
Terlihat sebuah nampan di lantai. Laila sambil menggendong Furqon melihat Ayu dan Lulu yang sudah siap dengan seragam sekolahnya. Ia mencoba menghela napas pelan. Dua kakak dan adik itu terlihat bermuka masam.
Laila mengambil nampa alumunium itu.
"Ada apa Nduk?" Tanya Laila penasaran. Karena ia tahu persis nampan itu berada di rak piring. Maka jika nampan itu bisa jatuh, tentu ada yang menjatuhkan benda itu.
Ayu menundukkan kepalanya. Lulu pun melakukan hal yang sama. Ayu yang lebih tua tiga tahun dari Lulu. Ia berbicara dengan nada ketus.
"Aku tidak mau makan dengan sayur itu! Rasanya tidak Enak! Aku mau uang jajan saja!" Bentak Ayu pada Laila.
Laila menarik napasnya dalam, Lulu tak berani mengangkat kepalanya.
"Memangnya kenapa tidak mau. Dicicip dulu baru bilang tidak enak. Tidak baik menghina makanan." ucap Laila seraya membenarkan posisi kain gendongan Furqon.
Laila melihat pohon pepaya yang ambruk di belakang rumah. Ia membuat pepaya yang masih hijau menjadi sayur tumis. Namun anak didiknya yang baru satu Minggu tinggal bersamanya sepertinya memang memiliki watak cukup keras.
Laila pun menggoreng telur untuk dua anak itu sarapan. Sedangkan ia sarapan dengan sayur tumis pepaya tadi. Saat Ayu dan Lulu pergi ke sekolah. Laila justru sibuk di atas sajadahnya, disaat Furqon terlelap di atas kasur.
Ia bermunajat kepada Pemilik Dunia dan isinya. Ia mendoakan anaknya, dan juga dua orang anak yang juga baru satu Minggu tinggal bersama dirinya. Ia dan Rohim sadar bahwa dirinya hanya mampu mentransfer ilmu apa yang ia miliki untuk kedua anak itu. Namun hanya Allah yang mampu memberikan kecerdasan dan kelembutan hati untuk Ayu dan Lulu.
Hari berganti hari. Laila dengan sabar mendidik Ayu dan Lulu. Tak terasa hampir satu bulan dua kakak beradik itu tinggal bersama mereka. Dan hari itu adalah hari dimana kedua orang tua mereka mengunjungi Ayu dan Lulu.
Saat orang tua mereka tiba, sungguh orang tua pun diuji oleh Allah untuk ikut bersinergi untuk kesusksesan sang anak. Ayu dan Lulu mengatakan jika mereka tidak betah disana. Mereka mengatakan makanannya sampai berhari-hari di hangatkan oleh Laila. Laila selalu membedakan makanan untuk mereka dan keluarga Laila.
Belum lagi, mereka merasa di perbudak oleh Laila. Mereka mengatakan jika mereka mencuci piring, baju, memasak dan mengasuh anak Laila. Sehingga tak ada waktu untuk mengerjakan pr dari sekolah karena Laila memberikan banyak tugas pada mereka berdua.
Hal itu pun di dengar Laila dari balik kamar. Ia hanya tersenyum. Ia tak heran, memorinya kembali di saat-saat ia dulu belajar di pondok pesantren. Banyak sekali santriwati dan santriwan model begini. Mereka akan berbicara lain pada orang tuanya. Dan akan lain lagi ketika pada temannya. Akan lain lagi ketika di hadapan gurunya.
Beruntung Ayah Ayu dan Lulu orang yang bijaksana. Ia tak langsung percaya. Saat makan siang, ayah Ayu dan Lulu, sengaja menghabiskan sayur dan sambal. Laila yang menyadari jika kedua orang itu adalah tamunya. Ia memang belum makan. Ia menunggu Rohim. Saat kedua orang tua Ayu dan Lulu selesai makan, Laila pergi ke sawah belakang rumah. Ia mengambil sayur yang biasa disebut warga sumber Sari dengan nama genjer. Ia memetik sayur yang tumbuh di tepi sawah itu. Lalu, sambil menggendong Furqon. Ia menumis sayur itu.
Saat Rohim pulang dari ladang, sepasang suami istri itu makan di dapur. Namun tanpa disadari oleh mereka jika ada sepasang mata mengintip mereka dari tadi.
Lelaki yang mengintip itu adalah ayah Lulu dan Ayu. Ia pergi pelan-pelan dari luar dapur menuju teras rumah Rohim.
Ia duduk di teras dan mengipas dirinya menggunakan kopiahnya.
"*Aku tidak akan membawa pulang anak ku. Aku sering mendengar bagaimana kealiman Rohim dan istrinya. Anak ku sudah tiga kali pindah pesantren. Maka baru kali ini aku melihat sosok seperti Rohim dan Laila. Berarti selama ini, anak ku yang salah bukan gurunya. Aku tidak akan percaya lagi dengan Ayu*." Batin Ayah Ayu.
Ia pun sore harinya berpamitan. Ayu menangis terisak karena ayahnya tak mengizinkan dirinya untuk ikut pulang.
"Sudah, kalian disini saja. Belajar yang giat. Ikuti dan dengarkan apa yang Kang Rohim dan Mbak Laila katakan. Bapak ridho kalian disini." Ucap Ayah Ayu tegas.
__ADS_1
Ayu pun terdiam. Ia tak menyangka jika ayahnya kali ini tak goyah melihat air matanya dan cerita yang biasanya membuat hati orang tua goyah sehingga mencabut anaknya dari pondok pesantren.
Tanpa Ayu dan Lulu sadari bahwa ini adalah awal mereka mendapatkan keberkahan untuk mencari ilmu. Orang tua mereka yang ridho anaknya di didik. Laila dan Rohim yang ridho. Tinggal lagi apakah Ayu dan Lulu bersungguh-sungguh mencari ilmu selama tinggal bersama Laila dan Rohim.
~~
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Dan bulan juga berganti tahun. Rohim pun mulai memiliki santri walau tidak banyak. Terdapat 4 anak perempuan yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Dan 4 anak lelaki yang juga duduk di bangku SMP.
Hari itu terlihat Mukidi bersama beberapa teman-temannya membuatkan kamar untuk santri putri. Karena dalam beberapa hari kedepan, Rohim dan Laila akan kedatangan santriwati baru sebanyak 4 orang dari luar kabupaten.
Mereka di buatkan kamar, di ruang tamu Rohim sudah menjadi kamar bagi Lulu dan Ayu juga dua santriwati lainnya. Kini Rumah Rohim di besarkan ke arah depan. Sehingga ruangan yang dulunya adalah ruang tamu, kini menjadi ruangan kamar untuk santriwati. Karena besok akan kedatangan tiga orang santri putri dari kecamatan lain. Orang tua calon santri itu memaksa Rohim agar mau menerima anak dan keponakannya untuk boleh mondok di kediaman Rohim.
Sedangkan di sebelah masjid di buatlah sebuah ruangan yang terbuat dari papan. Itu merupakan kamar untuk santri putra.
Jadi bukan itu, anak-anak yang akan tinggal bersama Rohim berjumlah 12 orang. Belum lagi untuk santriwan yang merupakan anggota tim bola yang malamnya ikut mengaji di sana.
Pagi hari anak-anak itu akan berangkat ke sekolah negeri yang tak jauh dari kediaman mereka. Dan Siang Sampai malam, barulah anak-anak itu belajar mengaji. Yang mengajar tentulah Rohim dan Laila.
Pagi itu, Rohim menggendong Furqon. Anak pertama dari Rohim dan Laila itu telah berusia hampir dua tahun. Laila juga sedang mengandung anak kedua. Namun karena niat berumahtangga, Allah mempermudah dirinya. Ia tak merasakan mual dan muntah di kehamilan nya. Ia seperti orang tidak hamil. Pagi itu, Laila baru saja membuatkan kopi dan menggoreng pisang.
Ia kembali ke dapur. Hari itu adalah hari Minggu. Sehingga Ayu dan Lulu dan dua santriwati lainnya yang tak pergi ke sekolah. Laila pun seperti biasa saat anak-anak tidak mengaji dan sekolah. Ia mengajak bersama-sama memasak di dapur. Karena baginya, mempersiapkan santriwati nya untuk cekatan dan serba bisa adalah salah satu tanggungjawab dirinya.
"Tolong ambilkan nampan yang itu Nduk...." Ucap Laila sambil memetik kacang panjang.
Dan Nani menyerahkan pada Laila sebuah nampan dengan mendorongnya menggunakan kakinya. Laila menghela napas pelan. Ia tersenyum melihat Nani. Ia tahu, ia memang guru atau pendidik bagi anak-anak yang dititipkan orang tua mereka dan anak-anak yang lain yang dititipkan di kediamannya. Namun bagi dirinya hanya Allah yang bisa merubah hati seseorang.
Laila hanya tersenyum sambil memberikan nasihat pada Ayu dan Lulu.
"Saru Nduk... Ndak boleh begitu. Nanti jadi kebiasaan di tempat orang lain. Terus, itu mukanya kenapa di tekuk begitu?" Tanya Laila pada Ayu. Ia melihat kedua kakak beradik itu selalu cemberut saat ia ajak untuk menemani dirinya di dapur.
Laila membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
"Mbak tahu. kalian lelah, kalian malas mengerjakan pekerjaan ini. Tapi, suatu saat nanti kalian juga akan ada di posisi mbak. Jadi istri. Lah iya kalau jodohnya kalian orang kaya. Mungkin, kalian bisa menyewa orang untuk mengerjakan semuanya. Tetapi kalau tidak? Maka kita harus bisa membantu suami termasuk mengerjakan pekerjaan dapur yang memang butuh tenaga, tetapi ga bakal terasa lelah kalau kita ikhlas." Jelas Laila.
Ayu dan Lulu diam tak menjawab. Dua santri yang baru cukup cemberut karena belum merasa betah di kediaman Laila. Mereka memang terlihat tidak bahagia selama tinggal di kediaman Laila. karena mereka tidak betah di pondok.
Laila merasa metode teori sulit untuk disampaikan pada anak-anak didik mereka. Maka hari itu Laila mulai menerapkan dan sengaja ia lakukan di depan muridnya. Agar anak-anak didiknya bisa melihat, mendengar langsung pelajaran berharga yang tidak di pelajari di sekolah.
Maka Laila memberikan jadwal piket untuk urusan dapur. Dan dirinya selalu masuk dalam jadwal piket itu. Hari demi hari, Laila dengan sabar memberikan contoh kepada muridnya. Bagaiamana seorang perempuan harus bersikap, bertindak dan berpikir. Hingga akhirnya apa yang Laila lakukan membuahkan hasil. Usaha dan doanya untuk para anak-anak yang tinggal bersamanya.
Siang malam ia didik dan ia doakan. Saat satu Minggu menjelang idul Fitri. Sepuluh santri lainnya telah dijemput pulang oleh orang tua mereka. Namun Ayu dan Lulu masih menunggu jemputan H-3. Saat kedua adik kakak itu ikut Laila ke kota untuk membeli baju lebaran. Ia sudah berjanji akan memberikan hadiah baju lebaran untuk anak-anak santri yang bisa menghafal juz 1.
Ayu dan Lulu berhasil menghapal ayat-ayat suci itu. Sehingga Laila mengajak dua anak itu ke pasar ibukota kabupaten. Disana ia menyuruh ayu dan Lulu memilih baju lebaran. Namun saat Ayu dan Lulu telah memilih baju lebaran. Laila langsung mengajak dua anak itu pulang.
Dua kakak beradik itu hanya saling lirik selama perjalanan. Saat akan menaiki angkot. Ayu memberanikan diri bertanya.
"Mbak Laila dan Adik Furqon tidak membeli baju lebaran atau kue lebaran?" Tanya Ayu sedikit berani. Karena mereka telah mempelajari kitab yang mengajarkan adab kepada guru. Dan mereka pun tahu, jika Laila dan Rohim adalah guru mereka.
Laila tersenyum sambil memegang pundak Furqon. Putranya yang telah berumur dua tahun itu. Sibuk memainkan jilbab Laila.
"Tidak usah. Baju yang tahun kemarin masih ada. Mbak Laila sudah berjanji pada kalian. Yang penting kalian. Bersungguh-sungguhlah mencari ilmu. Karena Mbak pun akan sangat bahagia ketika kalian bisa betul-betul mendapatkan ilmu yang mbak dan Kang Rohim berikan. Karena nanti ketika Mbak tidak lagi di dunia. Ilmu yang kalian miliki dan bermanfaat untuk kalian, itulah yang bisa menjadi bekal Mbak." Ucap Laila getir.
Seketika Ayu dan Lulu terisak. Mereka menundukkan kepalanya. Sungguh mereka dibuat terbungkam oleh Laila. Hampir setiap hari perempuan yang sebentar lagi melahirkan anak keduanya itu selalu berpikir bagaimana ia menjadi manusia yang bermanfaat. Dimana pun, untuk siapapun.
Bukan penilaian makhluk tapi penilaian Gusti Allah.Laila bingung melihat dua kakak beradik yang menangis terisak-isak dia atas angkot. Bahkan saat hari mereka dijemput. Dua kakak beradik berebut tak ingin pulang. Mereka saat itu sampai harus melakukan hom pim pah. Siapa yang akan pulang.
Dan Ternyata Ayulah yang yang pulang. Mereka sudah mencintai Laila seperti orang tua mereka. Mereka tak sanggup jika harus berpisah lama dari Laila. Bahkan saat hari raya idul Fitri, Lulu yang duduk di hadapan Laila menangis tersedu-sedu.
"Mbak Laila, Lulu minta maaf. Lulu berjanji akan belajar sungguh-sungguh. Laila minta maaf selama ini selalu menyusahkan Mbak Laila."
Di hari raya itu. Lulu teringat bagaimana sabarnya perempuan bernama Laila itu mendidik dirinya dan Ayu. Mereka bahkan sampai satu Minggu pernah disuapi Laila karena alasan mogok makan agar dijemput pulang karena tak betah mondok. Belum lagi adap mereka banyak berubah selama tinggal bersama Laila. Hal itu terlihat dari Ayu yang berada di kampungnya. Satu keluarga besar dan warga sekitar rumahnya melongo tak percaya melihat Ayu yang dulu pemarah, pemberontak.
Kini berubah menjadi remaja yang hanya menundukkan pandangannya, bahkan remaja itu sangat sibuk ketika mendekati waktu shalat. Untuk urusan Pekerjaan rumah pun. Anak sulung pak Slamet yang terkenal Keset( pemalas) itu kini sangat cekatan di dapur.
__ADS_1
Dan hal mengejutkan terjadi saat libur sekolah usai. Disaat Ayu kembali ke kediaman Laila. Apakah itu?