LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
77 "Laila Untuk Kang Rohim"


__ADS_3

Kabar bahagia sore hari itu datang kepada Umi Laila dan Abi Rohim. Laila yang baru saja pulang dari Bu bidan. Ia sudah telat satu bulan. Kehamilannya disambut bahagia dengan sepasang suami istri itu. Bukan hanya itu saja yang membuat Laila merasa bahagia. Satu kebahagiaan lainnya adalah tabungannya untuk pergi Umroh bersama Rohim sudah cukup.


Namun apa hendak di kata. Disaat hati yang begitu ingin menginjakkan kaki di tanah Mekkah itu, kabar mengejutkan datang dari Munir. Adik Abi Rohim itu yang sekarang tinggal seorang diri karena kedua orang tua Abi Rohim sudah hampir satu tahun lalu meninggal dunia. Rohim pun yang tampak bingung cukup menikmati rokoknya. Ia pun sedikit mengingat satu kejadian seminggu yang lalu.


Flashback On.


"Kang. Aku ingin melamar seseorang." Ucap Munir siang itu.


Rohim tersenyum. ia senang mendengar kabar itu. Namun ada rasa sedikit resah dalam hatinya. Adiknya baru saja selesai wisudah. Namun ia belum bekerja. Ia masih melamar kesana kemari. Ia yang punya prinsip ingin dan harus bekerja sesuai dengan bidangnya, maka mau tak mau ketika ada lowongan pekerjaan lain. Munir tak mengambil kesempatan itu.


"Lah memangnya siapa gadis itu?" Tanya Rohim.


"Dia teman kampus ku dulu. Sekarang dia sudah bekerja di perusahaan. Banyak lelaki yang menyukainya kang. Aku khawatir kalau aku menunggu sudah memiliki pekerjaan. Aku malah terlambat. Aku juga akhir-akhir ini tidak tenang kalau tidur. Apalagi kalau. ketemu dia pas di pengajian Kak Laila. Aku salah tingkah." Ucap Munir.


Munir paham tatapan dan senyuman khas Kakaknya. Ia yang belum bekerja. Dan baru saja biaya cukup besar yang dikeluarkan oleh Umi Laila dan Abi Rohim untuk tesis dan wisudanya. Kini sang adik minta di nikahkan.


"Ya sudah, kapan mau kesana?" Tanya Rohim


"Besok, Kang. Aku sudah mengirim pesan padanya. Dia mengatakan orang tuanya ada dirumah." Ucap Munir mantap.


Rohim pun mengamini niat adiknya. Ia memikirkan jika memang jodoh, toh nanti ketika menikah Allah akan berikan adiknya rezeki tinggal bagaimana sang adik ikhtiar menjemput rezekinya tadi. Namun yang membuat Abi Rohim sedikit gelisah. Saat tiba di kediaman gadis pujaan hati Munir. Dari rumah gadis itu. Terlihat jika gadis itu orang yang cukup berada atau mampu dalam hal ekonomi.


Rohim menemani adiknya dan menyampaikan isi hati dan maksud tujuan mereka ke kediaman gadis yang bernama Nuaima. Namun Rohim pun dibuat kagum dengan dua pertanyaan dari Nuaima pada Munir kala itu.


"Apakah Mas Munir pernah pacaran? Dan kedua apakah Mas Munir ada niat untuk poligami setelah menikah?" Tanya Nuaima pada Munir. Saat ayahnya menyerahkan pada Nuaima keputusan untuk menerima atau menolak.


Dan tentu saja Munir menjawab tidak.Karena ia selama ini memang tak pernah pacaran. Untuk poligami ia bukan lelaki yang bisa berpoligami. Pesan ibunya ketika semasa hidup, membuat ia tak berniat untuk poligami. Belum lagi nama baik kakaknya yang juga ulama cukup di segani di kota dan kabupaten yang sekarang ia tempati.


Karena semenjak kedua orang tuanya telah tidak. Munir akhri nya memilih ikut tinggal di pondok pesantren yang diasuh Rohim. Dan tak perlu dua kali. Nuaima sebenarnya juga sudah mengenal nama dan sosok Munir. Lelaki manis berkulit sawo matang. Ia terkenal di kampus dengan kepintarannya dan kesederhanaan juga baik hati.


Munir awalnya ragu ingin melamar Nuaima namun apa hendak di kata. Rasa cinta pada pujaan hati membuat ia melawan kata gantinya dan beberapa ucapan skeptis yang memandang rendah dirinya terlebih menertawakan niat Munir yang ingin melamar Nuaima, gadis cantik, putih, cerdas dan salah satu mahasiswa yang bekerja paruh waktu di salah satu perusahaan besar.

__ADS_1


Maka setelah diterimanya niat baik Munir dan Abi Rohim. Kedua orang tua Nuaima meminta agar proses pernikahan bisa disegerakan dua bulan kemudian. Dan sepanjang perjalanan Rohim hanya diam membisu. Ia tak mungkin membiarkan hati adiknya yang sedang berbunga-bunga itu layu disaat mekar.


Saat adiknya akan wisudah. Tabungan istrinya untuk ziarah ke pulau Jawa pun harus ia ambil dan sang istri haru rela tak bisa tahun itu mengikuti ziarah bersama para alumninya.


"Hhhh... Kamu pasti tetap memberikan mimpi mu untuk niat baik adik ku ini dik...Tapi aku rasanya sedih dan tak tega..." batin Abi Rohim.


Flashback off.


Malam harinya. Saat Furqon sibuk mengusap perut ibunya. Sulung Umi Laila itu tampak bahagia dan sangat menanti kehadiran adik ke tiganya.


"Besok adiknya perempuan apa laki-laki Mi?" Tanya Furqon.


Laila mengusap lembut kepala anaknya.


"Belum tahu. Lelaki atau perempuan. Sama saja. Itu rezeki dari Allah. Furqon harus sayang sama adik-adiknya. Dan harus bantu Umi dan Abi menjaga adiknya ya?" Tanya Umi Laila.


Furqon pun mengangguk. Alya yang sedang bermain boneka cepat mengomentari berita Umi nya akan punya anak lagi.


Umi Laila tersenyum.


"Aamiin... Laki-laki perempuan besok mudah-mudahan semua anak-anak Umi bisa bantu Umi dan Abi merawat pesantren ini Ya...." Ucap Laila.


Laila memang selalu berkomunikasi dengan putra dan putrinya dengan gaya dan bahasa seperti orang dewasa. Agar hal itu pun menumbuhkan kedewasaan dalam diri anaknya.


Saat malam kian larut. Ketiga anaknya sudah tertidur. Mida yang sedikit rewel meminta tidur diatas betis sang ibu. Sehingga Laila tampak mengambil bantal dan Ia letakkan di atas kakinya. Lalu sang anak tertidur di kedua kakinya. Tampak kaki Umi Laila bergoyang sehingga tubuh mungil Mida seperti diayun. Beberapa menit, Mida pun tertidur.


Rohim yang baru akan mengangkat anaknya dicegah oleh Laila.


"Jangan Bi... biar sampai betul-betul nyenyak. Sepertinya mau tumbuh cacar, jadi agak rewel. Khawatir membangunkan Alya kalau Mida bangun lagi." Pinta Umi Laila.


Romin pun melihat gurat lelah pada wajah sang istri. Ia duduk di sisi sang istri. Ia pijat lembut pundak sang istri.

__ADS_1


"Ndak Usah Bi... istirahat saja. Abi sudah seharian ini mengajar dan cari nafkah." ucap Umi Laila.


Abi Rohim tetap memijat istrinya. Ia pun mulai mengutarakan isi hatinya.


"Kemarin itu Orang tuanya Nuaima minta proses pernikahannya dua bulan lagi Mi." Ucap Abi Rohim.


Laila menarik tangan suaminya.


"Abi pasti merasa tak enak hati jika Munir harus menikah disaat dia belum bekerja?" Ucap Laila.


Rohim pun membuka baju kokonya dan mengganti dengan baju kaos. Ia duduk di sisi istrinya.


"Masa' kali ini tabungan mu untuk Umroh di ambil. Kemarin sudah tabungan buat ziarah..." Ucap Rohim sambil mengusap rambut Mida yang tertidur lelap di kaki istrinya.


"Abi ini, sama adik sendiri. Dik Munir itu mau tidak mau tanggungjawab kita setelah ibu dan bapak Ndak Ada. Termasuk menikahkannya. Harusnya Alhamdulilah ada jodoh yang mau menerima Dik Munir apa adanya. Apalagi katanya Nuaima sudah tahu kalau Munir belum bekerja." Ucap Laila.


"Apa tak jual motor ku saja ya Mi?" Tanya Rohim.


"Dijual juga ga cukup Bi. Masa' tega kita kasih seserahan asal dan sembarangan dengan gadis seperti Nuaima. Ku dengar dia menerima Munir hanya karena Dik Munir tak pernah pacaran dan tak mau poligami. Disamping itu, Nuaima itu disela-sela kesibukannya. Ia masih aktif hadir di majelis ilmu." Ucap Laila.


"Jadi?" Tanya Rohim.


"Jadi, besok kita ke kota. Biar Abi saja yang berangkat Umroh tahun ini. Umi nanti saja. Toh Umi masih hamil muda. Uang umroh untuk Umi kita gunakan untuk biasa lamaran sampai ijab." Ucap Laila.


Rohim pun mengenang kembali saat ia pertama bertemu istrinya. hingga terucap satu kalimat yang membuat hati Umi Laila merasa bahagia.


"Betul kata kang Mukidi dan Abah mu dulu Mi. Laila itu untuk Kang Rohim.... Ndak membayangkan kalau perempuan lain yang jadi pendamping hidup ku... Apa bisa se sabar, seikhlas dan sedewasa kamu Mi. Baik untuk Agama maupun untuk keluarga." Ucap Rohim yang sudah memindahkan tubuh mungil Mida ke Sisi sang istri.


Sungguh jodoh itu adalah cerminan diri. Begitu pun Laila Untuk Kang Rohim. Karena Jika Kang Rohim tak berniat berjuang untuk agama Allah. Mungkin istrinya pun tak memiliki karakter dan niat yang sama. Namun Laila dari semasa Gadis memang perempuan yang mencintai keluarga, dan begitu ingin menjadi orang yang berilmu dan ilmu yang ia miliki bermanfaat untuk orang banyak. Sehingga kesamaan visi misi dalam hidup membuat mereka bertemu atau berjodoh.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2