
Suatu sore, salah seorang santri dari Umi Laila datang menemui sang guru. Santri itu bernama Lukman. Ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Santri Kyai Rohim itu menundukkan kepalanya. Ia begitu takhdim pada Umi Laila. Maksud hati ingin bertemu Kyai Rohim. Namun suami Umi Laila tersebut sedang menghadiri undangan walimah salah seorang teman di kota.
"Ada apa Luk? Nanti Umi sampaikan. Kamu sudah tiga kali kemari." Ucap Umi Laila seraya menenangkan Mida yang menangis.
Namun Furqon tiba-tiba datang dan duduk disebelah Uminya. Anak sulung umi Laila tersebut tak menghiraukan jika ada tamu atau tidak. Ia sedang kesal karena saat dikelas, ia mengaji bersama para santri-santrinya Kyai Rohim yang sudah sampai ke Al Qur'an. Sehingga membantu mengajarkan anak-anak yang TPQ.
"Mi... Masa', aku disalahkan sama mbak Ayu. Lah kemarin loh aku ngaji sama Abi. Kata Abi cara ku melafazkan huruf ﺹ ." Protes Furqon seraya membuka kitabnya.
Lukman masih menundukkan kepalanya. Ia tak berani ikut berbicara. Karena adabnya. Walau keseharian, ia sering bermain dengan Furqon.
"Mana coba Umi lihat dan dengar." Ucap Umi Laila yang masih menggendong dan menepuk-nepuk punggung Mida.
Furqon pun melafazkan huruf ﺹ tersebut.
"Yo sudah benar. Mbak Ayu kan belum paham sampai ke tahap seperti Abi. Dimana setiap orang itu beda-beda. Mbak Ayu loh, ga sadar." Ucap Umi Laila.
"Sadar apa Mi?" Tanya Furqon.
"Nanti Umi bilang. Sekarang, bantu Umi dulu. Ini adiknya ditunggu dulu. Umi mau ngobrol dengan Mas Lukman." Ucap Laila.
Furqon pun mengikuti Umi Laila ke dalam rumah. Ia menunggu Mida yang tertidur setelah di gendong oleh Umi Laila. Setelah meninggalkan Mida bersama Furqon. Umi Laila bergegas ke arah teras yang biasa digunakan untuk menyambut tamu-tamu yang setiap hari selalu saja datang.
__ADS_1
"Jadi ada apa Luk?" Tanya Umi Laila.
Lukman terlihat menggenggam tangannya. Sedikit menunduk tanda ia minta izin menyampaikan maksudnya.
"Jadi begini Mi, Saya lagi bingung. Ibu dan Bapak minta saya berhenti mondok. Saya disuruh mondok di Jawa. Katanya disana lebih bagus pendidikannya. Tapi saya sudah terlanjur nyaman disini Mi. Saya bingung." Ucap Lukman dalam menyampaikan kegundahan hatinya.
Umi Laila tersenyum. Ia sangat paham kegundahan sang santri. Ibu dari Lukman memamg salah satu santri yang paling sering memprotes masalah tempat tidur dan makan santri-santrinya. Maka wajar jika kenaikan kelas sebentar lagi, akan dijadikan proses Ibu Lukman memindahkan anaknya ke pondok pesantren lain.
"Luk... Orang tua mu berjasa. Karena tanpa Ibu dan Bapak. Lukman tidak mungkin sehat dan cerdas seperti saat ini. Bahkan Islam menaruh hormat pada orang tua." Ucap Laila.
Lukman masih dengan menundukkan kepalanya. Ia meremas sarungnya.
"Tapi bukankah Islam juga memberikan tempat hormat untuk guru yang juga telah mendidik kami Mi. Saya bingung. Saya mencintai dan hormat sama Abi. Tetapi kalau saya menolak keinginan Ibu dan Bapak. Khawatir saya jadi anak durhaka." Ucap Lukman.
"Andai Abi mendengar ini Bi... Sungguh Abi berhasil mendidik santri mu Bi." Batin Laila.
Ibu Furqon tersebut menatap wajah Santrinya yang tak berani memandang wajah guru nya jika tak diizinkan.
"Lukman. Sungguh dengan kamu pergi ke pondok pesantren yang diinginkan orang tua mu. Maka itu salah satu kebanggaan Umi dan Abi. Bukankah selama disini, kamu tidak diajarkan untuk menjauhi orang tua mu. Tetap jaga perasaan orang tua mu Nak. Jika memang beliau menginginkan kamu ke pondok pesantren yang insyaallah lebih baik dari sini." Jelas Laila pada Lukman.
Dengan masih menunduk, Lukman kembali meminta pertimbangan gurunya walau ia harus menuruti kemauan orang tua.
__ADS_1
"Umi. Bapak dan ibu belum menentukan Pondoknya. Saya minta saran umi untuk pondok pesantren nya. Setidaknya saya berangkat mencari ilmu ke pondok pesantren lain itu bersama doa dan restu Umi dan Abi." Ucap Lukman pelan.
Kembali Umi Laila dibuat salut. Pemikiran yang begitu bijaksana dari bocah SMP. Kebahagiaan mana dari seorang guru, selain melihat anak didiknya bisa memiliki akhlak yang baik.
Laila pun memberikan beberapa pilihan untuk sang santri yang akan berangkat ke pulau Jawa karena permintaan orang tuanya.
Satu bulan setelah itu. Lukman betul-betul berangkat ke Jawa. Bukan Laila jika tidak bersikap penuh keibuan. Ia bersilaturahim ke rumah Lukman. Satu hari sebelum Lukman berangkat. Ia memberikan satu amplop pada sang santri. Saat kepulangan sang guru. Betapa kedua orang tua Lukman merasa malu. Amplop itu sengaja di berikan Lukman pada Ibunya. Betapa kaget sang ibu ketika membuka amplop tersebut yang berisi 500 ribu. Disaat harga beras masih 5ribu satu kilo.
Itulah Laila. Ia tahu, bahwa semua makhluk di muka bumi ini selalu ingin dicintai. Salah satu wujud cinta yang memberi. Manusia akan begitu terharu ketika diberi oleh makhluk Allah. Tetapi mereka lupa pada yang memberi nikmat setiap hari. Nikmat oksigen, nikmat sehat, nikmat berkumpul keluarga, nikmat masih bisa beribadah dengan tenang.
Laila memberikan 'sangu' atau uang jajan untuk Santrinya yang akan mencari ilmu. itu wujud cintanya pada sang santri. Ia begitu mencintai santrinya. Bahkan santri yang menyimpang pun menjadi beban pikiran Umi Furqon itu.
"Ada apa Mi?" Tanya Abi Rohim ketika sang istri tampak mengendap-endap di malam hari setelah shalat isya.
"Ssssstttt. Nanti Umi ceritakan." Ucap Umi Laila pada sang suami yang ternyata membuntuti sang istri.
Rohim pun mengikuti sang istri yang ndepipis di dekat tembok pagar masjid. Satu dinding yang menghubungkan bangunan masjid dengan kamar atau ruangan Santriwati.
Umi Laila dan Abi Rohim melihat seorang perempuan berkerudung yang juga keluar dari WC dan mengendap-endap. Perempuan berkerudung itu adalah santriwati yang mondok di Kali Bening. Tetapi tidak 24 jam. Ia hanya mondok ketika dari waktu Maghrib hingga waktu Shubuh.
Laila gemetar memegang tembok. Ingin sekali ia menghampiri Santriwati itu. Namun Rohim melarangnya.
__ADS_1
"Tunggu dulu. Nanti dulu. Abi tahu apa yang Umi pikirkan." Ucap Rohim.