
"Yo pantas kang.... Lah sampeyan loh. Suka sama Unet tapi Ndak pernah kerumahnya dan bilang sama orang tuanya. Ya jelas Unet itu bingung. Lagian dari dulu aku sudah bilang jangan terlalu pusing soal rezeki jika ingin menikah, apalagi usia sudah baligh. Dalam Islam itu Ndak ada namanya pacaran walau cuma surat-suratan." Jelas Rohim pada Mukidi.
Ia sudah mengingatkan sahabatnya untuk jangan surat-suratan khawatir patah hati saat ternyata takdir berkata lain. Yaitu mereka tak berjodoh. Dan yang dikhawatirkan Rohim pun terjadi.
Mukidi pun mengungkapkan isi hatinya pada Rohim.
"Lah aku itu pernah dengar dari bapaknya kalau dia maunya menantunya itu nanti orang sukses atau orang kaya. Lah gimana aku berani lamar dia kang." Ungkap Mukidi.
Rohim menggaruk lehernya yang terasa gatal. Ia pun berdiri dan menepuk pundak sahabatnya.
"Harusnya kamu belajar dari peristiwa ini. Bahwa kamu minimal harus punya identitas."
"Lah aku nduwe (punya) KTP loh."
",Bukan itu. Maksudnya, kamu itu punya pekerjaan kang. Ya apa tukang kebun. Apa tukang arit, apa tukang nderes (sadap karet), apa pedagang. Jadi orang itu melihat minimaln sampeyan itu ada ikhtiar nya buat cari nafkah." Jelas Rohim.
Mukidi membalik kursinya. Sehingga ia duduk dengan posisi sandarannya ada di depan dadanya.
"Apa tak ajak kawin lari wae kang biar di restui?"
"Hust. Ngawur. Ndak boleh kang. Agama kita melarang hal itu. Sekarang lebih baik sampeyan noto Urip daripada menangisi yang bukan takdir sampeyan."
Mukidi pun menempelkan dagunya pada kursi kayu.
"Berarti aku harus kerja ya kang.?"
"Iya, minimal sampeyan itu dilihat orang nyambut gawe (kerja). Nah kalau sudah kerja mau menikah. Jangan takut ga makan, jangan takut nanti istrinya di kasih makan apa. Itu namanya kita merendahkan Allah. Lah wong yang ngasih rezeki itu Allah bukan kita. Tapi ya itu harus ada ikhtiarnya. Ndak mungkin sampeyan main game bisa dapat uang."
Mukidi manggut-manggut. Ia yang memang tak pernah bekerja. Pagi ia akan tidur, saat siang bangun ia akan nonton tv dan sore harinya ia akan main bola. Malam hari nya jika dulu ia habiskan sambil main judi atau minum-minum keras. Semenjak dekat dengan Rohim. Ia akan berada di tempat Rohim. Sampai pagi main game Onet.
"Begini saja kang. Aku besok ikut sampeyan dulu ke ladang biar ga dibilang orang."
"Hehehe... Kang.. Kang.... Kamu itu klo ngurusin omongan orang. Ndak bakal rampung. Orang-orang itu akan menilai kita, kita salah ya di nilai. Kita baik ya dinilai. Jadi fokus saja, hidup itu harus punya tujuan kang." Jelas Rohim.
"Opo Aku ngewangin Mamak ku wae yo kang?" Tanya Mukidi ragu.
"Lah itu malah Ajib Kang. Kerja dapat, uang dapat, ridho Allah dapat."
Baru Mukidi akan meneruskan main gamenya, Rohim mengingatkan sahabatnya.
"Lah kalau mau kerja. Sekarang sampeyan tidur. Nanti pagi biar ga susah bangunnya."
Mukidi meletakkan mouse yang sudah ia pegang tadi. Ia mengangkat satu jarinya.
__ADS_1
"Satu kali ne wae kang."
Rohim menggelengkan kepalanya.
"Ya terserah. Aku tak tidur dulu."
Rohim kembali ke kamarnya. Ia tidur diatas kasur yang hanya cukup untuk dirinya. Pagi hari saat ia bangun dari tidurnya pukul empat pagi. Ia melihat Mukidi tertidur di atas tikar yang berada di ruangan depan kediamannya yang hanya berukuran 2x3.
"Kang bangun Kang. Mau shalat lail ga?"
Mukidi pun terbangun. Hanya dua kali Rohim menepuk lengannya. Entah kenapa bagi Mukidi ia akan sangat cepat bangun jika yang membangunkan adalah Rohim. Namun jika sang ibu yang membangunkan, walau kuali yang di tabuh di dekat telinganya. Ia tak akan membuka kedua matanya.
Mukidi mengikuti Rohim ke arah masjid. Mereka mengambil wudhu. Saat Rohim mengerjakan shalat, membaca Al Qur'an dan membaca dzikir. Mukidi hanya duduk dengan posisi tasyahud akhir. Ia mengangkat kedua tangannya. Ia menyampaikan isi hatinya.
"Ya Allah kalau memang saya tidak berjodoh dengan Unet. Berilah saya perempuan yang cantik dan mau menikah dengan saya. Saya akan bekerja mulai hari ini ya Allah. Tolong jodoh saya jangan di kasih orang lain Ya Allah. Minta tolong yang cantik ya Allah. Dan Satu bisa bantu saya rawat Mamak saya Ya Allah."
Doa Mukidi begitu tulus dalam hati. Ia yang tak bisa doa bahasa Arab. Sehingga hanya mampu berdoa dengan bahasa nya dan menyampaikan isi hatinya pada pemilik dunia dan isinya.
Saat akan matahari mulai terbit. Rohim yang juga bersiap ke ladang. Mukidi meminta sesuatu pada Rohim.
"Kang aku minta rokoknya. Masam mulutnya kang, nanti pagi-pagi kalau minta uang sama Mak e jelas itu ceramahnya bisa sampai tetangga."
Rohim tertawa. Ia masuk kedalam, mengambil sebungkus rokok berwarna putih dan terdapat gambar jambu.
"Ini tak kasih spesial buat anak Sholeh."
"Walah ternyata ya Kang. Baru niat nyenengin hati Mak e. Rezekinya sudah begini."
"Lah Iyo. apalagi kalau Sampeyan itu bener ikhlas ngurus wong tuo. Yakin kang... OPO wae seng sampeyan inginkan Akan Allah permudah. Orang tua itu salah satu pintu rezeki kita. Ladang pahala kita. Berkah e merawat orang tua itu banyak kang, salah satu nya membuka pintu rezeki. Ya jodoh juga rezeki toh kang buat yang belum ketemu jodohnya. Hehehe..." Senyum dan tawa khas Rohim membuat Mukidi semangat. Sahabatnya itu selalu bisa memberikan mood booster bagi dirinya.
Saat ia salah sahabatnya bukan menyalahkan tapi menunjukkan yang seharusnya ia lakukan . Namun selama ini memang Mukidi yang masih keras hatinya. Entah karena patah hati atau karena doa ibunya Mukidi setiap hari. Atau doa Rohim sahabatnya diberikan hidayah agar bisa menjalankan syariat. Pagi itu seolah begitu muda Rohim memberikan nasehat dan diterima oleh hati Mukidi.
Mukidi cepat mendekati Rohim. Ia berbisik ke arah sahabatnya.
"Termasuk istri Sholehah kang?"
Rohim merangkul Mukidi.
"Iya kang. Dunia dan isinya ini milik Allah. Jangankan cuma kasih sampeyan istri Sholehah. Merubah siang jadi malam saja Allah bisa. Dunia ini kecil kang, kita ini sangat kecil di mata Gusti Allah. Yang penting sampeyan terus berusaha jadi Sholeh biar jodohnya Sholehah juga. Minta itu sama Allah Kang."
Mukidi pun terlihat bersemangat. Ia pulang sambil setengah berlari. Saat tiba di depan rumah, ia melihat Ibunya sedang membenarkan rantai sepeda.
"Ono Opo mak?" Tanya mukidi.
__ADS_1
[Ada apa Mak?]
"Lah Emboh. [tidak tahu]. Ini sepeda, Rantainya mau diganti mungkin."
Mukidi pun duduk di sisi Mak nya.
"Sini Mak tak benerin." Mukidi menarik sepeda itu Ialu memperbaiki rantai sepeda warisan almarhum Bapaknya.
Namun Bu Sri menatap putra satu-satunya tak percaya. Ini kali pertama anaknya bangun pagi dan mau membantu dirinya membenarkan sepeda.
"Wes rampung Mak. Tunggu sebentar ya Mak. aku tak sarapan. Biar tak bonceng Mak. Aku mau milu ke ladang pagi ini Mak."
Saat Mukidi akan masuk ke dalam rumah. Bu Sri menarik tangan Mukidi.
"Awak mu demam, Opo kesambet setan Di?" tanya Bu Sri sambil memegang dahi Mukidi.
[Dirimu demam, atau kerasukan setan Di?]
"OPO toh Mak. Kerjo salah. Ora kerjo salah." Gerutu Mukidi sambil berlalu meninggalkan Bu Sri di depan rumah.
[Apa sih Mak. Kerja salah tidak kerja salah]
Saat setelah sarapan. Mukidi membonceng Bu Sri dengan sepeda Jengki milik almarhum Bapaknya. Dan sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Saat ada orang berubah lebih baik. Maka bukan hanya kata-kata yang membuat orang yang baru berubah itu salah tingkah bahkan malu. Namun tatapan seolah Mukidi adalah orang yang aneh karena pagi-pagi pergi ke ladang bersama Bu Sri. Terlebih lelaki itu membonceng Ibunya.
"Tumben Di? Kesambet OPO?" Tanya salah satu warga yang melihat Mukidi yang terkenal pemalas berangkat ke kebun di pagi hari.
"Kesambet Cinta....!" Jawab Mukidi sambil tertawa.
Bu Sri dari belakang bertanya serius.
"Tenan o Di? Cinta Karo sopo?"
[Betulan Di? Cinta sama Siapa?]
Ibu satu anak itu memikirkan jika Mukidi jatuh cinta. Ia mau uang dari mana. Melamar anak gadis orang butuh biaya besar.
Mukidi menarik tangan Buk Sri.
"Cinta Karo Ma e toh... Wes Mak pokok e Saiki. Aku bakal giat kerjo. Mak e ga usah mumet. Sok tak golek i mantu seng ayu, seng gelem ngerumat Mak e."
Mukidi masih mengemudikan sepeda itu Sambil satu tangannya menggenggam tangan Bu Sri.
Air mata membasahi pipi Bu Sri. Ia menangis haru karena ucapan Mukidi, namun juga mengamini apa yang menjadi harapan putra semata wayangnya.
__ADS_1
"Aamiin. Ibu juga senang Di. Walau kamu cuma bohongin Mak e. Tapi Mak e berdoa semoga kamu dapat istri yang sesuai harapan kamu dan betul mau merawat Mak e besok."
Ibu dan anak itu pergi ke ladang dengan dua perasaan berbeda. Bu Sri dengan perasaan haru karena sang anak mau bekerja. Sedangkan Mukidi merasa semangat ingin membuktikan pada orang-orang bahwa ia bisa bekerja dan terlebih lagi ia punya tugas membahagiakan ibunya. Karena Rohim mengatakan apa saja urusan akan dimudahkan kalau sudah niatnya untuk orang tua.