
Ba'da Dzuhur, Keluarga Abah Ucup telah siap mengantar Rohim dan Laila ke Sumber Sari. Waroh pun ikut serta. Wajah sang kakak dari pertama adiknya menikah sampai sang adik akan pergi meninggalkan rumah itu, masih terlihat jutek dan cemberut.
Namun saat akan berangkat, Laila teringat akan ijazahnya. Ia bertanya pada sang Abah.
"Bah, ijazahnya masih Abah simpan. Laila bawa saja ke sumber Sari ya Bah." Pinta Laila.
Bu Salamah sudah ketar ketir, khawatir anak bungsunya tahu hal itu. Ia bingung jika nanti Waroh kembali menjadi amarah sang Abah. Waroh tak mungkin diam jika Abah Ucup marah.
"Kamu bawa ijazah SMA mu dulu ya Nduk. Yang lain biar Abah yang pegang. Toh kalau cari pekerjaan kan ijazah kuliah yang dipakai?"
Tanya Abah sambil melirik ke arah Waroh.
"Iya Ndak apa-apa Bah. Maaf ya Bah belum bisa membalas jasa Abah selama ini sudah membesarkan Laila." Ucap Laila dengan suara serak.
"Loh.. loh... kamu itu katanya alumni pesantren. Lah kok bicara begitu."
"Kamu jadi istri Sholehah buat Rohim. Itu sudah membuat bapak bahagia tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Jadi kamu jangan mikir mau kasih materi ke Abah mu ini." Ucap Abah Ucup tegas.
Lelaki itu mengambil ijazah Laila ke dalam kamar.
Ia Kembali ke ruang tengah.
"Ini ijazahnya. Yang penting Abah pesan satu. Berapa yang Rohim kasih buat nafkah diterima, disyukuri. Kalau kurang ya minta sama Gusti Allah. Dan kamu nak Rohim. Kalau Laila ini bersalah, tolong jangan sampai di pukul. Dari kecil saya sekalipun belum pernah memukul dia. Kalau memang Mak Rohim merasa Laila ini tidak bisa dididik ya rasanya jalan ke Sumber Waras ini nak Rohim tahu. Dan satu lagi, saya tidak mau anak salah di madu. Paham?" Jelas Abah Ucup tegas.
"Insyaallah Bah. Mudah-mudahan saya juga bisa menjadi imam yang baik buat Laila. Saya dan Laila juga butuh saran dan bimbingan Abah dalam membina rumah tangga. Jadi kalau kami salah, ya tolong di tegur Bah, dinasehati." Ucap Rohim pelan.
Siang itu, Abah Ucup dan keluarganya pergi ke Sumber Sari meminjam sebuah mobil kijang milik tetangganya. Tiba di Sumber Sari. Waroh tersenyum senang. Ia bahagia ketika melihat kondisi di dalam rumah Rohim. Nyaris tak ada perabot mewah. Bahkan sebuah televisi pun tak ada di dalam rumah itu.
Rumah yang terbuat dari papan dan hanya memiliki tiga ruangan. Ruang tamu, kamar dan dapur. Sedangkan kamar mandi berada di luar rumah dengan hanya berdindingkan gedek atau bambu, tanpa atap.
Abah Ucup merasa tak tega sebenarnya melihat kondisi tempat tinggal putrinya. Namun ia ingin anaknya melewati masa dimana harus di lalui dengan kesabaran saat baru membangun rumah tangga terutama masalah ekonomi. Karena disana rasa cinta dan kedewasaan di pupuk.
Saat selesai shalat ashar. Abah Ucup pun berpamitan untuk pulang.
Malam hari di Sumber Sari, Rohim shalat di masjid. Ia yang terbiasa dari waktu Maghrib hingga waktu isya tiba tetap berdiam di masjid. Saat pulang kerumah, ia melihat sudah terdapat beberapa tamu. Ternyata beberapa warga yang tahu bahwa Rohim kembali ke Sumber Sari, datang berkunjung. Hampir yang datang ada yang membawa makanan dan ada juga yang ketika pulang memberikan amplop kepada Rohim.
Hingga saat menjelang pukul sebelas malam. Mukidi yang daritadi tak muncul, baru datang.
"Assalamu'alaikum...." ucap Mukidi dengan suara khasnya.
Rohim yang baru akan menutup pintu rumah kembali membuka pintu tersebut.
"Wa'alaikumussallam. Darimana kang? Tumben baru Dateng."
Mukidi duduk di teras.
"Ketiduran kang. OPO ganggu kang?"
"Tidak. Aku malah bersyukur kamu datang."
"Lah kok begitu?"
__ADS_1
"Hehehe.... Jadi bisa begadang karena ada temannya."
Laila yang mendengar ada tamu, segera membuatkan kopi. Ia keluar dan menyerahkan kopi pada sahabat suaminya. Setelah itu ia kembali ke dalam.
Mukidi mengambil rokok Rohim, ia menyulut rokok tersebut lalu menghisapnya.
Dari dalam kamar Laila mendengar obrolan suaminya dengan Mukidi.
"Kang, saya ini bingung."
"Bingung kenapa?" tanya Rohim sambil membuat rokok lintingan.
"Hidup ini aneh loh kang."
"Lah kok bisa bilang aneh?"
"Coba lihat ya kang mereka yang rata-rata ga pernah shalat, ga pernah ikut kegiatan keagamaan, terus kayaknya ya ga tahu sakit. Bahagia, rezeki lancar. Lah kok aku merasa aku loh kang. Semenjak rajin shalat, semenjak tidak pernah judi, mencuri. Lah kok sering masuk angin, terus masalah ada saja. Contohnya kok Unet yang janji mau nikah sama aku malah nikah sama lelaki yang jelas-jelas bandar nya judi..... OPO ga aneh?" Ungkap Mukidi dengan suara yang kesal dan menikmati jajan yang ada di piring.
Rohim pun terkekeh mendengar isi hati temannya.
"Intinya kamu sampeyan itu kang lagi bunek, lagi bosan. Hehehe... Sekarang aku tak nanya sampeyan. Kira-kira, orang zaman sekarang yang katanya sampeyan uripnya enak lebih enak raja Firaun apa orang zaman sekarang?" Tanya Rohim sambil menghembuskan asap rokoknya.
Mukidi membuka topinya.
"Ya enak raja Firaun toh kang. Kaya raya. Orang semua tunduk sama dia. Lah kalau orang kaya masih belum hebat dibandingkan Raja Firaun dari kisah nya. Beliau kaya raya, sangking kayanya mengaku Tuhan" jawab Mukidi.
"Lah, sampeyan mau berakhir seperti Fir'aun?"
"Hehehe.... Jadi begini kang. Kita itu harus hati-hati menata hati kita ini. Di dalam. Islam itu ada namanya istidraj. Yaitu orang yang dikasih nikmat tapi hanya mendapatkan dosa dari kenikmatan itu. Contoh, orang kaya tapi zalim. Mereka sehat, mereka tidak pernah ibadah. Tidak pernah sakit. Tetapi sesungguhnya Allah sedang memberikan nikmat yang justru membuat mereka terus berdosa. naudzubillah min dzalik." Jelas Rohim.
Rohim menyeruput kopinya sebelum ia menjelaskan pada Mukidi perihal istidraj.
"Namun di balik nikmat itu terdapat murka Allah. Karena justru karena nikmat itu, orang tersebut malah jauh dari Allah. Ada seorang ulama di Jawa itu mengatakan kang. Jangan sedih dengan kehidupan pas Pasan. Bisa jadi Allah itu memberikan kita surga atau pahala lewat kemiskinan kita itu. Jadi jangan mengukur dengan hidup orang lain. Yaitu hatinya kita ini harus selalu positif kepada semua ketentuan Allah."
Mukidi manggut-manggut.
"Berarti lebih baik hidup miskin daripada kaya kang?"
Rohim tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu.
"Jadi begini Kang. Rasulullah sendiri, pernah berdoa agar dihidupkan dan diwafatkan dalam keadaan miskin. Jika kita umat nya ini yang hidup dalam kemiskinan, maka kemiskinan itu menjadi sebuah keberuntungan jika kita mampu menjalankan dengan Ridho, sabar, tawakal dan syukur, maka kita masuk golongan orang yang beruntung. Tetapi jika tidak, malah justru tidak beruntung karena tidak ridho akan qodho dan qadar nya Allah. Maka hidup menjadi orang kaya juga bisa menjadi keutamaan. Tapi ya syaratnya tadi Kang. Jadikan nikmat kaya kita tadi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jadi mau miskin atau kaya semuanya itu tergantung kita. Bisa membawa kita mendekat kepada Allah apa justru malah menjauh." Jelas Rohim masih menikmati rokoknya.
Mukidi manggut-manggut. Ia akhirnya berlapang dada tentang qodho jika Unet lebih memilih menikah dengan lelaki yang memang dikenal bandar Judi di desa sebelah daripada dirinya orang tak punya.
"Contohnya kang?" Tanya Mukidi
"Jadi begini, seandainya sampeyan jadi orang kaya, tapi sampeyan ga sempat shalat lima waktu karena nyari uang buat kekayaan sampeyan atau ngurus kekayaan sampeyan. Sampeyan pilih jadi yang sekarang atau kaya tapi ga bisa ibadah?"
"Lah ya enak sekarang kang. Walau dianggap orang kere, ga punya apa-apa. Tapi setidaknya mati klo ditanya malaikat. Aku sudah menjalankan shalat ku. Terlepas diterima apa ga nya itu urusan Malaikat. Penting saya sudah mengugurkan kewajiban saya dan terus belajar ya lewat sampeyan. Penting besok pas di akhirat kalau sampeyan masuk surga, aku diajak." Pinta Mukidi pada Rohim.
Lalu Mukidi merebahkan tubuhnya di tikar yang berada di teras itu. Ia memikirkan kilas balik dirinya dulu dan sekarang.
__ADS_1
"Iya kang ya. Contoh saya sendiri. Kalau dulu jarang masuk angin. Tapi saya maksiat tiap hari. Lah sekarang saya sering masuk angin tapi Alhamdulillah saya Ndak pernah tinggal shalat lima waktu." Mukidi membuat kesimpulan tentang penjelasan Rohim.
Laila yang di dalam kamar pun bertambah kagum pada suaminya. Ia akhirnya bisa mengerti dari cerita Bu Sri jika anaknya yang bernama Mukidi itu banyak berubah semenjak berteman dengan suaminya. Tanpa Rohim sadari, walau ia tak duduk di majelis ilmu. Tapi dia yang hampir setiap malam duduk bersama orang berilmu, maka hal itu membuat ia mendapatkan ilmu hanya dengan duduk santai sambil menikmati rokok dan kopi.
"Masyaallah... Sepertinya aku harus menyiapkan diri untuk mendampingi dakwah mu Mas." Batin Laila masih bersandar di dinding kamarnya.
Mukidi pun yang penasaran hal lain kembali bertanya.
"Lah kalau orang kayak saya ini kang? Apa bisa besok punya anak Sholeh. Ya minimal kayak sampeyan hehehe... Lah bapaknya kayak gini. Mbah nya kayak Mak e... Opo ISO nduwe keturunan seng alim?" Mukidi bangkit dari posisinya.
Rohim pun merasa lelah, ia merebahkan tubuhnya. Melihat hal itu Mukidi ikut berbaring. Rohim melihat Mukidi menikmati rokok yang tinggal sebatang. Ia ambil rokok dari tangan Mukidi. Ia hisap dan ia kembalikan ke mulut Mukidi.
"Tinggi dan rendahnya nilai seseorang tidak ditentukan oleh nasab, tapi akhlaknya kang. Mau bagus kayak apa nasabnya atau keturunannya namun jika dia tidak berkelakuan baik ya tetep ga dipandang di mata manusia maupun Allah."
"Berarti saya juga bisa punya anak alim kang?"
Kembali Rohim mengambil rokok dari tangan Mukidi. Hal yang biasa mereka lakukan kala malam kian larut namun mata belum mengantuk namun rokok tinggal sebatang.
"Sampeyan tahu kisah Nabi Nuh dan anaknya?"
Mukidi pun cepat menjawab.
"Tahu kang. Anaknya nabi Nuh bernama Kan'an tenggelam di lautan dan tidak dalam keadaan beriman pada Allah." Jawab Mukidi.
"Maka itu, nasab bukan jaminan kang.
“Manusia itu ditentukan akhlaknya. Maka itu kalau sudah punya anak utamakan didik Akhlaknya kang. Yang lain nyusul. Akhlak bukan hanya pada manusia tapi juga pada Allah kang."
Mukidi berbalik dan memandang wajah Rohim
"Caranya Kang?"
"Ya beberapa cara, ibu bapaknya harus kasih contoh akhlak yang baik. Disekolahkan atau di pondokkan di tempat yang gurunya itu berakhlak baik."
Mukidi manggut-manggut. Ia memikirkan apa yang disampaikan Rohim. Tanpa ia sadari ia telah terlelap dalam alam mimpi. Rohim mendengar dengkuran Mukidi tersenyum. Ia menyelimuti sahabatnya itu dengan kain. Mereka biasa tidur di teras yang terbuat dari bambu itu. Bahkan yang membuat teras itu adalah Mukidi dan Rohim.
Rohim yang beranjak ke kamar melihat istrinya masih duduk dan sedang menitikkan air mata.
"Ada apa Dik? kamu sakit? kamu tidak bisa tidur di kamar ini?"
Rohim duduk dihadapan sang istri dan merapikan rambut Laila yang berada di sisi pipinya.
"Entah berapa kali sudah aku jatuh hati pada mu Mas. Jika kemarin-kemarin aku jatuh cinta padamu karena akhlak Mu. Hari ini aku jatuh cinta pada ilmu mu, cara mu berdakwah. Kamu tak perlu sebuah panggung, tak perlu sebuah mimbar. Satu nikmat yang Allah berikan padaku adalah aku dijadikannya istrimu Mas."
Laila membenamkan dirinya dalam pelukan suaminya.
^^^"أحبك يا زوجي"^^^
[Aku cinta padamu Wahai suamiku]
^^^"أنا احبك يا زوجتي"^^^
__ADS_1
[Aku cinta Padamu Wahai Istriku]