
Rohim membaca pesan dari adik satu-satunya. Pesan dimana jika sang adik di terima di universitas negeri dan mendapatkan beasiswa namun ia butuh uang untuk membeli motor seken. Juga membayar beberapa administrasi di awal. Selanjutnya ia dibebaskan biaya. Orang tuanya hanya memiliki 25% dari semua biaya yang ia butuhkan.
Saat malam semua orang telah pulang. Laila melihat suaminya sedang membuka buku tabungan milik mereka.
"Ada apa mas?"
"Ini Dik. Munir tadi mengirimkan pesan. Kalau dia di terima di universitas negeri. Tetapi ada biaya di muka. Ia juga butuh motor untuk menghemat pengeluaran perbulannya. Bapak cuma punya untuk sebagian biaya." Ucap Rohim pada sang istri.
"Ya kalau cukup, dikirim saja besok mas. Sayang, kesempatan baik buat Dik Munir." Ucap Laila sambil memberikan ASI pada bayi nya.
Rohim dan Laila selalu menyisihkan sebagian pendapatan ditujukan sebaiknya kepada orang tua Rohim termasuk kebutuhan Munir. Walau mereka jauh secara geografis, Laila berharapnya Ridho Allah dan menjaga silaturahim dengan kedua orang tua suaminya juga adik iparnya.
Rohim pun menatap istrinya penuh cinta. Ia bersyukur memiliki istri Laila. Tidak hanya manis, tetapi juga cerdas, sabar tetapi juga sangat mencintai orang tuanya. Ia kadang sering menerima keluh kesah dari teman-teman atau tetangganya.
Seperti malam itu saat beberapa orang yang datang untuk mengunjungi Laila. Beberapa lelaki datang tidak dengan sang istri. Mereka mengeluh akan istri-istri mereka. Pak Kardi yang merupakan tetangga tiga rumah dari Rohim, lelaki itu duduk sambil menikmati kopi dan ubi goreng yang masih hangat.
"Kondisi ekonomi lagi sulit begini. Pusing." keluh Pak Kardi.
Mukidi melihat pak Kardi yang mengeluh padahal ia termasuk salah satu orang yang memiliki banyak kebun di desa Sumber Sari.
"Lah masak sampeyan bisa setress Pak?" Tanya Mukidi penasaran.
"Lah. Kalau masalah kantong sayang setress sebenarnya kang. Tapi ini bingung sama istri saya. Ekonomi lagi tak baik-baik saja. Lah masak yang di kurangi jatah untuk orang tua saya." Keluh Pak Kardi.
__ADS_1
Mukidi makin bingung.
"Maksudnya jatah Pak?"
"Ya saya itu biasanya kalau sudah panen, suka kirim. Misal kalau satu bulan orang tua saya tiga ratus ribu. Mertua juga tak kirim sama. Tapi sudah berapa bulan ini. Orang tua saya tidak dikirim alasannya ekonomi susah. Tapi kreditnya nambah. Di ajak ngobrol malah ngajak ribut." Kembali Pak Kardi mengeluh.
Tiba-tiba Mukidi yang baru saja batal menikah merasa ciut. Ia kembali tak berselera untuk mencari pengganti Maya. Karena khawatir setelah menikah istrinya juga tak bisa menyayangi ibunya juga membantu ekonomi sang ibu. Padahal sekarang ibu nya kadang sering masuk angin sehingga tak bisa keladang.
Mukidi diam, tak berani bertanya keluh kesah Pak Kardi. Rohim sambil menikmati rokoknya mencoba menenangkan sang tetangga.
"Ya mungkin istri kita punya alasan sendiri pak. Yang jelas kita juga harus menjaga perasaan pasangan ketika ingin bertindak atau apapun itu. Lah wong mereka itu partner kita dalam kehidupan sehari-hari." Ucap Rohim sambil menikmati kopinya.
Saat menjelang tengah malam. Rohim menemani Laila, malam itu bayi mereka beberapa kali terbangun karena popok nya basah. Satu kegiatan yang baru bagi sepasang suami istri itu. Saat pagi tiba, hari itu Bu Salamah berniat untuk membuat Bancaan.
Laila dan Rohim pun menganggap bahwa itu adalah ungkapan dan rasa bahagia orang tua mereka karena memiliki cucu sehingga ingin berbagi kepada tetangga. Jadi bukan karena tidak ada di zaman nabi dan nabi tidak melakukan lantas Rohim dan Laila melarang orang tua mereka melakukan tradisi bancaan itu. Selagi tidak ada kegiatan yang mengarah ke syirik.
Mereka melihat itu sebagai cara bersedekah atau berbagi dengan tetangga. Kehadiran anak selalu dinanti-nantikan oleh setiap pasangan. Baik yang baru menikah dan membina rumah tangga atau sudah lama. Hal itu karena kehadiran seorang anak akan menjadi pelengkap kebahagiaan rumah tangga bagi pasangan suami istri. Seperti yang dirasakan Laila dan Rohim.
Maka Bancaan yang dilakukan pada hari itu di nilai Rohim dan Laila sebagai ucapan selamat dan juga mempererat kerukunan antara keluarga dan tetangga. Salah satu tradisi yang merupakan salah satu kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia, yang tidak dimiliki oleh bangsa lain.
Namun saat Laila yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia melihat Bu Sri yang sedang mencuci telur untuk di rebus. Laila melihat telur tersebut di cuci di baskom kecil. Telur-telur tersebut di rendam dan di cuci di dalam baskom kecil itu. Laila melihat ada kotoran ayam yang terdapat di kulit atau cangkang telur ayam tersebut.
Ia berhenti tepat di sisi Bu Sri. Ia sedang memikirkan cara menyampaikan kepada Bu Sri bahwa cara mencuci telur tersebut justru membuat semua najis itu mengenai telur. Karena setahu Laila saat di pondok. Gurunya mengajarkan untuk mencuci telur dengan air mengalir dan memisahkan telur yang sudah di cuci dari telur yang belum dicuci atau telur yang masih ada kotorannya. Terlebih setelah di cuci di letakkan kembali di atas karpet telur yang mungkin masih ada najis atau kotoran telur tersebut maka sama saja seperti telur yang belum di cuci tadi.
__ADS_1
"Bu, pakai pancuran saja mencucinya agar kotoran yang melekat di cangkangnya hilang." Ucap Laila pelan. Ia melihat ekspresi wajah Bu Sri.
Ia khawatir Bu Sri merasa tersinggung. Namun terlihat dari raut wajah ibu dari Mukidi itu tak berubah. Ia masih terlihat ceria. Laila melanjutkan penjelasannya.
"Kalau di cuci di dalam baskom itu. otomatis air yang ada di baskom itu menjadi najis semua Bu. Dan semua telur jadi ikut najis. Karena menurut Imam Syafi'i kotoran hewan yang halal dimakan juga termasuk najis. Jadi ketika mencucinya kita juga harus membasuh dengan air mengalir atau air yang bisa mensucikan. Lebih aman pakai air mengalir saja Bu." Pinta Laila pada Bu Sri.
Bu Sri cuma manggut-manggut. Saat Laila masuk kedalam rumah. Salah satu warga yang juga ikut membantu di kediaman Laila pun menggerutu.
"Halah! Ribet betul. Lah wong yang penting kan di cuci. Ndadak pakai air mengalir segala!" Gerutu Ibu itu sambil menarik kursi dan membantu Bu Sri mencuci telur-telur tersebut.
"Kamu itu kalau tidak mau membantu ga usah bantu. Daripada menggerutu, dia itu sudah kenyang makan bangku sekolahan juga kitab. Jadi kalau dia sudah kasih masukan itu namanya ilmu. Beruntung kita ga perlu mengaji, ga perlu jauh-jauh belajar. Lah ditempat kita ada orang yang mau mengabdi dan memberikan ilmunya untuk kita." Bu Sri mengoceh. Ia tak terima Laila di jelek-jelekan.
"Dipikir Rayap. Makan Bangku." Gerutu ibu itu.
Bu Sri spontan mendorong kepala ibu itu. Ia merasa jengkel, karena Ia sangat menghormati Laila dan Rohim walau umur sepasang suami istri itu jauh lebih muda dari dirinya.
Kembali belum puas Bu Sri mengoceh lagi.
"Itulah tidak pernah mau ikut kalau ke majelis ilmu. Ini lihat, air ini maksud Laila tadi, tidak bisa Mensucikan. Jadi mencuci sama mensucikan itu beda. Jangan-jangan kamu juga mencuci pakaian mu kayak gado-gado yang ada najisnya dan yang tidak di campur aduk terus bersih tapi belum tentu suci." Ucap Bu Sri yang sombong dan kesal.
Karena tetangganya satu itu selalu tidak mau ikut ke majelis ilmu. Alasannya karena kelakuannya masih begitu kok ikut majelis ilmu. Padahal Bu Sri sendiri belum berjilbab, tetapi semangat dari anak laki-lakinya yang meminta sang ibu ikut pengajian yang diadakan oleh Laila mulai ia rasakan manfaatnya.
Salah satunya ia selalu merasa bersabar saat cobaan datang. Ia jarang mengeluh, karena satu majelis yang diadakan oleh Rohim yaitu majelis shalawat Simtudduror. Dimana ketika Mahalul Qiyam, Bu Sri bisa sampai menangis terisak. Dan aneh nya ia akan merasa plong dan hatinya merasa ringan saat pulang kerumahnya. Maka ia jarang mengeluh atau meratapi nasibnya. Karena selain ketika selesai shalat ia membawa gelisah dan rasa sesak akan masalah hidupnya. Ada satu wadah yang ia rasakan bisa membuat hatinya tenang yaitu majelis shalawat yang diadakan Rohim dan Laila.
__ADS_1