
Hari berganti hari, Umi Laila dan Abi Rohim masih tetap istikomah dengan memberikan ilmunya untuk para santri. Putra putri mereka pun seiring bergantinya waktu telah ikut bertambah usia. Furqon sudah duduk di kelas 7 SMP. Sulung Umi Laila itu telah dititipkan di salah satu pesantren Salafi yang berada di pulau Jawa. Sedangkan putri Nuaima dan Munir telah berusia sekitar lima tahun. Ayu dan Lulu pun telah beranjak menjadi Gadis. Ayu bahkan sudah lulus SMA sedangkan Lulu masih di bangku Menengah Pertama.
Ba'da Isya, tampak Pak Toha dan istrinya datang untuk menyerahkan putranya yang bernama Rendra, untuk mondok di pesantren Kali Bening. Umi Laila dan Abi Rohim menyambut baik niat Pak Toha dan Istri. Rendra baru duduk di kelas 6. Keputusan Pak Toha untuk memondokkan anaknya karena putranya begitu keras, sedangkan kondisi istrinya yang memiliki anak balita, membuat sang istri cukup kewalahan merawat dan mendidik Rendra.
Seperti santri lainnya, Rendra pun di perlakukan sama. Tak ada yang istimewa. Baik dari tempat tidur, makanan dan perlakuan Umi Laila pada santrinya walaupun Rendra adalah anak dari Pak Toha. Sosok yang selama ini selalu membantu Abi Rohim dari semasa masih bujang hingga kini telah memiliki banyak santri.
Tiga Bulan Rendra tak boleh di kunjungi. Itu adalah peraturan yang Umi Laila buat untuk setiap santri baru. Namun karena jarak pondok dan rumah yang berdekatan membuat istri Pak Toha tak dapat ikut tirakat. Ia selalu memanggil anaknya saat Rendra akan berangkat dan pulang sekolah. Baru satu bulan di Pondok Pesantren. Rendra justru sudah mengatakan pada sang ibu tak betah.
Pagi itu saat akan berangkat ke sekolah, Rendra sudah di nanti oleh Ibunya di depan rumah.
"Ada apa nak? Kenapa kok pucat sekali?" Tanya Istri Pak Toha.
"Aku sudah tidak betah Bu. Aku sering tidak kebagian sayur saat akan makan. Tidur pun aku sering tak pakai selimut. Teman-teman ku nakal semua." Keluh Rendra pada Ibunya.
"Jadi kamu tidak sarapan?" Tanya Bu Toha khawatir.
"Iya Bu. Umi Laila juga selalu mencubit ku, ia juga sering membeda-bedakan aku dengan santri yang lain." Hasut Rendra.
Ibu mana yang tak terenyuh hatinya mendengar keluh kesah sang anak. Namun tanpa Bu Toha sadari, ia telah melanggar peraturan yang dibuat Umi Laila. Untuk tidak menemui anaknya di awal masa sang anak mondok. Belum genap tiga bulan, Bu Toha telah menemui sang anak. Bukan hanya itu, sejak kejadian pagi itu, Bu Toha sering memberikan uang pada Rendra. Setiap pagi putra Pak Toha itu akan mendapatkan uang jajan dari Ibu Nya. Padahal dari pondok, Umi Laila telah memberikan seperti biasa.
Umi Laila sebenarnya telah membuat sarapan setiap paginya. Namun Rendra yang tidak suka dengan Menu nya membuat ia tak pernah mau sarapan. Ia bahkan mengambil jatah sarapan namun membuangnya. Belum lagi saat malam, Rendra akan mengganggu teman-temannya yang lebih kecil dari usianya. Waktu tidur kadang digunakan untuk usil pada santri lain. Pagi hari saat waktu shubuh, Rendra bahkan berkali-kali harus di cubit Umi Laila karena saat sudah hampir adzan, ia masih tertidur. Tak ada yang mampu membangunkannya. Jangankan Rendra, Furqon saat sudah berusia 8 tahun saja mulai diterapkan oleh Umi Laila. Ia akan tegas akan satu yang dikatakan kewajiban.
Kembali ketegasan dari Umi Laila membuat Abi Rohim harus mengingatkan istrinya itu. Abi Rohim melihat Umi Laila sedang marah dengan Rendra.
Dan terjadilah satu kejadian dimana Umi Laila tampak begitu marah pada Rendra.
"Ayo bilang, dapat uang darimana?" Tanya Umi Laila menatap Rendra.
Putra Pak Toha itu kedapatan Umu Laila sedang merokok di belakang asrama santri putra. Sebenarnya Umi Laila sering curiga beberapa hari lalu, ia melihat puntung rokok di belakang asrama putra. Maka malam itu, ia sengaja sembunyi di belakang asrama santri putra.
Abi Rohim yang baru pulang dari kenduri, ia duduk di sisi Umi Laila. Ia buka kopiah nya dan melihat ke arah sang istri. satu lirikan dari Abi Rohim pada sang istri, sebuah kode akan rasa penasaran Ayah Furqon itu. Ada perihal apa, karena ia sudah melihat rotan yang biasa dipakai untuk menghukum santri yang melanggar peraturan pondok.
"Rendra ini tadi kedapatan merokok Bi." Jelas Umi Laila.
__ADS_1
Abi Rohim pun menatap santrinya.
'Ya Allah, sungguh yang mampu mencerdaskan seorang santri itu hanya Engkau. Mungkin santri-santri yang seperti ini memang harus kami didik sabar. Karena bisa jadi ujian kami memang melalui santri-santri.' Batin Abi Rohim.
"Jawab, dapat uang darimana?" Tanya Abi Rohim.
Umi Laila sebenarnya khawatir putra Toha itu mencuri. Karena ia amati anak itu tak pernah sarapan, lalu ia sering jajan di saat pulang sekolah. Umi Laila tidak tahu perihal istri Pak Toha yang selalu memberikan uang jajan lebih.
Rendra tak menjawab pertanyaan Abi Rohim.
"Rendra, baru berapa bulan kamu sudah buat pelanggaran yang begitu banyak. Termasuk merokok, sekarang saya tanya. Kamu dapat rokok beli atau darimana?" Tanya Abi Rohim.
Rendra hanya diam. Ia merasa kesal dimarah seperti itu. Jika dengan orang tuanya mungkin ia sudah marah. Entah kenapa bibirnya sulit sekali menjawab dan bersikap arogan pada gurunya.
Rendra pun mengatakan bahwa ia membeli. Saat ditanya uangnya darimana. Santrinya menjawab jika diberi oleh Bu Toha. Maka malam itu sebelum istirahat, Umi Laila dan Abi Rohim pun berbincang sejenak perihal Bu Toha yang melanggar peraturan yang dibuat oleh Umi Laila.
"Gimana ya Bi, saya ndak enak kalau harus membicarakan pada Bu Toha perihal ini." Ucap Umi Laila seraya mengusap-usap punggung Ayra. Putri bungsu bagi Umi Laila itu lebih susah tidur di bandingkan Rahmi dan Mida. Ia sangat manja, punggungnya harus di usap cukup lama sampai baru bisa tertidur. Hal itu dimulai saat ia mulai si 'sapih'. atau bahasa lainnya di pisahkan dari ASI.
"Ya harus diberi tahu tentang ini Mi. Biar Bu Toha tahu kesalahannya. Lah kita tirakat betul-betul mendidik Rendra. Tapi Ibunya melanggar peraturan. Repot Mi, takutnya nanti Rendra nya." Ucap Abi Rohim.
Keesokan harinya, Umi Laila menemui Ibu Rendra di kediamannya. Saat ia dipersilahkan masuk, Ayra dan Lulu menunggu di teras rumah. Karena Umi Laila yang akan berangkat ke Sumber Waras. Ia pun diantar Lulu. Umi Laila tak bisa mengendarai motor, maka santri-santri abdi ndalem lah yang akan mengantarnya ke mana-mana.
"Begini Bu, saya kemari ada yang mau saya obrolkan." Ucap Umi Laila.
"Wah ada apa Mi?" tanya Bu Toha khawatir.
"Bu, semalam Rendra kedapatan merokok. Ketika saya tanya uangnya dapat darimana, dia bilang dapat dari Ibu." Ucap Umi Laila.
Bu Toha sedikit salah tingkah. Ia malu karena is melanggar janji dengan Umi Laila. Ia telah berjanji tak akan bertemu dengan putranya sampai waktu tiga bulan lamanya. Namun rasa sayang yang tak mampu di tahan untuk ikut tirakat.
"Bu, tirakat itu upaya mengekang hawa nafsu. Salah satunya, hawa nafsu sang anak disaat mondok. Semua harus prihatin agar ilmu yang di dapat bisa cepat masuk. Dan kesuksesan anak ketika mondok juga tergantung ibu dirumah." Jelas Umi Laila.
Dalam prakteknya di dunia pesantren tirakat bisa berupa banyak hal. Seperti puasa sunah, ngrowot (meninggalkan memakan nasi), tidak pulang dari pesantren selama tiga tahun, sedikit makan, sedikit tidur, dan lain-lain. Bahkan bersungguh sungguh belajar sendiri sudah merupakan bentuk tirakat. Karena dengan tekun belajar berarti telah meninggalkan banyak hal yang tak berfaedah. Namun untuk santri baru, tirakat di awal adalah tidak bertemunya anak dan orang tua di waktu yang telah ditentukan juga salah satu usaha tirakat antara anak dan orang tua.
__ADS_1
Umi Laila sengaja menetapkan 3 bulan waktu untuk anak baru tidak boleh di sambangi atau ditemui.
"Sata tahu ibu sayang Rendra. Tapi sayang pada anak bukan berarti menuruti semua yang anak inginkan Bu. Anak susah saat mondok, itu tidak apa-apa. itu wujud tirakatnya anak. Orang tua tirakatnya hati dan doa." Pinta Umi Laila pad Bu Toha.
Hari itu Bu Toha baru sadar jika apa yang diadukan oleh Rendra kemarin ternyata tidak benar.
"Saya pikir Rendra betul-betul tidak kebagian sarapan. Makanya sata beri uang Bu." Sesal Bu Toha.
"Mungkin menu nya Bu. Saya lihat Rendra itu makannya harus pakai lauk terus. Saya mohon, jika memang Ibu sudah menitipkan Rendra pada saya. Bantu saya untuk tidak menemui Rendra dulu Bu." Ucap Umi Laila.
Memang salah satu resiko jika santri rumahnya cukup dekat dengan pondok membuat orang tua bisa lebih mudah mengunjungi tetapi repot ketika pesantren menerapkan aturan dan dilanggar oleh wali santri. Sepele bagi Bu Toha memberikan uang pada Rendra. Namun imbasnya, uang jajan lebih membuat putranya ikut-ikutan teman sekolah yang mengatakan jika ia anak 'cemen' karena tak berani merokok. Padahal anak-anak itu bertujuan agar uang jajan lebih Rendra bisa untuk membeli rokok. Mereka pun bisa kecipratan rokok gratis.
Saat Umi Laila pamit, ia kembali mempertegas tujuannya ke kediaman Bu Toha.
"Saya mohon Bu. Kita sama-sama berjuang. Insyaallah, saya akan menjaga amanah ibu yaitu Rendra. Dengan seperti yang Allah inginkan bukan saya atau ibu inginkan. Bantu doa dan kuatkan hati Ya Bu." Ucap Umi Laila ketika pamit.
Namun saat akan mendekati teras. Bu Toha menahan lengan Umi Laila.
"Mi... Jangan bilang-bilang sama bapaknya ya kalau Rendra merokok dan saya kasih uang jajan lebih." Ucap bu Toha.
Umi Laila hanya tersenyum. Dalam hati ingin sekali ia menasehati Bu Toha jika hal ini lah yang akan menjadi bumerang bagi anak-anak ketika ibu menyembunyikan kesalahan anak dari ayahnya karena khawatir ayahnya marah.
"Saya ndak janji Bu. Kalau pas Pak Toha ke pondok dan dengar dari santri lain atau Abi nya. Monggo saya pamit dulu." Ucap Umi Laila.
Bu Toha pun termenung hari itu. Ia menyesali perbuatannya. Ia tak tega anaknya hidup prihatin. Maksud hati ingin menyenangkan anaknya malah berujung dengan nakalnya sang anak.
"Tapi Umi Laila ndak pernah bohong." Gumam Bu Toha pada dirinya saat hati kecilnya berbisik bahwa mungkin saja Umi Laila mengada-ada tentang anaknya.
'Tapi Rendra anak yang baik, nurut, tidak nakal. Apa Umi Laila saja tidak suka dengan Rendra.' Hati Bu Toha telah dirasuki bisikan setan.
Bisikan untuk berpikiran negatif pada guru sang anak. Bagaimana anak yang dititipkan akan menjadi lebih baik, akan mendapatkan ilmu dari gurunya jika orang tua saja sudah berpikiran buruk tentang orang tua. Sikap Bu Toha lebih cocok dengan sebuah istilah yang sering di ucapkan kang Mukidi ketika bertemu wali santri yang sejenis Bu Toha. Menitipkan anaknya di pondok pesantren tetapi ingin anaknya di didik dengan sama seperti orang tua dirumah,
Kala itu guyon kang Mukidi pada Rohim dengan kasus hampir mirip Bu Toha dan Rendra.
__ADS_1
"Lah kalau begini, kepalanya di lepas, ekornya di pegang. Gimana anak mau maju." Celoteh Kang Mukidi kala itu. Saat dimana ada salah satu wali santri tak terima anaknya dicubit Umi Laila. Padahal sang anak yang mulai menstruasi, softek yang di buang sembarangan tanpa di cuci terlebih dahulu. Membuat Umi Laila sudah lelah mengingatkan berkali-kali. Terakhir saat suaminya sendiri yang melihat benda itu. Kala ia sedang tak sehat, Abi Rohim membakar sampah. Maka Umi Laila yang merasa jika harus sedikit tegas. Namun laporan sang anak lain dengan kenyataan pada orang tuanya, itulah sekelumit cerita macam-macam sikap anak dan wali santri yang harus dihadapi Umi Laila dan Abi Rohim.