LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 20 ISI HATI LAILA


__ADS_3

Sore hari Laila yang merasakan suhu tubuh suaminya masih cukup tinggi. Ia masih khawatir dengan kondisi suaminya. Rohim yang baru pulang dari masjid membuka Peci hitam miliknya. Ia letakkan di atas meja rias yang berada tepat disisi tempat tidur Laila.


Ia mengusap-usap tengkuknya. Laila masuk ke kamar, ia baru saja membuatkan kopi untuk Rohim.


"Mas...?"


Laila melihat tubuh Rohim di penuhi ruam merah.


"Kita periksakan ke Pak mantri ya? Suhu tubuh mas juga masih tinggi."


Rohim hanya diam. Dia sebenarnya bingung jika harus ke dokter. Karena uang kemarin hanya tersisa Lima puluh ribu. Ia belikan bensin dan untuk menjahit luka Mukidi. Maka saat ini ia hanya memiliki uang lima ribu rupiah. Ia tak mungkin meminta pada istrinya untuk membayar biaya berobatnya nanti. Sedangkan kepalanya terasa pusing, sendi-sendi nya juga ada sakit lebih dari biasanya.Tubuhnya juga lemas. Bagaiamana pun ia masih malu sebagai kepala rumah tangga harus merepotkan istrinya.


"Mas...."


Suara lembut Laila membuyarkan lamunan Rohim.


"Kita periksa ke Sumber Sari saja ya. Sekalian mampir ke rumah Kang Mukidi sebentar."


Laila pun mengangguk.


"Laila pinjam motor Abah dulu ya."


Laila pergi ke halaman belakang terlihat Abah Ucup dan Bu Salamah sedang membenarkan pagar dan kandang ayam yang kemarin sempat rusak karena di pindah.


"Bah, Laila pinjam motornya. Kang Rohim sepertinya demam. Kita mau periksa, kasihan Bah. Semalam itu menggigil sampai mengigau."


"Oala... Jadi semalam itu mengigau? Abah Pikir dia mengaji. Abah Pikir apa kamu ini kurang cantik, lah Kok semalam di anggurin. Aduuuwwwhh.... Sakit Bu...." Rintih Abah Ucup karena di cubit oleh Bu Salamah.


Laila pun tersipu malu. Ia berpamitan sebelum pergi meninggalkan halaman itu.


"Kebiasaan Abah. Itu anak sendiri di goda. Lihat wajahnya Laila merah kayak tomat." Bu Salamah mengomeli Abah Ucup yang nyengir.

__ADS_1


Rohim pun berpamitan pada Abah Ucup dan Bu Salamah.


Saat diperjalanan, Laila memegang jok belakang dan ujung baju Rohim. Rohim dalam keadaan sakit sedikit tertawa. Ia tak menyangka jika sang istri masih sangat pemalu untuk menyentuh dirinya. Bahkan sang istri belum mengeluarkan kata-kata cinta untuk dirinya. Namun dari tatapan Laila Rohim tahu bahwa hati sang istri telah terpaut dengan dirinya.


"Kamu kenapa Dik?"


"Ndak apa-apa...."


"Malu atau takut? kenapa tak pegangan?" tanya Rohim.


"Dua duanya." Jawab Laila.


Tiba di rumahnya Mukidi, Bu Sri menyambut sepasang pengantin baru itu. Mukidi pun cepat memakai bajunya. ia yang sedang santai kaget karena kedatangan tamu Rohim dan istri.


"Wah mimpi apa aku di datangi pengantin baru." Goda Mukidi.


Rohim pun berkata pada Mukidi tentang maksudnya kesana.


"Kang aku mau pinjam jaket mu yang warna merah."


"O ya... Sebentar saya ambilkan."


"Aku ikut kang... sebentar ya dik."


Laila pun menunggu di ruang tamu Mukidi. Saat tiba dikamar. Rohim berbisik pada Mukidi.


"Kamu punya uang ga kang? aku pinjam. Uang ku kebetulan habis ini. Kemarin tak tinggal buat Ibu. Aku mau berobat." bisik Rohim pada Mukidi.


Mukidi akhirnya membuka sebuah celengan dari kayu yang ia simpan di atas lemari. terdapat uang ribuan disana. Ia berikan semua pada Rohim.


Akhirnya Rohim pun meminjam uang tabungan Mukidi itu. Ia tak ingin di awal pernikahan sudah merepotkan istrinya. Rasa malu dan gengsi pun masih besar di hati Rohim. Belum lagi ia sudah memikirkan tentang kasur butut di kediamannya. Ada rasa gelisah, bagaimana besok ia akan membawa sang istri ke rumahnya yang terbuat dari papan dan lantai biasa itu dengan peralatan seadanya. Bahkan sebuah kasur yang hanya berukuran 120x200.

__ADS_1


Uang yang kemarin ia rencanakan untuk membeli kasur dan peralatan itu pun ia tinggalkan untuk kedua orang tuanya yang sedang sakit.


Selama perjalanan ke dokter ia masih gelisah. Laila melihat merasa aneh karena uang yang diberikan Rohim saat membayar mantri terlihat ada nama Mukidi di beberapa lembar uang itu. Mukidi biasa melakukan itu bila mendapat uang yang cukup baru. Rohim tidak memperhatikan nya karena tubuhnya yang linu. Juga pikiran yang tertuju pada kasur bututnya.


Saat perjalanan pulang Laila hanya tersenyum sambil memandang punggung Rohim.


"Sungguh kamu lelaki yang memiliki tanggungjawab mas. Jadi tadi kamu meminjam uang kang Mukidi untuk berobat. Jadi dari pagi tadi tidak mau berobat karena kamu tidak punya uang?Semoga aku bisa meniru apa yang Sayyidah Khadijah lakukan dalam menjalani kehidupan berumahtangga bersama Rasulullah... Dimana hartanya ia berikan untuk dakwah sang suami."


Tanpa sadar usapan lembut Laila berikan pada punggung Rohim dengan tangan kirinya.


"Ada apa Dik?" Tanya Rohim sambil mengendalikan laju kendaraannya.


"Tak apa-apa...."


Laila sedikit memajukan wajahnya sehingga sedikit menempel pada pipi Rohim dan tepat di dekat telinga guru ngaji Masjid Nurul Iman itu.


"Suami istri itu partner Mas. Jika ada masalah maka istri atau suami lah yang harusnya menjadi teman diskusi. Bukan Mukidi." Suara Laila terdengar mesra ditelinga Rohim.


Rohim yang melihat suasana jalan yang kebetulan kanan-kiri sawah. Dan tak ada orang. Tangan kiri Rohim meraih tangan Laila yang berada di belakang tubuhnya. Ia kecuuup tangan lembut istrinya itu.


Ia tak menyangka jika Laila tahu dia tadi mencari solusi dari masalahnya dengan orang lain.


"Maafkan Mas.... Terimakasih sudah mengingatkan... Laki-laki itu lebih sering pakai logika Dik. Maaf kalau menyinggung dirimu." Ucap Rohim masih menggenggam erat tangan Laila.


Laila menyandarkan kepalanya di punggung Rohim.


"Jadikan aku partner mu Mas. Insyaallah aku siap menjadi teman berbagi cerita, teman mu berjuang untuk berdakwah. Sungguh hati ini sudah berkali-kali jatuh hati pada akhlak mu."


Mendengar kalimat pertama istrinya yang membuat hati Rohim bahagia. Ia mengecuuuup berkali-kali tangan yang dari tadi ia genggam.


"Semoga kita bisa menjalani Rumah Tangga yang sakinah mawadah warahmah. Aamiin"

__ADS_1


"Aamiin." Jawab Laila.


Dimulai dari hal ini Rohim melihat pasangannya sebagai seorang sahabat menjalani perjalanan dalam hidupnya. Selain berdoa, menjadikan pasangan hidup partner adalah jalan menuju bahagianya rumah tangga. Memupuk kasih sayang antara suami istri juga termasuk nikmat yang Allah berikan. Allahlah yang memantapkan hati suami-istri untuk saling mencintai dan menyayangi dalam ikatan rumah tangga. Karena, Allah lah yang memiliki sifat Muqallibal Qulub (Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati). Maka disini dibutuhkan peran sebuah doa. Sedangkan ikhtiar nya yaitu terus memupuk rasa cinta pada pasangan.


__ADS_2