
Rohim datang ke kediaman Mukidi bersama Laila. Tiba di kediaman Bu Sri, Rohim mengetuk pintu kamar Mukidi. Namun tak ada jawaban. Kembali Rohim mengetuk pintu dan sambil memanggil nama Mukidi.
"Tok.... tok.... tok....."
"Kang..... Kang...." Panggil Rohim pelan.
Tak ada jawaban, namun pintu terbuka. Mukidi membuka pintu namun kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Ia berbaring dengan posisi tengkurap. Rohim masuk kedalam kamar Mukidi, ia duduk di tikar yang berada di sebelah kasur Mukidi. Kamar Mukidi tidak dilengkapi dengan ranjang. Hanya ada kasur dan tikar juga sebuah lemari kecil di sudut ruangan.
"Sampeyan ini kenapa?" Tanya Rohim pada sahabatnya.
Ia dan Laila adalah orang yang terlalu sibuk untuk melakukan kemanfaatan sampai gosip tentang Mukidi tak jadi menikah karena di tinggal pergi calon istrinya sudah menyebar ke seluruh pelosok Sumber Sari. Namun Rohim dan Laila belum mendengar berita itu. Mukidi masih tengkurap, ia membenamkan kepalanya di bantal kapuk miliknya.
"Kang.... " Rohim menyentuh lengan Mukidi.
Mukidi tak menjawab juga tak merubah posisinya. Kembali Rohim mengajak sahabatnya itu berbicara
"Ngakunya Cinta Rasul. Lah kok tidurnya Begitu." Suara Rohim sedikit pelan namun cukup tegas. Rohim pun mengeluarkan rokoknya dan sebuah korek kayu dari dalam kantongnya.
"Ayo bangun, merokok dulu." Ajak Rohim pada Mukidi.
Rohim melirik ke arah Mukidi sambil menyulut rokoknya.
"Rasulullah itu Ndak suka loh kang posisi tidur begitu. Sampeyan lupa apa kalau posisi tidur yang bagus adalah tidur dengan bertumpu pada bagian kanan tubuh dengan menghadapkan wajah dan tubuh bagian depan ke arah kiblat." Ucap Rohim masih menikmati rokoknya dan melirik ke arah Mukidi.
Terlihat Mukidi menggeser tubuhnya. Ia pun memiringkan tubuhnya ke arah Rohim atau tepatnya menghadap ke kanan.
Mukidi yang tadi tidur dengan bertumpu pada wajah (tengkurap).
__ADS_1
"Saya mana ingat kang klo tidur tengkurap itu makruh dan cara tidurnya setan." Ucap Mukidi yang terlihat kusut. Ia pun segera duduk.
Ia mengambil satu buah rokok dan menghidupkannya. Ia menikmati rokok itu. Cukup masam mulutnya karena beberapa hari ini ia tak menikmati sebatang rokok pun karena hati yang hancur. Ditinggal sang kekasih hati, hati yang sakit karena di kecewakan.
Juga malu pada semua orang bahwa ia lelaki yang malang. Ditinggal minggat oleh calon istri disaat pesta pernikahan tinggal menghitung Minggu. Rohim masih menikmati rokoknya. Ia masih tenang.
"Ada apa?" Tanya Rohim.
Mukidi melirik ke arah pintu yang setengah terbuka. Ia menutup pintu itu, lalu ia pun kembali ketempat duduknya. Ia sedikit mendekati Rohim.
"Sampeyan pura-pura tidak tahu atau cuma mau menghibur ku?" Ucap Mukidi sedikit berbisik.
Rohim langsung menoleh ke arah sahabatnya.
"Saya Ndak tahu kenapa. Tadi Ibu mu kerumah bilang kamu tidak keluar-keluar kamar dari kemarin." Ucap Rohim.
Mukidi pun menarik napasnya dalam.
"Masalahnya apa sampai begitu? Yang bikin kamu sakit hati itu apa? dan siapa?" Tanya Rohim yang kembali menghidupkan satu batang rokok.
Mukidi menceritakan kepada Rohim apa yang terjadi. Ia menceritakan isi hatinya sambil berlinang air mata. Bahkan ia bercerita ingin mencari lelaki yang membawa lari calon istrinya itu. Bukan untuk kembali pada Maya tapi ingin menghajar Lelaki yang telah menorehkan rasa malu di keluarganya.
"Bukan soal uang kang. Tapi soal kehormatan Mak e dan aku sebagai lelaki. Rasanya harga diri ku di injak-injak. Sakit kang." Ucap Mukidi sambil berkali-kali memukul dadanya.
Rohim pun membuka jendela kamar Mukidi karena ruangan terasa pengap. Ia Kembali duduk di tempatnya semula. Ia menjadikan sebuah botol bekas minuman kaleng menjadi asbak.
"Nanti itu akan ada jembatan kang. Dimana akan menjadi tempat saling mengadili kedzaliman di antara orang Mukmin di dunia ini. Ini justru dilakukan kita sesama Mukmin bukan orang kafir. Contohnya saya, bisa jadi Sampeyan menganggap saya ini alim, banyak pahalanya. Belum tentu, ketika saya berada di jembatan itu dan banyaknya orang yang dulu di dunia ini saya sakiti, saya fitnah, saya bicarakan di belakang mereka, semua amal ibadah saya di dunia bisa runtuh karena diambil oleh orang yang saya zalimi, yang saya sakiti, yang saya gosipkan."
__ADS_1
Rohim membuka kopiahnya. Ia menyadarkan punggungnya ke dinding. Ia beberapa kali mengurai rambutnya.
"Nanti itu di jembatan itu, kita saling mengadili. misal ada yang akan berkata pada kita 'ketika kita pernah menyakiti manusia yang mukmin ia akan meminta pahala kita. Jadi pahala kita mau sebanyak apapun di dunia ini bakal runtuh kalau banyak yang minta keadilan karena kita sering menyakiti mereka selama di dunia. Jadi begitu modelnya. Pahala orang yang menyakiti itu diambil, dikasihkan kepada orang yang disakiti." Jelas Rohim sambil menikmati rokoknya.
Mukidi juga terlihat mendengar apa yang dijelaskan Rohim pada dirinya.
"Termasuk orang kayak sampeyan juga kang?" Tanya Mukidi.
"Ya iya. Siapapun. Makanya repot kang sebenarnya kita berurusan dengan namanya manusia. Lebih gampang sama Allah. Karena sudah jelas Allah Maha Pengampun. Lah kalau manusia? Kadang ada yang sampai mau skaratul maut pun masih menyimpan rasa sakit pada orang yang pernah menyakitinya. Nah itu bakal panjang utusannya kang."
Mukidi terdiam, ia merasakan sakit hati pada Maya dan juga lelaki yang membawa kabur calon istrinya.
"Kenapa saya kok susah sekali untuk menemukan jodoh ya kang?" Keluh Mukidi.
"Bukan susah kang, tapi belum ketemu dan mungkin yang sampeyan lamar memang bukan jodoh Sampeyan. Lah wong yang sudah nikah saja bisa cerai. Berpikir positif, mungkin jodohnya sampeyan lagi menyiapkan diri agar pantas menjadi pendamping hidup Sampeyan." Jelas Rohim pada Mukidi.
Mukidi mengusap wajahnya beberapa kali.
"Lah kok ya lamaran saya diterima kalau dia mau cari yang tampan? harusnya dari awal saja ditolak. Masih mending ditinggal menikah Unet, lah ini semua orang pasti sedang menggunjing saya dan Mak e karena berita ini." Ucap Mukidi pelan.
"Hidup itu jangan minta dinilai orang lain Kang. Mereka hanya mahluk. Sedih dan malu kalau kita di rendah di mata Allah. Yakinlah Allah sudah menyiapkan jodoh untuk sampeyan. Sekarang kerjakan saja kewajiban sampeyan, sebagai hambanya, sebagai anak, sebagai mahluk sosial. Kalau sampeyan mengurung diri begini, malah membuat orang tua Sampeyan bertambah sedih." Rohim pun mematikan rokoknya yang tinggal sedikit.
Mukidi merenungkan apa yang Rohim katakan. Ia jadi memikirkan perkataan Ibunya saat beberapa hari setelah lamaran. Ibu nya berbicara pada Laila di dapur saat akan masak untuk acara lamara. Namun Mukidi mendengar jelas apa isi hati ibunya.
"Aku kok Ndak sreg dengan calon Mukidi Neng. Lah wong pakaiannya itu seksi, terus orangnya cantik begitu. Khawatir nanti Mukidi ga kuat bimbing atau kuat modalin istri nya yang cantik begitu. Tapi mau ngomong sama Mukidi kok ga tega."
Laila saat itu hanya menyarankan pada Bu Sri untuk mendoakan yang terbaik untuk Mukidi. Karena setiap rencana terbaik Manusia, maka Hanya Allah yang berhak mengeksekusi hasilnya. Seperti Mukidi, begitu cinta dengan calon istri, sang calon istri pun menyukai Mukidi karena terlihat sisi kesabaran dari Mukidi yang bisa menghadapi dirinya. Namun karena Jodoh Mukidi bukan Maya, maka ada salah satu skenario yang Allah tetapkan untuk hambanya.
__ADS_1
Tinggal hambanya berpasrah akan setiap musibah hingga menjadi lebih dekat pada Rabbnya, atau malah semakin menjauh dan menyalahkan sang pencipta atas setiap musibah yang menimpa dirinya. Seperti apa yang menimpa Mukidi, membuat Pria yang menyukai sepak bola itu lebih memilih pasrah pada takdir dari Allah untuk kisah hidupnya. I tak jadi mencari Maya dan lelaki itu. Ia lebih memilih bersabar dan biarlah Allah yang akan mengerti rasa hatinya saat disakiti oleh makhluk yang ada dimuka bumi ini.
.