LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 42 Sepatu Tanpa Telapak


__ADS_3

Pagi itu suasana di Sumber Sari masih berembun karena masih pukul lima lewat lima belas menit. Laila telah siap dengan seragam hitam putih. Sedangkan Rohim mempersiapkan beberapa kebutuhan untuk nanti siang jika ia pulang terlambat. Dari masjid yang telah ia sapu dan pel. Juga air untuk berwudhu yang telah terisi penuh.


Mereka pun sebelum berangkat menelpon ibu Rohim. Laila meminta doa restu dari ibu mertuanya. Sedangkan saat akan berangkat, Rohim sengaja meminta sopir mobil agar mampir ke Sumber Waras. Laila cukup kaget kenapa sang suami malah belok kiri bukan belok kanan. Karen untuk ke kota harusnya Rohim mengambil jalan ke arah kanan.


"Mas, kok belok kiri." Tanya Laila dari arah belakang.


"Kita mampir sebentar ke ruang Abah. Tadi pagi mas telpon nomor Kak Waroh dan Abah tak ada yang aktif." Ucap Rohim sedikit menoleh ke arah Laila.


Tiba dirumah Abah Ucup, Rohim dan Laila berhenti sebentar dan meminta doa Abah Ucup dan Bu Salamah. Kedua orang tua Laila pun berdoa agar sang anak bisa lulus PNS. Harapan mereka sangat ingin melihat salah satu dari anak-anak nya ada yang jadi pegawai. Suatu kebanggaan bagi orang tua ketika anaknya ada yang sukses. Karena di mata Abah Ucup dan Bu Salamah, sukses bagi mereka adalah punya banyak uang dan bisa jadi pegawai.


Namun tujuan Laila mengikuti tes tersebut ternyata tidak sama dengan apa yang di pikirkan oleh Abah Ucup dan Bu Salamah. Bagi Rohim dan Laila, mereka hanya berharap bisa memberikan kebaikan pada orang lain. Serta mengamalkan ilmu yang telah mereka pelajari agar bermanfaat. Dan juga memberi pemahaman kepada orang lain tentang pentingnya ilmu dan belajar untuk mendapatkan ilmu tersebut.


Rohim yang meminta Laila untuk mengikuti tes seleksi penerimaan Pegawai Negeri Sipil. Karena baginya ilmu sang istri yang ia dapatkan di bangku kuliah bisa di terapkan jika ia bisa menjadi pendidik. Dan tuntutan agar para alumni pondok pesantren juga ikut berperan dalam pemerintahan dan pendidikan juga penting. Karena mulai maraknya di beberapa sekolah paham-paham yang dimiliki tenaga pengajar atau pimpinan. Ikut mempengaruhi setiap kebijakan yang berlaku di sekolah dan instansi tertentu.


Hal itu ia dapatkan dari email yang sering masuk dari beberapa alumni di beberapa daerah yang mulai melihat hal itu.


Tak terasa hampir dua jam perjalanan. Laila yang duduk di kursi belakang masih membaca beberapa buku tentang kebangsaan. Karena pagi itu tes tertulis juga akan ada tes kebangsaan. Dan Laila merasa ilmunya tentang kebangsaan masih minim. Maka selama di mobil ia hanya membuka buku yang berisikan Soal tentang tes kebangsaan.

__ADS_1


Tiba di sebuah gedung yang besar di ibukota kabupaten. Laila turun, ia mencium tangan suaminya. Ia hanya berharap hasilnya yang terbaik bagi mereka. Dari semalam Lail tak berdoa agar lulus. Namun ia berdoa agar apapun hasil tes nya hari itu adalah yang terbaik untuk dirinya dan juga suami.


Saat Laila berjalan menuju ruangan yang mulai ada beberapa orang setengah berlari karena tes akan segera dimulai. Laila sudah mengalungkan kartu tanda pesertanya. Namun saat ia berjalan menuju pintu masuk tempat tes itu. Ia sedikit kaget, karena hampir terjatuh. Hal itu terjadi karena telapak sepatu pansus nya terlepas dari bagian sepatunya.


Sepatu yang dikenakan Laila adalah sepatu semasa ia kuliah dulu. Ia juga membeli sepatu itu di pasar lokal dengan harga murah. Karena akan ujian Skripsi dan mengharuskan menggunakan sepatu tersebut. Malang, sepatu yang memang harganya murah itu terlepas saat detik-detik tuannya ingin tes tertulis.


Laila berhenti dan melihat ke arah telapak sepatu yang tertinggal itu. Rohim yang tak jauh dari Laila cepat berlari ke arah sang istri.


"Ada apa Dik?" tanya Rohim.


Belum Laila menjawab, Rohim melihat telapak sepatu yang terpisah dengan sepatu. Namun dari arah pintu Panitia yang mengenakan seragam coklat berteriak.


"Masuklah. Yang penting masih pakai sepatu kan?" Ucap Rohim sambil duduk memegangi telapak sepatunya.


Laila tersenyum, ia pun tak ada rasa malu. Benar kata sang suami. Yang penting masih memakai sepatu. Ia berjalan cukup cepat kearah Pintu masuk. Rohim kembali ke arah parkir. Ia duduk sambil memegang telapak sepatu itu.


"Kamu jadi saksi perjuangan istri ku waktu skripsi. Sekarang biarlah sepatu tanpa telapak itu yang menemani istriku. Kamu menemani aku disini saja." Rohim setengah terkekeh.

__ADS_1


Ia semalam sebenarnya sudah terpikirkan akan mengelem sepatu istrinya yang sedikit terbuka di bagian depan. Namun ia lupa karena kehadiran beberapa remaja yang biasa mengaji malam. Ia pun menunggu dengan sabar sang istri yang hampir dua jam berada di dalam ruangan itu. Paijo duduk di dalam mobil, ia tak seberani Mukidi. Akan berbicara dan mengobrol dengan Rohim seperti teman. Bagi Paijo, Rohim adalah orang berilmu. Ia tak berani berbicara atau guyon sembarangan.


Ia hanya menjawab iya dan tidak saat diajak mengobrol oleh Rohim. Rohim sebenarnya betul-betul nyaman berbicara dengan Mukidi karena ia bisa tertawa kadang sampai harus menahannya karena ulah sahabatnya itu. Karena hampir rata-rata warga sumber Sari jarang ada yang akan berbicara ceplas ceplos apalagi mengajak dirinya bersenda gurau. Hanya Mukidi yang mampu mengajak ia bersenda gurau. Mungkin karena ia telah lama mengenal Rohim.


Dari Rohim pertama menginjakkan kaki di Sumber Sari sampai guru ngaji itu memiliki istri.


Menit berganti jam. Laila pun keluar dari ruangan itu. Tampak banyak orang yang keluar bersama Laila. Rohim menjadi sorotan beberapa pasang mata. Karena ia mengenakan sarung. Jika di Sumber Sari saja hanya dirinya yang setiap hari mengenakan sarung. Apalagi di ibukota kabupaten. Tentu itu masih menjadi hal yang cukup menarik perhatian beberapa pasang mata.


"Kita makan dulu. Mas sudah beli nasi bungkus. Nanti baru cari masjid untuk shalat." Ucap Rohim pada Laila.


Tak hanya itu, Rohim meletakkan sandal yang cukup nyaman untuk Laila. Laila tersenyum melihat sandal yang terdapat pita.


"Mas beli dimana?" Tanya Laila penasaran.


"Di depan sana tadi. Sudah sepatunya di lepas. Mau mas museumkan biar jadi cerita nanti kalau kamu lulus." Ucap Rohim sambil membantu istirnya membuka sepatu yang hanya memiliki telapak sebelah kanan.


"Hehehe... Buat cerita anak cucu ya mas." Tanya Laila.

__ADS_1


Bahkan saat akan mengumpulkan jawaban ujian nya pun. Laila yang berjalan sedikit diseret karena telapak sepatu yang tinggal sebelah, membuat beberapa orang menahan tawa termasuk panitia. Bahkan beberapa peserta menganggap remeh Laila. Selain sepatu istri Rohim yang tanpa telapak itu. Baju kemeja putih Laila yang berwarna putih tetapi tak secerah peserta lain , membuat ia dilirik peserta yang memiliki sifat sombong dan mudah menganggap remeh orang hanya karena penampilannya.


__ADS_2