Labirin Duka

Labirin Duka
BAB 17


__ADS_3

Setelah sarapan Malik memutuskan untuk segera ke kantor karena hari ini akan di adakan rapat bulanan para pemegang saham.


Dan saat ini Bina telah berada di super market. Dia segera mengambil stroller lalu mengisinya dengan berbagai macam sayuran, daging, ayam, telur dan buah.


Dirasa semua belanjaannya sudah lengkap dia pun bergegas menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


Dia mengeluarkan kartu debit pemberian Malik untuk membayar semua belanjaanya.


---------


Sesampai di rumah Bina langsung ke dapur dan memasak untuk makan siang yang akan dia bawah ke rumah Om Satya.


Bina memasak telur balado, gurame asam manis dan gulai ayam semua masakan itu adalah menu kesukaan Abi Afnan.


Setelah beres semua Bina menyajikannya ke dalam rantang. Dirasa sudah siap dia pun bergegas menuju rumah Om Satya yang masih sekompleks dengan rumahnya.


---------


Tok... Tok... Tok...


Bina kini berada di depan pintu rumah Satya Rizky. Dengan wajah sumringah dia mengetuk pintu bercat putih itu.


"Assalamu alaikum" Ucap Bina ketika melihat pintu rumah itu terbuka dan Bina langsung menunduk sembari mencium tangan Om Satya.


"Waalaikum salam, Bina ada apa nak kesini?" Om Satya menyambut kedatangan Bina dengan senang hati.


"Ini aku bawain makan siang untuk om dan mas dimas sebagai tanda terima karena udah nolong aku kemarin."


"Aduh ngak usah repot-repot Bina, kami ikhlas menolongmu."


"Bina ngak repot kok om."


"Masuk yuk kita makan siang bareng" Ajak Om Satya sambil mempersilahkan Bina masuk.


"Bi Marni tolong pindahin makanan ini yah" Ucap Om Satya pada ART nya.


Ketika masakan buatan Bina telah tertata rapi di meja makan perasaan haru mendominasi Om Satya.


Bahkan air matanya yang menetes tertangkap oleh tatapan Bina.


"Om kok nangis?"


"Ini semua makanan kesukaan adik om" Ucap Om Satya sambil menyeka air matanya.


"Maaf om, tapi Bina masak ini karena ini masakan kesukaan abi. Maaf udah bikin suasana hati om jadi ngak karuan" Ucap Bina penuh penyesalan.


"Ngak apa-apa abis ini kamu ngak keberatan kalau kita ngobrol sebentar. Melihat wajahmu mengingatkan om pada adik om" Pinta Om Satya penuh harap pada Bina.


"Bina ngak keberatan kok om, justru aku senang bisa sedikit menghibur om."


---------


Setelah selesai ngobrol Om Satya mengajak Bina ke ruang keluarganya. Sebelum memulai pembicaraan Om Satya izin ke Bina untuk mengambil ambil album foto kenangannya dengan sang adik.


Om Satya terlihat bersemengat menunjukkan foto kenangannnya dengan sang adik pada Bina.

__ADS_1


"Ini om dan adik om waktu kami kecil dulu, Bin" Ucap Om Satya sambil memperlihatkan salah satu foto dalam album tersebut.


"Ini foto abinya om" Foto yang diperlihatkan Om Satya membuat menutup mulutnya. Membuat Om Satya kebingungan dengan ekspresinya.


"Kamu kenapa nak?" Tanya Om Satya.


"Inikan fotonya aki om, abi juga punya foto ini di rumah."


"Aki kamu?" Om Satya mengulang kalimat Bina barusan.


"Aki Rizky Abdullah, Abi aku namanya..."


"Afnan Rizky" Om Satya memotong ucapan Bina.


"Om kenal abi aku?" Tanya Bina.


Om Satya membuka lembar foto ketika dia dan Abi Afnan sudah dewasa "Ini abi kamu kan?" Bina pun mengangguk pelan.


"Ka-kamu anaknya Afnan?" Bina kembali mengangguk.


"Tapi kok Bina ngak tahu kalau om adalah kakaknya abi?"


"Dulu aki ingin menjodohkan om dengan salah satu anak kiyai tapi om menolak perjodohan itu karena om sudah jatuh cinta dengan tante nadira."


"Tante Nadira?"


"Bundanya Dimas, akhirnya aki merestui kami. Aki menerima Tante Nadira sebagai menantunya."


"Setahun setelah menikah kami dikaruania anak pertama Dimas Satya Rizky. Ketika usia Dimas menginjak dua tahun Tante Nadira meninggal."


"Om kalau boleh tahu Tante Nadira meninggal karena apa?" Tanya Bina dengan ragu-ragu.


"*I*nnalillahi wa inna ilahi rojiun**."


"Setelah kepergian Tante Nadira untuk selamanya, Aki kembali ingin menjodohkan om dengan wanita pilihannya lalu om menolak dan aki mengusir Om dan Dimas dari rumah."


"Setelah Om diusir, Abi kamu menggantikan posisi Om untuk menerima perjodohan itu."


"Jadi wanita yang dulu akan dijodohkan dengan Om adalah Ummi?"


"Iya nak."


"Lalu hubungan Om, Abi, dan Aki gimana?" Tanya Bina.


"Menjelang kematian Aki dulu, Abi dan Ummimu datang kesini menyampaikan pesan permintaan maaf dan penyesalan Aki pada Om."


"Waktu aki meninggal dulu Bina ngak diberi tahu dengan alasan Abi dan Ummi ingin Bina fokus ke kuliah" Ucap Bina dengan lirih.


"Dimas pun sama Bina. Dia saat itu sedang kuliah jurusan kedokteran di Malaysia, Om ingin dia fokus saja ke pendidikannya."


"Tapi waktu Bina menikah Om dan Mas Dimas ngak hadir?" Tanya Bina.


"Abimu saat itu sudah memberi tahu Om, tapi Om dan Dimas sedang ada seminar kesehatan di luar kota. Jadi kami ngak sempat hadir. Maaf yah."


"Iya Om."

__ADS_1


"Bina jangan panggil Om, panggil ayah seperti Dimas. Dimas pun memanggil kedua orang tuamu dengan panggilan Abi dan Ummi."


"Iya ayah" Bina beranjak memeluk Ayah Satya.


---------


"Loh kok mbak bidadari ada disini?" Dimas menyelonong masuk merusak suasana haru antara Bina dan Ayah Satya.


"Ayah juga kok peluk mbak bidadari sih, aku aja ngak pernah meluk dia" Ucap Satya sambil duduk di sofa single.


"Kalau masuk itu salam dulu deh Dimas" Ucap Ayah Satya dengan sewot.


"Udah kok, ayah aja yang sibuk meluk mbak bidadari sampai ngak dengar salamnya aku."


"Emang salah kalau ayah meluk adik kamu?" Tanya Ayah Satya dengan nada mengejek.


"Adik aku?" Ucap Dimas sambil menunjuk Bina.


"Bina itu adik kamu, dia anak Abi dan Ummi" Jelas Ayah Satya sambil mengusap pundak Bina.


"Baru aja aku mau ngerebut dia Malik eh ternyata dia adik aku yah?"


"Tapi wajahnya emang mirip sih dengan sih ama Abi" Ucap Dimas sambil menatap Bina secara seksama.


"Dimas kamu makan dulu deh tadi Bina bawain kita makan siang."


"Bin, aku makan dulu deh abis itu aku antar kamu pulang yah."


"Aku bisa pulang sendiri kok, mas."


"Abang ngak menerima penolakan, Bin" Dimas beranjak dari duduknya menuju meja makan.


--------


Malik tiba di rumahnya terlebih dahulu, tapi dia tidak menemukan istrinya. Ketakutan kembali mendominasi dirinya.


Dimas mengantar Bina pulang. Ketika berada di depan rumah sang adik, Dimas turun untuk membukakan Bina pintu mobil.


"Aku ngak nyangka loh ternyata loh adik gue mungkin semesta tidak menakdirkan tali perjodohan antara kita" Ucap Dimas dengan santai.


"ABANG" Teriakan Bina membuat telinga Dimas memanas sekita.


"Ternyata ini sifat asli kamu yah."


Dimas dan Bina tertawa bersama.


"Aku boleh kan meluk adikku sendiri" Dimas merentangkan tangannya lalu Bina menghambur ke dalam pelukan sang kakak.


"Yah udah kamu masuk gih" Ucap Dimas sambil mengelus kepala Bina.


Bina masuk ke dalam rumahnya sambil melambaikan tangannya pada Dimas. Dimas pun demikian.


Semua hal yang dilakukan Bina dan Dimas tertangkap oleh penglihatan Malik. Malik geram dan mengepalkan tangannya.


*Happy Reading*

__ADS_1


Love Wawa


NB: Bab kepergian Bina Inshaa Allah Wawa Up sebentar malam😁


__ADS_2