
Pagi hari saat terjaga, Furqon yang semalam tertidur di kamar santri putra, ia melihat Ayra di sisi Rahmi. Ia duduk di sisi Ayra, pipi gembul Ayra membuat ia gemas. Saat ia mencium pipi tersebut, bayi mungil Nuaima dan munir itu terjaga. Umi Laila yang baru masuk ke kamar, ia cepat menggendong Ayra.
“Mi, Ayra kesininya kapan?” Tanya Furqon pada Umi Laila.
“Semalam, Furqon. Nak, Furqon di rumah sama mbak Ayu dan Lulu ya. Umi dan Abi harus pergi ke Sragen.” Ucap Umi Laila.
“Nginap Mi?” Tanya Furqon melihat tas yang ada disisi tempat tidur.
“Iya nak, Umi dan Abi harus kesana. Bu Le dan Pak Le mu semalam meninggal dunia.” UCap Umi Laila getir.
Entah kenapa setiap mengingat bahwa Nuaima dan Munir telah tiada, hatinya selalu merasa sedih. Apalagi setiap memandang wajah Ayra. Furqon pun seketika memandang wajah Ayra cukup lama. Setelah bayi itu tenang, Umi Laila meletekkan kembali di tempat tidur. Buah jatuh tak jauh dari pohon, sebuah kiasan yang bisa disematkan untuk Furqon. Ia memiliki hati yang lembut sama seperti kedua orang tuanya. Sulung Umi Laila itupun mendekati Ayra. Ia usap kepala Ayra. Air mata dari bocah SD itu pun mengalir di kedua pipinya.
“Berarti Dik Ayra adalah anak yatim piatu sekarang….” Ucap Furqon.
Umi Laila yang dari tadi mencoba menahan tangisnya. Kini ia duduk di hadapan Furqon. Furqon yang duduk diatas tempat tidur, sehingga posisi sulung Umi Laila itu lebih tinggi dari ibunya. Tangan Furqon digenggam oleh Umi Laila, satu tangan Umi Laila mengusap pipi putranya.
“Furqon… Abi pernah ceritakan kisah mereka yang mencintai anak yatim piatu?” UCap Umi Laila.
Furqon mengangguk, ia usap pipi Umi Laila yang terdapat sisa air mata.
“Ingat Umi, kenapa Umi menangis?” Tanya Furqon karena ia jarang melihat ibunya itu menangis.
Bahkan saat di caci oleh orang yang tak suka dengan dirinyapun, Umi Laila masih bisa tersenyum bahkan merangkul orang tersebut karena Umi Laila menganggap orang tersebut lebih tua dari dirinya.
__ADS_1
“Furqon sendiri kenapa menangis?” Tanya Umi Laila pada sulungnya.
“KAsihan Ayra, apa nanti dik Ayra akan tinggal di panti asuhan?” Tanya Furqon yang justru mencemaskan nasib sepupunya.
“Belum tahu, nanti bagaimana setelah pulang dari sragen. Furqon berapa hari ini dirumah dulu ya. Jaga adik-adik. Umi Cuma bisa ajak dik Rahmi dan Ayra.” UCap Umi Laila seraya tersenyum.
Furqon mengangguk.
“Tungguin adiknya dulu, Umi mau ke dapur.” Ucap Umi Laila.
“Nggeh Mi,” Ucap Furqon.
Namun saat kepergian Umi Laila ke dapur, Rahmi yang sudah bisa berjalan satu dua langkah. Putri bungsu Umi Laila itu berjalan menuruni kasur. Furqon mengikuti adiknya berjalan ke arah keranjang baju.
“Nan…Nan…”Ucap Rahmi cedal.
“Adik ingin mainan?” Tanya Furqon.
Tak ada jawaban namun tangan bocah itu telah meraih keranjang mainan. Furqon menggendong Rahmi. Ia dudukan adiknya disisi tempat tidur. Ia keluarkan mainan balok-balok yang terbuat dari plastik, namun ia sudah melihat Ayra sudah berbalik. Putri Nuaima itu pun menatap Furqon dan tersenyum.
“Dik Ayra mau mainan juga?” Tanya Furqon.
Ayra justru berguling kembali dan berguling hingga berada di tepi tempat tidur. Furqon cepat menghalangi adik sepupunya itu dengan guling. Ia berikan satu mainan yang biasa di mainkan oleh Rahmi.
__ADS_1
“Eh… eh… pintar ya. Sudah bisa guling-guling. Ini, adik Ayra main ini dulu ya. Mbak Rahmi, Adik Ayra pinjamin satu ya…” Ucap Furqon.
Rahmi yang baru berusia 18 bulan tampak berjalan mendekati Ayra, melihat tangan Rahmi yang terangkat. Furqon cepat menahan tangan adik bungsunya.
“Eit… Ndak boleh dik… Abi sama Umi bilang kita tidak boleh menyakiti saudara kita. Apalagi Dik Ayra ini sekarang yatim piatu loh…” UCap Furqon berbicara seperti menirukan gaya Abi Rohim ketika menasehati anak-anaknya.
Furqon menggendong adiknya. Ia memberikan mainan yang lain pada Rahmi, sehingga perhatian adiknya teralihkan ke mainan yang baru. Seraya memeluk tubuh Rahmi, Furqon menatap Ayra.
“Mas Furqon akan menyayangi kamu Dik, sama seperti adik-adik, Mas. Mas ingin disayang Rasulullah, Umi bilang nanti di akhirat Rasulullah akan sangat dengan dengan mereka yang menyayangi anak yatim. Semoga nanti kamu bisa tinggal disini ya Dik.” Ucap Furqon menatap Ayra yang dari tadi merasa gemas dengan benda yang ada di tangannya, sebuah benda bundar berwarna pink. Saat ia gigit benda itu namun tak bisa karena elastis.
Umi Laila yang baru akan masuk kamar terhenti di depan pintu, ia mendengar ucapan Furqon.
‘Umi juga berharap hal yang sama Nak.’ Batin umi Laila yang bersandar di dinding kamarnya.
“Ada apa?” Bisik Abi Rohim yang juga bersandar di dinding tepat di sisi Umi Laila. Istri Rohim itu tersenyum.
“Abi sepertinya harus berusaha mewujudkan keinginan Furqon dan Umi.” Bisik Umi Laila.
Kedua alis Abi Rohim tertaut mendengar Umi Laila mengatakan hal itu. Umi Laila pun menarik lengan suaminya sehingga sedikit berada di bibir pintu kamar. Abi Rohim melongo ke dalam kamar, tampak Furqon membenarkan posisi Ayra dan kembali ke arah Rahmi. Ia pasangkan jilbab Rahmi dan Ia ke cup kepala Rahmi pelan.
“Nanti kalau dik Ayra jadi tinggal disini, Mas Furqon tidak akan beda-bedakan kalian kok. Nanti Di Sragen jangan rewel ya Dik….” Ucap Furqon seraya memasangkan jilbab hijau tosca yang terdapat pita di sisi kanannya.
“Semoga orang tua Nuaima mengizinkan kita merawat Ayra. Karena, Umi tahu sendiri. Orang tua Dik Nuaima secara ekonomi jauh diatas kita. Abi khawatir mereka tak memberikan izin.” Ucap Abi Rohim.
__ADS_1
“Kita tunjukan SMS dari Nuaima Bi jika mereka keberatan.” Ucap Umi Laila penuh harap.
Abi Rohim pun mengangguk. Ia akan mengutarakan perihal hak asuh Ayra pada Pak Aji dan Bu Evi ketika setelah proses tujuh hari. Pagi itu mereka berangkat ke Sragen. Furqon dan kedua adiknya pun ia terpaksa tinggalkan bersama mbak-mbak santri. Karena membawa Rahmi dan Ayra yang kini juga menyu su padanya tentu sudah cukup repot. Belum lagi disana akan diadakan proses pengiriman doa untuk almarhum Munir dan Nuaima.