LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
79 Mediasi Umi Laila pada Orang Tua


__ADS_3

Betul saja, dua orang anak yang masih duduk di bangku SMA tersebut sedang bertukar surat. Dan dengan cepat mereka berpisah setelah bertukar surat tersebut.


Umi Laila dan Abi Rohim cepat menunduk. Tampak Abi Rohim memegang kepala sang istri yang hampir membentur tembok. Mereka sudah seperti maling yang hampir tertangkap. Setelah kedua santri itu kembali ke ruangan kamar mereka. Abi Rohim yang akan menuju kelas segera memberi nasihat istrinya.


"Cari dulu kebenarannya. Jangan sampai dibicarakan pada orang tuanya. Anak-anak itu lebih pandai bicara. Orang tua juga kadang lebih percaya anaknya daripada bukti Mi." Ucap Rohim pelan.


Umi Laila mengangguk. Ia paham maksud suaminya. Maka malam itu ia memanggil dua santri kepercayaannya. Ayu dan Lulu. Ia berbicara sangat pelan dan setengah berbisik.


"Dengar, jangan sampai tahu Si Siska. Umi cuma mau lihat surat nya apa. Umi khawatir sama Siska, khawatir terjerumus pergaulan bebas." Ucap Umi Laila yang meminta bantuan Santrinya. Ia hanya ingin membaca surat yang tadi berikan Bakti pada Siska. Bakti adalah anak sekretaris desa. Sedangkan Siska anak dari salah seorang Pemilik toko cukup besar di desa Kali Bening.


Ayu dan Lulu pun mengangguk sebagai tanda mengerti. Saat tengah malam, Ayu menemukan selembar surat yang diselipkan oleh Siska di kantong tas nya. Ayu pun membawa surat tersebut pada Laila yang menunggu di dapur. Lulu menunggu di kamar. Ia mengamati Siska. Kalau-kalau temannya itu bangun.


Saat Ayu menyerahkan surat tersebut. Laila yang membuka surat tersebut. Ia langsung membaca kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Betapa hancur hati seorang guru. Bibir mungil Umi Laila beristighfar ketika ia membaca surat tersebut. Ia cepa melipat kembali surat tersebut. Namun sebelum ia menyerahkan surat itu pada Ayu, ia menatap wajah santri pertama nya cukup lama.


"Nduk, demi Allah. Umi tidak bertujuan membuka Aib teman mu pada mu. Tapi kamu sudah umi anggap anak. Umi sayang kamu, usia mu sudah dewasa. Kamu sudah kelas 3 SMA. Umi ingin kamu belajar dari setiap kisah yang kamu lihat, kamu dengar bersama perjalanan Umi. Tapi tidak untuk kamu ceritakan pada siapapun." Ucap Laila.

__ADS_1


Anggukkan kecil dari Ayu. Santriwati Umi Laila tersebut duduk di lantai. Ia beringsut meraih kembali surat yang telah Laila baca. Ia pun mengambil surat itu tanpa mengangkat pandangannya.


"Buka dan baca. Kamu harus belajar hal-hal yang dianggap tabuh. Tapi ini pendidikan yang harus kamu tahu. Luruskan niat mu. Bukan untuk aib teman mu tapi demi belajarnya kamu tentang satu kisa yang mungkin nanti bisa kamu jadikan bekal di masa depan." Ucap Umi Laila.


Tangan Ayu tampak ragu-ragu membuka surat tersebut. Ia sebenarnya sudah tahu jika Siska dan Bakti menjalin hubungan pacaran. Tetapi ia tak tahu jika temannya itu sudah jauh sekali melangkah. Ayu membaca surat itu pelan-pelan. Namun ketika tiba di pertengahan surat. Perut Ayu mual, ia ingin muntah. Seluruh rambut halus pada pundaknya bergidik. Hingga akhirnya. Ia hampir muntah di hadapan Umi Laila. Ia menutup rapat mulutnya yang mengeluarkan suara khas orang ingin muntah.


Bagaimana Ayu tidak mau muntah. Ia yang masih gadis. Ia yang belum pernah berhubungan badan. Surat itu berisi bagaimana Bakti menjabarkan bagaiamana nikmaatnya ia melakukan HB bersama Siska. Lebih parahnya hal itu dilakukan di kediaman Siska.


Air mata Ayu bahkan keluar dengan sendirinya karena menahan rasa muntahnya.


"Umi tahu, kamu pacaran. Lihat? tidak ada pacaran yang tidak mendekati zina. Kalau memang ingin memantaskan diri. Pantaskah saja, tanpa ada pertemuan-pertemuan ataupun surat menyurat." Ucap Laila pada Ayu. Ia tahu jika sang santriwati sering surat menyurat dengan satu anak di desa sebelah. Namun Laila belum menegur karena masih menunggu momentum yang pas. Dan malam itu, Ayu belajar dari satu awal yang katanya hanya cinta terpendam. Hanya kenal, dan berkahir ke zina.


"Sudah, fokus saja dengan belajar 'seng tenanan'. Ndak usah mikir jodoh. Ndak usah cinta-cintaan. Cari ilmu dulu. Karena nikah itu butuh ilmu cinta nomor sekian." Ucap Laila sedikit tegas. Rasa kesal pada Siska dan Bakti justru tak sadar ia luapkan di hadapan Ayu.


Hampir tengah malam Laila baru bisa merasa tenang, suaminya baru ada waktu untuk dirinya. Ia pun menceritakan apa yang terjadi antara Siska dan Bakti.

__ADS_1


"Itulah kenapa dari dulu Umi Ndak suka kalau santri ga 24 jam Mondoknya Bi." Cicit Umi Laila.


"Lah 12 jam di pondok aja begitu. Bagaimana kalau tidak. Anggap saja kita kecolongan. Jadi begini saja, besok coba ngobrol sama ibunya Siska." Ucap Rohim.


"Maksudnya saya itu, orang tua juga tanggung jawab dirumah. Kalau memang ga mau anaknya mondok 24 jam. Dirumah juga diawasi. Lah ini, Abi banyangkan. Mereka melakukannya di rumahnya Siska Bi. Itu Ayu sampai muntah-muntah baca surat dari Bakti untuk Siska. Umi saja mau muntah juga kalau ingat." Ucap Laila penuh rasa sedih, kesal karena ia sudah bisa membayangkan tingkah Siska dan sang ibu besok ketika ia menyampaikan kegelisahan hatinya.


Betul saja. Keesokan harinya, Umi Laila yang bermaksud berbicara baik-baik justru di caci maki. Justru di salahkan. Ayu yang duduk di kursi kayu yang berada di depan rumah Siska sampai terhenyak dari tempat duduknya. Suara teriakan dan cacian dari ibu Siska begitu menyakiti hati Ayu. Ia sakit hati gurunya di hina. Ia sakit hati sang guru di bentak.


"Umi Laila ini! Aku tidak menyangka! Ngakunya Ustazah.Kok bisa-bisa fitnah anak saya! Jangan sembarangan! Saya tuntut Umi nanti kalau fitnah Siska.! boncengan sama laki-laki saja ga pernah kok bilang Siska sudah HB sama Bakti! Anak saya tidak seperti itu! Saya kurang apa Mi? Saya selalu bantu pondok loh kalau lagi butuh dana! Ini balasan umi sama saya." Suara Bu Mimi terdengar menggelegar di dalam rumah.


Umi Laila hanya duduk dan diam. Dengan wajah tenang, Umi Laila menunggu Bu Mimi puas dan selesai meluapkan emosinya. Sedangkan Ayu. Dia berdiri dibalik pintu teras. Ia menitikkan air mata, ia tak terima gurunya diperlakukan begitu. Namun adabnya begitu ia jaga. Jika sang guru masih duduk dan diam. Bagaimana bisa ia mau marah dan protes pada Bu Mimi.


Umi Laila sudah menyiapkan lahir batinnya untuk menjadi pendidik. Mendidik umatnya Rasulullah. Walau dengan resiko dicaci, dimarah dan dituduh yang macam-macam. Baginya, dibutuhkan komunikasi dengan orang tua untuk keberhasilan anak didiknya. Dibutuhkan peran orang tua untuk membantu ia dalam mendidik anak-anak yang dititipkan di pondok pesantren tersebut. Namun hal-hal yang seperti inilah yang sudah Umi Laila khawatirkan ketika orang tua hanya menuntut hasil didikannya tanpa pernah tua juga mau ikut terlibat. Sedangkan ketika dulu Umi Laila meminta agar Siska mondok 24 jam. Sang ibu berdalih anak satu-satunya. Dan ketika yang di khawatirkan terjadi, Umi Laila yang disalahkan.


"Duduk dulu Bu Mimi. Saya kemari untuk membicarakan masa depan Siska. Sebelum terlalu jauh.... Ini bukan tanggungjawab Ibu saja. Saya sebagai guru nya juga butuh bantuan ibu untuk Siska. Maka kita harus duduk bersama." Ucap Umi Laila pelan.

__ADS_1


"Halah! Saya tidak percaya. Sekarang Umi Laila silahkan pulang. Sebelum saya panggil suami saya. Satu lagi. Mulai hari ini. Siska ga bakal mondok di pesantren Umi. Saya akan cari pondok yang lebih baik dari pondoknya Umi!" Bentak Bu Mimi pada Umi Laila.


Ayu sudah menarik-narik jilbabnya karena begitu geram melihat Bu Mimi. Akhirnya Laila pulang dengan mediasi yang sia-sia. Ibu Siska tak percaya jika sang anak sudah terlalu jauh melangkah. Dan betul saja. Pasca kejadian itu Umi Laila kembali di uji kesabarannya. Cobaan datang lagi menghampiri Istri Abi Rohim tersebut.


__ADS_2