
Umi Laila mendengarkan isi hati Ayu, Santri yang diawal-awal datang ke kediamannya merasa tidak betah. Merasa ingin selalu pulang. Selalu memancing rasa jengkel dan amarahnya dengan tabiat atau perilaku Ayu yang selalu tidak sopan. Bersyukur, Ayu memiliki kedua orang tua yang bijaksana dan di bimbing guru yang sabar serta mengerti bahwa menjadi seorang guru harus ikhlas dengan semua karakter santri dan wali santrinya.
“Umi ini siapa, lah wong bukan siapa-siapa. Apalagi dulu, masih belum punya santri. Umi betul-betul menata hati. Jadi kalau ketemu santri yang tabiatnya belum baik wajar. Wong sekelas Kyai besar saja bisa sabar menghadapi santri dengan banyak tipe, apalagi Cuma Umi.” Ucap Umi Laila menanggapi isi hati Ayu.
Ayu yang baru dua tahun merintis apa yang dulu Umi Laila lakukan, kini ia baru merasakan bagaimana menjadi seorang pendidik.
“Nyuwun donga restu Umi, kulo lan semah sinau kangge nglajengaken punapa ingkang kita angsal saking paro guru.” Ucap Ayu.
{Mohon doa restu Umi, Saya dan suami sedang belajar untuk meneruskan apa yang kami dapat dari para guru.}
“Alhamdulilah, kathah-kathah kantos, tirakat Nduk.”
{Alhamdulilah, banyak-banyak sabar, tirakat Nak.}
“Mi, kulo ajeng nyuwun pendapat Umi. Kulo lan semah dipuntitipaken pinten-pinten santri ingkang cekap nakal. Pinten-pinten wali santri nyuwun kulo lan semah kagem mangsulaken lare kasebat amargi rumaos mboten kuwatos lare piyambakipun sedaya dados korban kenakalanipun . Punapa ingkang kedah kula lan semah lampahaken.”
{Saya mau minta pendapat Umi. Saya dan Suami dititipkan beberapa santri yang cukup nakal. Beberapa wali santri meminta saya dan suami untuk mengembalikan anak tersebut karena merasa tidak khawatir anak mereka jadi korban kenakalan nya. Apa yang harus saya dan suami lakukan}
Umi Laila termenung sejenak, ia mengingat bagaiamana dulu ia juga menghadapi hal yang sama. Apalagi Ayu, ia tentu lebih berat lagi berjuang. Karena berada di perantauan, adat, budaya yang jauh berbeda sudah jelas semakin butuh ilmu dan pendekatan dalam menyampaikan ilmu-ilmu yang santrinya miliki untuk masyarakat.
“Alesanipun , tiyang sepuh santri puniku nitipaken supados dipundandosi akhlakipun . Kados pundi saged, akhlakipun dereng leres sampun dipunwangsulaken.” Jelas Umi Laila.
{ Alasannya, orang tua santri itu menitipkan agar diperbaiki akhlaknya. Masak akhlaknya belum betul sudah dikembalikan}
Umi Laila memberikan saran kepada santrinya untuk bersabar dan terus mendoakan santrinya yang nakal. Karena dulu, beliau pun melakukan hal itu kala di titipkan santri-santri yang super nakal. Tinggal tergantung orang tua ikut berkolaborasi untuk tirakat atau hanya sibuk protes dan duduk manis berharap anaknya menjadi orang alim tanpa ikut andil dalam kesuksesan anak selama di pondok.
Beberapa santri hanya menunduk seraya mendengarkan obrolan Ayu dan Umi Laila. Bagi beberapa alumni yang dua tingkat di bahwa Ayu, mereka bisa melihat bagaimana Ayu memiliki adab. Menantu Kyai, ikut suami merantau ke pulau Sumatera. Sudah punya santri tapi masih menggunakan adab ketika berbicara pada gurunya. Gesture Ayu pun masih selayaknya santri. Ia ketika bertanya masih dengan kepala yang menunduk. Walau dulu ia sering sekali curi-curi pandang menatap Umi Laila dari kejauhan. Ia menganggumi gurunya. Sehingga memandang gurunya adalah satu rasa bahagia sendiri. Sehingga hampir hari-hari Ayu menjadi saksi bagaimana gurunya berjuang dan menerapkan nilai-nilai santri pada murid-muridnya.
__ADS_1
“Wah, sekarang sudah jadi Bu Nyai berarti kamu Yu?” Goda Umi Laila seraya menepuk punggung tangan santrinya.
Ayu semakin membenamkan kepalanya sambil menjawab pertanyaan Umi Laila.
“Mboten, Mi. Kula mboten patut menawi dipunulemi, Bu Nyai.”
{ saya tidak pantas kalau dipanggil bu nyai}
“Bagaimana kondisi untuk paham-paham yang intoleran disana Yu?” Tanya Umi Laila ingin mendengar langsung dari santrinya yang baru mendirikan pesantren bersama sang suami di salah satu bagian pulau sumatera.
“Alhamdulilah, apa yang umi ucapkan waktu itu benar.”
Umi laila dulu sempat meyakinkan Ayu ketika santrinya terlihat ragu menerima lamaran damar. Karena ia akan di boyong ke sumatera. Daerah yang sama sekali belum pernah ia kunjungi.
“Di Pulau jawa sudah banyak alumni-alumni seperti kamu. Santri-santri hebat baik akhlak, adab dan ilmu. Tapi di daerah pelosok-pelosok negeri lainnya, masih membutuhkan santri-santri yang seperti kalian. Karena beberapa aliran sedang begitu gencar masuk ke daerah-daerah yang disana terlihat belum adanya para ulama atau santri yang merawat apa yang diajarkan para ulama kita terlebih dahulu. Pemahaman-pemahaman, doktrin demi doktrin mulai di susupkan dalam setiap pengajian dan majelis. Maka itu umi berpesan, walaupun kalian sudah tidak mondok, tetap harus mengaji atau mengajar. Karena kalianlah generasi penerus bangsa yang punya tanggungjawab merawat bangsa ini dengan keberagaman penduduknya.” Nasihat Umi Laila kala itu.
“Maka dari itu, pesatnya penyebaran paham radikalisme di dalam kalangan masyarakat kita yang mulai masuk ke pelosok-pelosok negeri, bahkan termasuk melalui jendela media sosial yang lagi tenar sekarang. Apa Ra yang kamu bicarakan sama Abi dan Umi kemarin sama furqon?” Umi Laila menoleh ke arah Ayra dan Furqon.
“Maka dari itu, dari zaman Umi dulu mondok. Ada istilah turun gunung. Dan sekarang, Umi dawuhkan kepada putra-putri Umi dan poro alumni Kali Bening untuk turun gunung.” Ucap Umi Laila seraya menatap satu persatu alumni Kali Bening dan putra putrinya yang ikut duduk di Gazebo itu.
Ia meminta kepada para alumni Kali Bening, santri yang selama ini identik dengan kitab kuning dan kajian-kajian keislaman, agar lebih aktif ‘turun gunung’ untuk berdakwah di media sosial. Hal itu karena kegundahan hati para Ulama hampir seluruh Indonesia, bahwa akhir-akhir ini paham radikalisme akhir-akhir ini sudah sangat subur menyebar melalui jalur media sosial. Bahkan menjadi pengantin bom bunuh diri pun dianggap jihad daripada bekerja mencari nafkah untuk anak dan istri.
“Umi harap tetaplah jadi santri dimanapun kalian berada, apapun profesi kalian. Baik kalian menjadi pengasuh di pondok pesantren atau hanya menjadi ibu rumah tangga. Sesuai makna atau arti santri itu sendiri, dalam bahasa Arab, terdiri dari 5 huruf, yakni sin, nun, ta’, ro’, dan ya’. سنتري” Ucap Umi Laila.
Sin, seorang santri harus menjadi saafiqul khoir atau pelopor kebaikan, di manapun ia berada. Nun, Naasibul ulama atau penerus ulama. Santri merupakan kader, calon yang kelak diharapkan akan menjadi penerus para ulama. Huruf Ta’, yaitu taarikul ma’ashi atau meninggalkan maksiat. Sedangkan huruf Ro’ dan Ya’ dijabarkan sebagai syarat yang mesti dimiliki para santri, yaitu Ridho Allah dan sifat Yaqin.
“Kelima hal inilah, yang mesti menjadi karakter dan syarat yang dimiliki para santri agar bisa berhasil dalam kehidupannya di dunia maupun akhirat. Dan yang paling penting, berikan kemanfaatan dimana pun kalian berada, apapun yang bisa kalian lakukan, melalui profesi kalian. Tidak harus menjadi kyai untuk menjadi orang yang bermanfaat. Dan yang terakhir, hakikatnya agama diturunkan untuk mendamaikan, mengharmonisasikan, serta memoderasikan masyarakat. Nanti mau kalian ada yang terjun di dunia politik, atau ada yang tergabung dalam organisasi baik Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah. Maka jadilah jadilah pemersatu, jangan gampang termakan isu-isu yang sengaja membenturkan dua organisasi besar yang punya andil besar pada bangsa ini, sampai detik ini.”Pesan Umi Laila untuk para santrinya.
__ADS_1
Ya, Bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang begitu besar. Bahkan begitu banyak pulau yang ada di Indonesia. Indonesia mempunyai hampir 17.000 pulau yang tersebar mulai dari Sabang hingga Merauke. Belum lagi, Indonesia kini telah memiliki 37 provinsi. Maka jika dulu Nu dan Muhammadiyah mampu ikut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, maka kenapa untuk saat ini mereka tak mampu merawat bangsa ini yang mulai menua.
Ayu dan Lulu saling lirik. Mereka salah tingkah. Karena Umi Laila tahu, Ayu aktif di organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sedangkan Lulu ikut suaminya yang aktif di organisasi yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan.
“Lah iya, kalau tidak salah KH Muhammad Hasyim Asy’ari dan pendiri Muhammadiyah sahabat ya Mi?” Tanya Ayra yang akhir-akhir ini mulai tertarik mempelajari sejarah agama islam berkembang di tanah air, dari zaman wali songo hingga muncul nama-nama kyai besar.
“Ya, KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan itu satu guru dulu pernah belajar di Semarang dengan KH Sholeh Darat. Bahkan Di Mekkah belajar dengan Ulama yang asama yaitu Syekh Mahfud Tremas. Namun mereka mewujudkan cinta pada negeri ini dengan cara yang berbeda tapi punya satu kesamaan.” Ucap Umi Laila.
“Maksudnya Mi?” Tanya Ayra penasaran.
Momen seperti inilah yang dinanti Ayra dan semua santri Ndalem. Mereka tidak sadar jika sadar jika sedang ngaji kebangsaan bersama pendamping hidup Kyai Rohim.
“Lah iya sama. Soalnya Nahdlatul Ulama punya Resolusi Jihad. Yang menjadi seruan untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa kita. Muhammadiyah punya Amanah Jihad yang menyerukan untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa kita. Bahkan dua organisasi besar ini didirikan sebelum bangsa ini merdeka. Yang membedakan Cuma namanya, satu Nahdlatul Ulama satunya Muhammadiyah tapi tujuannya sama. Islam yang Rahmatan Lil Alamin.” Jawab Umi Laila.
Namun Kyai Rohim yang dari tadi menyimak obrolan sang istri di Gazebo itu pun mengomentari apa yang di dawuhkan istrinya yang begitu cerdas.
“Lah kalau begitu, kan lucu sekarang ada sekelompok orang bilang ndak usah NU NUan, Muhammadiyah Muhammadiyahan, islam ya islam. Padahal dua organisasi ini adalah pemersatu bangsa sampai hari ini, walau hari rayanya ga barengan tapi nyatanya Ayu sama Lulu ya ga gontok-gontokan toh kemarin pas lebaran? ini yang disebut indahnya Islam di Indonesia. Bangsa lain itu iri sama kita kok bisa banyak agama, suku, bangsa tapi kok hidup berdampingan, harmonis. Itu salah satunya ya rahmatnya Allah. Dan tugasnya kalian ini kedepan bisa tidak membuat bangsa ini terus kuat, bersatu dan damai.” Ucap Kyai Rohim yang telah duduk di sisi Umi Laila.
Ya, NU dan Muhammadiyah bisa di ibaratkan dua sayap Garuda. Gerakan kedua sayap itu harus seirama agar Garuda bisa terbang tinggi mempersatukan Islam di Nusantara. Seperti yang disampaikan Mochammad Ali Shodiqin, penulis buku “Muhammadiyah Itu NU!”.
Begitulah hari-hari Umi Laila dan Kyai Rohim. Mereka begitu religius, namun tak menghilangkan cinta mereka pada tanah air. Hari demi hari, Kali Bening menjadi pesantren yang mulai banyak di kenal oleh kalangan masyarakat. Namun saat Pesantren tersebut mulai mau berkembang menjadi besar, suatu berita menggemparkan jamaah masjid Nurul Iman juga seluruh santri-santri Kali Bening. Umi Laila bahkan menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya.
“Hidup mati ku, Untuk Kali Bening. Untuk santri ku Bi….” Ucap Umi Laila diiringi isak tangis.
Kelima anak Umi Laila bahkan ikut menangis karena tak pernah melihat ibu mereka begitu meratapi kesedihannya. Umi Laila yang tangguh bahkan harus menangis, bibir yang tak mengeluh pun harus mengucapkan keluh kesahnya kepada suaminya di depan putra putrinya. Berita yang menggemparkan itu membuat Furqon yang baru ijab Qobul satu hari, harus kembali ke Kali Bening. Ayra, Mida, RAhmi dan Alya bahkan tak kemana-mana berapa hari ini. Mereka silih berganti menemani Uminya yang hanya terus memohon pada Allah dengan caranya agar kegundahannya diberikan jawaban.
Bahkan satu papan di bagian dapur yang dulu pernah menjadi kamarnya, ia usap dinding yang bertuliskan kalimat yang ditulis oleh Kyai Rohim menggunakan arang saat mereka masih pengantin baru. Saat diamana fitnah-fitnah begitu genjar mengarah ke mereka. Saat perjuangan baru dimulai.
__ADS_1
"HIDUP-SENGSARA-MATI"
"Mi...." ingat Kyai Rohim saat istrinya masih terlihat bersedih.