
Malik Ibrahim
"Atas nama Mas Dimas aku minta maaf yah" Ucap Sari.
"Wajar Dimas bersifat demikian, aku pun pasti bersifat seperti dia jika adikku dalam posisi Bina" Ucap Malik dengan penuh penyesalan.
"Kamu ngak mau memperbaiki kesalahanmu terhadap Bina? Aku bisa bantu kok."
"Sangat naif jika aku bilang ngak mau, tapi sudah cukup Bina menderita gara-gara aku. Dia berhak bahagia tanpa aku."
"Bagaimana jika bahagiaanya Bina dan Mina adalah kamu?" Pertanyaan yang Sari ucapkan barusan membuat Malik gagal paham.
"HAH? Maksudnya?"
"Mina selalu dibully di sekolahnya karena tidak punya ayah. Meskipun Dimas sudah mengultimatum Mina dengan sebutan Papa tetap saja dia ingin ayahnya. Dia ingin kamu."
Seperti ada timah panas yang menusuk relung hati terdalamnya. Penjelasan Sari membuat ngilu hati Malik.
"Bina? Selama enam tahun ini dia mengalami trauma yang mendalam. Dia selalu tidur sendiri. Bahkan untuk tidur bersama Mina pun dia enggan, kamu tahu kenapa?" Malik hanya menggeleng.
"Di-di-a" Sari tampak ragu untuk meneruskan ceritanya.
"Cerita aja" Ucap Malik.
"Aku sering lihat dia ngigau nama kamu sambil nangis" Ucap Sari. Lagi dan lagi Malik merasakan ngilu di hatinya.
"Tapi aku sudah nyakitin hati mereka aku ngak pantas dapat maaf dari Mina apalagi Bina."
"Aku maklumin posisi kamu, tapi aku tetap tidak bisa membenarkan ucapanmu yang mengatakan Mina adalah anak haram."
Buliran air mata jatuh membasahi pipi pria berusia 32 tahun itu. Entah mengapa semesta selalu memberikan rasa penyesalan yang mendalam pada dirinya?
"Aku memang salah, disaat para anak perempuan menjadikan ayah mereka sebagai cinta pertamanya aku justru menjadi patah hati pertama untuk Mina."
"Bina masih sayang kamu, kamu masih dapatkan hati dia. Aku percaya kamu adalah kebahagiaan dia, pemilik hatinya."
Malik menggeleng sebagai simbol dia telah mengibarkan bendera putih untuk memperjuangkan Bina dan Mina.
"Jadi kamu rela agar Mina memanggil lelaki lain sebagai ayah? Mina bahkan belum memanggilmu ayahkan?" Malik diam membisu.
"Aku rasa kamu memang tidak ingin mendengar Mina memanggilmu ayah, aku permisi pulang" Sari hendak berdiri tapi sejurus Malik mencegahnya.
"Tapi Abi dan Dimas pasti menghalangiku." Ucap Malik dengan pesimis.
"Aku tahu itu."
"Abi akan ke liburan dengan Ummi ke Jepang pekan depan, setelah kepergian Abi dan Ummi aku akan mengajak Dimas pulang ke Bandung jadi kamu bisa pergunakan waktu sepekan untuk menaklukan hati Bina dan Mina."
"Jadi waktuku hanya sepekan?"
"Bukankah untuk membuat seseorang jatuh cinta pada kita hanya butuh waktu sejam?" Tanya Sari sembari menaik turunkan alisnya pada Malik.
"Baiklah aku akan mengusahakannya."
•
•
•
Sabrina Magfirah
Ada tatapan sendu penuh kerinduan yang dapat Bina lihat di mata Arham.
Tetesan demi tetesan jatuh di pipi Arham "Om kok nangis? Bunda nakal yah buat om nangis?" Tanya Mina dengan suara cadelnya.
__ADS_1
"Bunda ngak nakal sayang, Om cuma kangen dengan anak Om mungkin dia sekarang udah sebesar kamu" Lirih Arham.
"Mina masuk dulu yah Bunda mau bicara sama Om sebentar" Titah Bina pada putrinya.
"Iya Bunda" Mina berlari tapi langkahnya terhenti sepertinya dia sedang melupakan sesuatu.
Mina berlari kembali menghampiri Arham.
"Om bisa nunduk ngak?" Tanpa babibu Arham menuruti permintaan Mina.
CUP...
Mina mencium pipi Arham "Om jangan sedih yah, aku aja yang jadi anak Om."
"Mina?" Nada suara Bina lebih tegas dari sebelumnya. Mina berlari meninggalkan Bina dan Arham untuk masuk ke dalam kamar yang berada di ruangan Bina.
"Maafkan sikap Mina barusan yah" Ucap Bina dengan nada berat.
"Iya Bu tidak apa-apa kok."
Bina kembali fokus membaca kata demi kata yang tertulis di CV Arham. Seketika kening Bina berkerut dan kedua alisnya saling bertautan.
"Arham..."
"Iya Bu."
"Tadi kamu bilang sudah punya anak, tapi CV kamu menuliskan kamu masih lajang."
Arham tertunduk pikirannya melambung jauh entah kemana?
"Dulu..."
Flashback On
Sari selalu menggoda Arham untuk tidur dengannya. Sari berpikir jika dia hamil anaknya Arham maka tidak ada lagi alasan bagi Papa Wisnu untuk menentang hubungan mereka.
Tapi syukurlah Arham adalah lelaki yang memiliki imam yang kuat, semakin kuat Sari menggodanya, maka semakin kuat pula dia mengelak.
Rasa cinta yang Arham miliki untuk Sari terlalu besar dibandingkan dengan nafsunya.
Sampai suatu malam Sari menjebaknya, dia mengajak Arham ke malam ramah tamah yang dilaksanakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Darma Bangsa.
Disana dia memasukkan obat perangsang dalam minuman Arham. Tak perlu banyak waktu obat itu mulai bereaksi dalam tubuh Arham.
Melihat hal itu Sari bergerak cepat membawa Arham ke salah satu kamar yang berada tak jauh dari lokasi acara itu.
Sesampainya di kamar hotel tanpa pikir panjang Sari dengan suka rela memberikan kehormatannya pada pria yang dia cintai itu.
Malam ini adalah malam yang sangat membahagiakan untuk Sari tapi mungkin tidak dengan Arham.
(SKIP) !!!
Pagi harinya, Arham terbangun lebih dahulu. Arham menatap sekeliling kamar, dia merasa asing dengan tempat ini sampai akhirnya dia tersadar ini bukanlah kamarnya.
Dia merasa adalah sesuatu yang berat menindih dadanya, dia mengarahkan matanya ke samping ada seorang wanita yang tertidur pulas dengan rambut yang berantakan.
Arham menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya dan tubuh wanita itu. Dia terkaget dia dan wanita itu dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun. Iya, wanita itu adalah Sari.
"HAH? Astaga Sari" Teriak Arham.
Teriakan Arham membangunkan Sari tanpa aba-aba.
"Morning" Ucap Sari dengan suara khas bangun tidur.
"Apa-apaan ini Sari?" Arham belum bisa mengontrol emosinya. Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Terlihat jelas bahwa Arham sedang shock dengan kejadian ini.
__ADS_1
Sari meraih salah satu tangan Arham meletakkan di perutnya "Jangan marah-marah sayang mungkin saja disini sudah ada Arsi" Ucap Sari.
"Arsi?"
"Iya Arham Sari."
"Bersihkan tubuhmu, kita bicarakan masalah ini nanti" Arham melangkah dengan lemah memungut pakaiannya yang berserakan dan memakainya kembali.
"Maafkan aku" Hanya itu yang bisa Arham ucapkan untuk masalah tak beradab ini.
Ketika sudah rapi kembali, dia kembali menatap Sari "Aku pulang dulu yah."
"Setelah ini tidak lagi yang bisa menentang hubungan kita Arham sayang" Suara tawa Sari menggema di seluruh sudut kamar.
Sampai akhirnya Sari dinyatakan positif hamil, kini dia dan Arham memutuskan menghadap Papa Wisnu untuk meminta restu.
"Om..."
"Mau apa kamu kesini? Gara-gara kamu Sari menjadi sering melawan saya, kamu hanya membawa pengaruh buruk untuk putri saya" Tegas Papa Wisnu.
"...Sari hamil anaknya Arham" Sela Sari.
"APA?" Teriak Papa Wisnu.
"Ini akibatnya kalau kamu melawan perintah papa Sari."
"Anak ini membawa pengaruh buruk untukmu."
"Dia itu orang miskin, dia tidak pantas untukmu. Apa yang kamu harapkan dari dia? Papanya saja adalah mantan narapidana pantas anaknya jadi keturunan bejad."
"Cukup Om, saya tahu keluarga saya tidak pantas disandingkan dengan keluarga Om yang terhormat tapi tolong jangan hina orangtua saya."
"Pergi kamu dan jangan mendekati anak saya lagi."
"Tapi Sari hamil anak saya, Om."
"Memang kamu punya apa? Kamu bisa bahagiakan Sari? Hidupmu saja sudah susah mau sok-sokan bertanggung jawab. Sari saya besarkan sejak kecil, saya berikan dia yang terbaik. Lalu kamu datang ingin mengajaknya hidup susah?"
"Baiklah jika itu maunya Om, saya akan pergi, saya tidak akan mengganggu Sari."
Flashback Off.
"Maafkan saya yah sudah membahas masa lalumu." Ucap Bina setelah mendengar penjelasan Arham.
"Justru saya yang harus minta maaf ke Ibu karena telah membuang waktu ibu yang berharga untuk mendengar cerita masa lalu saya."
"Arham setelah saya membaca CV dan melihat track recordmu di perusahaan sebelumnya saya tidak bisa menerimamu kamu menjadi Manager Divsi Akuntansi."
Arham kecewa, tapi dia bisa apa? Mungkin rezekinya bukan disini.
"Ngak apa-apa bu, mungkin rezeki saya bukan disini" Ucap Arham dengan senyum palsunya.
"Saya tidak menerimamu menjadi Manager Divisi Akuntansi, tapi saya akan menjadikanmu wakil saya. Selamat bergabung di Garuda Corp."
•
•
•
**NB: Say welcome to Arham Pratama.
*Happy Reading*
Love Wawa💕**
__ADS_1