LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 31 Kediaman Rohim


__ADS_3

Sumber Sari di pagi hari. Hampir setiap rumah warga gentengnya bergeser. Bahkan ada yang atapnya ikut melayang karena di tiup angin. Kencangnya angin semalam membuat pagi ini hampir rata-rata setiap Orang tak ada yang berangkat ke ladang.


Rohim pun pagi-pagi sekali pergi ke toko yang menjual alat-alat bangunan. Ia membeli dua kodi seng. Setelah itu ia kembali ke rumah. Tiba dirumah, ia mengganti sarungnya dengan celana panjang. Laila yang melihat suaminya sedang mengangkat tangga yang terbuat dari kayu, ikut membantu.


"Sudah, biar saya saja Dik."


Laila pun tersenyum melihat ke arah celana panjang yang dikenakan sang suami.


"Mas justru terlihat aneh. Karena ga pernah pakai celana."


"Yo pakai toh dik."


Laila mengerutkan dahinya.


"Masa' pakai sarung ga pakai celana. Ya gawat... Hehe...." Rohim tertawa sambil naik ke atas tangga menuju atap rumah.


Laila pun tertawa karena ucapan suaminya. Rohim memang sering bercanda dengan istrinya. Bagi Rohim bercanda bersama istrinya adalah salah satu cara agar terciptanya hubungan yang romantis, yang bahagia di dalam rumah tangga. Apalagi sang istri hampir selalu ditinggal oleh dirinya.


Rohim yang masih berusaha membuat kebun sawit dan kebun karet, sedang menyiapkan lahannya. Walaupun itu adalah tanah masjid tetapi dirinya hanya berpikir bahwa jika tanah itu menghasilkan, maka itu bisa untuk kemakmuran masjid itu sendiri.


Saat Rohim berada di atas atap. Ia akan menurun kan genteng tadi dengan sebuah ember. Dan Laila menerimanya di bawah. Baru dapat separuh bagian rumah. Beberapa warga yang melihat ada mobil dari toko bangunan masuk ke area masjid. Dan melihat Rohim berada di atas atap, mereka datang berbondong-bondong.


Laila yang melihat semakin lama semakin banyak yang datang pun kebingungan. Karena ia tak memiliki persiapan. Namun hal itu tak membuat istri Rohim tak memiliki solusi atas masalahnya. Ia yang biasa menjadi santri ndalem selama mondok di Jawa. Pengalaman mondok hampir belasan tahun membuat Laila terbiasa masak dalam jumlah banyak. Ia pun meminjam dandang Ibu Minah. Ia memasak nasi dengan cara di liwet. Hampir 20kg Laila menanak nasi pagi menjelang siang itu. Karena banyaknya warga yang datang untuk membantu Rohim mengganti atap rumah dari genteng menjadi seng.


Bu Minah heran karena bagi nya untuk masak nasi dalam jumlah banyak seperti itu butuh bantuan laki-laki.


"Eala. Suruh bapak-bapak saja ngeliwetnya neng."


"Ndak apa-apa Bu. Saya sudah terbiasa. Saya dulu lama di bagian dalam. Membantu memasak untuk santri lainnya. Dulu Guru saya pernah bilang kalau santri terbiasa apa-apa sendiri, maka ke depannya santri saat di tengah masyarakat juga bisa mandiri. Apalagi perempuan." Jelas Laila sambil menutup dandang nasi itu.


Bu Minah geleng-geleng. Ia pun kagum pada sosok istri Rohim yang baru berpaa bulan menjadi warga Sumber Sari itu.

__ADS_1


"Ckckck... sudah pintar mengaji, suaranya merdu, manis, serba bisa pula. Apa besok anak ku tak pondokan juga ya biar bisa seperti neng Laila." Penasaran Bu Minah pun bertanya pada Laila sambil menyiapkan bumbu untuk membuat sambal telur.


"Neng. Apakah semua anak yang mondok bisa seperti neng Laila. Serba bisa?" tanya Bu Minah sambil mengupas kulit telur rebus yang akan di goreng.


Laila tersipu malu.


"Seorang anak bisa menjadi pribadi baik dan memiliki ilmu bermanfaat tergantung beberapa hal Bu."


"Apa saja Neng?"


"Di dalam mencari ilmu itu ada tiga unsur yang harus saling bersinergi agar anak tadi memiliki ilmu bermanfaat dan berakhlak mulia. Anak itu sendiri, orang tua si anak. Dan guru anak kita tadi Bu. Ini dawuh guru saya."


Bu Minah bingung. Ia meletakkan telur yang akan ia kupas dan kembali bertanya.


"Maksudnya bersinergi?"


"Jadi begini Bu Minah. Anak tadi harus bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Karena Niat sang anak. Sungguh-sungguh disini bukan hanya ketika mondok tetapi ketika keluar dari pondok pun tetap harus bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang di pelajari dan tetap harus mencari ilmu."


"Nah ini juga faktor pentingnya. Kadang ada orang tua ketika memondokkan anak, mereka merasa tidak terima dengan cara pesantren mendidik anaknya. Contoh, ketika membesuk anak, anaknya kok tidurnya begitu, kamar nya begitu, makannya kok begitu. Dan akhirnya berburuk sangka pada sang guru. Berpikiran bahwa guru nya itu tidak mengurus anaknya dengan baik. Beranggapan guru Pilih kasih pada anaknya."


Laila pun membenarkan kayu bakar yang berada di bawah dandang nasi.


"Padahal disana adalah ujian para orang tua untuk keberkahan anaknya mondok. Yakinlah bahwa anak kita di pondok sedang di bina, di bentuk, di didik agar kelak siap terjun di masyarakat. Terkadang ada anak yang cerdas namun susah mendapatkan ilmu itu sendiri karena orang tua yang selalu berpikiran negatif terhadap guru anak tadi. Sehingga anak yang cerdas tak mendapatkan keberkahan dari guru karena orang tua yang berpikiran jelek terhadap guru sang anak."


Jelas Laila masih mengipas kayu bakar yang ada di tungku agar api bisa hidup dengan besar.


"Keberkahan itu OPO toh mbak?"


Laila duduk di sisi Bu Minah.


"Keberkahan itu adalah sesuatu yang kita lakukan dan di yakini jika menghasilkan kebaikan maka termasuk berkah."

__ADS_1


"Berarti yo sama dengan syirik lah Neng klo mengharap berkah dari guru. Lah guru itu kan manusia biasa?"


Laila akhirnya meletakkan batu ulekan yang dari tadi ia pegang untuk menggiling cabe.


"Jangan sampai salah mengartikan berkah Bu. Sebagai contoh, kalau Bu Minah sakit. Kira-kira Bu Minah akan langsung menghadap Allah kah untuk berobat?"


"Yo mati dong kalau menghadap Allah langsung. Hehehe..." Bu Minah tersenyum simpul.


Laila menahan tawanya karena jawaban spontan Bu Minah.


"Memang hanya Allah yang bisa memberikan kesembuhan untuk kita yang sakit. Namun tetap kita butuh usaha untuk sembuh dengan lantaran sesuatu. Contohnya berobat atau minum obat. Allah selalu menampilkan wasilah atau perantara. Seperti Allah mengingatkan kita manusia yang dulu tersesat dan musyrik. Allah mengutus Rasulullah sebagai perantara untuk memberi hidayah pada kita manusia. Tidak langsung Allah mengingatkan kita. Begitupun konsep Keberkahan tadi, adanya perantara." Jelas Laila.


Laila pun memindahkan hasil gilingan cabe nya tadi ke dalam piring.


"Jadi sama halnya dengan yang memberikan kita kecerdasan adalah Allah, tetapi lewat perantara buku dan seorang guru. Maka jangan sampai kita melupakan wasilah (perantara), meski sudah cerdas."


Bu Minah semakin ingin tahu. Karena sebentar lagi anaknya akan tamat SD.


"Lalu, bagaiamana biar anak tidak salah di tempat belajar?"


Laila menghela napas nya pelan.


"Itu pentingnya orang tua mencari tahu dulu Bu, siapa guru tempat mencari ilmu itu. Kalau kita di pesantren biasa disebut sanadnya. Kadang orang tua Sekarang lebih melihat ke bentuk bangunan tempat mencari ilmu tadi. Megah, mewah, anaknya tidur dan hidup tidak prihatin karena mewahnya tempat itu. Namun ternyata pemilik lembaga itu tidak pernah mempelajari ilmu agama kepada alim ulama, dan tidak pernah berguru pada ulama yang diakui sanadnya."


"Memang ada neng tempat pesantren seperti itu?" Tanya Bu Minah bingung.


"Ada Krena sekarang banyak lembaga pendidikan yang didirikan, dan ternyata yang mendirikan atau mengasuh bukan dari kalangan jelas gurunya siapa, sanad keilmuan nya bagaimana. Atau mirisnya tidak pernah menimba ilmu di pondok manapun. Maka itu butuh kita bertanya pada Ulama yang memahami hal ini. Lembaga pendidikan mana yang bisa menjadi rujukan untuk anak kita belajar agama. Tentunya harus sama dengan kita. Jangan sampai ibu dan bapak suka maulidan, anaknya ibu pulang dari pondok, orang tua malah di bid'ah-bid'ahkan. Hehehe...." Jelas Laila begitu detail.


Laila dan Rohim pun mulai merasa khawatir karena sudah mendapatkan kabar dari beberapa teman mereka di Jawa dan daerah lain akan satu paham ideologi yang baru masuk ke Indonesia. Dimana paham ideologi itu mulai masuk ke lembaga pendidikan yang tidak mengakui Pancasila sebagai dasar negara.


Padahal pendiri bangsa Indonesia dahulu bersama para ulama juga tidak main-main merumuskan Pancasila sebagai dasar negara. Dimana Pancasila merupakan wujud dari nilai-nilai Islam. Karena di dalamnya terkandung tauhid, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.

__ADS_1


Dengan sederhana, dapat disimpulkan bahwa Pancasila merupakan asas kaum beragama di Indonesia dalam merajut kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu pun membuat Rohim dan Laila mulai mendirikan banyak majelis, kegiatan dimana untuk memperkuat rasa cinta umat Islam tidak hanya pada agamanya, pada Allah, pada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam di desa Sumber Sari. Dan juga pada bangsa Indonesia.


__ADS_2