LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
Mukidi Melamar lagi


__ADS_3

Mukidi yang dari tadi menunggu pak Toha pulang akhirnya merasa lega karena pak Toha pulang tepat pukul 12 malam. Saat sudah sepi Mukidi beringsut mendekati Rohim.


"Kang." Ucap Mukidi setengah berbisik.


Ia tak ingin Imam yang masih membaca sebuah kitab dan duduk tak terlalu jauh dari mereka mendengar apa yang akan ia sampaikan.


"Ada apa. Kok serius sekali." Ucap Rohim.


Mukidi pun mengatakan kegundahan hatinya. Satu bulan ini ia jatuh hati pada gadis yang sedang KKN di desanya. Beberapa mahasiswa pertanian sedang KKN di desanya selama satu bulan. Mukidi yang memang membuka sebuah usaha jasa ketik dan print, membuatnya sering bertemu dengan salah satu mahasiswi yang cukup cantik.


Mukidi yang sering bermain komputer Rohim dulu, membuatnya mengikuti pelatihan BLK yang diadakan kabupaten nya. Ia akhirnya mendapatkan modal untuk membuka usaha setelah selesai mengikuti kursus selama satu bulan.


Akhirnya Ia memiliki dua komputer dan satu printer yang ia jadikan usaha di rumah. Ia pun bisa seharian fokus di depan komputer. Ia bahkan sering merekam kegiatan bertani. Dan yang tanpa ia sadari. Ia menggunggah video-video miliknya ke channel YouTube nya untuk dijadikan simpan. Pada tahun sekitar 2008 an sungguh masih belum banyak orang mengerti internet.


Namun Mukidi yang belajar di ibukota kabupaten ternyata mendapatkan ide dari seorang pembimbingnya untuk merekam sesuatu seperti tutor. Apa saja kegiatan, lalu simpan di YouTube. Ia pun belajar cara membuat akun juga cara menguploadnya. Ia memang harus ke ibukota untuk meng-upload karena di desanya belum stabilnya jaringan internet.


Rohim yang melihat sekarang tubuh sahabatnya itu terlihat lebih bersih dan sedikit putih. Karena ia jarang ke kebun dan jarang bermain bola.


"Lancar usahanya kang?" Tanya Rohim.


"Alhamdulilah kang. Kang, saya ini sedang jatuh hati sama Gadis yang sedang KKN. Tapi saya bingung. Mau jujur tapi kok malu." Ucap Mukidi pelan.


"Loh kenapa ga PD kang?" Tanya Rohim penasaran.


"Lah iya toh kang. Saya cuma wong ndeso. Lah dia wong kota juga mahasiswa. Takut patah hati lagi saya kang." Ucap Mukidi pelan.


"Takut di tolak?" Tanya Rohim sambil berusaha menangani kantuknya.


"Iya. Tapi kok kalau tidak diungkapkan saya bingung. rasanya sesak di dada." Ucap Rohim sambil memegangi dadanya.


Rohim pun sedikit terkekeh. Ia selalu bisa tertawa ketika bersama Mukidi. Sahabatnya itu selalu berbicara dengan dirinya menggunakan bahasa biasa dan sering bercanda. Sedangkan kebanyakan masyarakat kadang berbicara dengan dirinya penuh kehati-hatian dan juga selalu menggunakan bahasa Jawa yahh begitu halus. Ia kadang merasa salah tingkah sendiri.


"Alhamdulilah kalau sampeyan sudah bisa merubah kriteria. Karena cari istri itu susah memang kang kalau kriterianya banyak." Jelas Rohim.


"Betul, aku sekarang nyari yang sholat nya rajin, terus yang penting ngadep sholatnya ke arah barat... tapi itu yang susah itu cari yang mau sama saya. " ucap Mukidi cepat


Rohim kembali tertawa mendengar statement teman nya yang begitu spontan.


"Lah tadi katanya ada yang cocok."


Rohim merebahkan tubuhnya di tikar yang terbuat dari bambu. Mukidi pun melakukan hal yang sama.


Dua sahabat yang bertemu justru karena kenakalan Mukidi kini justru sangat menikmati waktu-waktu bersama kala penatnya satu hari mencari nafkah.


Mukidi bermaksud melamar langsung mahasiswi itu. Namun Rohim mengatakan, kemungkinannya ditolak. Lebih baik datangi langsung orang tuanya daripada pacaran lagi nanti gagal lagi kecewa lagi.

__ADS_1


"Lah apa ya diterima kalau ga ngomong sama dianya Kang?" Tanya Mukidi pelan.


"Kita coba dulu. Saya temani bila perlu." Ucap Rohim.



Keesokan harinya, Mukidi yang akrab dengan mahasiswa KKN itu membantu mencarikan mobil untuk mereka kembali ke kota. Mereka telah selesai melakukan KKN di desa Kali Bening. Dan Mukidi menyopir mobil Pak Toha yang di sewa oleh Mahasiswa dan mahasiswi itu untuk kembali ke kota.



Mukidi menghapal rumah dan alamat pujaan hatinya. Ia mencatat nomor rumah juga beberapa beberapa ciri-ciri rumah Ajeng. Saat ia pulang sore harinya. Ia langsung menemui Rohim. Ia mengatakan jika ia sudah mendapatkan alamat Ajeng. Sehingga ketika pukul 5 sore mereka berangkat ke kediaman Ajeng.



Mereka sempat istirahat di sebuah masjid untuk shalat Maghrib, baru kemudian melanjutkan rencana mereka kerumah Ajeng. Tiba di sebuah rumah yang seperti komplek perumahan yang bentuknya hampir mirip semua. Mukidi berbekal nomor rumah dan ciri-cirinya.



"Ini kang, nomor 9 dan ada banyak kembang mawarnya." Ucap Mukidi dengan yakin.



Akhirnya mereka memasuki pekarangan rumah itu. Tak lama pintu di buka oleh seorang lelaki paruh baya yang mengenakan sarung dan kopiah hitam membuka pintu.




"Maaf apakah anak saya kemarin ada masalah di desa kalian?" Tanya ayah Ajeng.



"Tidak Pak. Justru kami kemari berharap putri bapak menjadi warga Kali Bening." Ucap Rohim pelan.



Mukidi tak berani sepatah katapun. Ia khawatir di tolak. Ia berani melamar Ajeng karena mahasiswi itu selama KKN selalu meminta bantuannya mengetik laporan dan kegiatan mereka. Dan selama mereka mengobrol Mukidi merasa ada kecocokan. Juga ketika Mukidi menyindir perihal pacar. Ajeng ternyata tak memiliki pacar. Ia tak boleh ayahnya berpacaran.



Ketika kembali Mukidi menyinggung perihal kriteria. Ternyata tak ada kata tampan dan mapan yang Ajeng harapkan. Perempuan itu berharap bisa punya suami yang bisa mandiri dan tidak mengandalkan orang lain juga sabar. Maka hal itu juga yang membuat dirinya yakin mengikuti perkataan Rohim untuk langsung menemui ayahnya saja daripada menanyakan pada Ajeng.



Ketika Rohim menyatakan maksud dan tujuan mereka ke kediaman Ajeng. Ayah mahasiswi jurusan pertanian itu melongo tak percaya. Ia menatap wajah Mukidi beberapa saat.

__ADS_1



"Kita sepetinya pernah bertemu ya. Tapi dimana, saya tidak asing dengan wajah Nak Anwar ini." Ucap Ayah Ajeng.



Mukidi melihat ke arah Ayah Ajeng. Ia akhirnya baru berbicara. Ketika memperkenalkan diri belum selesai. Ayah Ajeng sudah memotong pembicaraan Mukidi.



"Tunggu... Tunggu... suara Nak Anwar ini seperti tidak asing. Logatnya... Apa Sampeyan ini yang punya channel YouTube Cah Ndeso?" Tanya ayah Ajeng.



Mukidi tersenyum lebar.



"Iya pak. Itu akun saya. Kok bapak tahu?" Tanya Mukidi penasaran.



"Masyaallah.... " Seketika wajah lelaki itu terlihat kaget juga bahagia.



"Bu.... Bu...." Panggil ayah Ajeng pada istrinya.



Tak lama muncul seorang ibu-ibu paruh baya yang sedang terlihat menggunakan mukena.



",Ada apa Pak?" Tanya ibu itu.



"Ini... Ini idola kita. Ini yang buat kita bisa melunaskan hutang kita kemarin." Ucap lelaki itu.



Mukidi dan Rohim saling lirik. Mereka tak mengerti apa yang dimaksud. Tiba-tiba Ajeng muncul dari dalam membawa nampan yang berisi minuman.


__ADS_1


'


__ADS_2