LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 48 Laila dan Rohim


__ADS_3

Tepat pukul 10 pagi, terdapat tiga mobil pick up masuk ke pekarangan masjid Nurul Iman. dibelakang mobil itu terdapat banyak penumpang. Dari anak remaja dan orang tua. Ayu dan kedua orang tuanya pun ada diantara rombongan mereka.


Laila yang sedang menyimak bacaan Lulu sedikit mengangkat kepalanya. Ia melihat banyak orang yang sedang mengarah ke rumahnya. Orang tua Ayu pun menyalami Laila. Ayu dan Laila yang terbiasa menemani Laila di rumah, mereka dengan sigap ke dapur memasak air dan membuatkan minuman untuk para tamu dadakan Laila.


Beruntung di depan rumah Laila telah di pasang seperti tenda oleh Mukidi dan teman-teman. Itu ia buat untuk memudahkan mereka ketika akan mengobrol di kediaman Rohim. Karena mengingat rumah Rohim sudah banyak santriwati perempuan.


Jadi para tamu Laila itu duduk di teras menggunakan kursi kayu panjang. Ayu dan Lulu muncul membawa kan minuman dan beberapa toples kerupuk ubi. Beberapa pasang mata melihat adab Ayu dan Lulu ketika menyerahkan minuman kepada mereka.


"Ckckckkck.... Bisa berubah begini anaknya Pak Slamet. Anakku juga bisa, kalau anak pak Slamet yang dulu bandel saja bisa." Batin seorang ibu yang dari kemarin sibuk memaksa anaknya untuk mondok di kediaman Laila. Laila pun menerima tamunya dengan mengobrol biasa. Sampai pada Pak Slamet mengutarakan tujuan kurang lebih ada 15 orang tua yang datang kesana untuk memondokkan anaknya.


Sehingga hari itu hampir 50 orang tamu Laila dari desa Pak Slamet datang. Mereka ingin anak mereka seperti Ayu. Pandai membaca Alquran, sopan dan cekatan dengan segala pekerjaan di rumah. Laila tertegun dan melihat banyaknya anak yang datang.


"Waduh, saya tidak berani memutuskan. Nanti saja. Tunggu suami saya pulang. sebentar lagi beliau pulang." Ucap Laila.


Salah seorang orang tua pun bertanya.


"Boleh tidak Bu kami melihat kondisi tempat tinggalnya?" Tanya salah satu dari mereka.


Laila pun tersenyum mengangguk. Ayu pun mengantar beberapa ibu-ibu melihat kondisi Kediaman Laila. Kembali disini orang tua diuji, ada beberapa orang tua langsung mengurungkan niatnya ketika melihat kondisi kamar Ayu dan teman-temannya. Melihat kondisi kamar mandi yang berada terpisah dari rumah. Belum lagi kondisi satu rumah dengan guru mereka.


"Kalian tidurnya disini? Rame-rame? apa tidak sumpek?" Tanya seorang ibu berkerudung biru.


Ayu masih menundukkan pandangannya. Ia menjawab sopan pertanyaan ibu itu.


"Alhamdulilah tidak Bu lek." jawab Ayu pelan.


Namun beberapa ibu dari anak-anak yang akan mondok hanya sibuk melihat Ayu dan Lulu. Mereka tidak perduli dengan bentuk fisik bangunan itu. Mereka lebih fokus dari hasil didikan Laila dan Rohim.

__ADS_1


Bagaimana Ayu dan Lulu yang manja, keras kepala, pemalas bisa berubah 180°. Belum lagi ketika membaca Alquran bisa fasih, juga mereka telah mendengar jika Pak Slamet mengatakan bahwa dua anaknya sedang fokus hapalan Qur'an. Baru hapal satu juz.


Maka saat Rohim pulang. Mereka ada yang langsung menyerahkan anak mereka pada Rohim. Ada pula yang mengatakan tidak jadi, mau berbicara di rumah dulu. Cara halus mereka untuk mengatakan tidak jadi. Hal itu karena kondisi fisik bangunan Kediaman Rohim.


Rohim pun selalu menyambut tamunya dengan ciri khasnya. Senyumnya, ia selalu tersenyum.


"Ya bapak dan ibu lihat sendiri kondisi tempat tinggal saya. Di bilang pondok pesantren ya rasanya belum pantas. Mungkin lebih cocok di bilang pondok. Lah Wong saya disini cuma numpang kok. Ini bukan punya saya. Kalau memang mau menitipkan anaknya sekarang saya rasa belum bisa. Saya harus menambah kamar. Sedangkan sudah cukup sempit. Saya harus musyawarah dengan jama'ah masjid. Karena saya disini cuma numpang di tanah masjid." Ucap Rohim pelan.


Ia selalu seperti itu. Ia sadar, tanah yang ia tempati sekarang adalah milik masjid Nurul Iman. Dan di masjid itu ada jamaah dan kepengurusannya. Ia tak ingin langsung menjawab iya. Karena untuk menambah kamar otomatis kembali menambah lahan Masjid ia gunakan untuk keperluan dirinya dan muridnya.


Akhirnya mereka pulang lebih dulu. Mereka akan datang satu bulan lagi. Saat sore harinya, Laila dan Lulu juga ayu sebagai santri yang paling dewasa membantu Laila menyiapkan makan sore. Mereka sibuk masing-masing. Ada yang menanak nasi, ada yang menyiapkan sayur. Ada yang sibuk dengan cabe dan bawang.


Namun bisik-bisik dari kakak beradik itu terdengar oleh Laila yang masih sedikit kesusahan untuk duduk membenarkan kayu bakar. Karena perutnya yang kian membesar.


"Hihi... Bu lek tadi pasti tidak tega membiarkan anaknya tinggal kayak kita. Lah wong dirumahnya kayak perempuan. Apa-apa disiapkan." Ucap Ayu pelan sambil memetik sayur.


Lulu pun tersenyum.


Laila pun mendekati Kedua kakak beradik itu.


"Kalian lebih beruntung dari Mbak. Dulu mbak pertama kali mondoknya ditengah hutan. Mbak santri pertama. Bahkan setiap hari mbak saat sore hari membantu Bu nyai membelah bambu hanya karena belum adanya santri yang dewasa. Tidur juga beralaskan tanah." Seketika wajah Laila berubah sendu.


"Berarti mbak Laila lebih susah dari sekarang mbak? Katanya mbak mondok di Jawa dulu." Ucap Ayu masih menundukkan kepalanya.


"Mbak pertama mondok di dua desa sebelah. Sekarang Kyai nya sudah meninggal dan Bu Nyai nya juga. Lalu baru ke Jawa. Itulah kenapa Mbak suka bilang sama kalian, jangan lupa kirim Al Fatihah untuk guru-guru. Bukan berarti mbak ingin dianggap guru. Tetapi mbak ingin kalian diberikan keberkahan dengan mudahnya mencari ilmu. Kadang ada orang cerdas tapi sulit menerima dari gurunya, karena kurang adab dengan gurunya. Juga Tawassul atau mengirim bacaan Al Fatihah untuk guru-guru kita."


Laila merasa bahwa ia dulu bukan anak yang pintar. Namun semenjak ia mondok di malam hari dan terus ikhlas belajar ia merasa setiap hari ada kemudahan untuk mempelajari banyak hal. Hingga ia bisa mendapatkan beasiswa sampai jenjang S1. Ia tak merasa sedih walau ia tak jadi pegawai, ia bersyukur karena kini ilmunya bisa ia berikan pada anak-anak didiknya.

__ADS_1


Karena ia ingat pesan gurunya untuk terus memberikan ilmunya pada masyarakat. Atau tetap mengaji walau tak lagi mondok.


Malam harinya, Rohim mengutarakan maksudnya untuk menambahkan kamar ke arah depan rumahnya. Namun ada beberapa Jama'ah masjid tidak setuju.


"Kenapa tidak bangun yang permanen langsung di sisi kanan masjid. Lahan Masjid kan masih luas. Kenapa harus di belakang masjid." Ucap bapak itu.


Rohim terdiam, ia tak berani kembali berbicara. Jika untuk membangun sebuah gedung baru dan permanen. Ia tak punya uang. Akhirnya para jama'ah pun memutuskan diperbolehkan untuk menambah kamar. Saat bubar dari rapat itu, Pak Toha pun mengusulkan pada Rohim.


"Kenapa tidak coba buat proposal? nanti aku bantu kasih ke beberapa pemerintahan." Ucap Pak Toha.


Rohim menjawab sopan dan Suaranya cukup pelan.


"Saat ingat betul kata guru saya dulu Pak Toha. Saya rasa muridnya dulu baru gedungnya. Dan sementara ini saya rasa tempatnya masih cukup."


Akhirnya malam itu Rohim kembali mengatakan pada istrinya bahwa ia memiliki sedikit uang untuk membangun ruangan kamar dan menambah WC untuk calon santri baru. Kembali tabungan pribadi milik sepasang suami istri itu mereka gunakan untuk keperluan peserta didiknya. Uang yang Laila rencananya untuk membeli motor Rohim yang sekarang sering rusak.


"Buat bangun kamar dulu ya Dik. Kasian orang tua anak-anak tadi sepertinya semangat." Ucap Rohim sambil menatap buku tabungan yang di simpan istrinya.


Laila betul-betul istri dan ibu yang hati-hati urusan keuangan. Ia tak ingin dirinya dan sang suami juga anaknya makan uang yang tak seharusnya mereka makan. Bahkan di lemari kuning kamar mereka, terdapat empat buku tabungan. Satu milik mereka pribadi, dua milik masjid Nurul Iman, ketiga milik jama'ah ibu-ibu pengajian Al Barzanji yang di dirikan Laila. dan yang keempat buku tabungan khusus ke 12 santri yang akan mengirim untuk anak-anaknya.


Belum lagi satu toples yah akan terisi amplop yang Rohim dapatkan dari orang-orang yang memintanya tolong. Uang amplop itu biasanya digunakan untuk keperluan masyarakat yang tertimpa musibah.


Keesokan harinya, Laila merasakan akan melahirkan. Rohim yang tak ada dirumah. Laila hanya seorang diri. Anak-anak telah pergi ke sekolah. Putri bungsu Abah Ucup itu berjalan pelan menuju rumah bidan. Ia berkali-kali menghubungi Rohim. Namun tak berhasil, Saat ada di depan masjid. Tiba-tiba saja penglihatannya mulai gelap.


Ia bersandar di pagar masjid. Tepat saat ia akan jatuh, Mukidi dan Bu Sri yang baru akan ke ladang berhenti mendadak.


"Di... berhenti Di... Itu Neng Laila kenapa."

__ADS_1


"Tiiiiinnnn...."


Suara klakson motor baru Mukidi berhenti mendadak. Ia yang gugup tak sadar jika jempolnya memencet klakson.


__ADS_2