
Saat akan shalat isya. Terjadi hal yang menyulut emosi Abah Ucup di masjid yang berada tak jauh dari rumahnya. Rohim yang diminta untuk menjadi Imam pun di tarik oleh seorang lelaki tua yang biasa menjadi imam di masjid itu. Lelaki separuh baya itu tak terima ketika shalat Maghrib sore tadi Rohim yang menjadi imam di masjid itu.
Hal yang membuat lelaki itu menarik tubuh Rohim saat ia kembali terlambat ke masjid. Ia yang biasanya menjadi imam beberapa hari ini sedang tak enak badan. Sehingga datang terlambat ke masjid. Rohim sebenarnya sudah menolak ketika diminta menjadi imam. Karena ia menghormati para tokoh agama dan sesepuh yang ada di masjid itu.
Namun beberapa jamaah meminta Rohim mengimami shalat Isya itu. Abah Ucup tak terima mantunya di tarik paksa sudah maju. Namun Rohim Cepat menenangkan hati mertuanya.
"Sudah Bah.Kita kemari untuk shalat." Lerai Rohim pada sang mertua yang baru sore tadi menjadi ayahnya.
Selesai sholat isya. Abah Ucup selama perjalanan pulang merasa jengkel. sehingga Rohim menjadi tempatnya menceritakan isi hatinya.
"Abah itu tidak suka dengan Pak Adi Itu. Dia itu terlalu keras, kasar sama orang. Adzan tapi suaranya cempreng." Gerutu Abah Ucup sambil melangkah pulang.
Rohim yang berjalan disisi Abah Ucup pun mencoba menenangkan sang ayah mertua.
"Abah, bagaiamanapun beliau lebih tua dari kita. Ya memang tugas kita menghormati beliau."
"Terus menurut mu bagaimana kalau suaranya itu Ndak enak di dengar setiap adzan."
Rohim sedikit tertawa karena permasalahan ini pernah Mukidi tanyakan pada ia sewaktu ada orang adzan di masjid Nurul Iman sebelum ia datang.
"Sekarang ada tidak yang sanggup menggantikan beliau untuk adzan Bah?"
Abah Ucup terdiam. Ia mengingat selama ini memang tak ada yang bisa Istikomah mengumandangkan adzan di masjid itu selama lima waktu. Hanya pak Adi yang telah sepuh itu yang selalu hadir di masjid jauh sebelum waktu shalat tiba. Sehingga hanya ia yang selalu mengumandangkan adzan. Bahkan kalimat untuk bangun Sahur ketika Ramadhan tiba pun sudah terbiasa dengan suara Pak Adi yang cempreng.
"Ya tidak ada memang. Beliau itu saat sakit saja masih shalat di masjid."
"Berarti beliau luar biasa Bah. Karena bisa Istikomah walau suaranya belum bisa sebagus mereka yang tidak bisa Istikomah."
Abah Ucup pun terdiam. Ia betul-betul salut pada menantunya itu. Beberapa kali ia berkeluh kesah perkara pak Adi. Banyak saran mengganti beliau atau ikut menghujat. Tetapi Rohim ia memiliki sudut pandang yang tak sama. Ia lebih menilai kelebihan Pak Adi yang bisa Istikomah shalat lima waktu di masjid dan mengumandangkan adzan di saat suaranya tak sebagus mereka yang selalu mengkritik atau membicarakan dirinya di belakang karena suaranya yang tak sedap di dengar setiap adzan.
Padahal mereka yang memberikan kritik shalat di masjid bisa dihitung pakai jari.
Saat tiba di rumah. Laila menyambut Rohim. Ia telah membuatkan kopi untuk Abah Ucup dan Rohim.
"Kopinya Bah,Kang kopinya diminum dulu."
Abah tersenyum ketika Laila memanggil suaminya dengan Kang'.
"Loh... kayak apa aja kang kok kang? Mbok panggil Mas gitu Laila..." Ujar Abah Ucup pada Laila yang tersipu malu.
Saat selesai minum Kopi. Rohim masuk ke kamar berniat mengganti baju. Laila pun mengikuti , khawatir sang suami butuh sesuatu. Waroh yang menatap layar kaca berdecih.
"Ciiiihh.... laki begitu aja di layani betul. Udah bikin geger orang satu desa." Ucap Waroh dalam hati. Waroh merasa kesal karena selepas ijab dan malam ini pun Rohim sekalipun tak melirik ke arahnya. Bahkan minyak wangi sweet seventen yang ia gunakan lebih banyak dari biasanya tak mampu menarik perhatian Rohim.
__ADS_1
Tiba di kamar. Rohim sedikit memijat kepalanya.
"Ada apa kang?" Tanya Laila khawatir.
"Ndak apa-apa. Masih Kang Toh? kok kayak santriwati sama santri saja Dik.." Ucap Rohim sambil tersenyum.
Laila pun tersenyum dan merasa malu. Ia bertambah malu saat suaminya ingin mengganti bajunya dengan kaos.
Rohim membuka lemari dan menarik satu baju kaos. Laila reflek membalikkan tubuhnya saat Rohim membuka bajunya. Ia belum berani bahkan terbiasa menatap tubuh lelaki yang terbuka dadanya. Ia lupa bahwa sesuatu yang sedang ia hindari telah halal di pandang.
Saat Rohim akan menggantung bajunya di Balik pintu. Lail mengambil baju itu. Tangannya yang menyentuh tangan Rohim. Terasa hangat pada bagian tangan sang suami.
"Mas Rohim demam?" Tanya Laila pada suaminya.
"Tidak tahu. Kepala pusing ini. Dari Maghrib tadi."
Laila reflek memegang dahi Rohim.
"Astaghfirullah.,.. Panas sekali Ma suhu tubuhnya."
"Mungkin cuma lelah Dik."
Rohim menahan tangan sang istri. Ia menarik satu tangannya. Lalu ia keluarkan cincin dari dompetnya. Ia sematkan cincin itu pada jari Laila.
"Ini cincin Ibu. Ibu titip salam buat menantunya. Semoga kita ada rezeki biar bisa segera bertemu ibu. Doa ibu dan bapak menyertai rumah tangga kita."
"Ibu bilang itu hadiah buat mantunya."
"Mas Rohim sudah menelpon Ibu?"
"Astaghfirullah...." Rohim menepuk jidatnya. Ia lupa memberikan kabar jika ia telah tiba di Sumber Waras. Namun saat ia membuka ponselnya terdapat 150 panggilan tak terjawab dan 99 pesan masuk dan belum di baca. Ia yang dari tadi siang belum sempat membuka ponselnya karena kehabisan daya. Baru malam ini ia membuka ponselnya. Dan ternyata selama ia belum tiba ada banyak pesan dari Pak Toha, Abah Ucup dan termasuk Laila.
Rohim duduk di tepi tempat tidur yang berukuran 160x200 itu. Ia menghubungi nomor Munir namun tak berhasil. Akhirnya ia mengirimkan pesan ke nomor tetangga nya.
Ia pun izin untuk keluar karena masih banyak bapak-bapak di luar rumah yang begadang. Laila pun mencegahnya.
"Mas Rohim tidak mau istirahat saja? Tubuhnya kang Rohim panas sekali kang?" Tanya Laila khawatir.
Rohim mengusap tengkuknya.
"Sebentar saja Dik. Tidak enak rasanya. Tidurlah lebih dulu kalau dirimu mengantuk."
"Iya Mas." Jawab Laila singkat.
__ADS_1
Rohim pun keluar dan berbincang dengan tetangga barunya. Namun makin malam tubuhnya makin menggigil. Ia pun berpamitan masuk. Saat masuk ke kamar kedua mata Rohim menikmati Pemandangan yang indah. Istrinya yang telah tidak berkerudung. Laila yang tertidur setengah bersandar di tempat tidur. Rambut panjang istrinya itu membuat sang istri terlihat sangat manis. Rohim pun duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu cantik Dik..." Saat Rohim naik ke atas tempat tidur, suara derit ranjang itu pun membuat Laila terbangun..
"Astaghfirullah...." Laila sedikit kaget karena melihat Rohim disisinya telah berbaring. Seketika ia baru ingat jika ia telah menikah tadi sore.
"Maaf membangun Mu, Dik."
Laila pun merebahkan tubuhnya. Dia memiringkan tubuhnya ke arah Rohim. Suami istri itu saling pandang.
"Maaf sepertinya malam ini mas belum bisa memberikan hak mu Dik. Mas sepertinya demam. Khawatir nularin kamu."
Mendengar kata 'Demam' membuat Laila reflek memegang dahi suaminya.
"Mas, Laila ambilkan penurun panas ya. Kalau tidak salah masih ada sisa dari pondok kemarin Laila bawa pulang."
Laila bergegas mengambil Paracetamol di dalam laci lemarinya.
"Ini Mas diminum dulu."
Rohim pun duduk dan meminumnya. Suami Laila itu berbaring.
"Kamu tidak berbaring?" Tanya Rohim saat melihat Laila hanya duduk di sisinya.
"Laila pijat ya. Mas istirahatlah."
"Maafkan aku sekali lagi Dik...." Suara Rohim pelan. Kepalanya terasa pusing. Tubuhnya terasa dingin namun Laila yang memegang dahi suaminya merasakan jika tubuh sang suami panas.
Sambil memijat tengkuk Rohim. Laila menjawab pelan.
"Kita masih punya banyak waktu Mas...."
Wajah Laila pun seketika merah karena malu. Hampir satu jam Laila berada disisi suaminya. Terlihat Rohim menggigil. Laila merapatkan selimut di tubuh Rohim. Ia berkali-kali mengompres dahi suaminya. Kembali Laila di buat jatuh hati oleh Rohim. Lelaki itu dalam kondisi demam tinggi. Dengan mata yang terpejam, ia membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Dari juz satu hingga sampai juz 4.
Laila mencoba membangunkan Rohim. Ia menyentuh lengan Rohim.
"Mas.... Mas..."
Tak ada jawaban dari Rohim. Lelaki itu semakin menggigil dan tetap melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an. Tanpa Laila sadari ketika sang suami mengucapkan kalimat Shadaqallahul Azhim. Laila mengeeeecup punggung tangan Rohim berkali-kali.
Malam itu,Laia menitikkan air mata haru. Ia tak menyangka dalam keadaan demam. Suaminya malah mengigau, membaca ayat Alquran hingga sampai hampir dini hari.
"Masyaallah.... Sungguh aku dibuat jatuh hati pada mu Mas. Dalam keadaan seperti ini pun kamu masih mengingat Kalam Allah...."
__ADS_1
Saat Laila menangis haru karena terharu. Di Luar kamar para bapak-bapak yang sedang bermain gaplek, merasa bingung karena kenapa pengantin yang mereka tunggu agar tak ada yang mengintip di malam pertamanya malah mengaji sampai dini hari. Begitupun Abah Ucup.
'Wuih.. Opo anak ku kurang cantik... sampai Rohim itu malam ini malah ndarus daripada ibadah sama anak ku' batin Abah Ucup.