LAILA UNTUK KANG ROHIM

LAILA UNTUK KANG ROHIM
Bab 85 Kesabaran Umi Laila


__ADS_3

Merawat buah hati yang berjarak hanya kurang-lebih satu tahun. Cukup membuat Umi Laila kerepotan. Seperti saat ada acara. Siang itu Umi Laila akan menghadiri sebuah undangan dari salah satu pengajian dari kecamatan sebelah. Ia harus mondar mandir karena banyaknya tamu yang kebetulan datang. Sedangkan dirinya belum mengganti baju Rahmi dan Ayra.


Furqon yang melihat Uminya harus kembali ke luar kamar. Karena ada tamu yang datang. Karena sebentar lagi adalah tahun ajaran baru, maka banyak santri dan santriwati yang datang dititipkan oleh orang tuanya. Atau sekedar datang untuk menanyakan perihal administrasi serta biaya. Furqon duduk di sisi Rahmi. Ia pakaikan baju adiknya. Setelah itu ia beri mainan agar balita itu tak pergi ke mana-mana. Sedangkan Ayra yang baru bisa duduk. Ia pakaikan baju serta jilbab adiknya. Sulung Umi Laila itu lebih memiliki rasa tanggungjawab karena terbiasa melihat Umi dan Abinya melakukan apa-apa dengan ikhlas dan tanpa mengeluh.


Ia cukup kesulitan saat akan mengenakan baju pada Ayra. Balita itu sibuk saja ingin meraih benda-benda yang berada di sekitarnya.


"Nanti ya Dek. Ganti baju dulu kasihan Umi. Nanti terlambat ke pengajiannya." Ucap Furqon.


Ia akhirnya memeluk tubuh gembul Ayra. Agar adiknya itu tidak bergerak. Ia pakaikan baju muslim khusus balita itu, dari mulai bagian kepala dan tangan kanan lalu ke kiri. Sesuatu yang biasa Umi Laila ajarkan pada anaknya ketika mengenakan sesuatu baik baju atau sandal, biasakan dari bagian kanan.


Saat Umi Laila kembali ke dalam kamar. Ia melihat anak-anak balitanya sudah rapi dengan baju muslim lengkap dengan jilbabnya.


"Masyaallah... Terimakasih ya Mas Furqon." Ucap Umi Laila senang. Ia baru saja memanggil Lulu untuk ikut bersama dirinya.


Saat hampir pergi, Tiba-tiba ada salah seorang wali santri datang dan ingin menemui Umi Laila. Kembali Umi Laila pun menuju ruang depan. Lulu yang baru datang cepat menggendong Ayra, sedangkan Ayu menggendong Rahmi. Mereka membawa dua balita itu ke arah depan masjid. Sebuah mobil dengan bak terbuka telah terparkir di depan Masjid. Untuk membawa santriwati ke dua desa sebelah karena ada acara safari maulid.


Umi Siti dan Abi Rohim masih di teras rumah, sebuah teras yang cukup besar. Tempat yang biasa digunakan untuk menerima wali santri. Karena ruang depan kediaman Umi Laila biasa digunakan untuk santri-santri setoran hapalan atau tempat mengaji. Hanya ada ambal, air mineral dan beberapa camilan yang disiapkan dalam toples di depan teras tersebut.


Ternyata ada sepasang suami istri dan satu anak laki-laki yang terlihat bermata sembab. Tampaknya anak laki-laki yang berusia sama dengan Furqon, baru saja menangis. Umi Laila pun menyambut tamunya.

__ADS_1


"Kita mriki wonten perlu , ingkang pertami inggih punika silahturahim. ingkang kaping kalih kita kajeng nitipaken lare kita yusuf wonten pondok pesantren puniki." Ucap Ayah dari anak lelaki yang bernama Yusuf.


{Kami Kemari ada keperluan, yang pertama yaitu silahturahim. yang kedua kami ingin menitipkan anak kami Yusuf di Pondok pesantren ini.}


Semenjak nama Abi Rohim dan pesantrennya banyak di kenal. Maka banyak kalangan masyarakat yang datang atau bertemu Abi Rohim selalu menggunakan bahasa Jawa Halus. Hal itu juga sebenarnya dibiasakan di pondok pesantren Umi Laila.


Abi Rohim pun menjawab permintaan dari ayah Yusuf.


"Nanging panggenanipun taksih kados puniki pak. Tilem ugi lare-lare kedah desak-desakan amargi panggenanipun mboten mumpuni." Jawab Abi Rohim.


{Tapi tempatnya masih seperti ini Pak. Tidur juga anak-anak harus desak-desakan karena tempatnya tidak memadai.}


Namun ia tak tega jika harus menambah biaya urunan pada anak-anak didiknya untuk membangun WC atau kamar mandi. Akhirnya setelah menerima Yusuf di pesantren mereka. Umi Laila dan Abi Rohim pun berjalan bersama kedua orang tua Yusuf ke arah parkir. Namun kejadian yang sering terjadi, kali ini terjadi lagi. Anak baru yang dititipkan akan menangis ketika diminta untuk tidak membesuk selama 40 hari. Yusuf menangis histeris. Ia bahkan memegang bagian belakang motor orang tuanya disaat motor itu baru mau dihidupkan.


"Yusuf ndak mau mondok Mak.... Pak...." Ucap bocah itu dengan isak tangis penuh haru.


Umi Laila cepat berlari ke arah Yusuf. Ia peluk tubuh Yusuf. Satu tangan memeluk tubuh Yusuf, tangan yang lainnya menarik tangan Yusuf yang memegang motor bagian belakang. Bocah itu pun memegang erat motor orang tuanya. Tatapan kedua orang tuanya terlihat tidak tega. Baru saja Ibu dari Yufus akan turun dari motor namun ucapan Umi Laila membuat ia mengurungkan niatnya.


"Mboten betah kuwatos bu, tilar mawon. supados mangke kula ingkang urus. cobaan mondokkan lare nggih kados puniki Bu. Kedah kiyat manah kita. tilar mawon, insyaallah mboten punapa-punapa." Pungkas Umi Laila..

__ADS_1


{Tidak perlu khawatir Bu, tinggal saja. Biar nanti saya yang urus. Cobaan mondokkan anak ya begini Bu. Harus kuat hati kita. Tinggal saja, insyaallah tidak apa-apa.}


Orang tua Yusuf pun melajukan kendaraannya. Yusuf yang Ndeprok dia atas aspal membuat sarung yang ka kenakan pun harus sobek karena terseret motor. Umi Laila memeluk erat Yusuf dan menari satu tangannya hingga terlepas dari motor.


"Mak E..... Pak E...... " Tangis Yusuf begitu menyedihkan.


Namun bagi Umi Laila hal itu sudah biasa. Ayu dan Lulu bahkan harus dua sampai tiga bulan baru bisa betah. Kini anak-anak itu malah sibuk tak ingin pulang karena betah di pondok kalau libur sekolah.


Furqon pun melihat Umi nya kesusahan membujuk Yusuf, dia mendekati Yusuf.


"Wes ndak usah nangis Kang. Nanti disana tak beliin es serut. Di Pondok itu enak loh Kang." Ucap Furqon yang duduk disisi Yusuf yang menangis.


Umi Laila pun sibuk membujuk santri barunya untuk tidak menangis.


"Sampun, lare jaler kedah kiyat, lare pinter. mangga kita numpak mobil. Mangke wonten ngrika ajeng tumbas punapa, umi tumbasaken sami dek furqon." Hibur Umi Laila pada Yusuf yang menutup satu wajahnya dengan lengannya.


{Sudah, anak laki-laki harus kuat, anak pintar. Ayo kita naik mobil. Nanti di sana mau beli apa Umi belikan sama Dek Furqon.}


Akhirnya Yusuf mau juga ikut ke acara safari Maulid. Ia dan Furqon duduk di bagian mobil depan ditemani Ayu dan Rahmi. Sedangkan Umi Laila dan Abi Rohim menggunakan sepeda Motor dengan Ayra dalam gendongan Umi Laila. Bukan Umi Laila lebih sayang Ayra daripada Rahmi. Namun karena usia Ayra masih dibawah satu tahun. Anak yatim piatu itu juga belum terbiasa ikut Lulu atau Ayu. Berbeda dengan Rahmi yang terbiasa di gendong oleh Lulu atau Ayu.

__ADS_1


Seperti itulah warna warni kehidupan Umi Laila dalam menghadapi santri-santri yang baru datang di pondok. Ada yang menangis, minggat dan bahkan ada yang mogok makan. Niat menjadi hamba yang mencintai Rasulullah dan Allah dengan meneruskan ilmu-ilmu yang ia peroleh selama mondok dulu, membuat Umi Laila selalu sabar. Ia bahkan pernah menyuapi satu santri sampai dua minggu lamanya karena santri itu mogok makan karena tak betah.


__ADS_2