
Beberapa Saat Pak Kumis menganggukkan kepalanya. Ia bermonolog di dalam hatinya.
"Kalau Mukidi ini teman Ustadz Rohim maka pasti akhlaknya Si Mukidi ini tak jauh dari Ustadz ini. Biarin bukan ustadz." Batin Pak Kumis.
Nama Rohim sebenarnya sudah terkenal di beberapa kecamatan. Namun ia dikenal sebagai Ustadz Rohim. Seorang guru ngaji yang mengabdi di desa Sumber Sari dan memiliki suara yang merdu ketika mengaji dan membaca shalawat juga sifat rendah hati dan tawadhu.
Maka tanpa Rohim sadari alasan Pak Kumis menerima Mukidi karena kehadiran dirinya sebagai sahabat juga teman dari Mukidi.
"Baiklah, saya terima lamaran Nak Kidi. Saya minta Minggu depan silahkan bawa keluarga nak Kidi. Kita langsung menentukan apa yang tanggal untuk pernikahan." Jawab Pak Kumis sambil memainkan kumisnya yang tebal.
Mukidi tersenyum lega. Maya pun tersipu malu kala Mukidi memandangi dirinya. Rohim mengucapkan lafaz hamdalah. Pak Kumis menerima Mukidi karena berpikir jika Calon suami anaknya adalah teman dari ustad Rohim. Lelaki yang terkenal dengan kesopanan, kesederhanaan beliau dalam kehidupan dan berdakwah. Hal itu kadang sering menjadi perbincangan dari kalangan bapak-bapak atau ibu-ibu pengajian.
Mereka pun pulang kerumah dengan hati Mukidi yang berseri-seri. Saat Rohim mengantar Mukidi pulang kerumahnya, sang ibu meminta Rohim untuk mengopi dulu. Rohim pun akhirnya menuruti permintaan Bu Sri.
"Duduk dulu. Tak buatkan kopi ya." Ujar Bu Sri sambil berlalu meninggalkan Mukidi dan Rohim di ruang depan. Tak berapa lama, Bu Sri pun kembali dengan dua buah kopi dan singkong goreng yang terlihat masih panas.
"Lah gimana Di? Diterima?" Tanya Bu Sri.
Mukidi pun tersenyum senang.
"Iya alhamdulilah diterima Mak. Minggu depan, bapaknya minta kita kesana."
"Alhamdulilah... akhirnya kamu ada yang mau juga Di."
Rohim hampir tersedak kopi mendengar ucapan Bu Sri. Mukidi pun langsung cemberut karena mendengar komentar sang ibu.
"Lah Mak e Ini. Kok tega betul. Kok ada yang mau. Ya jelas mau lah Mak. Aku ini striker di tim bola ku.Yang Selakau buat tim sepakbola ku itu juara ya aku. Trus Maya itu pencinta sepak bola." Ucap Mukidi sambil meniup-niup singkong goreng yang masih panas.
Rohim tersenyum melihat raut wajah Mukidi yang bahagia. Saat Bu Sri kedalam, Rohim mengingatkan sahabatnya tentang berapa hal.
__ADS_1
"Yang penting besok, kalau sudah lamaran. Tetap jangan berdua-duaan kang. Belum halal soalnya." Ingat Rohim pada sahabatnya.
"Yo iya kang. Saya ini ya ga mau bikin sampeyan malu. Saya ini semenjak dekat sama sampeyan, jadi lebih hati-hati kalau mau bertindak dan bersikap." Ucap Mukidi pelan.
"Berarti nyentuh juga ga boleh kang?" Tanya Mukidi polos.
Rohim kembali menahan tawa kala mendengar pertanyaan polos sahabat nya itu.
"Lah wong berduaan wae ndak boleh apalagi menyentuh kang?" Jelas Rohim.
Setelah cukup lama berbincang. Rohim pun berpamitan. Ia pun pulang dengan membawa sebuah plastik berwarna hitam. Ia juga tak tahu apa isi plastik itu.
Setibanya dirumah, sang istri seperti biasa akan menyambut suaminya dengan apa yang menjadi penghilang lelah suami. Kopi khas buatan Laila. Rohim menyerahkan plastik hitam pemberian ibu Mukidi tadi pada istrinya.
"Ini dari Bu Sri. Katanya buat kamu."
"Apa Mas?" Tanya Laila pelan.
"Lah mangga begini, kok nangis. Memangnya ada apa dengan mangga?" Tanya Rohim.
"Laila sudah satu Minggu ini kepingin mangga mas. Lah tadi kebetulan Laila pulang dari pengajian, beli satu kilo karena ada yang jual. Tapi sampai di pengajian ada ibu yang sedang memarahi anaknya karena sang anak menangis. Anaknya ingin makan mangga madu. Yang jualan sudah terlanjur pergi. Namanya di pengajian ya dimakan rame-rame Mas. Tapi Laila ga kebagian." Suara Laila terdengar menahan tawa namun air mata nya kembali menetes.
"Lah terus hubungannya air matamu dengan mangga ini apa?" Rohim yang mengambil satu buah mangga dan ia cium juga ia pencet sesekali.
"Hubungannya. Allah betul-betul Maha memberi. Lah Laila cuma kasih satu kilo, ini lebih dari satu kilo mangganya."
"Hehehe... tak kita kamu nangis kenapa Dik... Dik... Bikin kaget saja. Yang ini sudah matang kayaknya. Tak kupas ya. Ndak anak nya ngences nanti." Goda Rohim sambil ke belakang untuk mengambil pisau dan piring.
Rohim pun mengupas mangga itu untuk sang istri. Laila yang ingin mengupas mangga itu di larang oleh Rohim.
__ADS_1
"Sudah, duduk manis saja." Pinta Rohim pada sang istri.
Laila betul-betul merasa bahagia menikah dengan Rohim. Karena Rohim adalah suami yang begitu bertanggungjawab. Hampir setiap hari padahal suami Laila itu tak punya waktu untuk dirinya sendiri. Dari pagi sampai siang ia akan ke ladang. Siang sampai malam ia sibuk dengan majelisnya, anak-anak TPA, jama'ah bapak-bapak dan Ibu-ibu.
Namun sibuk dan padatnya Rohim, ia selalu memyempatkan waktu untuk sekedar mengobrol dengan sang istri. Di dalam waktu yang sedikit itu, Rohim mampu membuat waktunya bersama sang istri menjadi berkualitas dibandingkan banyaknya pasangan yang punya banyak waktu tapi kurang berkualitas karena sibuk sendiri-sendiri.
Namun sayangnya rasa cinta dan Bahagia Laila tak sama yang dirasakan sang Ibu. Ibunya mulai merasakan gelisah. Gelisah karena lidah tak bertulang mulut tetangganya. Hampir beberapa ibu-ibu yang di temui oleh Bu Salamah di Sumber Waras selalu menanyakan tentang Laila, dari gosip sang anak hamil di luar nikah sampai anak yang sudah sekolah tinggi-tinggi tapi tidak bekerja.
Sore itu Bu Salamah terlihat duduk di ruang tengah menatap foto wisudah Laila. Putri bungsunya yang sudah memiliki gelar S.Pd.I. Kini hanya menjadi guru ngaji atau ibu rumah tangga. Hari demi hari, benteng pertahanan Bu Salamah pun mulai rapuh. Ia mulai terkontaminasi oleh omongan banyak tetangga tentang betapa malangnya ia, sudah habis uang menyekolahkan anak. Sudah jadi sarjana tapi tak bisa membantu orang tua.
Harga karet dan sawit yang sedang menurun ikut menganggu ekonomi keluarga Abah Ucup. Sebenarnya kehidupan Bu Salamah sudah cukup walau tak terlalu kaya. Namun karena banyaknya cicilan membuat berapa pun uang yang masuk tak akan pernah cukup. Dari kredit, kulkas, kredit mejikom,kredit kursi ruang tamu, kredit motor baru untuk Waroh.
Semua itu ia lakukan saat harga hasil panen diatas rata-rata. Namun saat hasil panen mengalami penurunan, ia merasakan pusing untuk membayar cicilannya.
"Percuma saya menyekolahkan Laila. Lah anaknya orang sarjana sudah pada kerja, jadi pegawai. Laila malah cuma jadi guru ngaji." Tanpa Bu Salamah sadari setan sedang menghasut hatinya agar membenci putri nya. Membenci sang menantu.
"Mikir apa Bu?" Tanya Abah Ucup yang baru pulang dari main catur.
"Mikir cicilan, ini loh sudah dua bulan motornya Waroh belum di bayar. Mejikom belum dibayar." Keluh Bu Salamah.
Abah Ucup cuma tersenyum sambil menikmati kopi yang ada di gelas besarnya yang telah dingin.
"Lah salah mu. Apa-apa itu tidak pernah tanya aku dulu. Minta pendapat aku dulu. Tahu-tahu sudah kredit ini. kredit itu. Giliran bingung bayar cicilannya kamu baru cerita sama aku." Gerutu Abah Ucup.
Ia selama ini selalu menasehati istrinya untuk tidak ikut-ikutan tetangga. Namun namanya perempuan selalu saja kadang ada rasa iri ketika melihat tetangga beli barang baru, ia pun ingin beli juga tanpa bicara pada suaminya dan meminta izin sang suami.
Namun jika Abah Ucup memberi nasehat, istrinya justru malah marah. Akhirnya Abah Ucup tak ingin terjadi pertengkaran, ia lebih memilih diam. Sama halnya ketika sang istri dan Waroh ketika mengambil kredit motor. Ia tak bertanya dari mana motor itu. Ia pun tak pernah memakai motor itu. Dan hari ini sang suami baru mendengar jika istrinya berkeluh kesah kredit motor Waroh.
"Ya wong ngambilnya Ndak bilang Abah, ya Ibu sama Waroh urus sendiri mau bayar dari mana."
__ADS_1
Abah Ucup pun pergi dengan santai. Bu Salamah pun berpikir keras bagaimana mendapatkan uang untuk membayar cicilan motor Waroh. Salesnya akan datang lusa.
"Apa aku tak pinjam uang Laila? Lah selama ini aku menguliahkan dia. Ndak ada salahnya Sekarang dia bantu aku. Tapi Abah Ndak boleh tahu. Besok pagi aku ke sumber Sari sama Waroh kalau begitu." Batin Bu Salamah.