
Suasana Kali Bening cukup sepi. Hari baru saja hujan deras. Beberapa warga yang biasa duduk di depan rumah atau pos kamling. Malam itu tak ada yang menikmati malam dingin di luar rumah. Sebuah mobil hitam berplat kota memasuki desa Kali Bening.
Mobil itu tampak bingung mencari rumah sesepuh atau yang biasa dipanggil Mbah Palil. Saat sopir mobil itu berhenti di warung kopi. Ia bertanya pada beberapa penikmat kopi di warung tersebut.
"Maaf Pak, permisi. Saya numpang tanya. Rumah Pak Palil dimana ya?" tanya Pria yang terlihat berpakaian santai itu.
"Oh Mbah Palil maksudnya?" Tanya sang pemilik warung.
"Iya yang biasa ngobatin orang." Ucap lelaki bernama Bowo itu.
"Sampeyan terus saja mas. Nanti diujung jalan itu sampeyan berhenti. Rumah yang ada pohon kapuk besarnya. Atau di depan rumahnya ada obor nya." Ucap Pemilik warung tersebut.
"Terimakasih Mbak." Ucap lelaki itu sopan.
Ia kembali kedalam mobil. Ia pun melajukan mobilnya ke arah rumah Mbah Palil. Saat tiba di rumah itu. Ia tampak turun bersama seorang perempuan yang tak lain adalah istrinya. Perempuan itu bernama Jelita. Ia menggendong anaknya yang berusia satu tahun.
Saat tiba di kediaman Pak Palil atau lebih sering di sapa Mbah Palil. Ia adalah sesepuh di desa Kali Bening dan juga dipercaya oleh sebagian warga memiliki kemampuan untuk mengobati yang terkena penyakit guna-guna atau ketempelan.
__ADS_1
"Ada perlu apa?" Tanya Mbah Palil.
"Saya kemari bermaksud meminta bantuan Bapak. Anak saya ini suka sekali menangis setiap malam. Dan baru akan tertidur di pagi hari sampai siang." ucap Pak Bowo yang merupakan pemilik salah satu showroom mobil di kota.
Mbah Palil melihat anak yang di pelukan Jelita. Ia tampak menarik-narik jenggotnya.
"Begini saja. Saya rasa... Anak bisa ke tempat yang tepat. Ini saya Ndak bisa bantu. Hari ini adalah hari Sabtu. Saya tidak bisa membantu orang di hari Sabtu dan Selasa. Nak Bowo bisa ke masjid yang baru saja Nak Bowo lewati. Di depan nya ada tulisan pondok pesantren Kali Bening dan Masjid Nurul Iman." Ucap Mbah Palil.
Bowo dan istrinya saling pandang.
"Tolong lah mbah...." ucap Bowo.
Akhirnya sepasang suami istri itu bergegas ke pesantren yang di sarankan oleh Mbah Palil. Itulah kerendahan hati Rohim. Ia tak pernah menganggap rendah mereka yang tak sepaham atau yang belum menjalankan syariat agama. Melainkan ia terus menjaga hubungan baik dengan sesama masyarakat. Maka jangan heran jika Mbah Palil yang dianggap orang pintar di desanya akan menyarankan kepada pasiennya menemui Rohim apabila ia tak mampu atau ia tak bisa karena hari pantangan ia menggunakan kekuatannya. Rohim pun tak pernah merendahkan Mbah Palil. Bagi Rohim, Mbah Palil adalah sesepuh dan pendiri desa Kali Bening. Terlepas ritual dan pekerjaan Mbahk Palil. Ia tak berhak memusuhi Mbah Palil.
Kadang Mbah Palil bingung sendiri jika bertemu atau berhadapan dengan Abi Rohim atau kyai Rohim.
"Masa' iya ustad kecil, seperti ini bisa bantu dan menyembuhkan orang." Batin Bowo saat ia sudah tiba di pondok pesantren.
__ADS_1
Ia melihat Rohim yang baru datang dari kelas. Ia sedang mengajar Santrinya di belakang masjid. Rohim sosok yang masih sama, tubuhnya tak terlalu tinggi, tak terlalu besar. Ia pun hanya menunduk saja sambil membuat lintingan rokok dari tembakau dan kertas khusus untuk rokok khas di desa itu.
"Beliau tidak pernah menawarkan diri untuk hal-hal seperti itu. Beliau selalu menolak. Tapi minta saja atau dipaksa. Beliau akan membantu jika sudah di desak." Bowo ingat pesan Mbah Palil saat meninggalkan kediaman Mbah Palil.
" Begini kyai. Saya dan istri saya kemari mohon bantuan kyai. Untuk mengobati anak saya." Ucap Pak Bowo.
Rohim mengangkat pandangannya. Ia menatap Pak Bowo dan Anak yang ada di pelukan Jelita sekilas.
"Lah saya ini bukan dokter Pak. Saya cuma guru ngaji. Saya juga bukan Kyai." Ucap Rohim seraya memutar-mutar kertas yang telah diisi oleh cengkeh, tembakau.
Lalu ia menyulut rokok itu dengan korek api. Ia menghisap dalam dan dan sedikit menggeser tubuhnya ke arah jendela. Ia membuka jendela. Ia menghembuskan ke arah jendela asap rokoknya.
"Tolong lah Pak Ustad. Kami sudah dari Mbah Palil. Mbah Palil bilang anda bisa membantu anak kami." Ucap Pak Bowo cepat sambil mengelap keringatnya.
Abi Rohim yang mendengar jika mereka baru saja dari Mbah Palil. Abi Rohim pun melirik ke arah anak Pak Bowo. Ia menanyakan apa yang terjadi dengan anak Pak Bowo. Kisahnya hampir mirip dengan anak Pak Toha. Rohim menyarankan apa yang ia sarankan pada Pak Toha. Dan juga meminta Pak Bowo dan Bu Jelita untuk kembali memperbaiki shalatnya.
"Jadi begini Pak. Sebenarnya saya dan anda sama. Sama-sama manusia. Yang membedakan mungkin Ikhtiar kita setiap hari dalam mendekatkan diri pada Allah. Saya sama ibu atau bapak. Itu lebih besar khasiat doanya Ibu karena ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan anak ibu. Lah saya, saya bukan siapa-siapa anak ini. secara kontak batin, doa ibu lebih cepat di ijabah. Begitupun bapak. Coba satu bulan ini perbaiki shalatnya. Dan jangan lupa hadiahkan Al-fatihah untuk anak Ibu. Kita lihat nanti. Insyaallah doa orang tua akan didengarkan Allah." Ucap Rohim.
__ADS_1
Karena umumnya manusia atau warga yang ketika berobat. Mereka selalu meminta obatnya. Rohim mau tidak mau cukup tersenyum simpul. Ia pun permisi kedalam. Ia hanya melakukan shalat dua rakaat dimana ia berdoa agar anak Pak Bowo dan Bu Jelita di berikan kesembuhan dan dijauhkan dari gangguan jin dan setan.
Rohim paham. Sebuah keyakinan akan menumbuhkan semangat. Maka betul saja. Sepasang suami istri itu pulang dengan membawa satu botol air dari Rohim dengan semangat untuk rajin beribadah. Pada bukan air tadi yang menyembuhkan anak sepasang suami istri itu. Melainkan ketulusan sang ibu yang setelah dapat saran dari Rohim, ia selalu menghadiahkan bacaan Al Fatihah untuk anaknya. Ia juga semangat menjalankan shalat lima waktu karena Rohim mengatakan Allah lah yang bisa menyembuhkan. Maka mohonlah dengan Allah melalui kita tidak meninggalkan kewajiban kita.