan membuka pintu.
Dua orang berjas hitam dengan logo Garuda Corp datang membawakan akta cerai Malik Ibrahim dan Sabrina Magfirah.
"Ini pak" Sambil memberikan map merah pada atasannya.
Terlihat jelas senyum merekah dari bibir pria berstatus ayah dengan satu anak itu "Terima kasih, kalian bisa pergi."
"Siapa, bi?" Tanya Bina.
"Tim kuasa hukum, mereka datang membawa akta ceraimu" Ucap Abi Afnan sambil menyerahkannya pada Bina.
Bina mengelus namanya dan nama Malik dengan deraian air mata. Tapi menyeka dengan cepat buliran air matanya.
"Abi, Ayah, Mas Dimas kalian antar aku ke rumah Mas Malik mengantar ini yah."
Ketika lelaki itu mengelus senyum pada Bina.
----------
Disinilah Bina dan ketiga pengawal lelakinya berada Ibrahim's Family.
Tok... Tok... Tok...
"Mas Afnan" Ucap Mama Naya.
"Silahkan masuk" Mama Naya mundur beberapa langkah untuk mempersilahkan para tamunya masuk.
"Saya ngak mau basa-basi Mbak Naya, kami kesini ingin bertemu Malik" Ucap Abi Afnan.
Sejurus kemudian Papa Hadi dan Malik datang.
"Berani kalian menginjakkan kaki kalian kesini?"
__ADS_1
"Bina kamu masih ngak tahu malu datang kesini dengan selingkuhan kamu?" Malik menunjuk Bina dan Dimas bersamaan.
Abi Afnan hampir kehilangan kesabarannya. Tapi Dimas segera menahan sang abi.
"Sabar abi" Ucap Dimas.
Prok... Prok... Prok...
"Drama apalagi ini? Bahkan loh panggil mertua gue dengan sebutan abi. Makasih Bina karena telah menyadarkanku bahwa mencintaimu adalah sebuah kesalahan" Ucap Malik dengan penuh emosi.
Brug
Dimas melemparkan sebuah undangan pernikahan pada Malik.
Melihat inisial di cover undangan membuat Malik semakin menajamkan taringnya.
"Jadi ini alasan abi mempercepat proses perceraian aku dan Bina karena abi ingin menikahkan wanita murahan dan pria brengsek?" Malik pun membuka undangan itu dan...
DEG
"Loh masih bisa ngebacakan? Nama mempelai wanitanya Sari Indah Purnama. Bukan Sabrina Magfirah."
"Bina itu adik gue, Abi Bina dan Ayah Gue adik kakak. Don't judge by cover men."
Malik terjatuh, dia bersimpuh memohon ampun pada Bina. Tapi nasi sudah jadi bubur tak bisa ditanak lagi.
"Kenapa mas? Kamu menyesal sekarang?" Tanya Bina ketika melihat Malik bersimpuh di kakinya.
"Maafkan aku" Rintih Malik.
"Aku akan tetap perjuangkan kamu mas" Ucap Bina membuat semua orang terkejut.
"Makasih sayang" Malik bangkit memeluk Bina.
"Namanya perjuangan itu banyak banget caranya mas. Bukan cuma mempertahankan tapi juga melepaskan."
"Dan aku akan memperjuangkanmu dengan melepaskanmu."
Bina menyerahkan kartu debit unlimited yang Malik berikan beberapa hari yang lalu.
"Kamu benar mencintaiku adalah kesalahan terbesar dalam hidupmu."
Abi Afnan menghampiri kedua besannya "Yang lalu biarlah berlalu, kita jadikan ini pelajaran berharga untuk menata masa depan."
"Jangan jadikan perpisahan mereka untuk merenggangkan tali silaturahmi kita" Imbuh Abi Afnan.
"Nan, maafkan aku. Aku sunggu malu dengan kemurahan hatimu" Ucap Papa Hadi.
"Ngak usah segan, kita tetap keluarga" Abi Afnan menepuk pundak Papa Hadi dan memberikan seulas senyum penuh ketulusan.
Mama Naya mendekati Bina "Terima kasih sudah menjadi menantu mama. Kamu wanita mulia, semoga kelak kamu menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Maafkan Malik yah."
Bina hanya mengangguk, dia sedang menahan tangisnya. Dia tak ingin menangis lagi.
----------
Bina dan keluarganya mulai beranjak meninggalkan rumah keluarga Ibrahim.
"Bina" Malik menatap Bina dengan air mata yang terus menetes.
Bina menghapus derain air mata di pipi Malik.
"Aku mencintaimu mas, sungguh-sungguh mencintaimu."
Bina memegang pipi Malik dan mengecupnya.
CUP
Bina menyinggirkan harga dirinya, dia memperdulikan orang-orang yang melihatnya.
Malik dan Bina saling memeluk. Deheman dari Dimas membuat mereka melepaskan pelukannya.
"Aku pamit, mas" Bina melepaskan pelukannya.
"Aku mencintaimu Bina" Ucap Malik yang masih menatap Bina.
"Maafkan aku. Berjanjilah mulai saat ini kamu harus bahagia" Ucap Malik sambil mencium kening Bina.
Bina mengangguk.
"Jika Allah mengizinkan, kita akan bertemu kembali dengan waktu dan cara yang tepat."
**Season Satu Tamat ~~~
*Happy Reading*
__ADS_1
Love Wawa💕**