
Suasana kediaman Nuaima dan Munir telah sepi. Beberapa sanak saudara dan tetangga telah pulang. Hanya tinggal saudara dari sebelah ayah Nuaima yang masih tampak di tenda dan di dalam rumah. Umi Laila baru saja menidurkan Rahmi dan Ayra. Ia pun keluar dari kamar, ia membantu beberapa saudara Nuaima yang membuat kopi atau teh untuk menemani saudara dan beberapa tetangga yang masih duduk di teras.
Rumah Nuaima termasuk cukup mewah. Sebuah rumah dengan luas tanah ±230M persegi. Terdapat 3 kamar di rumah tersebut, yang terdiri dari dua lantai. Uniknya satu kamar dan taman kecil berada di lantai dua. Tak aneh jika adik ipar Umi Laila tersebut memiliki rumah mewah, Nuaima adalah anak orang cukup berada. Selain itu sedari masih single, Nuaima telah bekerja sebagai asisten manager di Sebuah perusahaan ternama yang ada di ibukota. Belum lagi semenjak kehamilannya, Munir yang telah menjadi dosen pun memiliki penghasilan yang mulai UMR. Maka mereka membeli rumah tersebut.
Walau kesan mewah terlihat dari luar rumah. Akan tetapi kesan sederhana dan alami justru begitu kental di setiap ruang dalam rumah tersebut. Seperti saat ini, di ruangan dapur. Umi Laila bisa melihat ke arah belakang yang terdapat kursi kayu yang menghadap ke arah taman kecil dan taman obat-obatan tradisional. Hanya ada sekat dinding kaca, pemisah antara dapur dan taman tersebut.
"Nuaima dan Munir itu sama-sama suka nuansa alam. Saya kalau lagi menginap disini. Itu yang masak justru Nak Munir. Nuaima dibiarkan untuk menghabiskan waktu bersama. Saya betul-betul bersyukur Nuaima mendapatkan jodoh Nak Munir." Ucap Bu Evi menatap pemandangan yang dari tadi di tatap oleh Umi Laila.
Dua perempuan beda usia itu duduk di meja dapur. Sebuah Ruangan yang lengkap dengan kitchen House yang cukup modern di tahun 2010 keatas.
Umi Laila menoleh ke arah Bu Evi. Perempuan itu masih terlihat sembab di kedua matanya. Hidungnya bahkan terlihat merah karena terlalu sering menangis. Kulit putih Bu Evi sama seperti Nuaima. Namun postur tubuh dan hidung mancung Nuaima lebih mirip pak Aji, ayahnya.
"Ya, Dik Munir juga sangat beruntung. Mendapatkan istri Nuaima. Perempuan yang tak hanya cantik paras wajahnya, tapi akhlaknya. Saya bisa melihat bagaimana karir Dik Nuaima begitu bagus di perusahaan. Tetapi sekalipun kami tak pernah mendengar dirinya meninggikan suara di hadapan di Munir. Atau merasa lebih dari Dik Munir. Karena secara penghasilan atau karier, Dik Nuaima mungkin lebih dari Dik Munir." Kenang Umi Laila.
Ipar Nuaima itu mengatakan hal yang sebenarnya. Ia sering melihat Nuaima ketika berkunjung ke tempatnya, dan juga pernah berkunjung ke rumah. Namun sekalipun ia dan Abi Rohim tak pernah melihat Nuaima bersikap bahwa ia adalah tulang punggung keluarga. Karena diawal-awal pernikahan mereka, Munir hanya tenaga kontrak. Gaji nya tentu jauh di bawah Nuaima yang menjabat sebagai seorang Manager.
"Saya tidak menyangka takdir mereka seperti ini." Ucap Bu Evi.
Perempuan paruh baya itu pun baru akan bangkit dari tempatnya. Ia ingin menyeduh teh dan kopi. Namun Umi Laila cepat mencegahnya.
"Biar saya saja Bu." Ucap Umi Laila.
Umi Laila bergegas ke arah kompor. Ia mematikan kompor tersebut dan mengangkat Ceret yang akan berbunyi ketika air di dalamnya telah mendidih. Bu Evi mengaduk teh dan Kopi, saat Umi Laila menuangkan air panas kedalam cangkir-cangkir yang telah tersusun di nampan.
Saat Umi Laila selesai menuangkan air tersebut. Umi Laila baru akan membawa keluar nampan tersebut.
"Tunggu dulu Nak.... " Ucap Bu Evi.
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu menahan tangan Umi Laila. Umi Laila pun duduk kembali.
"Apakah betul yang dikatakan suami saya, Nuaima mengirimkan satu pesan nya kepada kamu sesaat ia belum meninggal? "Tanya Bu Evi pada Umi Laila.
Umi Laila mengangguk cepat.
" Berat rasanya jika harus menyerahkan peninggalan Nuaima yang begitu berharga bagi kami. Bukan hartanya, bukan deposito atau asuransi jiwa dirinya dan Nak Munir. Melainkan Ayra. Saya akan coba bujuk suami saya agar mau menyerahkan hak asuh Ayra pada kalian. Tetapi tolong, berjanjilah bahwa kamu dan Nak Rohim akan menjaga amanah Nuaima dengan baik. Sama seperti anak kalian sendiri." Jelas Bu Evi penuh rasa khawatir dan sedih.
Umi Laila tertegun. Apa yang ia khawatirkan terjadi, Ayah Nuaima keberatan. Mungkin bukan karena ekonomi mereka yang tak sama dengan kakek dan nenek Ayra. Akan tetapi karena warisan atau beberapa deposito dan asuransi jiwa yang akan jatuh pada Ayra yang menjadi kekhawatiran mereka.
Umi Laila mendekatkan kursinya ke arah Bu Evi.
"Ibu Evi, saya tanya sama ibu. Apakah ibu percaya, yakin. Saya dan suami akan masuk surga. Akan diampuni oleh Allah kelak di hari akhir?" Tanya Umi Siti pelan.
Bu Evi sedikit heran akan pertanyaan tersebut. Ia pun menatap kedua netra Umi Laila. Kakak Ipar Nuaima itu selalu dibanggakan oleh anaknya. Nuaima selalu bercerita bahwa ia belajar banyak dari Umi Laila. Perempuan yang tak silau akan dunia. Yang menarik bagi Umi Laila adalah bagaimana ia menjalani perannya sebagai istri, anak, ibu yang sholehah dan menjadikan setiap detik umurnya untuk dihabiskan dengan hal-hal bermanfaat. Walau kadang sering dimanfaatkan orang-orang.
"Lalu apakah pemabuk, penjahat atau seseorang yang seumur hidupnya bermaksiat, tidak akan masuk surga atau diampuni, Bu?" Tanya Umi Laila.
Bu Evi tertegun sejenak. Lalu ia menjawab dengan pertanyaan yang dijawab oleh Umi Laila.
"Apakah orang yang penuh dosa seumur hidupnya bisa diampuni oleh Allah ketika dia meninggal?" Tanya Bu Evi penasaran.
"Ada sebuah kisah dimana Imam Ghazali menceritakannya dalam sebuah kitab karangannya Bu. Dimana seorang pria jahat dimasa hidupnya. Bahkan ketika pria tersebut meninggal dunia. Tak ada satupun warga yang mau mensholati dan mengantarkan jenazah pria tersebut ke tempat pemakaman. Hingga istrinya pria tersebut membayar orang untuk membawa jenazah pria tersebut untuk di shalati dan dimakamkan. Namun, masih tak ada satupun warga yang mau menshalati jenazah suaminya." Ucap Umi Laila yang selalu menahan air mata untuk tak jatuh, setiap berkisah tentang apapun yang menyangkut ampunan Allah atau tentang kisah para kekasih Allah.
Umi Laila pun melanjutkan kisah tersebut, ketika jenazah lelaki tersebut dibawah ketengah lahan luas untuk di makamkan. Akan tetapi tanpa disadari istri pria jahat itu tak sadar jika di sekitar tempat itu, tinggalah seorang ahli ibadah yang tinggal diatas gunung.
"Ibu tahu, Tiba-tiba orang ahli ibadah itu turun dari gunung, ia mensholati jenazah pria jahat itu. Mendengar berita bahwa ada seorang ahli ibadah sampai turun gunung untuk mensholati orang jahat tadi. Masyarakat pun akhirnya ikut mensholati pria jahat itu. Masyarakat penasaran perihal apa yang membuat ahli ibadah mau menshalati pria jahat tadi." Ucap Umi Laila lagi.
__ADS_1
"Tentu ada amalan yang dilakukan oleh lelaki itu. Rasanya tidak mungkin bisa ahli ibadah tersebut bisa tiba-tiba turun untuk mensholati dirinya." Tanya Umi Bu Evi.
Umi Laila pun membenarkan jika ahli ibadah tersebut bermimpi.
"Ya ahli ibadah itu sebenarnya bermimpi. Bahwa dirinya diminta untuk turun mensholati pria jahat itu, ia mendengar suara bahwa dosa pria itu telah diampuni oleh Allah. Tetapi beliau juga heran. Maka istrinya menjawab pertanyaan ahli ibadah tersebut. Dan salah satu jawaban perempuan itu membuat alasan saya dan Mas Rohim berharap bisa merawat Ayra, selain karena amanah dari almarhumah Nuaima." Ucap Umi Laila.
Bu Evi kini paham kenapa anaknya setelah menikah sering mengidolakan Umi Laila. Perempuan yang lemah lembut, berwajah sumeh, penampilan yang sederhana tetapi memiliki ilmu yang tinggi namun terlihat biasa.
'Jadi ingat kata Nuaima, jika Umi Laila ini adalah sosok yang rendah hati namun berilmu. Cuma duduk mengobrol saja, sudah mendapatkan ilmu.' Batin Ibu Evi, yang teringat akan cerita Nuaima kala ia menceritakan sosok Umi Laila.
"Apakah salah satunya merawat anak yatim?" Tebak Bu Evi.
Umi Laila tersenyum dan mengangguk. Ia membenarkan jawaban Bu Evi. Ternyata lelaki jahat tersebut selama ia hidup, saat sadar ia melakukan 3 amalan yang diceritakan istri almarhum.
"Yang pertama, ketika dia sadar dari mabuknya di waktu subuh, dia segera membersihkan diri lalu berwudhu, dan ikut sholat berjama’ah subuh. Kedua, di rumah pria jahat tersebut ternyata tidak pernah sepi dari satu atau dua anak yatim, dan pria jahat dan istrinya terhadap anak yatim melebihi kebaikannya terhadap anaknya Sendiri. Ketiga, suatu saat almarhum pernah sadar dari mabuknya di tengah malam, dia menangis dan berkata; ‘Ya Tuhanku, letak neraka jahannam manakah yang engkau kehendaki untuk meletakkan orang terkutuk sepertiku ini?" Ujar Umi Laila yang menceritakan kisah lelaki yang penuh perbuatan jahat dan maksiat dalam hidupnya namun diampuni oleh Allah karena amalannya Dimana salah satu amalannya, tanpa disadari menolong dirinya saat jasadnya tak lagi bernyawa.
"Selama ini ada satu atau dua anak yatim di pondok kami, niatnya sama. Kami hanya berharap jika di hari akhir nanti kami mendapatkan ampunan Allah dari pintu merawat dan menyantuni anak yatim. Sungguh kita tidak tahu apakah kita akan kelak akan meninggal dalam keadaan beriman atau tidak. Karena bisa jadi amalan sepele namun justru meraih ridho Allah, dan begitu juga dosa. Bisa jadi ahli ibadah namun jika Allah tidak Ridho akan hal yang mungkin kita anggap sepele." Kini kedua pipi Bu Evi sudah basah dengan air hangat yang bersumber dari kedua matanya.
Ia jadi semakin ingat akan dirinya sendiri, jika orang seperti Umi Laila yang dikenal pengasuh juga pemilik pondok pesantren, walau masih cukup kecil. Namun hidupnya dihabiskan untuk mengajar dan menuntut ilmu. Bagaimana dengan dirinya. Maka dari obrolan singkat tersebut. Bu Evi pun sudah bertekad Ia ingin keturunannya yang tak lain adalah Ayra, dirawat oleh Umi Laila dan Abi Rohim. Karena Nuaima hanya anak tunggal.
Bu Evi ragu, jika Ayra berada dalam pengasuhan Umi Laila. Disamping itu amanah Nuaima. Maka malam itu saat sudah bertemu dengan suami juga Abi Rohim di ruang tamu. Umi Laila meletakkan kopi dan teh di meja.
Pak Aji pun membuka obrolannya terkait hak asuh Ayra.
"Begini saja. Saya setuju dengan nak Rohim. Seluruh warisan, deposito dan asuransi Nuaima dan Munir, akan saya depositokan atas nama Ayra. Maka nanti ketika dia sudah berusia 17 tahun, terserah dirinya. Setidaknya untuk semua kebutuhan Ayra, saya serahkan untuk nak Rohim dan Nak Laila. Tetapi saya dan istri akan tetap memberikan biaya untuk cucu kami." Hasil musyawarah keluarga Nuaima berakhir dengan saran Abi Rohim.
Agar semua yang menyangkut harta, warisan, ayah Nuaima yang mengurus. Ia dan Umi Laila hanya akan membawa dan merawat Ayra. Namun Pak Aji justru tidak berani karena ia khawatir, dirinya justru menyalah gunakan harta peninggalan orang tua Ayra untuk keperluan pribadinya. Maka hak asuh Ayra pun jatuh pada Abi Rohim dan Umi Laila.
__ADS_1
Keesokan harinya, Umi Laila dan Abi Rohim pulang. Sejak hari tinggal bersama keluarga Abi Rohim, Ayra Khairunnisa secara administrasi terdaftar menjadi warga Kali Bening dengan satu KK bersama Umi Laila dan Anak-anaknya, dengan status keponakan. Nama Ibu dan Ayahnya pun masih Nuaima dan Munir. Kecerdasan kedua orang tua Ayra di warisi kepada Putri tunggal mereka. Serta ikhtiar Umi Laila dalam mendidik Ayra membuat anak yatim piatu itu tumbuh dengan didikan penuh kasih sayang, kelembutan dan ketegasan. Serta setiap saat tak lepas dari mengharap ridho Allah.