Labirin Duka

Labirin Duka
Apakah Ghema itu Arsi?


__ADS_3

"Sepertinya Bu Retno belum mengetahui kabar meninggalnya Pak Malik?" Tanya Arham seraya berpikir.


"Apa kita beri tahu saja soal kematian Pak Malik?" Usul Arham.


"Jangan, ini bisa mempersulit proses adopsi Ghema. Bagaimana jika Ghema menolak diadopsi oleh Bu Bina?" Iksan adalah tipe orang yang sangat berhati-hati dalam melangkah.


"Tugas kita hanya membawa Ghema pada Bu Bina. Masalah meninggalnya Pak Malik biarlah menjadi urusan Bu Bina. Kita tidak bisa masuk terlalu jauh dalam ranah keluarga beliau" Ucap Iksan lalu berlalu meninggalkan Arham yang masih tampak berpikir.


Arham menghembuskan nafasnya dengan kasar. Mungkin benar kalau dirinya tidak berhak mencampuri urusan keluarga Bina. Akhirnya Arham memutuskan untuk kembali bergabung dengan Iksan, Bu Retno dan Ghema.


"Ghema kemas-kemas gih Om akan ajak kamu ketemu keluarga barumu" Ucap Arham setelah mendudukkan tubuhnya kembali ke sofa yang dia tinggalkan sebelumnya.


"Iya Om Iya" Ghema terlalu antusias hingga dia berlari tanpa melihat sekeliling dan akhirnya dia terjatuh karena tersandung di kaki meja.


Arham hanya mengikuti perasaannya. Entah perasaan macam apa ini tapi dia begitu khawatir melihat Ghema kesakitan.


"Ada yang sakit Na-nak?" Ada getaran dihati Arham ketika menatap bola mata Ghema dan membelai rambut panjangnya.


"Ngak kok, Aku ke kamar dulu yah" Ghema tidak ingin membuang waktu Iksan dan Arham terlalu lama lagi.


Setelah kepergian Ghema untuk berkemas Arham kembali ke posisi duduknya semula. Kepala Arham tampak pening dia agak memijat pelipisnya.


"Kenapa Ghema dan Sari sangat mirip Ya Allah?" Batin Arham.


"Anda baik-baik saja Pak?" Tanya Bu Retno pada Arham.


Drrrt... Drrrt... Drrrt...


Telpon yang berada dalam saku jas Iksan bergetar.


"Maaf saya izin angkat telpon sebentar" Setelah kepergian Iksan, Arham menatap lekat Bu Retno.


"Bu Retno" Panggil Arham.


"Iya Pak Arham."


"Usia Ghema berapa yah Bu?"


"Usianya Ghema tujuh tahun Pak Arham."


"Bisa Ibu menceritakan kejadian detail mengapa Ghema bisa berada disini?"


Bu Retno mulai menceritakan kronologi dia menemukan Ghema. Bagian Ghea dan Malik pun tak luput dari ceritanya.


"Jadi Ghema itu singkatan dari nama Ghea dan Malik?"


"Iya Pak Arham tapi sebelum membuang Ghema orang tua kandungnya memberikan dia nama Arsi."


DEG


Kilatan masa lalu kembali membayangi Arham. Bibirnya terkatup rapat.


"Tapi Pak Malik dan Bu Ghea bersikeras memberikan nama Ghema. Mereka berpikir bahwa orang tua kandung Ghema sudah membuangnya dan tidak punya hak apa-apa lagi pada Ghema."

__ADS_1


"Mungkin saja disini sudah ada Arsi" Kalimat yang diucapkan Sari beberapa tahun lalu terus mengisi kepala Arham.


"Apakah Ghema itu Arsi?" Rintih Arham dalam hatinya.


Iksan dan Ghema datang dari arah berlawan dan menyadarkan Arham dengan segala macam ekspektasi di otaknya.


"Pak Arham maaf sepertinya saya harus bertemu dengan klient lagi. Apa anda tidak keberatan jika mengantarkan Ghema bertemu dengan Bu Bina?"


"Baiklah Pak Iksan."


Bu Retno mengantar kepergian Arham, Ghema dan Iksan dengan penuh keharuan.


"Titip Ghema yah Pak Arham, Pak Iksan" Ucap Bu Retno sambil memberikan ciuman di pucuk kepala Ghema.


Arham dan Iksan mengangguk seraya mengulas senyum pada wanita paru baya di hadapan mereka.


"Pak Arham sampaikan maaf saya pada Bu Bina karena tidak bisa ikut mengantarkan Ghema padanya" Karena merasa dirinya sedang dikejar waktu Arhampun mengiyakan permintaan Iksan.


Bersiaplah Arham, kuatkan hatimu.






Menjelang waktu magrib, setelah menerima kabar kalau sebentar lagi Ghema diantar oleh Arham ke rumahnya Bina mulai sibuk mempersiapkan makan malam dibantu oleh Aldita dan Sari.


"Iya Mas aku di dapur" Setelah mendapat jawaban dari sang istri Dimas pun menghampiri wanita yang dia nikahi enam tahun silang.


"Loh Mas kamu kok rapi sih?" Tanya Sari saat melihat suaminya memakai setelan kerja lengkap dengan jas putih.


"Iya ada teman aku yang berhalangan dinas jadi aku gantiin dia" Jelas Dimas.


Sari hanya ber Oh ria atas penjelasan Dimas.


"Aku pamit yah" Kata Dimas setelah meloloskan ciuman di pucuk kepala Sari.


"Dit aku pamit yah" Pamit Dimas pada adik almarhum sahabatnya.


"Bin, Mas berangkat yah" Tapi Bina masih diam seribu bahas pada Dimas. Masih ada seonggok amarah atas ucapan Dimas pada Ghema beberapa saat yang lalu.


Melihat tingkah Bina membuat Dimas menghembuskan nafas kasar.


"Aku antar ke depan yah Mas" Sari pun merangkul Dimas.


"Beri Bina waktu untuk menjernihkan pikirannya. Dan kamu juga harus menjaga ucapanmu Mas" Nasihat Sari saat mereka sudah berada di teras rumah.


"Iya. Aku berangkat yah" Sari meraih punggung tangan Dimas untuk dia cium.


Setelah Dimas tidak terjangkau oleh netra hitam pekatnya Sari kembali masuk untuk bergabung dengan Aldita dan Bina.

__ADS_1


Drrrt... Drrrt... Drrrt...


"Mbak handphonenya getar tuh" Kata Aldita ketika Bina tak menyadari getaran handphonenya.


"Mas Arham" Ucap Bina ketika melihat nama yang muncul di layar handphonenya.


"Assalamu alaikum Mas Arham."


"....."


"Kamu sudah tiba Mas? Ghema udah sama kamu kan?" Bina mencecar Arham dengan berbagai pertanyaan ketika mengetahui Arham akan segera tiba.


"....."


"Syukur Alhamdulillah Mas, Aku tunggu kamu di depan yah" Bina mematikan handphonenya dan berjalan penuh semangat untuk menyambut seorang anggota baru di keluarganya.


"Bin.... Kamu mau kemana? Kok senang banget sih?" Tanya Sari ketika melihat adik iparnya itu tersenyum lebar. Aneh? Tentu saja karena ini adalah pertama kalinya Bina melakukan hal tersebut setelah kepergian Malik Ibrahim.


"Jemput Ghema Mbak, dia udah hampir tiba. Tolong bangunin Mina di kamarnya yah" Pinta Bina dengan tatapan puppy eyes miliknya. Tingkah Bina yang seperti itu sungguh sangat menggemaskan bagi Sari. Dan dia tak kuasa menolak permintaan adik iparnya.


"Iya aku bangunin abis itu aku buatin kalian minum yah."


"Makasih yah mbak ku" Bina mencakup kedua pipi kakaknya.


"Sama-sama sayang buruan ke depan gih" Tanpa babibu Bina melangkahkan kakinya menuju teras rumah.


Tak butuh waktu lama untuk Bina menunggu kedatangan Arham dan Ghema mobil yang mereka tumpangi telah terjangkau oleh tatapan Sabrina Magfirah.


"Ghema..." Teriak Bina saat melihat gadis cantik itu turun dari mobil.


"Bunda..." Ghema berlari dan memeluk Bina.


Bina dan Ghema saling berpelukan dalam haru.


"Kita masuk ke dalam yuk Adik Mina udah nungguin tuh."


"Mas masuk dulu gih" Setiap kata yang keluar dari mulut Bina adalah perintah untuk Arham.


Arham Ghema dan Bina melangkah masuk bersama. Mereka sudah terlihat seperti keluarga ditambah Mina yang berlari menghampiri mereka dengan rasa senang.


"Mas Arham duduk dulu yah" Arham duduk di hadapan Bina, Mina dan Ghema.


PYAR!!!!!!!


Nampan berisi minuman yang bawa oleh Sari jatuh terhempas tubuhnya diam terpaku menatap pria yang berada di hadapannya.


"Sari......"


"...Arham"


Jangan lupakan ritualnya Vote, Like dan Koment


Salam Ketchup😘

__ADS_1


Happy Reading


Love Wawa


__ADS_2