LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 23 Munajat Cinta Seorang Ibu


__ADS_3

Saat siang menjelang sore hari di masjid Nurul Iman. Mukidi kaget karena kran pada air wudhu terbuka. Maka air terlihat mengalir. Dan saat ia melihat ke bak penampungan air wudhu. Ia menepuk dahinya.


"Ini pasti bocah main air. Kerannya tidak ditutup lagi."


Ia pun mengambil kunci rumah Rohim dari kantongnya. Saat ia masuk kedalam rumah ia pun melewati kamar Rohim. Rohim yang tadi membuka tirai karena sang istri berkeringat dan merasa kepanasan, hal itu membuat Mukidi berhenti di depan kamar.


Ia melihat ke dalam kamar yang juga sering menjadi tempat tidurnya kala ia baru-baru berteman dengan Mukidi. Bahkan dikamar itu ia pernah menikmati rokok yang hanya tinggal sebatang bersama Rohim. Mereka menghisap rokok itu bergantian. Karena saat itu hari telah larut malam dan tak ada warung yang masih buka.


Mukidi bersandar pada kusen pintu kamar yang belum dan daunnya itu.


"Ah... masa iya kamu pengantin baru tidur di kasur itu kang. Kasur yang juga pasti ada bekas iler ku." Ucap Mukidi berbicara sendiri.


Ia ingat betul di saat bulan ramadhan. Jika ia tak pulang disaat Rohim membaca Al Qur'an di masjid ia yang kadang lelah bermain Onet, akan tidur di kamar Rohim dan di kasur sahabatnya. Dan sahabat akan tidur di atas karpet atau tikar.


Mukidi pun berlalu, ia menghidupi air. Sambil menunggu bak penampungan air penuh. Ia yang iseng membuka beberapa buku atau kitab di rak buku yang terdapat di sisi kanan meja komputer. Terdapat selembar kertas dari dalam sebuah kita jatuh. Selembar kertas itu seperti brosur namun tulisannya berwarna hitam putih.


..."Seorang murid tidak bisa memperoleh ilmu, kecuali orang yang mengagungkan ilmu dan menghormati orang-orang yang berilmu yakni para alim ulama....


...**Muliakanlah ulama karena mereka adalah pewaris para nabi. Barangsiapa yang memuliakan mereka, sungguh ia telah memuliakan Allah dan Rasul-Nya”....


...(Hadits ini diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi bersumber dari Jabir**.)...


Mukidi pun sampai tiga kali membaca pada paragraf yang terdapat penggalan kalimat itu. Ia duduk di atas kursi. Ia membayangkan sosok Rohim. Hampir empat tahun mereka dekat, kadang tidur bersama. Bahkan Mukidi bisa mengerjakan shalat, terbiasa makan dengan nampan atau lesehan bersama Rohim. Ia juga mendapatkan banyak beberapa ilmu hanya dengan duduk sambil minum kopi atau mengobrol di kamar Rohim sambil menikmati rokok hingga pagi tiba. Dari kisah-kisah nabi atau sahabat beliau. Ia yang tak pernah mondok, dan tak duduk di majelis taklim tapi mendapatkan ilmu dari Rohim tanpa ia sadari.


Mukidi termenung karena membaca kalimat itu.


"Kang Rohim itu orang berilmu, apa aku ini kurang menghormati Kang Rohim ya jadi susah sekali belajar tajwid?"


Mukidi memang sedikit kesusahan belajar membaca Al Qur'an dengan ilmu tajwid yang benar. Dari berapa majelis taklim yang di buat oleh Rohim. Mukidi hanya mengikuti yang belajar membaca Al Qur'an di saat setelah Isya.


Saat air bak penuh, Mukidi pun kembali masuk kedalam rumah Rohim. Ia mematikan mesin air yang ada di dalam rumah.


Saat tiba dirumahnya, Mukidi melihat ibunya yang sedang akan mengangkat kasur yang baru saja di jemur. Ia setengah berlari ke arah Ibunya.


"Sini Mak. Biar aku saja."

__ADS_1


Bu Sri hanya menatap punggung Mukidi. Anak satu-satunya itu hampir satu tahun ini jauh berubah. Mukidi lebih lembut dalam berbicara, bersikap pada dirinya. Terlebih anak nya itu tak perlu repot di suruh jika ia sedang sibuk. Anaknya akan dengan senang hati membantu dirinya. Entah apapun kesibukan itu.


Hal itu tentu tidak lepas dari peran Rohim sebagai sahabat yang selalu di sela-sela perbincangan dengan Mukidi hampir setiap malam. Ia selalu berkisah tentang orang-orang yang mencintai ibu, orang-orang yang dimuliakan Allah karena mencintai, menghormati ibu.


Namun hari ini Allah membuka pintu hati Mukidi tanpa lewat Rohim. Ia yang dari tadi membaca selembar kertas tentang keutamaan mencintai, melayani mereka yang berilmu. Membuat ia pun resah. Karena selama ini ia sering sekali bercanda bahkan menganggu Rohim. Bahkan ia pernah mengerjai Rohim. Jam di kamar Rohim ia putar lebih cepat satu jam Sehingga Rohim pun kebingungan saat akan adzan.


Tiba di dalam rumah, Mukidi duduk di dapur. Ia membuka tudung Nasi. Terlihat batu ulekan yang berisikan cabe rawit berserta bawang putih yang telah di giling bersama garam lalu di beri minyak jelantah. Dan sepiring tahu juga tempe.


Mukidi pun makan dengan lahap. Ibu nya membuatkan kopi sang anak. Bu Sri selalu membuatkan kopi anak lelakinya itu karena sudah terbiasa. Jika dulu sang anak akan membentak jika minta dibuatkan kopi. Namun hampir satu atau dua tahun ini Bu Sri dengan senang hati membuatkan minum sang anak.


Hal itu karena sang anak yang juga menunjukkan cinta pada sang ibu, menunjukkan kepatuhan dalam sehari-hari. Maka sang ibu juga memberikan kasih sayangnya lewat hal-hal yang membuat anak nya juga senang.


Saat duduk di dekat pintu dapur. Bu Sri pun mengangkat kompor nya. Ia akan mengganti sumbu pada kompor yang telah pendek. Mukidi yang baru saja makan sambil menikmati rokok pun melarang Ibunya untuk melakukan itu.


"Wes Mak. Nanti biar aku yang ganti sumbunya. Mak Istirahat saja. Atau mau mandi. Karena sebentar lagi adzan Mak." Ucap Mukidi pada sang ibu.


"Yo wes, kamu yang istirahat saja. Sudah seharian di masjid." Jawab Bu Sri.


Ia tak tahu jika di masjid sang anak jika telah menyapu dan mengepel masjid, ia akan bermain game di ruangan kecil di bagian belakang masjid.


"Wes sini tak bantu Mak."


Bu Sri hanya pasrah. Ia menatap Mukidi yang berkeringat karena baru saja makan nasi dengan menu favoritnya yaitu sambal cabe rawit dan tempe goreng.


Mukidi yang dari tadi memikirkan Rohim yang baru menikah, ia kasihan melihat sahabatnya yang baginya adalah seorang guru.


"Mikir opo toh Di?" Tanya Bu Sri melihat anaknya menghela napas berkali-kali walau kompor dengan mudah di ganti sumbunya.


"Mikir Kang Rohim Mak." jawab Mukidi sambil menarik sumbu kompor yang baru menggunakan tang.


"Lah kok mikir pengantin baru. Kamu mau nikah juga begitu?"


Mukidi tersenyum pada Bu Sri.


"Mana ada yang mau sama anak Mak e ini. Sudah hitam, pemalas, miskin pula Mak." Jawab Mukidi masih fokus dengan sumbu kompor yang jaya pada masa masanya.

__ADS_1


"Duh Gusti..... berikan jodoh untuk anak ku yang mencintai dirinya dengan tulus, dan bisa membahagiakan anak ku seperti dia sekarang selalu membahagiakan aku..." Batin Bu Sri dalam hatinya masih menatap sang anak.


Selesai membersihkan dan mengganti sumbu kompor. Mukidi pun mengangkat kompor itu kembali pada tempatnya.


Mukidi Kembali menikmati kopinya.


"Mak, Mak punya simpanan uang ga?" Mukidi bertanya pada Bu Sri sambil menikmati kopinya.


"Lah memangnya untuk apa? Kemarin kamu Mak kasih pas sudah panen katanya buat Mak saja."


Bu Sri menarik kursi dan duduk di hadapan Mukidi.


"Jadi begini Mak. Besok itu kang Rohim akan pulang. Nah tadi pas aku menghidupkan mesin air. Kasihan betul Mak. Kasurnya, masih kasur bekas Mak. Mana cukup buat satu orang. Kasihan Mak."


"Memangnya Abah Ucup dan istrinya ndak bawakan kasur?"


"Ya Ndak tahu Mak. Tapi kalau melihat Neng Laila itu, ya sebelas dua belas sama kang Rohim. Ga bakal ngomong kalo ga ditanyakan. Lah kemarin itu loh kang Rohim sampe mau berobat saja minjam uang ku. Padahal ia kan pengantin baru Mak."


Bu Sri pun manggut-manggut.


"Rohim itu dari pertama datang ke desa ini sampai sekarang ga berubah-ubah ya begitulah. Ya ngomongnya, cara berpakaiannya. Badannya."


"Jadi Mak punya uang ga? aku pinjam dulu lah Mak. Buat beli kasur kang Rohim sama beli tiga lembar papan dan kayu. Itu kamarnya kang Rohim belum ada pintunya Mak."


Bu Sri yang merasakan jika anaknya banyak berubah akibat bergaul dengan Rohim. ia juga kasihan kondisi Rohim akhirnya berinisiatif membuka celengannya.


Ia pergi ke kamar dan kembali dengan sebuah buku yang disana terdapat banyak uang di selipan buku tersebut.


"Ini rencana Mak mau beli kursi untuk ruang tamu klo lebaran nanti. Tapi Mak rasa Rohim lebih butuh. Mungkin cukup klo buat beli kasur dan Papan. Ndak usah di balikin. Wes buat bantu Rohim." Jelas Bu Sri.


Mukidi melongo tak percaya. Ibunya itu akan mengomel tak sudah-sudah jika sudah urusan uang. Ini sang ibu dengan sukarela memberikan uang nya untuk membeli kasur dan papan.


Namun di dalam hati ternyata ibunya sedang mencoba ikhtiar mengharapkan anaknya menjadi anak Sholeh melalui shodaqoh yang ia niatkan untuk sang anak. Hal itu tak disadari Bu Sri karena ia tak pernah mengikuti pengajian. Namun hati dan dirinya sedang menerapkan salah satu hal disaat orang memiliki hajat. Yaitu Bersedekah atau menyedekahkan harta. Sedangkan niat Mukidi tanpa ia sadari ia sedang ingin memuliakan orang berilmu atau guru bagi dirinya.


"Semoga anak ku jadi anak yang Sholeh Gusti. Semoga anak ku besok juga ketemu jodoh yang baik sifatnya. Kabulkan Gusti...." Munajat Bu Sri dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2