LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
Bab 91 Flashback Kisah Masalalu


__ADS_3

Furqon tampak heran, mendengar ucapan Ayu yang mengatakan jika ia berterimakasih.


"Nuwun sewu, Mbak. matur nuwun kangge bab punapa nggih?" Tanya Furqon yang sekarang sering di sapa Gus di awal nama nya.


{Maaf, Mbak. Berterimakasih untuk hal apa ya?}


Umumnya di Jawa, para santri maupun masyarakat akan memanggil anak laki-laki seorang Kyai atau Kiyai atau pengasuh pondok pesantren. Furqon pun akhirnya mau tidak mau, suka tidak suka. Ia dipanggil oleh para santri juga orang yang mengenal kedua orang tuanya dengan sapaan Gus Furqon.


Ayu akhirnya menceritakan kisahnya bisa menyandang gelar Sarjana Komunikasi itu berkat satu kebesaran hati Umi Laila dan Furqon.


Flashback On.


Furqon mulai pulih dari penyakit korengannya, bagian lepitan paha dan ketiaknya tidak lagi bernanah. Ia sudah bisa beraktifitas seperti biasa. Namun kedua matanya sering berair, penglihatannya juga kabur. Maka keberangkatannya untuk kembali ke tanah Jawa, ditunda. Malam hari saat Umi Laila dan Abi Rohim duduk di belakang pondok pesantren. Di belakang asrama putri terdapat sebuah tenda yang tiangnya terbuat dari kayu plangas, atapnya pun terbuat dari seng bekas bangunan sekolah SMA. Sebuah inisiatif dari jamaah majelis Rotib Al Haddad yang di asuh oleh Kyai Rohim hampir selama 10 tahun di Kecamatan tersebut.


Tampak empat orang yang sedang begitu sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Umi Laila mengaduk santan di kuali besar. Ayu sibuk dengan Bawang merah yang ia kupas, sedangkan Lulu mengiris bawang merah untuk nanti di goreng. Kyai Rohim duduk sendiri di amben, ia membungkus kerupuk yang telah di goreng oleh Umi Laila. Suasana begitu sunyi, hanya ada suara jangkrik dan kodok yang masih meramaikan suasana disekitar pondok pesantren, juga suara santan yang sedang Umi Laila aduk.


Besok akan ada acara Pembukaan Safari Maulid. Sebuah acara yang telah berlangsung hampir 15 tahun lamanya. Dimana sebuah acara maulid nabi di bulan maulid, dilakukan selama satu bulan full di satu kecamatan, tempat dimana Kali Bening berada. Seperti biasa, pembukaan akan diadakan di pondok pesantren Kali Bening yang juga berada di tanah masjid. Maulid yang di bacakan adalah Maulid Simthudduror. Ahmad Rohim atau biasa dipanggil Kyai Rohim oleh warga dan santrinya adalah orang yang pertama mengenalkan maulid tersebut di daerah itu. Kyai Rohim dengan istikomah melakukan kegiatan tersebut dari semasa masih sendiri hingga kini telah memiliki 4 anak.


Keistikomahan beliau di lihat ketika suatu waktu, hujan begitu lebat. Taka da yang datang di acara safari maulid yang diadakan di satu mushola ke mushola lain yang ada dikecamatan itu. Maka ia dan hanya beberapa santrinya diikuti Umi Laila yang baru memiliki Furqon, taka da jamaah yang hadir. Beliau masih membaca maulid tersebut sampai selesai, terus begitu. Mau ada atau tidak adanya jamaah. Namun kini, acara tersebut selalu dinanti. Mulai dari anak kecil, ibu-ibu dan juga bakul es dan pedagang mainan. Karena ramainya jamaah yang datang.

__ADS_1


Seperti malam itu, Kyai Rohim sampai terkantuk-kantuk membungkus kerupuk, selesai dengan membungkus kerupuk. Beliau membantu Umi Laila membungkus Kurma dan kacang arab. Melihat santrinya yang juga sudah terlihat menahan kantuk, Umi Laila memerintahkan dua kakak beradik itu untuk istirahat.


“Ayu, Lulu. Tilem rumiyin Nduk. Benjing malih.” Titah Umi Laila kepada dua santrinya.


{Ayu, Lulu. Tidur dulu Nak. Besok lagi.}


“Inggih Umi.” Ucap kakak beradik itu bersamaan.


Ayu menyingkirkan kayu dari tungku. Sedangkan Lulu membawa tampah yang berisi bawang goreng yang masih hangat. Selepas kepergian dua santri tersebut. Umi Laila pun duduk di sisi Kyai Furqon. Beliau membantu suaminya membungkus kacang arab dan kurma tersebut.


“Berapa banyak Mi?” Tanya Kyai Rohim yang memasukan dua kurma ke dalam plastik.


“1.000 bungkus Bi, tahun lalu kita buat 800, masih kurang.” Ucap Umi Laila.


“Bi, Masalah Ayu yang kemarin menurut Abi bagaimana? Umi sayang kalau dia harus kuliah dan berhenti mondok. Sayang Bi, ibarat kata kalau buah, Ayu tinggal memanennya.” Ucap Umi Laila.


“Ya bagaimana lagi, orang tuanya juga tidak mampu kalau harus ambil yang swasta dan belum lagi kuliahnya sabtu akhir minggu harus bolak balik ibukota.” Komentar Kyai Rohim.


“Sebenarnya bisa Bi, kalau Abi memberikan izin.” Ucap Umi Laila.

__ADS_1


“Apa?” Tanya Kyai Rohim.


“Furqon biar kita didik sendiri, sementara dia betul-betul sembuh. Toh kaalu harus operasi mata, Abi dengar sendiri. Kita ambil jalur alternatif saja. Kemari nada yang alhamdulilah sehat tanpa operasi. Furqon hanya alergi saja dengan air di tempat kemarin.” Ucap Umi Laila.


“Hem.” Ucap Kyai Rohim masih focus dengan bungkusan kurma di tangannya.


“Nah, biaya untuk selama ini mondok Furqon. Kita alihkan untuk kuliah Ayu. Senin sampai kamis, dia bisa bantu mengajar anak-anak TPA di sore hari. Bagaimana menurut Umi?” tanya Umi Laila.


“Abi setuju, tapi Umi jangan lupa. Furqon bagaiamana?” Tanya Kyai Rohim.


“Furqon setuju.” Ucap Furqon yang menuntun Ayra.


Ayra terbangun dari tidurnya. Ia menangis mencari Umi Laila. Maka Furqon menuntunnya ke arah dapur mencari Umi Laila.  Namun saat ia berdiri di pintu dapur. Percakapan kedua orang tuanya bisa ia dengar dengan jelas. Bukan hanya kasihan Ayu, tetapi Furqon justru kasihan Umi Laila saat sibuk. Ayra dan Rahmi yang hanya terpaut usia satu tahun lebih. Ia begitu menyanyangi dua adiknya itu. Makai a begitu senang saat Umi dan Abi nya memilih agar dirinya belajar di pondok pesantren yang diasuh oleh kedua orang tuanya.


Tidak hanya itu, celengan yang ia simpan rencana untuk acara wisudah pondok. Ia buka dan berikan kepada Umi Laila. Sebenarnya dengan tidak kembalinya Furqon ke Jawa untuk mondok, memiliki hikmah sendiri. Ayu masih di didik oleh Umi Laila sampai ia mau menikah pun, jodohnya datang dari kalangan anak Kyai. Ia kuliah di bagian manajemen dan di pinang oleh lelaki Bernama Damar. Seorang lelaki dari Sumatera Selatan, anak seorang pemilik pesantren di Jawa.


Flashback Off.


“Saleresipun , kula wekdal puniku wonten leres ing wingking sampeyan Gus. Kulo mireng sadayaning gineman Umi lan Abi. Kula terharu pisan kalih Umi, Abi lan Gus. Mila sampun sepantasipun kulo sanjangaken matur nuwun ing Umi lan keluwargi ingkang sampun kathah kulo repotkan. Aargi kantos mucal kulo. Kulo mboten saged mangsuli punapa-punapa.”

__ADS_1


{Sebenarnya, saya waktu itu ada tepat di belakang anda Gus. Saya mendengar semua percakapan Umi dan Abi. Saya terharu sekali dengan Umi, Abi dan Gus. Maka sudah sepantasnya saya mengucapkan terimakasih pada Umi dan keluarga yang telah banyak saya repotkan. KArena sabar mendidik saya. Saya tidak bisa membalas apa-apa.}


“Siapa yang direpotkan?” Tanya Umi Laila yang baru datang.


__ADS_2