LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
EPISODE 50 Isi Hati Lulu 1


__ADS_3

Saat selesai menanak nasi untuk makan siang. Bu Sri dan Bu Toha mengajak Furqon ikut ke pengajian ibu-ibu yang biasa diadakan Laila satu Minggu sekali.


"Siang ini saya akan menceritakan apa yang terjadi setiap hari di kediaman Laila tidak seperti yang beredar di masyarakat." Ucap Bu Toha.


Bu Sri pun setuju. Ia juga sudah gerah dengan ibu-ibu yang sering mengomentari anak-anak yang tinggal bersama Laila tak diurus dengan baik. Padahal dari segi makan. Ternyata Rohim dan Laila akan makan setelah santri nya sudah makan semua. Dan hampir setiap hari menu selalu di ganti. Dan yang beredar di masyarakat, anak-anak santri di berikan sayur yang selalu di hangatkan.


Maka siang itu setelah selesai membaca Yasin dan tahlil bersama-sama. Bu Toha mengeluarkan semua isi hatinya, di saat acara belum ditutup. Ia menceritakan bagaimana Sosok Laila yang sering di gosipkan tidak becus mendidik anak santrinya. Anak-anak tidak cukup makan sampai sering jajan di luar.


Dengan berlinang air mata Bu Toha mengungkapkan isi hatinya.


"Ayo ibu-ibu. Hari ini saya saksi hidup. Bagiamana Neng Laila itu mengurusi anak-anak itu. Bukan tidak diurus. Bukan tidak dikasih makan, tapi memang anak-anak itu masa pertumbuhan. Maka seberapa pun Laila masak. Mereka masih ingin makan diluar! Fitnah jika Laila tak merawat anak-anak itu. Saya saksinya. Hari ini saya melihat sendiri dan merasakan bagaimana menjadi Laila." Ucap Bu Toha sambil berkali-kali menepuk dadanya sambil air mata terus mengalir dari sudut matanya.


Ia sebenarnya selama ini ingin membela Laila namun Laila selalu mengatakan. 'Jika tak perlu membenarkan nama baiknya. Sebuah kebenaran akan muncul sendiri tanpa harus kita sibuk membenarkan apa yang menjadi fitnah. Karena kelasnya Kyai besar atau ulama besar saja akan mendapatkan kritik, fitnah apalagi dirinya yang hanya guru ngaji'. Maka ucapan Laila itu membuat Bu Toha selalu menahan bibirnya untuk membela Istri Rohim itu.


Kembali ia mengeluarkan isi hatinya.


"Saya tidak sanggup kalau jadi Laila. Jadi mungkin kita ini susah belajarnya karena sering menggunjing Laila, sering memfitnahnya sehingga sulit sekali hati kita menerima ilmu yang ia berikan pada kita. Ayo ibu-ibu jangan sampai kita kehilangan orang seperti Laila dan Rohim. Sulit menemukan orang seperti mereka di zaman sekarang." Suara tangis Buk Toha membuat sebagian ibu-ibu ikut menangis.


Mereka tak menyangka jika selama ini mereka telah salah sangka pada Laila. Merasa jika Laila memanfaatkan kehadiran anak-anak yang tinggal bersama mereka untuk mengambil biaya hidup. Padahal Laila dan Rohim betul-betul hati-hati sekali. Mereka tak berani menganggu uang yang dikirim orang tua anak-anak itu untuk keperluan dirinya atau Rohim.

__ADS_1


"Coba di pikir. Di hitung. Sudah berapa tahun Rohim di masjid kita? Dan saya istri dari takmir masjid. Melihat sendiri di anggaran masjid, tidak ada biaya buat marbot masjid. Dan selama ini kita bisa shalat beribadah di masjid dalam keadaan bersih, WC nya wangi. Itu semua yang melakukan Rohim. Itu tak ada bayarannya. Dia bahkan makan mencari biaya hidup sendiri dari hasilnya berkebun." Kembali Isak tangis Bu Toha pecah.


Selama ini selalu saja ada omongan miring tentang Rohim dan Laila. Terkait masjid yang dianggap kurang bersih. Pintu masjid yang sering rusak karena ada banyaknya anak didik Rohim dan Laila.


Mereka terdiam, Bu Toha pun akhirnya mengajak para ibu-ibu agar senantiasa menjaga lidah dan bibir mereka dari menggunjing terlebih orang berilmu seperti Laila saat tidak tahu kebenarannya. Selama ini ibu-ibu hanya berbicara dengan landasan 'katanya' yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.


Berita Laila masuk rumah sakit terdengar oleh Pak Slamet. Dan ia pun pergi ke Sumber Sari. Tiba di sumber Sari, ia malah bertemu Mukidi yang menjaga di dekat kamar santri putra. Karena Untuk di rumah Rohim itu di tunggu oleh Bu Toha dan ibunya.


Mereka berbincang-bincang hingga pak Slamet memberi tahu jika ia membawa uang dari beberapa orang yang kemarin ingin memondokkan anaknya di sana. Mukidi akhirnya terpikirkan untuk menggunakan serkiler. Karena ia berpikir dengan banyaknya anak yang belajar dengan Rohim. Maka desanya juga ikut harum karena memiliki orang berilmu seperti Rohim dan Laila.


Ia malam itu juga membuat proposal dan ia meminta pak Toha menjadi panitia kegiatan pembangunan Pondok Pesantren Untuk Rohim. Sungguh efek dari nasihat Bu Toha siang tadi memberikan pemahaman pada ibu-ibu. Maka Mukidi dan teman-temannya mendapatkan dana yang begitu banyak saat keliling atau serkiler.


Orang berilmu pun akan begitu sulit mentransfer ilmunya di suatu tempat tanpa sambutan positif dari lingkungan. Sumber Sari memberikan respon positif akan dua orang yang berilmu dibidang agamanya. Rohim dan Laila. Keesokan harinya Rohim pulang untuk melihat kondisi Anak-anak didiknya dan juga Furqon. Namun belum sampai di rumah, ia dikagetkan akan banyak tumpukan material bangunan. Karena ada beberapa tumpuk pasir, koral dan batu bata di sisi kanan masjid.


"Siapa yang mengantar bahan itu Nduk?"


"Kang Mukidi dan Pak Toha sepertinya kang. Semalam."


Bu Toha yang berada di dapur mendengar suara Rohim cepat ke arah depan.

__ADS_1


"Furqon lagi tidur Him. Oya itu kemarin Bapak dan Mukidi mengadakan serkiler dan sepakat membangun tempat untuk kamu dan anak-anak tinggal. Rasanya rumah ini tidak layak kalau di huni kamu dengan santri-santri mu." Jelas Bu Toha.


Bu Sri yang tadi mendengar suara Rohim. Ia keluar dari dapur sambil membawa satu cangkir kopi.


"Ngopi Dulu Di. Laila sama siapa?" Tanya Bu Sri.


Rohim terdiam. Ia pun masuk sebentar ke kamarnya. Lalu kembali ke arah dapur. Ia duduk di amben (semacam bangku tapi berbentuk bangku panjang terbuat dari kayu). Ia menceritakan kondisi Laila yang masih harus di rawat karena mengalami gangguan saraf pasca melahirkan. Bu Sri dan Bu Toha pun menangis mendengar kabar itu.


Dan dua kakak beradik yang sudah menganggap Laila seperti ibunya ikut bersedih. Terlebih Lulu, ia sampai menutup mulutnya agar suara tangisnya tak terdengar oleh Rohim dan dua orang perempuan paruh baya yang telah menemani mereka beberapa hari selama Laila tak ada.


Rohim pun kembali ke kota. Ia pulang karena mengambil emas yang Laila simpan. Mau tak mau ia harus menjual emas itu untuk biaya selama perawatan Laila. Karena tabungannya sudah ia ambil untuk biaya operasi Laila. Kembali sepasang suami istri itu tak ingin berkeluh kesah pada makhluknya. Mereka hanya mengadu pada Gusti Allah.


Begitupun gurunya dalam bersikap, itu juga yang dilakukan anak didik Laila. Lulu semalaman menangis karena mendengar bahwa perempuan yang selama ini begitu sabar mendidiknya, begitu telaten mengajari mereka Adab, akhlak dan membaca Alquran, kini di berikan cobaan.


Ia yang berusaha mengulang hapalannya. Tak mampu tidur. Ia melihat ke lima temannya sudah terlelap. Mereka berenam tidur satu kamar. Dan hanya menggunakan kasur busa, sedangkan Lulu lebih nyaman menggunakan tikar. Karena baginya ia lebih cepat bangun ketika mendengar suara pintu kamar Laila terbuka saat menjelang shubuh.


Karena tak bisa tertidur, Lulu mengambil dua lembar kertas yang ia sobek di bagian tengahnya. Ia menuliskan huruf Arab di bagian paling atas kertas. Dan tanpa ia sadari tetesan air matanya membasahi kertas itu. Ada rasa rindu di hati Lulu pada sosok lembut, penuh kasih sayang dan juga tegas yang tak lain adalah Laila.


"Hiks... Hiks....Mbak Laila."

__ADS_1


Tangan Lulu bergetar kala ia menulis satu kalimat di selembar kertas yang ingin ia jadikan alat mengungkapkan isi hatinya.


Bersambung....


__ADS_2