
Hari mulai menjelang siang. Hari ini adalah hari Minggu. anak-anak tampak santai karena hari Minggu tidak ada anak TPA yang akan datang. Mereka akan libur mengaji. Hanya ada aktifitas mengaji bagi santriwati dan santriwan yang mondok dia puluh empat jam di ponpes Kali Bening.
Laila sedang menenangkan Mudah yang dari tadi sepertinya merasa panas didalam rumah. Ia pun baru tenang dan tertidur ketika sang Umi membawanya ke sebelah gedung santriwati yang terdapat pohon buah belimbing. Saat Umi Laila akan beranjak dari tempatnya. Ia mengurungkan langkahnya.
Ia mendengar beberapa siswa yang seumuran dengan Ayu dan Lulu. Mereka sedang menggerutu karena merasa Umi Laila pilih kasih.
"Umi Laila itu terlihat sekali pilih kasih. Kak Ayu kan cuma ngajar Senin sampai Kamis. Kenapa dapat juga honor guru ngaji dari pak bupati. Harusnya kita saja ya Cit." Ucap Rini yang juga merupakan santri cukup lama di Ki Bening.
"Ya mungkin karena Mbak Ayu itu pintar cari muka sama Umi Laila. Lihat saja caranya membantu Umi Laila. Sudah seperti pembantu Umi Laila saja. Sangat mendewakan Umi Laila dan Abi Rohim. Padahal mereka itu manusia biasa ya." Ucap Citra yang juga memiliki pemahaman yang sama dengan Rini.
Mereka memang mondok dua puluh empat jam. Tetapi rasa cinta mereka belum ada untuk guru. Baru ada niat ingin mondok agar pandai membaca Al Qur'an dan mendapatkan pengakuan banyak makhluk Allah.
Umi Laila akhirnya mencari jalan lain untuk kembali kerumahnya. Saat ia melihat Rohim sedang membaca satu kitab. Umi Laila menunggu sang suami selesai dengan tugasnya tetap belajar walau ia sudah menjadi pengajar. Ia terus belajar agar ilmunya bisa terus bermanfaat untuk santrinya.
Rohim yang melihat Ayra sedang bermain, dia mendekati anaknya. Rohim memang memiliki sedikit waktu untuk keluarganya. Tetapi ia memiliki kualitas waktu yang baik untuk anak-anak dan istrinya. Laila terlihat sudah menyiapkan kopi untuk sang suami.
Rohim pun mengambil satu kaleng jahit. Ia ingin menjahit bajunya yang satu kancing bagian atas terlepas. Tetapi Laila cepat meraihnya.
"Sini Bi. Biar Umi." Ucap Umi Laila sambil mendekati suaminya. Ia baru saja selesai mengepang rambut anaknya.
__ADS_1
Rohim pun menyerahkan kaleng yang berisi jarum dan benang peralatan menjahit milik istrinya.
"Bi..." Ucap Laila sambil memasukan benang kedalam jarum jahit.
"Ono opo toh.... Kayaknya dari tadi mikir sesuatu? Masih mikir ucapan ibu-ibu yang sering ghibahin Umi?" Tanya Abi Rohim sambil menikmati kopi kental manisnya.
"Bukan. Tadi itu Umi mendengar Citra dan Rini yang sepertinya mereka itu cemburu sama Ayu. Kesannya Umi ini pilih kasih. Menurut Abi, apa Umi panggil Mereka berdua ya Bi? Biar Umi nasehati?" Keluh Laila pada sang suami.
Rohim menautkan alisnya. Ia pun kembali menikmati kopi dan singkong goreng khas gorengan istrinya. Ubi kayu atau singkong yang di rebus dengan garam, bawang putih dan penyedap rasa baru setelah itu di goreng. Sehingga begitu gurih dan renyah.
"Nanti anaknya tersinggung. Umi kayak ga hapal anak dua itu saja. Dipanggil saja semua. Ayu, Lulu, citra, Rini dan Adit. Nah di kasih pemahaman tentang itu. Khawatir besok juga mereka berprinsip begitu. Apalagi perempuan Mi. Kalau tidak sadar, lelah di rumah malah ga jadi pahala karena berharap balasan dari suaminya." Ucap Rohim pada sang istri.
Laila pun mengangguk. Ia sebagai perempuan yang memang sering menggunakan hati tak berani langsung mengambil tindakan. Ia selalu meminta pendapat suaminya lebih dulu. Karena baginya, apa yang ia lakukan apa yang ia ucapkan itu suaminya akan ikut menanggungnya.
Saat selesai dengan rutinitas mereka. Laila pun meminta ke-lima santri yang biasa mengajar anak-anak TPA di sore hari. Dimana kemarin mereka di data akan dapat bantuan dari pemerintah daerah.
"Umi minta waktunya sebentar. Pr nya sudah dikerjakan semua toh?" Tanya Umi Laila pada santri dan santriwati nya.
Para Santriwati dan santriwan di pondok Kali Bening akan sekolah di pagi hari. Ada yang sekolah Sekolah Dasar, ada yang sekolah menengah pertama ada yang juga sekolah menengah atas.
__ADS_1
"Sampun Mi..." ucap mereka berbarengan.
"Jadi begini. Uni ingin menjelaskan sesuatu pada kalian. Tentang uang bantuan besok yang akan kalian terima. Umi mau ingatkan sekali lagi. Hati-hati dengan niat. Umi dan Abi itu sengaja melibatkan kalian di proses mengajar anak-anak TPA. Karena kenapa, Agar kalian bisa terus mengingat apa yang sudah kalian pelajari. Hati-hati Nduk, Nang... Jangan sampai di hati kalian itu ada niat kalian itu mengajar, jadi guru, merasa sudah pintar, merasa ilmu kalian itu di hargai. Kalian pilih di bayar Allah apa manusia?" Tanya Umi Laila.
Kelima muridnya tertunduk malu. Mereka tidak tahu jika sang guru mendengar keluh kesah salah satu dari mereka. Tapi itulah cara Umi Laila dan Abi Rohim. Mereka sudah hapal karakter anak-anak didik mereka. Ada yang gampang tersinggung, ada yang susah di nasehati, ada yang gampang merasa pintar padahal belum seberapa ilmu yang dimiliki.
"Umi ini dua kali di beri sanad kyai dan Habib untuk dipanggil Umi dan Abi. Tapi tidak berani karena khawatir ini hati merasa lebih pintar lebih baik dari orang lain. Lah kalau tidak karena Gus Imam kemarin kemarin ditambah Datuk beliau juga seorang habib. Maka Kami tak berani menerima panggilan Abi dan Umi. Kami lebih suka dulu dipanggil Mbak dan Kang. Iya toh Ayu, Lulu?" tanya Laila.
"Inggih Umi..." Ucap dua kakak beradik itu kompak membenarkan. Mereka adalah santri pertama Umi Laila dan Abi Rohim.
"Hati-hati niat. Bolak balik Umi ini bilang sama kalian Niat. Niat kalian itu mondok apa? Niat kalian ngapalin Qur'an itu apa? Niat kalian ngajar anak-anak TPA juga apa? Bayangkan Umi ini cuma khawatir, kalian yang nyanding (Bersama) Umi saja bisa berpikiran lain. Apalagi yang tidak di dampingi guru belajar agama. Jangan pernah niat kalian itu merasa ilmu itu harus dibayar. Apalagi cah putri. Besok itu kalian perempuan bakal nemuin namanya pekerjaan rumah yang ga selesai -selesai. Nah Niatnya itu bakal merasa kesal, capek, sia-sia kalau apa-apa diukur uang. Padahal nyapu, nyuci, masak, senyum tok untuk suami itu ibadah." Nasihat umi Laila pada anak-anak didiknya.
Furqon yang tampak main mobil-mobilan bersama Alya di sudut ruangan tanpa sadar merekam setiap apa yang diucapkan dan dilakukan orang tuanya. Karena memori anak-anak begitu kuat.
Kelima murid Umi Laila tak berani mengangkat kepalanya. Bukan karena takut. Tapi takhdim pada perempuan yang telah menganggap mereka anak bukan peserta didik..
"Hati-hati, jadi guru juga bukan enak. Apa yang kalian ajarkan pada adik-adik kalian di TPA itu nanti akan diminta pertanggungjawabannya juga. Hayo mulai sekarang di Toto niatnya. Baru terbiasa." Ucap Laila lagi.
"Bu Nyai nya Umi dulu dawuh, belajarlah ikhlas kalau lagi ngapalin Qur'an. Gimana ilmu atau Qur'an mau masuk ke kalian kalau kalian belum bisa ikhlas. Qur'an dan ilmu itu sama-sama pakek hati Nduk... Hati itu tempatnya Niat.... Ati-ati Karo Niat Nduk... Le...." Ucap Umi Laila yang sudah menitikkan airmatanya.
__ADS_1
Ia merasa sedih Kalau-kalau tak bisa mentransfer ilmu yang ia miliki untuk sang santri. Tak bisa mengantarkan anak didiknya menjadi perempuan terdidik, lelaki terdidik. Karena merekalah Harapan Laila nanti setelah ia tak lagi bernafas. Ketika ia tak lagi ada di muka bumi ini. Selain anak yang Sholeh ilmu yang ia tinggalkan pada para santrinya yang ia harapkan bisa menolongnya di hari pertanggungjawaban.
Begitu tawadhu hati Umi Laila. Sedang di luar sana masih banyak mereka dengan santainya di muka bumi ini. Tak berpikir bahwa apa yang dikerjakan diatas bumi ini akan diminta pertanggungjawaban. Seolah hidup seratus tahun bahkan ada yang tak ingat mati.